Sabtu, Juli 20, 2024

Universe of Sandwich Generation

Sri Heningsih Wulandari
Sri Heningsih Wulandari
Lulusan S1 Manajemen Komunikasi dari Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jakarta.

Pasti kalian sudah tidak asing lagi dengan istilah “generasi sandwich” Menurut Hernandez  et al., (2019), mendefinisikan generasi sandwich sebagai individu yang berada dalam  kondisi fit untuk bekerja dan “terperangkap” antara  tanggungjawab keluarga dengan tanggung jawab profesional. Generasi sandwich membagi sumber daya mereka untuk anak dan orang tuanya yang telah memasuki usia lanjut (Broady, 2019).

Sederhananya, generasi sandwich merupakan sebutan bagi seseorang yang harus membantu kebutuhan dua generasi. Biasanya, selain membiayai kehidupan sendiri mereka juga harus membiayai orang tua, anaknya yang masih kecil atau bahkan saudara.

Masalah yang dihadapi oleh generasi sandwich sebenarnya bukan karena pemasukan yang kurang namun pengeluaran yang berlebihan. Bayangkan saja, gaji yang diperoleh dari hasil kerja keras digunakan untuk menunjang kehidupan yang lainnya seperti bayar arisan orang tua, bayar utang keluarga, cicilan rumah tangga, bayaran sekolah adik, bahkan hingga renovasi rumah.

Memang, kalau rezeki tidak akan kemana, apalagi hasil uang yang kita dapatkan digunakan untuk menunjang kehidupan keluarga besar dimana hal itu sebuah keberkahan dan merupakan suatu sedekah yang akan menjadi ladang pahala bagi kita.

Menjadi generasi sandwich pun bukan pilihan yang diinginkan namun, sebagai generasi masa kini yang sudah menyadari menjadi “generasi sandwich” harus memiliki perencanaan yang baik untuk keuangan kalian agar nantinya tidak menularkan “generasi sandwich” berikutnya.

Menurut Carol Abaya seorang aging and elder care expert, kategori generasi sandwich dibagi menjadi tiga bagian yaitu:

  • The Traditional Sandwich Generation: Orang dewasa dengan usia 40-50 tahun yang terhimpit orang tua dan anak-anak yang masih membutuhkan dukungan finansial.
  • The Club Sandwich Generation: Orang dewasa usia 30-60 tahun yang dihimpit oleh orang tua dan anak, cucu (jika telah memiliki) bahkan kakek atau nenek (apabila masih hidup). Singkatnya, generasi ini harus menanggung lebih banyak kebutuhan hidup.
  • The Open Faced Sandwich Generation: Siapa pun yang terlibat dalam perawatan orang tua dan harus membiayainya serta saudara kandung.

Apakah Terdapat Gender Differences pada Generasi Sandwich?

Menurut Chisholm (1999), terdapat perbedaan gender terkait bentuk bantuan yang diberikan kepada orang tua. Misalnya pada laki-laki memberikan dukungan dalam bentuk finansial, sementara perempuan lebih memberikan dukungan secara emosional maupun dalam kehidupan sehari-hari, seperti pekerjaan rumah tangga, belanja dan hal sebagainya.

Namun, hal itu bisa diputuskan apabila kita merencanakan keuangan untuk hari tua dengan sebaik-baiknya, bahkan diperlukan sikap ego yang tinggi agar tetap dapat menyisihkan keuangan untuk raih passive income dan financial freedom. Karena, menurut perencanaan keuangan, Safir Senduk generasi sandwich terjadi karena ketidakmampuan generasi sebelumnya atau orang tua kita dalam mengelola keuangan.

Investasi lupa, begitu pensiun penghasilannya berhenti, bingung, dan akhirnya menyandarkan diri kepada anak. Dengan kata lain, umumnya generasi sandwich terlahir karena orang tua tidak membekalkan dirinya dengan perencanaan keuangan yang baik di masa pensiunnya.

Selain itu, komunikasi merupakan hal penting dalam hal ini, sebab tanpa adanya komunikasi yang baik, jelas dan tegas antara generasi sandwich dengan hal yang ditanggungnya akan menimbulkan konflik maupun kesalahpahaman dimana hal itu merupakan hal yang harus dihindari agar tidak menambah beban permasalahan bagi generasi sandwich.

Bagaimana Hal Tersebut Mempengaruhi Individu?

Karena generasi sandwich memiliki peran dan tanggung jawab ganda yang memiliki dampak negatif dalam hal beban fisik, emosional, psikologis dan finansial. Biasanya masalah yang dialami sering burnout, tingkat stress dan kekhawatiran tinggi, tingkat kebahagiaan menurun, kesulitan dalam mengatur dan membagi waktu hingga kesulitan finansial.

Hal itu tentunya bisa kita cegah dengan mengelola keuangan sebaik mungkin seperti mencatat pengeluaran dan pemasukan, menyiapkan dana pensiun, darurat hingga asuransi kesehatan, bergaya hidup minimalis dan hindari perilaku konsumtif.

Namun, ada steatment opini yang sangat penulis sukai dari Raymond Chin tentang unggahan pada video yotubenya, dan hal ini jarang sekali dibahas oleh generasi sandwich, Menurut opini Raymond Chin, solusi keluar dari generasi sandwich yang harus dibahas dulu sebelom memberikan “jatah uang” kepada orang tua, adik ataupun saudara yaitu:

Pertama: Apakah yang sudah kalian tanggung dalam usia produktif atau tidak?

Kita sebagai generasi sandwich harus melihat apakah yang kita tanggung ini di usia produktif atau tidak, sebelum memberikan uang kita sebaiknya membantu mereka menjadi produktif dengan mengajarkan bagaimana caranya menjadi produktif seperti bantu mencari kerja, bantu mulai usahanya intinya membantu mereka dengan hal hal yang bisa “menghasilkan uang”. Dan itu merupakan suatu hal yang harus dicari sebelum kita memberikan uang. Karena banyak kasus sandwich generation memberikan uangnya kepada orang tua yang masih dalam usia produktif.

Pengecualian bagi orang yang memiliki riwayat penyakit yang bikin tidak dapat melakukan pekerjaan dan hal lainnya. Tentunya dengan memberikan waktu dan usaha kalian buat bantu mereka menjadi produktif sehingga bisa menghasilkan uang agar tidak selalu bergantung kepada kalian.

Kedua: Bukan kita ngatur keuangan pribadi kita dulu, namun atur keuangan mereka dahulu.

Tanyakan hal-hal mengenai pengeluaran uangnya digunakan untuk apa saja secara detail, apabila kalian mengetahui pengeluaran mereka ternayata tidak digunakan dengan baik, hal itulah yang membuat kalian tertekan dan akan mengeluarkan duit lebih banyak lagi. Nah diposisi ini, kita harus mengajarkan literasi finansial terhadap orang yang kita tanggung bisa dengan me-mapping asset-aset dia dan hal lainnya.

Hal itu memang bahasan yang sangat sensitif, namun efektif untuk memutus rantai generasi sandwich. Kalau menurut pendapat kalian solusinya bagaimana? Kasih tau di kolom komentar ya!

Sri Heningsih Wulandari
Sri Heningsih Wulandari
Lulusan S1 Manajemen Komunikasi dari Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jakarta.
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.