OUR NETWORK
Kamis, Januari 20, 2022

Virus Corona Mengubah Wajah Indonesia

hilwanabilaa
19 tahun Mahasiswi MIPA Matematika Universitas Syiah Kuala

Wabah virus Corona saat ini masih menyebar ke seluruh penjuru dunia. Jumlah kasus di seluruh dunia kini telah mencapai lebih dari 1,9 juta pasien. Lebih dari 116.000 orang meninggal dunia dan lebih dari 440.000 orang telah sembuh.

Sementara di Indonesia, angka kasus positif Covid-19 telah tercatat mencapai 4.839, dengan 459 orang meninggal dunia, dan 426 orang telah sembuh. Di Indonesia sendiri kasus Covid-19 telah ditetapkan sebagai bencana nasional.

Tepat pada hari ini(14/04/20), sesuai dengan perintah dari Presiden Jokowi, Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 telah membuka data orang dalam pemantauan (ODP) dan pasien dalam pengawasan (PDP) Corona di tanah air. Total terdapat 139.137 ODP dan 10.482 PDP. Hal ini membuktikan bahwa kasus Covid-19 kian meningkat setiap harinya.

Saat ini di Indonesia sendiri, upaya pencegahan virus Corona masih minim sekali. Pemerintah cenderung tenang dalam menghadapi virus yang mematikan ini. Pemerintah juga belum transparan. Ketika di negara lain sudah melakukan kesiapsiagaan terkait Covid-19, Indonesia justru masih berleha-leha bahkan meremehkan keadaan, masih menerima turis yang datang dari luar negeri.

Pemerintah juga mengabaikan imbauan yang telah disampaikan oleh WHO. Mereka seolah-olah berpikir bahwa virus ini bukan sesuatu yang besar dan mengancam. Namun nyatanya hingga saat ini, virus ini telah menyebar sangat pesat dalam kurun waktu lebih dari satu bulan.

Akankah Indonesia berhasil seperti Cina dalam mengurangi kasus Covid-19 ini? Keadaan inilah yang kita tunggu-tunggu, yang entah kapan itu akan terjadi. Seperti yang kita ketahui, Indonesia sendiri masih terkendala pada fasilitas medis dan kurangnya kesadaran tentang Virus Corona COVID-19. Indonesia memiliki rasio dokter-pasien 1 banding 6.250, berlawanan dengan rekomendasi WHO 1 banding 600. Ini bukanlah suatu pertanda baik tentunya.

Salah satu pasien suspect Covid-19 mengungkapkan bahwa Indonesia belum siap untuk menghadapi Corona. Bagaimana tidak, hingga saat ini ruang isolasi masih terbatas sedangkan jumlah pasien yang positif terus bertambah. Fasilitas kesehatan masih kurang memadai khususnya di daerah luar Jawa, bahkan beberapa pasien tidak mendapatkan tempat tidur.

Belum lagi hasil tes swab baru bisa diketahui paling cepat tiga hari. Bahkan sampai saat ini masih ada petugas kesehatan yang belum mengetahui bagaimana prosedur melakukan tes swab.

Makanya tidak heran jika pemerintah daerah seperti Gubernur DKI Jakarta dan Gubernur Jawa Barat ingin melakukan tes swab secara mandiri. Karena jika harus menunggu keputusan dari pemerintah pusat, itu akan menghabiskan waktu yang cukup lama. Kondisi ini telah membuat banyak pemerintah daerah yang berjuang sendiri.

Lalu apa yang harus kita lakukan agar virus ini tidak lagi menyebar? Untuk saat ini kita harus belajar dari negara-negara yang sudah berhasil mengurangi laju penyebaran virus Corona.

Seperti yang dilakukan Cina untuk memberlakukan sistem lockdown negaranya agar virus ini dapat dihentikan penyebarannya. Langkah yang diambil pemerintahnya berani dan tepat tanpa ragu dengan mengutamakan keselamatan masyarakat. Atau kita juga bisa mencontoh apa yang dilakukan oleh Korea Selatan yang bisa melakukan tes swab via drive thru.

Untuk itu cara satu-satunya yang dianggap ampuh untuk mengurangi penyebaran virus ini yaitu dengan melakukan karantina wilayah. Akan tetapi, jika dilakukannya lockdown, kondisi ekonomi di Indonesia bisa memburuk. Hal inilah yang membuat pemerintah pusat masih ragu dan cenderung lamban dalam bertindak untuk menangani virus Corona. Sehingga diharapkan pemerintah dapat memberikan jaminan dan kepastian kepada masyarakat dan dunia usaha. Selain itu, pemerintah juga harus menjamin terpenuhinya kebutuhan dasar warganya. Supply makanan dan bahan pokok jangan sampai putus.

Namun jika laju penyebaran pasien corona terus meningkat dan respon pemerintah masih lamban, dan dunia usaha belum memberlakukan Work From Home, mungkin kita perlu gerakan digital yang lebih massif lagi. Agar pemerintah lebih serius menangani wabah Covid-19 ini.

Masyarakat juga harus mendukung upaya pemerintah dalam mengatasi kasus ini. Upaya pemerintah tidak dapat dilakukan jika masyarakatnya sendiri malah menghiraukan dan terlalu menyepelekan. Hal ini bisa menjadi sia-sia karena kurangnya kesadaran dari masyarakat tentang betapa krisisnya kondisi Indonesia saat ini. Dengan begitu, kita tidak dapat memastikan kapan virus ini akan berlalu meninggalkan Indonesia, bisa saja kasus Covid-19 di Indonesia akan berlangsung lama dibandingkan dengan negara-negara lain.

 

hilwanabilaa
19 tahun Mahasiswi MIPA Matematika Universitas Syiah Kuala
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.