OUR NETWORK
From Korea With Love Concert
Sabtu, Desember 3, 2022
From Korea With Love Concert

Tragedi Masyarakat Madura di Era Modern

Akbar Mawlana
Mahasiswa Sosiologi dan founder Arena Sosial.
From Korea With Love Concert

Orang luar kerap menggambarkan masyarakat Madura sebagai etnis yang keras dan tidak berpendidikan. Secara kritis, penggambaran tersebut merupakan hasil dari pengetahuan kolonial yang mendikotomi antar etnis Indonesia. Negara kolonial menginginkan agar sesama etnis Indonesia memiliki hubungan yang tidak harmonis. Sebab, apabila antar etnis Indonesia memiliki hubungan yang baik, negara kolonial sukar untuk menjajah Indonesia dengan lama.

Apabila mengkaji kembali, ada dua aspek esensial yang menciptakan pandangan negatif kepada masyarakat Madura. Pertama, dalam aspek kultural, yang mengarah kepada tradisi carok. Masyarakat luar melihat carok hanya dari satu perspektif. Yakni, sebagai tindakan yang tidak mempunyai nilai kemanusiaan.

Rekognisi mengenai carok sebagai tindakan yang tidak manusiawi perlu dipertanyakan kembali. Seyogianya, setiap tradisi memiliki nilai adiluhung. Nilai adiluhung yang tertanam dari carok adalah bentuk moralitas untuk mempertahankan solidaritas sosial. Hakikatnya, masyarakat Madura mempunyai sifat afeksi yang tinggi. Itulah yang membuat carok bersifat esensial bagi masyarakat Madura.

Kedua, dalam aspek gender. Banyak kajian yang memperlihatkan jika perempuan Madura mengalami ketertindasan. Hanya saja kajian tersebut bersifat kontradiktif. Lantaran, perempuan Madura bisa disebut mengalami ketertindasan, jika dilihat dari aspek struktural fungsional. Mengingat, perempuan Madura sering mengalami diskriminasi dalam relasi sosialnya.

Tetapi, senyatanya perempuan Madura memiliki posisi yang terhormat. Terlihat dari banyaknya proses yang harus dihadapi oleh laki-laki sebelum menikah dengan perempuan Madura. Selanjutnya, perempuan Madura memiliki posisi yang mulia dalam lingkup keluarga. Tampak dari parebasan Madura, yaitu bhuppa’, bhabhu’, guru, rato (ayah, ibu, guru, ratu).

Namun, permasalahan masyarakat Madura semakin pelik dan dilematis seiring perkembangan teknologi. Teknologi memiliki pengaruh yang signifikan, karena mampu mengubah tatanan kehidupan sosial secara multidimensi. Salah satu fenomenanya adalah ketika tubuh masyarakat Madura menjadi barang komersial yang laris di media.

Alhasil, masyarakat Madura semakin mengalami ketertindasan di era modern, ketika kehadiran media melalui akumulasi relasi kuasanya mampu memproduksi ideologi yang hegemonik. Hanya saja masyarakat Madura tidak menyadarinya. Lantaran, sifat media yang mampu mengubah kekerasan menjadi sebuah hiburan.

Kenyataannya, media telah memproduksi kekerasan simbolik kepada masyarakat Madura. Teraktualisasikan ketika media  massa sering mengaitkan peristiwa yang buruk dengan identitas Madura dalam berita. Begitu juga ketika media massa hanya menyoroti aktivitas seksual perempuan Madura. Seperti, pemberitaan tentang banyaknya perempuan Madura yang melakukan pernikahan dini dan tindakan pemasangan susuk kecantikan.

Jika media massa mau bersifat bijak dalam menghasilkan berita, isi berita dapat mengeksplorasi tentang prestasi perempuan Madura. Mengingat banyak sekali perempuan Madura yang bisa berprestasi dalam aspek sosial, politik, budaya, dan pendidikan di ranah publik.

Sayangnya, isi berita semacam itu tidak memberikan keuntungan. Melihat dari karakteristik masyarakat modern lebih menggemari isi berita yang bersifat kontroversial. Sehingga, media massa juga enggan untuk memberitakan superioritas perempuan Madura.

Selain itu, beberapa tayangan di media bertendensi merendahkan jati diri masyarakat Madura. Paling terlihat pada acara komedi, film, dan sinetron. Tidak jarang ketiga acara tersebut memosisikan masyarakat Madura dengan tidak wajar.

Semisal, aktor yang memakai identitas kemaduraan (pakaian loreng merah putih dan logat bicara) digambarkan dengan profesi rendah atau tidak berpendidikan. Tujuannya adalah agar penonton menyukai acaranya dan mendapatkan penilaian yang baik.

Sebenarnya, keberadaan acara televisi yang merendahkan orang, etnis, dan kelompok merupakan fenomena yang wajar terjadi sekarang. Karena, jati diri manusia modern yang berorientasi untuk saling memperalat sesama manusia demi meraup keuntungan. Ditambah lagi, kehadiran media telah menjelma sebagai alat untuk menyingkirkan seseorang melalui pembentukan pengetahuan kultural .

Dengan begitu, media terus melanggengkan wacana mengenai keterbelakangan masyarakat Madura. Proses pelanggengan dilakukan melalui penggunaan bahasa. Bahasa menjadi instrumen yang memenjarakan seseorang dengan memunculkan nilai kebenaran dalam subkultur. Esensialnya, entitas bahasa tidak pernah bersifat netral. Oleh karenanya, melalui bahasa akan menghasilkan pertukaran pemahaman yang bersifat absurd.

Semakin diperburuk dengan masyarakat yang hanya menjadi penonton pasif ketika menonton acara di media. Dalam perspektif kritis, hilangnya kesadaran sosial masyarakat terjadi ketika industri budaya mampu menghipnotis masyarakat secara konformitas. Dengan demikian, masyarakat tidak bisa menyaring isi media dengan kritis.

Oleh sebab itu, masyarakat Madura terus mengalami representasi sebagai etnis yang rendah. Lalu, apakah masyarakat Madura bisa melakukan resistensi terhadap ketidakadilan yang terjadi? Hanya ada dua jawaban: bersuara untuk melawan atau bungkam dalam keterasingan!

Akbar Mawlana
Mahasiswa Sosiologi dan founder Arena Sosial.
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.