Sabtu, Mei 8, 2021

Ulama Aswaja Sedunia Tolak Wahabi Salafi, Ini Sebabnya!

Kematian George Floyd, Tanda Masih Eksisnya Rasisme di AS

Baru-baru ini media ramai memberitakan kematian seorang pria berkulit hitam keturunan Afrika-Amerika bernama George Floyd yang tewas di bawah tekanan lutut oknum polisi di...

Kenapa Sih, Penolakan Pabrik Semen Harus Ricuh

Sampai dengan hari ini, saya masih belum paham. Apa sebenarnya yang membuat, aksi penolakan terhadap rencana pembangunan pabrik semen, di Kawasan bentang Karst Sangkulirang...

Post-Tradisionalisme Islam

Istilah “Post-Tradisionalisme” pertama kali muncul ketika ISIS (Institute for Social and Institutional Studies), sebuah LSM yang dikelola oleh anak-anak muda NU di Jakarta, menyelenggarakan...

Kitab Suci Memang Fiksi?

Tahun lalu, dalam sebuah forum diskusi mingguan berjudul “Jokowi-Prabowo Berbalas Pantun”, yang diselengarakan Indonesia Lawyers Club, Rocky Gerung, dengan konsep fiksinya, menggemparkan masyarakat Indonesia. Hal...
Wawan Kuswandi
Pemerhati komunikasi massa, founder blog INDONESIAComment, mantan editor Newsnet Asia (NNA) Jepang dan penyuka sambal

Muktamar Ulama AhlusSunnah Wal Jamaah sedunia yang digelar di Chechnya, belum lama ini menolak dan mengeluarkan sekte Wahabi Salafi bentukan Saudi Arabia dari AhlusSunnah Wal Jamaah. Kenapa ini terjadi?

Muktamar akbar itu dihadiri ulama-ulama besar AhlusSunnah diantaranya, Syaikh al-Azhar, DR. Ahmad Thayyib, Ulama Yaman Habib Umar Bin Hafidz, Mufti Mesir Syaikh Syauqi Alam, Habib Ali Al Jufri, Syaikh Usamah al-Azhari, Mantan Mufti Mesir, Syaikh Ali Jumah dan lebih dari 200 ulama AhlusSunnah sedunia.

Salah satu kutipan dari 11 rekomendasi yang dikeluarkan muktamar menyebutkan bahwa muslim AhlusSunnah adalah mazhab Asyairah dan Maturidiyyah dan mengeluarkan sekte Wahabi dari kelompok Islam Sunni.

Shaikh al-Azhar menyebut kelompok Takfiri Wahabi telah menyebarkan berbagai penyakit dan cacat moral serta kebebasan yang kacau dalam menguasai Timur Tengah. “Kelompok-kelompok Takfiri melakukan tindakan tercela yang tidak ada kaitannya dengan AhlusSunnah Wal Jamaah,” tandasnya.

Wahabi menisbatkan dirinya kepada sunnah untuk menyebarkan kedengkian dan kebencian. Dalam pandangan Seikh, ucapan pengafiran Wahabi menjadi sebab utama pertumpahan darah dan saling bunuh antar sesama kaum muslim dengan dalih berjihad melawan orang-orang kafir.

Sejarah Turki Utsmani Hancurkan Wahabi Ibn Sa’ud 

Kekhalifahan Islam Turki Utsmani berhasil menumbangkan pasukan Muhammad ibn Sa’ud tahun 1815. Akibat Kekalahan itu, Ibn Sa’ud dan sejumlah anggota keluarganya ditawan di kota Kairo, kemudian dipindahkan ke Konstantinopel, Turki. Muhammad ibn Sa’ud didakwa sebagai dalang pemberontakan dan pembunuhan ribuan muslim Ahlussunnah Wal Jama’ah di jazirah Arab. Kekejaman Ibn Sa’ud dalam menebarkan mazhab Wahabi Salafi telah memusnahkan ribuan nyawa kaum muslim.

Tahun 1902 cucu Muhammad ibn Sa’ud yaitu Abdul Aziz bin Abdurrahman ibn Sa’ud berusaha untuk mengembalikan kejayaan Wahabi Salafi Klan Sa’ud. Klan As-Sabah di Kuwait ikut mendukung Klan Sa’ud dan Inggris ikut terlibat.

Wakil kerajaan Inggris Percy Cox membuat traktat dengan Klan Sa’ud melalui pemimpin Wahabi tanggal 13 Juni 1913. Dalam Isi perjanjian yang terdokumentasi itu, seorang pemimpin Wahabi mengatakan, “Dan dengan melihat perasaan cintaku kepada kalian, aku sangat berharap hubunganku dengan kalian seperti hubungan-hubungan yang telah lama terjalin antara kalian dengan para leluhurku, sebagaimana aku sangat berharap hubungan itu tetap terjalin (baik) antara aku dengan kalian”.

Dalam Muktamar di Al-Aqir tahun 1927 M atau 1341 H di distrik Ahsaa ditandatangani perjanjian resmi antara Wahabi dan Pemerintah Inggris. Dalam perjanjian itu, pimpinan Wahabi mengatakan, “Aku berikrar dan mengakui 1000 kali kepada Sir Percy Cox wakil Britania Raya, tidak ada halangan bagiku (sama sekali) untuk memberikan Palestina kepada Yahudi atau yang lainnya sesuai dengan keinginan Inggris, yang mana aku tidak akan keluar dari keinginan Inggris sampai hari kiamat“. Pada tahun 1953 Muhammad Ibnu Sa’ud mati dan digantikan Raja Sa’ud dan berlanjut ke Raja Faisal.

Wahabi dan Israel

Pada Juni Tahun 1967, Israel melakukan perang terbuka dengan sebagian negara-negara Timur Tengah dan  mendapat dukungan Amerika dan Eropa Barat. Ketika perang berkobar, para pemimpin Wahabi menyampaikan pidato, “Wahai saudara-saudaraku, aku baru saja datang dari saudara-saudara kalian di Amerika, Britania, dan Eropa. Kalian mencintai mereka, dan mereka pun mencintai kalian“.

Tahun 1969, koran Washington Post mewawancarai salah satu pimpinan Wahabi. Mereka mengakui memiliki kedekatan khusus dengan Zionis Israel, “Sesungguhnya kami dengan bangsa Yahudi adalah sepupu. Kami tidak akan rela melemparkan mereka ke laut sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian orang, melainkan kami ingin hidup bersama mereka dengan penuh kedamaian“.

Pakar sejarah Wahabiyah telah menemukan bukti bahwa untuk memurnikan tauhid Wahabi, diciptakanlah jargon-jargon dan dipropagandakan kepada kaum muslim atas perintah Kerajaan Inggris. Jargon yang dibuat bersifat indoktrinasi yaitu muslim Ahlussunnah Wal Jama’ah harus dipaksa menjadi boneka-boneka perang mereka dan dipaksa untuk menerima paham Wahabi.

Untuk mendukung misi tauhid Wahabi ini, Inggris dan beberapa negara Eropa Yahudi mengirimkan berbagai keperluan operasional, logistik, tentara bayaran dan instruktur-instruktur tentara militer untuk mendukung gerakan Wahabi yang dimotori Muhammad Ibnu Sa’ud dan Muhammad ibnu Abdil Wahhab untuk melakukan pemberontakan terhadap kekhalifahan Turki Ottoman yang sah. Tujuan mereka ialah untuk mengadu domba umat muslim dengan menebarkan mazhab Wahabi yang menurut mereka paling benar.

Selain itu, mereka juga berniat mendirikan Haikal Sulaiman di tanah al-Haramain. Namun, gerakan mereka tertangkap basah oleh kekhalifahan Turki Ottoman. Tetapi, mereka yang tertangkap membantah bila dituduh ingin merebut kekhalifahan Turki Ottoman dan menerbarkan mazhab Wahabi salafi.

Bantahan mereka disertai dengan penyebaran fitnah keji terhadap kekhalifahan Turki Ottoman. Mereka mengatakan, “Kami memberontak karena kekhalifahan Turki Ottoman korup, banyak kemaksiatan yang terjadi, negara sudah tidak stabil”. Banyak ucapan fitnah lainnya yang mereka buat untuk menghalalkan cara-cara yang tidak sesuai dengan ajaran Islam dan melanggar kewajiban yang diperintahkan Allah SWT.

Waspadai Pesantren Wahabi

Para orang tua yang menginginkan anaknya belajar agama Islam di pesantren harus waspada dan hati-hati karena sekitar 33 pondok pesantren diduga kuat telah tercemar mazhab Wahabi Salafi. Seperti dikutip dari media online muslimoderat.net (03/7/2017) sejumlah pondok pesantren Wahabi Salafi itu telah menyebar ke seluruh Indonesia.

Untuk menarik minat peserta didik, mereka mengiming-imingi beasiswa khusus, gratis biaya pembelajaran selama beberapa tahun atau tawaran lainnya.

Sebaiknya para orangtua tidak tergiur dengan janji mereka dan melakukan konsultasi dengan PBNU untuk mendapatkan pesantren yang berkualitas bagi anak-anak Anda.

Sumber:

http://www.muslimoderat.net/2017/07/hati-hati-memondokkan-anak-inilah.html#ixzz5sSDN7r3l

1.http://mahkota77.hexat.com/beritaku/__xtblog_entry/11229669-arab-saudi-bukan-negara-islam-tapi-pedagang-dan-juragan-islam?__xtblog_block_id=12. https://web.telegram.org/#/im?p=@arrahmahnews.com

http://www.ruwaqazhar.com

https://www.islampers.com

http://www.muslimoderat.net

Wawan Kuswandi
Pemerhati komunikasi massa, founder blog INDONESIAComment, mantan editor Newsnet Asia (NNA) Jepang dan penyuka sambal
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Idealitas Tata Kelola Perpustakaan

Perpustakaan sebagai pusat informasi menjadi salah satu media yang dituju oleh masyarakat untuk mendapatkan informasi melalui literatur melalui bahan pustaka tercetak. Meskipun teknologi semakin...

Negara dan Usaha Pemajuan Kebudayaan

Indonesia dikenal dunia sebagai negara yang multikultural dengan pusparagam kebudayaannya yang sangat melipah ruah, dari ujung Sabang di Aceh sampai tanah Merauke di Papua...

Pembelajaran Jarak Jauh, Efektifkah?

Sejak ditetapkannya pandemi Covid-19 di Indonesia, banyak sektor yang terdampak, mulai dari ekonomi, pariwisata, sosial dan budaya termasuk sektor pendidikan. Pembelajaran tatap muka (offline) yang selama...

Memperkuat Proteksi Konstitusi

Akhir-akhir ini, diskursus mengenai perpanjangan masa jabatan presiden menjadi tiga periode semakin menguat. Untuk masa sekarang, Pasal 7 UUD NRI 1945 menegaskan pembatasan masa...

Orientalisme, Prancis, dan Kita

Kita tentu masih ingat beberapa bulan lalu hebohnya sebuah kasus di Prancis mengenai gambar Nabi Muhammad yang dianggap melecehkan Islam, yang menuai reaksi keras. Dalam...

ARTIKEL TERPOPULER

Khotbah Idulfitri: Inikah Ramadan Terakhir Kita?

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا Ramadan berlalu dan kita masih duduk termangu. Apa saja yang telah kita lakukan...

Menjawab Ahmad Daryoko, Parasit 212

Sudah sejak lama orang ini kerap menyebarkan kabar bohong. Motif di balik itu sebenarnya karena sakit hati. Orang ini pernah jadi Ketua Serikat Pekerja...

Beberapa Kesalahan Berpikir Kita

Proses berpikir merupakan salah satu komposisi dari pola aktifitas manusia dalam kehidupan, sekaligus menjadikan nya sebagai prestise seseorang agar terhindar dari segala bentuk keterasingan...

Kartini-Kartini 4.0

“Habis bikin kopi, sachet nya jangan dibuang sembarangan, pilah ke tempat sampah plastik!” begitu kata istri. Alhasil, saya harus memungut ulang sachet plastik kopi...

Agility di Pertamina

Membaca berita mengenai pengangkatan direksi Pertamina dengan tagline lebih agile, fokus, dan cepat, menggoda penulis untuk kembali mengulas kebijakan-kebijakan pemerintah dari kacamata agile. Pertama kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.