OUR NETWORK
Selasa, Januari 31, 2023

The Social Dilemma, Algoritma Media Sosial Manipulasi Pengguna

Rina Wibowo
S1 Ekonomi Pembangunan, Universitas Airlangga
From Korea With Love Concert

Di masa pandemi virus corona, kita sangat bergantung pada perangkat-perangkat lunak agar kita tetap bisa berhubungan dengan teman, keluarga dan rekan kerja yang tidak dapat ditemui secara langsung. Namun sebuah film dokumenter baru spektakuler dari Netflix mengungkapkan dampak media sosial yang sangat membahayakan.

Peluncuran film dokumenter Netflix berjudul “The Social Dilemma” di bulan September ini mungkin terasa ganjil. Mengapa? Ketika pandemi Covid-19 melanda dan menyebabkan kita bergantung dengan media sosial agar tetap bisa berinteraksi dengan semua orang, film ini justru menunjukkan bahwa Covid-19 bukan satu-satunya mimpi buruk bagi masyarakat dunia. The Social Dilemma menjadi sebuah pengingat bagi kita tentang betapa penggunaan media sosial itu berpengaruh pada kemanusiaan.

Jeff Orlowski, Sang Sutradara mengatakan bahwa film ini dibuat untuk menjelaskan bagaimana smartphone, algoritma yang sangat menarik perhatian, terpolarisasinya ruang kehidupan dan hasrat mengejar profit menyebabkan para pengguna terpapar cara-cara yang dapat menimbulkan ancaman pada demokrasi.

Diskursus tentang media sosial di zaman modern ini adalah sebagai kekuatan jahat yang telah menghipnotis masyarakat untuk menggulirkan informasi-informasi yang mengganggu tanpa memikirkan dampaknya, informasi yang menyebabkan perpecahan, dan mengangkat kelompok dan ideologi yang sebelumnya terpinggirkan dengan cara-cara yang merusak kohesi sosial, tentunya ini bukan hal yang baru.

Mantan Eksekutif Perusahaan Teknologi Raksasa Sampaikan Pandangan

“The Social Dilemma” adalah mega proyek selama tiga tahun yang memotret masalah rumit media sosial agar mudah dipahami oleh masyarakat yang tidak terlalu memahami teknologi, dan mungkin memotivasi mereka untuk mengambil tindakan guna mencegah konsekuensi yang lebih buruk.

Film ini mengkolaborasikan pandangan dari para mantan eksekutif Facebook, Google, YouTube, Twitter, Instagram dan Pinterest. Film fiksi ini menghadirkan latar belakang keluarga yang kecanduan smartphone yang penuh konten manipulatif, yang algoritmanya dibuat secara apik oleh aktor Vincent Kartheiser. Vincent dikenal luas publik ketika memerankan tokoh Pete Campbell dalam serial televisi “Mad Men.”

Tristan Harris, mantan eksekutif Google yang menjadi pemeran utama film ini, mengungkapkan melalui “The Social Dilemma” ia berharap dapat menyadarkan masyarakat sebagaimana buku “Unsafe At Any Speed” karya Ralph Nader, yang mendorong kesadaran hukum tentang sabuk pengaman, atau film dokumenter Al Gore tahun 2006 berjudul “An Inconvenient Truth” yang mempertajam fokus pada perubahan iklim akibat gas rumah kaca yang dihasilkan manusia.

Harris, yang sekarang menjadi presiden Center for Humane Technology, membagi rasa kecewa yang dirasakannya ketika masih bekerja di Google, dan juga hal-hal lain yang menarik perhatian Sutradara Jeff Orlowski.

Perlunya Kebijakan Dalam Menanggapi Informasi yang Kita Dapatkan Melalui Film ini

Ibarat membaca berita tidak boleh hanya membaca judulnya atau paragraf pertamanya saja, menonton The Social Dilemma juga harus kita simak dengan seksama. Dokumenter ini memang secara maksimal mengeksplorasi dampak negatif dari model bisnis dan sistem algoritma setiap media sosial. Karena sebuah masalah harus diberi perhatikan khusus untuk menyadarkan kita dalam mengambil tindakan dan memperbaiki kesalahan yang sudah terlanjur diciptakan.

Film ini juga pada akhirnya memberikan solusi dan langkah kecil apa yang bisa kita lakukan agar tidak menjadi “produk” dari media sosial. Ditutup dengan berbagai statement dan pandangan optimis dari para mantan eksekutif perusahaan teknologi raksasa.

Mereka juga sempat menyebutkan bahwa tidak ada sosok tiran dan motivasi jahat ketika media sosial diciptakan. Setiap founder mengawali sebuah ide dengan kreativitas dan niat yang positif untuk perkembangan peradaban manusia. Namun, sistem yang dikembangkan ternyata telah berkembang dengan cara yang “mengerikan” canggihnya dan dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu demi meraih keuntungan. Meski harus mengorbankan kebenaran dan kode etik lainnya.

The Social Dilemma bukanlah kampanye anti media sosial, melainkan instrumen penggebrak untuk memberikan kesadaran skala besar dalam menggunakan sosial media, untuk menjadi pengguna yang cerdas. Film dokumenter seperti inilah yang seharusnya bisa menjadi materi penyuluhan di kalangan remaja. The Social Dilemma merupakan time capsule yang mengandung kebenaran, mengantisipasi kemungkinan terburuk di masa depan ketika kebenaran tidak memiliki definisi yang benar lagi.

Rina Wibowo
S1 Ekonomi Pembangunan, Universitas Airlangga
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.