Sabtu, Maret 2, 2024

Yakin Mau Gap Year? Baca Ini Dulu Supaya Tak Menyesal!

Putri Ndraha
Putri Ndraha
Mahasiswa Pendidikan Matematika UNS

Hanya 23,78% yang lolos SBMPTN 2021, lalu bagaimana dengan 76,22% yang tidak lolos SBMPTN?

SBMPTN pada tahun 2021 hanya meloloskan 184.942 peserta atau sebesar 23,78% dari total seluruh peserta. Peserta lain yang tidak lolos mau tidak mau harus berjuang lagi di jalan lain, salah satunya dengan memutuskan gap year untuk mempersiapkan ujian SBMPTN di tahun berikutnya.

Sekarang ini semakin tren dengan istilah gap year, banyak orang yang sudah mulai mengetahui manfaat dari gap year. Apalagi sekarang sudah banyak konten yang bertebaran tentang gap year, sehingga peminatnya semakin banyak dari tahun ke tahun.

Namun, tidak sedikit juga yang masih belum bisa berpikir secara terbuka tentang gagasan gap year. Mungkin sebagian dari pembaca ada yang belum mengetahui gap year itu seperti apa, maka mari kita cari tau makna dari gap year.

Apa itu gap year dan apa saja manfaatnya?

Ketika seseorang mengambil jeda untuk melanjutkan pendidikan karena suatu hal, maka inilah yang disebut dengan gap year. Sebagian orang masih ada yang memandang gap year merupakan hal yang negatif karena beranggapan bahwa gap year hanya membuang waktu saja di rumah dan tidak ada manfaatnya sama sekali.

Padahal banyak sekali manfaat dari gap year diantaranya yaitu menemukan passion yang belum diketahui sebelumnya, menginstropeksi diri, mempertimbangkan ingin menjadi seperti apa di masa depan, lebih siap dalam menghadapi ujian perguruan tinggi, serta bisa lebih memfokuskan diri dalam menjalani perkuliahan nanti.

Gap year=privilese?

Kegiatan gap year akan sangat menyenangkan dan bermakna apabila orang terdekat dan lingkungan yang mendukung, bisa melakukan berbagai kegiatan yang positif selain belajar serta memiliki finansial yang stabil. Akan tetapi, hal itu akan sangat memungkinkan apabila memiliki privilese.

Lingkungan dan orang terdekat yang mendukung serta finansial yang stabil bagi sebagian orang merupakan keistimewaan bagi mereka karena tidak setiap orang dapat merasakan kegiatan gap year dengan baik. Keistimewaan tersebut juga dapat dikatakan sebagai sebuah privilese dan tidak semua orang bisa mendapatkan privilese tersebut.

Masih banyak orang tua yang tidak menyetujui apabila anaknya akan gap year karena terkesan membuang waktu dengan pemikiran “Kalau bisa kuliah sekarang, kenapa harus nanti? Nanti ketinggalan sama yang lain loh!” atau “Kamu selama setahun mau ngapain? Mau nganggur aja di rumah?”. Inilah yang membuat anak yang tadinya ingin gap year, tetapi keberaniannya berkurang ketika orang terdekatnya berkata seperti itu sehingga anak tersebut enggan untuk gap year.

Selain itu, belum lagi tetangga yang nyinyir, pasti ada saja omongan tetangga yang buat sakit hati. Contohnya “Itu si A di rumah aja, ya? Kuliah nggak, kerja nggak, jadi beban orang tua aja.” atau “Si B menunda kuliah cuma di rumah aja dan kegiatannya cuma makan sama tidur, lihat si C yang sudah kuliah di X.” dan sebagainya.

Ditambah lagi jika timbul rasa insecure dan minder saat melihat teman yang sudah menjalani kehidupan di kampus, untuk diajak bertemu saja rasanya tidak enak hati dan berujung mencari alasan untuk tidak menghadiri pertemuan tersebut. Lebih fatalnya lagi apabila finansial tidak stabil, maka mau tidak mau harus bekerja sambil belajar untuk mempersiapkan ujian SBMPTN di tahun berikutnya.

Selain menyisakan waktu yang lebih sedikit untuk belajar, bekerja saat gap year pun dapat membuat diri sendiri tidak fokus dengan tujuan awal mengambil gap year karena sudah terlena bisa menghasilkan uang sendiri.

Apa ngaruhnya bagi pejuang gap year?

Berbagai pengalaman pahit tersebut dapat membuat pejuang gap year mengalami demotivasi, putus asa, stres, bahkan bisa mengalami depresi.

Tentu saja reaksi setiap orang dalam menghadapi hal tersebut berbeda-beda, apakah menanggapi masalah tersebut secara positif dengan lebih giat dalam belajar untuk membuktikan bahwa ia mampu mencapai apa yang ia mau atau menanggapinya secara negatif dengan menutup diri; mencari pelarian dengan bermain games, menonton film, dan sebagainya secara terus-menerus sampai lupa belajar; stres berkepanjangan yang dapat menimbulkan depresi; tetap belajar walaupun merasa tertekan; menyerah untuk menghadapi SBMPTN tahun depan; dan lain-lain.

Apabila tidak mampu menghadapi masalah tersebut, maka peluang gagal SBMPTN semakin besar.

Pikirkanlah lebih matang lagi apabila ingin gap year, bulatkan tekad untuk tidak pantang menyerah dengan keadaan apapun jika sudah memutuskan untuk gap year. Tentukan motivasi terbesar untuk gap year dan kegiatan apa saja yang akan dilakukan selama gap year.

Lalu, jangan lupa membuat target belajar dari awal hingga menghadapi ujian agar bisa mengatur waktu belajar dan yang lebih penting adalah mempersiapkan fisik dan mental dengan baik agar kegiatan selama gap year berjalan lancar tanpa adanya hambatan.

Apabila menghadapi pengalaman pahit ketika gap year, carilah teman seperjuangan agar saling menguatkan satu sama lain dan tidak merasa sendirian menghadapi hal tersebut. Semoga artikel ini bermanfaat bagi yang masih bimbang dalam memutuskan gap year, semangat!

Referensi :

https://maukuliah.id/blog/?panduan=gap-year-perlukah

https://www.cnnindonesia.com/nasional/20210614110056-20-653989/184-ribu-atau-2378-persen-peserta-lolos-sbmptn-2021

Putri Ndraha
Putri Ndraha
Mahasiswa Pendidikan Matematika UNS
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.