Selasa, Mei 18, 2021

Ya, Kita Ini Pelupa

Balada Orang-Orang Menang

Kalau tak mengharukan, itu bukan balada. Kalau tak ada yang kalah, tak ada yang menang. Apa artinya siang jika malam tak kunjung tiba? Bagaimana...

Menciptakan Permukiman Perkotaan Berkelanjutan

Permukiman kumuh masih menjadi masalah serius di perkotaan. Kantung-kantung permukiman kumuh masih banyak dijumpai di beberapa titik seperti di bantaran sungai, di pinggiran perlintasan...

Nasionalisme di Era Milenial

Tahun 1945 silam, Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Teks yang dibacakan Ir. Sukarno dengan lantang itu, menandai langkah awal Indonesia sebagai sebuah bangsa yang merdeka. Beratus tahun...

Diaspora dan Keragaman, Dua Hal Pelestari Bahasa Jawa

Bahasa Indonesia lahir pada 28 Oktober 1928 melalui kongres Sumpah Pemuda. Butir ketiga Sumpah Pemuda merupakan pernyataan tekad bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan...
khoiril yaqub
Admin Akun ini tolong di hapus saja

Polah lelaki paruh baya itu membuat saya ingat serta cekikikan. Saya tertawa kecil, setengah tertahan dengan komposisi yang tepat. Saya melakukannya dengan baik dan benar sehingga tidak diketahui orang-orang. Pasalnya jumat kemarin, saya salat berada persis dibaris belakang lelaki itu. Lelaki paruh baya berperawakan sintal yang tak saya kenali sebelumnya.

Saat hendak takbir pandangan saya terhenti. Saya melihat lelaki itu terus mengulang-ulang takbirnya sekitar enam atau tujuhan kali. Tak cukup dengan polah itu, ia juga mengibaskan tubuh serta tangannya, tampak seperti gelisah atau rusuh hati. Mungkin ia sedang mencari khusyuk dan belum menemukannya, ah tapi masa iya sampai segitunya mencari khusyuk. Gumam saya dengan menahan tawa.

Pasca-jumatan, ingatan saya berlanjut pada cerita lain. Ceritanya, sejak kecil saya hidup dan tumbuh di lingkungan pesantren. Jangan mengira saya ini keturunan kiai ya! Bukan, saya bukan zuriah kiai, apalagi Gus. Pokoknya tidak ada ikatan dengan keluarga pesantren. Saya hanya tinggal di dekat pesantren itu saja titik.

Karena saya tinggal di lingkungan pesantren, tentu kulturnya adalah kultul para santri. Salah satu kultur yang ingin saya sebut di sini adalah ketika melakukan salat berjamaah. Saat berjamaah imam salat tak pernah memerintahkan makmumnya untuk merapatkan baris atau saf. Jadi begitu imam datang, sang imam langsung takbir sedangkan makmum dibiarkan begitu saja, menentukan posisinya masing-masing.

Berbeda pada masa kuliah, saat saya sudah mulai salat dibeberapa masjid yang berbeda. Kultur salat jamaahnya tidak pernah saya alami sebelumnya. Biasanya saat hendak salat, sang imam suka bertindak melihat-lihat makmumnya, memastikan barisan sudah lurus dan rapat atau belum.

Setelah itu imam mengatakan; sawwu sufufakum fa inna taswiyyata assufufi min iqamat assalat. Kemudian makmum bergegas merapatkan barisannya sampai-sampai kaki saya terkadang menjadi sasaran pijakannya. Kan gimana gitu ya kalau diinjak kakinya, mending kalau yang nginjak ini neng gelis, heuheu. Saya yang jamaahnya terbiasa dibiarkan begitu saja tentunya merasa kikuk dan menjadi seperti mendapat hukuman. Akhirnya, kan saya terpaksa misuh, tapi bernada lirih; assu, wes gerang ndandak diatur barang.

Pernah loh, saya rapat-rapatkan barisan salat, mencari khusyuknya juga, mencoba melupakan selain Tuhan, eh pas pulang jumatan sandal saya malah hilang. Kan malah repot jadinya, sejak itu saya salat selow-selow aja. Bagi saya, mencari khusyuk, mencari kesempurnaan salat hingga memperapat barisan artinya memperibet diri sendiri.

Tidak dapat khusyuk juga tidak apa-apa, tidak dapat kesempurnaanya salat juga tidak apa-apa. Jadi, saya mencoba menyederhanakan, intinya berangkatnya salat tadi misalnya kita masih ingat sawah, ingat pekerjaan, atau ingat sandal, itu tidak apa-apa. Terpenting kita tidak menyembah sandal, tetap menyembah Tuhan. Bayangan saya, Tuhan akan santai-santai saja tentunya dan beranggapan; oh, tidak apa-apa masih menyembah-Ku cuma teringat yang lainnya.

Sabar! sabar dulu, saya tidak menyalahkan tindakan tersebut. Apalagi mengejek polah lelaki paruh baya yang tak saya kenali itu. Bukan, bukan itu semua yang menjadi pointnya. Saya hanya mbatin, memang sering kali kita dalam salat ingin sekali merasakan khusyuk. Usaha untuk khusyuk kadang kita lakukan dengan merem melek atau bahkan sampai berpolah seperti lelaki itu.

Ketika salat berjamaah juga, dalam merapatkan saf atau barisan, sangking rapatnya sampai-sampai kita saling injak-injakan kaki. Padahal jika sudah di luar (masjid) salat, kita seperti tidak lagi memerlukan khusyuk. Tidak ada lagi tu tindakan merapatkan barisan yang soalah-olah setan tidak bisa masuk. Malahan di luar (masjid) salat kita menjadi setan semua. Pada titik tersebutlah saya ingat, kemudian cekikikan.

Tidak hanya dalam ibadah salat saja, ibadah lainya juga demikan, puasa misalnya. Kita berpuasa hanya sampai waktu terbenamnya matahari saja. Lagi-lagi di luar itu kita tidak lagi memerlukan puasa. Betul, saya pernah mendengar dawuh yang mengatakan; puasanya orang puasa itu saat berbuka, karena semuanya boleh, kita harus menahan diri. Sedangkan khusyuknya orang salat itu mestinya di luar salat justru lebih khusyuk lagi.

Oke, bila point tersebut belum menjelaskan apa yang saya maksud. Begini, saya ingin mengatakan iman itu yang terpenting adalah prilakunya. Bahwa Allah Akbar di luar salat-pun tetap Allah Akbar, bahwa La ilaha illallah di luar salat-pun tetap La ilaha illallah, bahwa Subhanallah di luar salat-pun tetap Subhanallah, tetap begitu seterusnya.

Inilah persoalan kita dan minimal ini menjadi persoalan saya. Padahal kalau kita khusyuk di luar, merapatkan barisan tidak hanya di masjid, tentu kita akan mengingat semua. Bayangkan coba, jika para koruptor itu khusyuknya tidak hanya dalam salat, pasti mereka tidak jadi korupsi.

Kasus serupa lainnya misalnya yang baru-baru ini terjadi soal pemindahan dua makam lantaran terjadi perbedaan pandangan politik. Hanya karena politik mencederai rasa kemanusiaan. Lalu kemana khusyuk yang di dalam salat tadi. Kemana kerapatan saf dalam masjid yang dibangun tadi, kita-mu bukan kita-ku lagi. Ini problem besarnya, iman kita tidak berjalan. Harusnya jika kita bisa menjaga khusyuk meski di luar salat, tentu kita akan terus mengingat Tuhan. Bukankah Semua yang kita lakukan dalam kerangka mengingat Tuhan.

Walhasil, suatu  malam saya bersama teman-teman penyelenggara pemilu duduk di warung kopi. Teman saya bermain gadget dan saya nyeruput kopi sambil membaca puisi dalam hati. Sialnya, saya lupa nama penulis puisinya, yang jelas bunyinya seperti ini; Aku rela terbenam pelan-pelan agar kau lekat dalam ingatan.

Tiba-tiba lelaki paruh baya yang tak saya kenali itu menghampiri teman saya. Ternyata ia adalah guru madrasah teman sepekerjaannya di sekolah. Ia bercerita panjang lebar mengenai presiden pilihannya dan menjelekan pilihan lainnya. Saya tidak akan menceritakannya di sini. Pendek kata, Ya! kita ini pelupa yang paling ingat adalah Tuhan.

khoiril yaqub
Admin Akun ini tolong di hapus saja
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Rasa Kemanusiaan Tidak Mengenal Batas Negara

Nampak aneh jika ada seorang manusia bisa berbuat baik tanpa ada alasan apapun dibelakangnya. Itu pikiranku dulu, ternyata hal itu pernah terjadi setelah aku...

Nasib Korban Kejahatan Seksual di Indonesia

Berdasarkan studi yang dilakukan oleh ValueChampion tahun 2019, Indonesia disebut sebagai negara kedua di kawasan Asia Pasifik yang paling berbahaya untuk wisatawan wanita. Bagi...

Indonesia dan Konflik Palestina: Langkah Ekstrem

Akhir Ramadhan diwarnai dengan serangan yang berulang dari Zionis Israel kepada Palestina. The Reuters melaporkan bahwa tembakan roket dan serangan Israel berlangsung secara masif...

Membedah Ucapan Jokowi soal Bipang Ambawang

Ucapan Presiden Jokowi soal ajakan kepada masyarakat untuk membeli makanan khas daerah, salah satunya bipang Ambawang, menjadi kehebohan baru. Ucapan itu terdapat dalam potongan...

Individualisme dan Kecenderungan Nalar Eksploitasi

Sebelum Siddhata Gautama mencapai puncak pencerahan nirwana. Di masa kecilnya, ia pernah diajak ayahnya untuk menghadiri aktivitas pembajakan tanah yang oleh masyarakat setempat, dianggap...

ARTIKEL TERPOPULER

Tegakkan P3SPS Secara Keseluruhan

Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang terkenal dengan fungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak dan suara, dalam bentuk monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi"...

Doa dan Puisi untuk Palestina

Kamis malam ini (24-8-2017) akan digelar acara “Doa untuk Palestina”. Diprakarsai oleh Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus, acara yang akan berlangsung di Grahana...

Strategi Mengikis Angka Golput

Golongan putih (Golput) atau perilaku non-voting (orang-orang yang tidak menggunakan hak pilihnya) masih menjadi bayang-bayang Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2019. Padahal, pesta demokrasi ini akan diselenggarakan...

Membedah Ucapan Jokowi soal Bipang Ambawang

Ucapan Presiden Jokowi soal ajakan kepada masyarakat untuk membeli makanan khas daerah, salah satunya bipang Ambawang, menjadi kehebohan baru. Ucapan itu terdapat dalam potongan...

Indonesia dan Konflik Palestina: Langkah Ekstrem

Akhir Ramadhan diwarnai dengan serangan yang berulang dari Zionis Israel kepada Palestina. The Reuters melaporkan bahwa tembakan roket dan serangan Israel berlangsung secara masif...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.