Minggu, Mei 16, 2021

Kesadaran Komunikasi Antarbudaya di Era Digital

Fiqh Siyasah Indonesia, Siasat Politik Kontemporer

Fiqh siyasah (pemikiran politik Islam) Indonesia sepanjang sejarah memiliki distingsi yang dalam banyak hal berbeda dengan fiqh siyasah di kawasan dunia Muslim lain. Distingsi fiqh...

Diskriminasi Ruang Pendidikan

Ilmu pengetahuan merupakan pilar peradaban. Dari masa di mana manusia hanya mengetahui cara membuat api, bercocok tanam, dan berburu, sampai masa di mana muncul...

Hak Perempuan di Pemilu Harus Dilindungi

Sabtu lalu masa kampanye pemilu 2019 telah resmi berakhir. Kini telah memasuki masa tenang dan pencoblosan tinggal menengok waktu saja. Tantangan kini bukan lagi...

Siapa Eksis Diterjang Wabah?

Petani di simpang jalan, kini saatnya membincang pembangunan pertanian berbasis kebutuhan perut. Saya pernah puji setinggi langit petani bunga: baik potong atau hias juga petani...
Neni Nur Hayati
Neni Nur Hayati
Direktur Eksekutif Democracy anad Electoral Empowerment Partnership, Aktivis Nasyiatul Aisyiyah

Membangun diskursus mengenai komunikasi antarbudaya (intercultural communication) selalu menjadi hal yang menarik untuk dikaji dan bukan pula fenomena baru. Terlebih,  di tengah pesatnya perkembangan komunikasi dan teknologi informasi yang semakin tidak terbendung, baik secara langsung ataupun tidak langsung tentu saja memiliki dampak signifikan dalam kehidupan manusia dan alam semesta. Berbagai peristiwa yang terjadi di belahan dunia manapun akan sangat cepat sampai dan  diakses secara mudah, sebab saluran informasi di jaringan nasional dan internasional menjadi juga bagian yang tidak terpisahkan dari komunikasi. Sehingga, pertukaran informasi dari satu individu ke individu lain, satu negara ke negara yang lain semakin cepat dan meningkat.

Komunikasi antarbudaya (intercultural communication) merupakan proses pertukaran pikiran dan makna antara orang-orang berbeda budaya (Mulyana, 2008). Individu dengan berbagai macam latar belakang kebudayaan meliputi bangsa, kelompok ras, agama, nilai dan norma serta komunitas bahasa verbal atau non verbal menjadi sebuah keniscayaan. Komunikasi antarbudaya dapat pula diartikan sebagai “communication between people whosecultural perceptions and symbol systems are distinctenough to alter the communication event” (Samovar, et al., 2010). Untuk itulah, dalam buku “The Process of Communication”  karya David K. Berlo (1960) menyatakan bahwa kontribusi latar belakang kebudayaan adalah hal yang sangat penting terhadap perilaku komunikasi seseorang termasuk bagiamana memahami makna-makna yang dipersepsi terhadap tindakan komunikasi yang bersumber dari kebudayaan yang berbeda.

Adanya perbedaan budaya tersebut haruslah disikapi dengan dengan bijak, sebab jika tidak, akan berpotensi menjadi konflik. Penulis sangat meyakini bahwa semua negara memiliki komitmen yang kuat untuk menciptakan perdamaian. Indonesia sendiri menjadi salah satu bagian yang turut berkomitmen untuk memelihara dan merawat perdamaian dunia, apalagi Indonesia sebagai negara yang multicultural, juga telah memiliki langkah nyata dan kontribusi konkrit dalam menciptakan pemahaman budaya. Hal tersebut tercermin dalam program dialog lintas agama dan budaya (interfaith and intercultural dialogue) antarnegara, Indonesia PolandCross Cultural Program (IPCCP) dan lain sebagainya.

Tidak hanya di Indonesia, negara lain pun memiliki program yang sangat beragam dalam menjaga semangat perdamaian, toleransi dan keberagaman. Budaya dan komunikasi adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Budaya atau kultur mempengaruhi setiap aspek dalam pengalaman komunikasi (DeVito, 1997 : 479). Sistem kebudayaan yang berbeda memiliki dinamika yang berbeda pula dalam mengatur dan mendesain simbol-simbol dalam komunikasi. Samovar& Porter (1991: 48) menyatakan “It (culture) is the foundation of communication and when culturesvary, communication practices may also vary”. Ada orientasi untuk mengamati perbedaan dan persamaan budaya dalam komunikasi. Salah satu-nya adalah orientasi budaya konteks tinggi –budaya konteks rendah.

Seorang Antropolog Budaya, Edward T. Hall dalam bukunya berjudul “The Silent Language” mengkonstektualisasikan budaya konteks tinggi atau High-Context Culture (HCC) digunakan di negara-negara Asia, Amerika Indian dan Amerika Latin sekaligus juga menerangkan mengenai keberadaan konsep-konsep unsur kebudayaan. Seseorang untuk dapat menciptakan komunikasi antarbudaya yang efektif, maka harus memiliki kemampaun dalam mengelola anxiety dan uncertainty dengan memiliki mindfull (Griffin, 2006: 431).

Intercultural Coomunication Digital

Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi di era serba digital menjadi hal yang tak dapat terelakkan. Malah menolak atau menghindari modernisasi dan globalisasi sama artinya dengan mengucilkan diri dari masyarakat internasional.Hal ini juga menjadi pendobrak dalam keberlangsungan komunikasi antarbudaya. Berbagai macam kebutuhan dan informasi yang diinginkan selalu tersedia dalam Big data. Disadari ataupun tidak, bahwa fenomena komunikasi antarbudaya, sejatinya sedang kita alami setiap saat, baik disengaja ataupun tidak (Mulyana, 2008). Sebab, berkomunikasi melalui internet memungkinkan terjadi pertukaran antarbudaya.

Ada banyak dampak positif yang dirasakan akibat dari transfer teknologi dalam komunikasi antarbudaya, khususnya pada kemajuan suatu negara. Merujuk data Survei Asosasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) 2020, jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 196,7 juta atau 73,7 persen dari penduduk Indonesia. Jumlah itu meningkat 25,5 juta pengguna dibandingkan pada tahun 2018 (Kompas, 31/3/2021). Sejalan dengan peningkatan tersebut, maka tentu saja semakin banyak pula masyarakat yang memanfaatkan media sosial dalam komunikasi antarbudaya. Selama periode 2017-2021, pengguna media sosial di Indonesia meningkat rata-rata 12,74 persen setiap tahunnya. Tercatat, jumlah pengguna media sosial di Indonesia hanya 106 juta. Setahun berikutnya, jumlah meningkat menjadi 130 juta pada 2021 mencapai 170 juta pengguna. Artinya, media sosial menjadi hal yang tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan sehari-hari. Internet telah membuka ruang baru bagi masyarakat dan telah memfasilitasi ruang komunikasi.

Setiap individu memiliki kesempatan yang sama untuk mengeksistensikan dirinya secara lebih luas lagi, bahkan sampai kancah international. Apalagi untuk yang aktif di media sosial seperti facebook.twitter, Instagram, tiktok dan lain-lain. Melalui aktivitas seperti update status, komentar, like, share dan berbagai fasilitas lainnya menunjukkan ingin mengetahui perkembangan yang ada dan sedang terjadi. Komunikasi dalam media sosial menjadi semakin kompleks. Ada dua level komunikasi yakni komunikasi interpersonal dan komunikasi massa melebur menjadi satu.

Oleh karenanya, disisi lain dengan mudahnya akses informasi ini juga perlu menjadi kewaspadaan karena dikhawatirkan dapat mengaburkan jati diri bangsa atau struktur yang telah dibangun. Hasil penelitiannya Robby Darwis Nasuition mengenai “Effect of The Development of Communication Information Technology on Local Cultural Existence” mengungkapkan saat terjadinya globalisasi budaya yang diikuti hilangnya batas  serta legitimasi sebuah wilayah atau negara melalui sebuah ideologi yang bernama kemajuan menjadi ancaman nyata budaya lokal, sehingga yang dimungkinkan terjadi adalah homogenitas global yang dapat menyebabkan kerusakan kultur pribumi ataupun kultur barat atau tumbuhnya kedewasaan budaya lokal.

Untuk itu, salah satu kunci keberhasilan dalam membangun komunikasi antarbudaya di era digital adalah adanya filterisasi,  Seberapa kuat budaya, norma atau adat lokal dan budaya luar, maka tentu akan sangat mempengaruhi perilaku dan sikap dari masing-masing pihak. Jangan sampai sikap primordialisme yang melekat dalam diri. Alih-alih persatuan bangsa, perdamaian dunia, toleransi dan keberagaman yang terwujud, justru kita sendiri mengalami kesulitan dalam berinteraksi dengan individu dan kelompok lain karena memiliki cara pandang yang tidak inklusif.

Berdasarkan pengalaman yang dihadapi penulis melakukan komunikasi dengan orang yang beragam serta menyaksikan fenomena adanya budaya masyarakat yang semakin dinamis, maka kesadaran setiap individu untuk senantiasa mengikuti perkembangan zaman dengan memilah wilayah mana yang harus menggobal dan tetap lokal. Ini menjadi penting, karena pemahaman komunikasi yang efektif tidaklah cukup. Selain itu, kesadaran yang harus dibangun, apalagi untuk generasi milenial kebawah juga adalah meningkatkan kesadaran akan pentingnya mempelajari komunikasi lintas budaya untuk pemberdayaan pribadi, kekebasan memilih untuk bertindak dan membangun hubungan lebih baik dengan bermacam-macam orang (Hall dalam Deddy, 2008). Terakhir, perkaya literasi digital untuk penyadaran identitas dengan beragam kebudayaan.

 

Neni Nur Hayati
Neni Nur Hayati
Direktur Eksekutif Democracy anad Electoral Empowerment Partnership, Aktivis Nasyiatul Aisyiyah
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Resolusi Kemandirian Pangan

Beberapa waktu yang lalu terjadi kegaduhan akibat statemen yang dilontarkan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi tentang rencana impor beras. Sejumlah kalangan kemudian bereaksi dan memberikan...

Diskursus Proporsionalitas Pidana dalam Kebijakan Formulasi Sanksi Pidana

Pada bulan Maret lalu, Badan Legislasi (Baleg) DPR RI menyampaikan laporan terkait pembahasan Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Prioritas Tahun 2021. Dalam laporan tersebut disampaikan...

Taklid: Terpelesetnya Keulamaan Kita

Kegagalan kita dalam beragama adalah tidak teliti dalam membaca nash--baik itu perintah maupun larangan. Budaya taqlid kiranya memang mengelayuti konteks beragama di Indonesia. Beragama...

Daud Sang Raja Kontroversial

Daud Bin Isai Raja kedua sekaligus paling terkenal dari Kerajaan Israel merupakan kombinasi yang unik antara hero dan anti hero. Dia dipuja sepanjang zaman...

OSINT, Jurnalisme Investigatif, dan Demokrasi

Pada Oktober 2020 lalu, NarasiTV mengunggah video berdurasi kurang lebih 10 menit yang menggemparkan media sosial. Video itu mencoba menguraikan kejadian pembakaran Halte Sarinah...

ARTIKEL TERPOPULER

Tegakkan P3SPS Secara Keseluruhan

Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang terkenal dengan fungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak dan suara, dalam bentuk monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi"...

Doa dan Puisi untuk Palestina

Kamis malam ini (24-8-2017) akan digelar acara “Doa untuk Palestina”. Diprakarsai oleh Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus, acara yang akan berlangsung di Grahana...

Enzo Allie dalam Polemik Denny Siregar dan Birgaldo Sinaga

Baru-baru ini media sosial kita diramaikan dengan kehadiran sosok pemuda blasteran Indonesia-Perancis yang mendaftar sebagai taruna akademi militer (Akmil). Pada awalnya, pemuda bernama Enzo Allie...

Inilah Pelanggaran EPI yang Banyak Kita Jumpai di Jalan

Iklan saat ini merupakan satu hal yang tidak bisa kita hindari dalam kedihupan sehari-hari. Periklanan sendiri sudah merupakan kegiatan pokok setiap orang yang ingin...

Daud Sang Raja Kontroversial

Daud Bin Isai Raja kedua sekaligus paling terkenal dari Kerajaan Israel merupakan kombinasi yang unik antara hero dan anti hero. Dia dipuja sepanjang zaman...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.