OUR NETWORK
Rabu, Desember 8, 2021

Perempuan dalam Isi Kepala Mo Yan

Tri
Pengajar di Sanggar Merah Merdeka. Sedang buka warung kopi kecil-kecilan.

Tubuh perempuan adalah pemanis bagi dunia fiksi. Kadang diperlakukan bermoral, kadang sebaliknya, tanpa moral. Naluri bebas dari perempuan yang manusiawi, memendam dengki dan membunuh kejenuhan dunia fiksi yang membuat rasa iba.

Naluri keibuan perempuan bergerak bebas tanpa batas budaya, jaman, lingkungan sosial, politik, bahkan moralitas. Perempuan mempunyai ekspresi dan wujud beragam untuk mempertahankan diri atas nelangsa hidup.

Konsep perempuan yang direndahkan martabatnya, seorang ibu, dan kritis mengilhami beberapa penulis seperti Pramoedya Ananta Toer dan Maxim Gorky yang ‘mengurapi’ sosok Nyai Ontosoroh dan Ibunda Pavel dengan nilai-nilai absolut manusia.

Mereka berdua mendudukan perkara perempuan dalam hubungannya dengan situasi sosial, politik, dan budaya di masa kolonialisme dan revolusi. Perempuan protagonis yang lantang melawan ketertindasan dengan segala bentuknya.

Mo Yan adalah seorang penulis yang sedikit banyak terilhami oleh konsepsi yang sama. Tentang seorang ibu yang hidup dalam kondisi memperihatinkan sebab budaya feodalisme, kekerasan perang atau revolusi. Semuanya tertumpah dalam novelnya yang berjudul Big Breast and Wide Hips.

Mo Yan tumbuh semasa Revolusi Kebudayaan di Tiongkok tahun 1940-an. Keluarganya berasal dari petani kelas menengah (kelas bertanah yang mempunyai sebidang tanah subsisten). Bias kelas (pertentangan kelas borjuis dan proletar) pada masa itu membuat dia dan kehidupan keluarganya terbatas dan miskin.

Ia tumbuh di Kotapraja Gaomi Timur Laut, Provinsi Shandong, Republik Rakyat Cina, sebuah desa yang menjadi latarbelakang penulisannya. Ia membaca buku-buku yang diberikan kakeknya. Meskipun hanya bacaan tentang pengobatan tradisional, keahliannya dalam membaca membuat dirinya mendapat privilege untuk membantu kerja-kerja revolusi kebudayaan di unit Brigade Produksi sebagai juru tulis dan pencatatan barang—hal yang sulit dinikmati oleh anggota keluarga petani kelas menengah.

Kematian ketua Mao Zedong membuat Tiongkok memasuki era baru pada tahun 1976. Pada saat itu sastra rakyat dan majalah tetap melanjutkan penerbitan. Mo Yan mulai berlangganan majalah sastra dan meminjam lusinan novel.

Dengan keahlian membacanya, ia ditugaskan di unit baru kemiliteran menjadi pemimpin regu untuk melatih lulusan baru, namun gagal, dan ia tetap bekerja sebagai juru tulis rahasia dan pustakawan. Pada saat bersamaan ia juga ditugaskan menjadi instruktur teori. Bertanggung jawab mengajar filsafat dan ekonomi politik.

Di usianya yang ke 40 tahun, pada tahun 1995 novel Big Breast and Wide Hips terbit, novel yang menuai kontroversi dikalangan sastrawan Tiongkok. Dengan Big Breast and Wide Hips, Mo Yan merobohkan yang sublim dan sempit, lalu membangun yang terkesan immoral dan baru, menihilkan nilai-nilai sublim dalam novel-novel yang jamak di Tiongkok kala itu.

Immoralitas Kehidupan Sehari-hari yang Bercumbu Dengan Metafor

Shangguan Lu ialah seorang Ibu yang mempunyai sembilan anak. Delapan anak perempuan disertai satu anak laki-laki. Ia tinggal bersama Ibu mertua dan suami yang mandul. Adat feodalisme melekat dalam kesehariannya—di jaman Jepang menjelang datang tanpa diundang, dan para kelas tuan tanah bersiap memegang senjata.

Hinaan dan penjepit bara api, pernah Shangguan Lu cicipi sebagi anak menantu. Itu disebabkan ia mendapat ‘kesialan’ beruntun, yakni melahirkan tujuh anak perempuan—terakhir kembar, satu perempuan dan laki-laki. Feodalisme Tiongkok mensituasikan nasib sial Shangguan Lu.

Mo Yan membuat ranah keluarga dan lingkungan desa menjadi saksi hidup sejarah yang merentang dalam waktu perang dunia ke-2 hingga memasuki millennium 2000-an. Seperti ceritanya di website The Nobel Prize, pengalaman, kekerabatan, lingkungan sosial dan budaya ialah faktor menentukan bagi terciptanya tokoh-tokoh dan intrik dalam novelnya.

Shangguan Lu, Jintong, dan kedelapan kakaknya ialah pencipta immoral sejati dalam novel. Shangguan Lu yang berselingkuh dengan seorang pastor asal Swedia, yang kelak melahirkan Jintong dan Yunu, kembarannya. Kakak pertama, Laidi, yang menyusui Jintong ketika menginjak usia belasan tahun. Ditambah dengan fakta semua anak Shangguan Lu ialah hasil dari hubungan gelap.

Jintong suka payudara dengan segala kesempurnaannya. Terlebih air susu payudara Ibu. Ketika Jintong remaja, reproduksi air susu Ibu menyusut tinggal darah. Ia kalang kabut dan merengut takut mati. Dalam kepanikan ia meraba-raba sudut-sudut rumah dan halaman. Tidak ada susu lagi untuk dihisap, hanya payudara kambing betina yang kelak menjadi ‘Ibu angkatnya’.

Mo Yan memberikan metafor yang manis bagi Jintong dengan cukup vulgar: ‘Cahaya matahari menyinari pahanya, perutnya, dan payudaranya, seperti tetek babi betina’. Ini narasi yang ditujukan pada Laidi, kakak pertama, sebelum Jintong melahap payudaranya dengan rakus.

Kejadian itu bukan tanpa alasan. “Ke sinilah dan menyusu padaku. Ibu membiarkan anakku menyusu padanya, jadi aku akan membiarkan kau menyusu padaku, jadi dengan cara itu tidak ada yang berhutang pada yang lain,” minta Laidi.

Tubuh perempuan begitu diresapi oleh Mo Yan. Entah ini sebuah cabul dari sorang petani kelas menengah atau hanya sekedar pelampiasan atas pengalaman kemiskinan yang selama revolusi kebudayaan. Serba mungkin.

Vulgarisme yang ditunjukan Mo Yan selalu disertai alasan logis. Diantaranya Laidi yang berhutang budi pada Ibu sebab telah merawat anaknya, Ibu atau Shangguan Lu yang memberikan tubuhnya demi mengandung anak laki-laki agar ia terbebas dari kekerasan fisik dan mental.

Mo Yan mendasarkan ide novelnya pada narasi berbasis kelas, serta dinamika hidup perempuan-perempuan Gaomi Timur Laut di tengah-tengah pusaran feodalisme, perang kemerdekaan, dan revolusi kebudayaan. Namun, tak seperti narasi novel yang berbasis kelas umumnya, yang sekedar menyajikan heroisme perjuangan melawan kelas borjuis, Mo Yan sedemikian estetis meramu budaya dan keindahan seluk beluk alam dan kearifan lokal.

Di sisi lain, Mo Yan menunjukan betapa kontradiktifnya tubuh perempuan dalam sejarah Tiongkok: ambisi kuat akan kebebasan untuk memilih takdirnya dan ketergantungan laki-laki pada tubuh perempuan semenjak dini.

Shangguan Lu dan air asinya ialah representasi dari perempuan yang tak lepas dari kedosaan, juga terbeban lebih banyak dibanding laki-laki, dalam pengorbanan sebagai seorang istri, ibu, dan nenek dari seluruh keturunannya. Rahasia Shangguan Lu agar dapat bertahan dari siksaan jaman ialah dengan komitmen untuk hidup. Iya, hanya hidup.

Saat tua dan nyaris buta, saat tak ada bias kelas lagi, Shangguan Lu pun berkata pada Si Jantan satu-satunya yang sedang sakit parah—selepas Jintong bebas dari hukuman penjara selama lima belas tahun akibat tuduhan memerkosa mayat, “Jintong, aku tidak mengizinkanmu berbicara seperti itu! Kau masih muda. Salah satu mataku memang tidak dapat melihat, tapi aku masih dapat melihat hari esok yang baik. Matahari cerah, bunga-bunga tercium seperti surga, dan kita harus bergerak ke masa depan, Nak…”

Tri
Pengajar di Sanggar Merah Merdeka. Sedang buka warung kopi kecil-kecilan.
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.