Sabtu, Agustus 30, 2025

Transformasi Digital dan Kesiapan Pedagogis Dosen

Ledi Trialdi
Ledi Trialdi
Ledi Trialdi, Dosen FEB UI & Pemerhati Pendidikan Tinggi
- Advertisement -

Transformasi digital dalam pendidikan tinggi Indonesia kini memasuki babak baru. Jika sebelumnya perkuliahan daring dan video pembelajaran sekadar respons terhadap pandemi, kini banyak kampus menjadikannya sebagai strategi jangka panjang. Dalam beberapa tahun terakhir, platform Massive Open Online Courses (MOOCs) bukan hanya tumbuh sebagai instrumen pembelajaran alternatif, tetapi juga sebagai medan persaingan baru—baik antar perguruan tinggi di dalam negeri maupun dengan platform learning courses lokal dan global.

Di saat yang sama, perguruan tinggi mulai bersiap menuju fase berikutnya: pembentukan program studi jarak jauh (PJJ) secara penuh. Permendikbud 7/2020 memberi landasan hukum untuk itu, membuka jalan bagi kampus yang ingin mendirikan prodi digital sepenuhnya.

Arah kebijakan ini memberi peluang besar, namun juga menimbulkan dua tantangan besar. Pertama, bagaimana kampus mampu bersaing dalam menghasilkan konten MOOC yang berkualitas dan menarik? Kedua, sejauh mana kesiapan perguruan tinggi—terutama dosennya—untuk menyelenggarakan program full-online yang benar-benar efektif?

Kampus dan Pasar Baru Pembelajaran Digital

Di era digital, konten pembelajaran telah berubah menjadi aset strategis. MOOC tidak lagi sekadar instrumen edukasi terbuka, tetapi juga bagian dari model bisnis dan ekspansi merek. Banyak universitas dunia, seperti Harvard dan MIT, memproduksi MOOC berkualitas tinggi yang digunakan jutaan pelajar di seluruh dunia—sekaligus memperluas pengaruh dan reputasi mereka. Di Indonesia, pemerintah melalui platform SPADA dan ICE Institute telah mendorong pengembangan konten lokal serta pembelajaran daring lintas kampus.

Namun realitasnya, meski beberapa kampus telah mengembangkan kursus daring terbuka, skala dan kualitas konten MOOC-nya relatif terbatas. Masih sedikit perguruan tinggi yang mampu menciptakan kuliah skala besar dengan desain teknis dan pedagogis yang matang. Akibatnya, kampus-kampus Indonesia sulit bersaing dalam industri konten pembelajaran digital yang kini berkembang pesat secara global.

Salah satu tantangan mendasarnya adalah kesiapan sumber daya manusia, khususnya dosen, karena MOOC bukan hanya soal akses, tetapi kualitas pengalaman belajar yang ditawarkan. Di balik platform, LMS, dan studio rekaman, dosen tetap memegang peran kunci sebagai perancang pengalaman belajar digital. Saat ini, tidak sedikit pengajar yang masih mengandalkan pendekatan mengajar konvensional—ceramah panjang dan file presentasi statis—yang sekadar dipindahkan ke ruang digital.

Krisis Pedagogi di Tengah Ledakan Teknologi

Kualitas pembelajaran daring sangat ditentukan oleh kapasitas dosen. Sayangnya, di Indonesia, kesiapan pedagogis dosen belum secepat laju transformasi teknologinya. Giatman, Siswati, dan Basri (2020) memperlihatkan bahwa hambatan dalam pembelajaran jarak jauh tak hanya terletak pada teknologi, tetapi juga pedagogi. Banyak dosen yang secara akademik kompeten, namun tak terlatih saat harus mengelola pembelajaran daring, merancang evaluasi berbasis platform, atau memproduksi video ajar yang menarik.

Kondisi ini diperburuk oleh sistem rekrutmen dan promosi dosen yang masih sangat menekankan rekam jejak akademik dan publikasi ilmiah. Kemampuan pedagogis—apalagi pedagogi digital—sering kali dipandang sebagai keterampilan tambahan, bukan inti dari profesi dosen. Padahal, mengajar di ruang digital menuntut keahlian baru: bagaimana memecah materi menjadi microlearning, menyusun rubrik penilaian daring, memberi umpan balik otomatis, dan mengelola forum diskusi yang hidup.

Di sebagian besar kampus, pengalaman pengajaran inovatif bahkan belum diakui secara proporsional dalam penilaian kinerja dosen. Ini membuat banyak dosen enggan berinvestasi waktu dan energi dalam merancang pengalaman belajar digital yang bermakna, karena tidak dihargai setara dengan aktivitas riset atau publikasi jurnal.

Menjawab Tantangan Melalui TPACK dan Gen-Z Lens

Untuk menjembatani kesenjangan ini, kerangka Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK) yang dikembangkan Mishra dan Koehler (2006) menawarkan pendekatan integratif yang relevan. TPACK menekankan pentingnya penguasaan materi ajar (content knowledge/CK), strategi mengajar (pedagogical knowledge/PK), dan kemampuan menggunakan teknologi (technological knowledge/TK) secara bersamaan. Dosen yang hanya menguasai konten tapi tidak memahami bagaimana mengemasnya secara digital akan kesulitan menciptakan pengalaman belajar yang efektif.

- Advertisement -

Sebagai contoh, seorang dosen Ekonomi Mikro bisa sangat menguasai konsep elastisitas harga (CK) dan mampu menjelaskannya secara runtut di kelas (PK). Namun jika ia hanya membagikan slide atau merekam penjelasan satu arah tanpa elemen interaktif, mahasiswa akan kesulitan memahami penerapannya dalam konteks nyata. Ketika dosen tersebut mulai menggunakan simulasi interaktif untuk melihat perubahan permintaan saat harga berubah (TK), menyisipkan kuis berbasis kasus nyata melalui platform daring, serta merancang tugas eksploratif dengan data harga riil dari BPS atau e-commerce, ia sedang menerapkan prinsip TPACK secara nyata.

Pendekatan ini juga sangat selaras dengan karakter mahasiswa Gen-Z, yang kini mendominasi ruang kuliah. Lopez dan Abadiano (2023) mencatat bahwa Gen-Z terbiasa multitasking, memiliki perhatian pendek, dan lebih termotivasi oleh pembelajaran visual, interaktif, dan personal. Mereka tumbuh bersama YouTube, TikTok, dan berbagai platform mandiri yang memungkinkan belajar sesuai minat dan kecepatan masing-masing. Maka, dosen perlu lebih dari sekadar paham teknologi—mereka harus mampu mendesain pengalaman belajar yang cocok dengan pola kognitif generasi ini.

Langkah Strategis untuk Masa Depan Pendidikan Tinggi

Transformasi digital dalam pendidikan tinggi tidak cukup jika hanya bertumpu pada infrastruktur. Tanpa transformasi pedagogis yang mendalam, pendidikan daring hanya akan menjadi tiruan lemah dari kuliah luring. Untuk itu, institusi pendidikan tinggi harus mengambil peran aktif. Pertama, dengan membangun sistem pelatihan pedagogis berkelanjutan berbasis TPACK. Ini tidak bisa sekadar berupa workshop satu kali menjelang semester baru. Diperlukan model pembinaan jangka panjang, komunitas praktik untuk berbagi strategi pengajaran digital, mentoring sejawat, dan ruang refleksi agar dosen dapat tumbuh bersama teknologi yang terus berkembang.

Kedua, perguruan tinggi perlu menyelaraskan sistem insentif dan rekognisi. Inovasi dalam pengajaran daring—termasuk pengembangan MOOC, pemanfaatan LMS, dan desain evaluasi digital—harus diakui dan dihargai secara proporsional dalam sistem remunerasi dan penilaian kinerja dosen.

Ketiga, perlu ada evaluasi mutu pembelajaran daring secara menyeluruh. Penilaian kualitas PJJ tidak boleh hanya fokus pada jumlah video atau modul yang diunggah, tapi harus mempertimbangkan engagement mahasiswa, keberhasilan capaian pembelajaran, dan kualitas pengalaman belajar secara holistik.

Akhirnya, kita harus menyadari bahwa pendidikan bukan sekadar menyampaikan isi, melainkan membangun makna. Kampus perlu berani berinvestasi pada kompetensi pedagogis dosen, agar pendidikan tinggi bukan hanya mampu bertahan, tapi bersaing di panggung global.

Ledi Trialdi
Ledi Trialdi
Ledi Trialdi, Dosen FEB UI & Pemerhati Pendidikan Tinggi
Facebook Comment
- Advertisement -

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.