Senin, April 19, 2021

Terorisme, Ilusi Identitas Tunggal dan Ketimpangan Ekonomi

Pekerja Perempuan, Jerat, dan Harap

Bagi perempuan, diskriminasi terasa hingga hal yang paling remeh. Penggunaan kata wanita, misalnya, diartikan sebagai manusia yang mengabdi setia pada suami (Jupriono, 1997). Berdasarkan...

Teacher Zaman Old, Mendidik Kids Zaman Now

Sebagai seorang guru, saya menginsyafi jika pemakaian 4 kata asing (dari 7 kata) dalam kalimat judul tulisan di atas, sangat menyalahi kaidah berbahasa Indonesia...

Surga Dunia Metropolitan

Surga Dunia Metropolitan   Kehidupan kota metropolitan seperti Jakarta kini kian meresahkan. Banyak sekali masyarakat luar Jakarta yang mengadu nasib di ibu kota sehingga banyak...

Standar Ganda HAM di Qatar

Semenjak Qatar tertunjuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022, negara semenanjung di teluk Arab tersebut langsung melakukan percepatan pembangunan infrastruktur guna menyokong jalannya acara...
Arsi Kurniawan
Minat kajian demokrasi dan civil society

Beberapa hari belakangan ini, kita dikagetkan dengan aksi brutal para teroris yang melancarkan bom bunuh diri tepatnya di depan halaman Gereja Katedral di Makasar dan aksi perempuan yang melakukan penyerangan di Mabes Polri. Semua pihak mengutuk keras aksi yang dilakukan oleh para teroris. Tentu semua tahu, aksi tersebut dilakukan secara terorganisir, sistematis dan menyasar kelompok-kelompok yang menurut mereka (teroris) harus dilenyapkan.

Barangkali ini bisa dibuktikan melalui surat yang ditinggalkan oleh seorang perempuan berinisial ZA (25) yang tewas ketika melakukan penyerangan di Mabes Polri. Isi surat tersebut tersirat memiliki nuansa politis serta ilusi identitas tunggal yang coba diciptakan oleh para teroris. Kita bebas menafsirkan isi surat tersebut.

Terlepas dari itu, bagaimanapun pesan yang disampaikan sebenarnya mengandung benih perpecahan, merusak nilai-nilai kebangsaan dan tentu saja mempertontonkan betapa sempit, dangkal dan dipenuhi naluri kejahatan paling bengis yang diciptakan untuk menguasai dan menindas yang lain.

Perlu dicatat, kemunculan teroris dan benih-benih teroris tidak serta-merta lahir begitu saja. Selalu ada faktor determinan yang membentuk akan hal itu. Bahkan pada tingkat tertentu, terorisme lahir dari sikap minimnya pemahaman dan kesadaran paling dalam dari seseorang memaknai toleransi diantara keberagaman. Hal ini bisa dibuktikan melalui aksi bom bunuh diri di depan Gereja Katedral di Makasar dengan menyasar kelompok-kelompok yang berbeda keyakinan. Inilah salah satu bukti konkrit betapa pemahaman keberagaman itu terlalu sempit.

Menurut saya, persoalan terorisme tidak bisa terlepas dari dua hal. Pertama, ilusi identitas tunggal dan kedua, meluasnya ketimpangan ekonomi ditengah masyarakat. Saya akan menunjukan bahwa apa yang dimaksudkan dengan ilusi tunggal identitas dan ketimpangan ekonomi telah membentuk jaringan terorisme itu semakin berakar kuat di dalam masyarakat.

Ilusi Identitas Tunggal

Dalam buku Kekerasan dan Identitas, Amartya Sen (2016), menunjukan bahwa kekerasan terhadap identitas paling awal sebenarnya dibentuk dari sikap ilusi identitas tunggal yang diciptakan dan dipraktikan. Ilusi identitas tidak saja mendorong sikap sinisme terhadap identitas lain serta mengkotak-kotakan identitas.

Paling jauh justru menciptakan banyak kekerasan yang dilanggengkan oleh identitas lain terhadap identitas yang berbeda. Pada tingkat tertentu, ilusi yang telah diciptakan akan dikampanyekan kepada yang lain (kelompoknya) dalam rangka mendapatkan dukungan dalam melegitimasi ilusi identitas tunggal yang telah dikonsepkan. Hal ini tentu dilakukan melalui upaya mempolitisasi simbol-simbol identitas yang lain dan menciptakan rasa dendam untuk melenyapkan mereka.

Di sinilah sebenarnya keberagaman sebagai sebuah bangsa seketika lenyap dan tergerus dihadapan ilusi identitas tunggal. Mereka akan memaksakan identitasnya untuk diterima yang lain, sementara pada sisi yang lain mereka akan mencari-cari kelemahan-kelemahan dari identitas yang lain tersebut dalam rangka menunjukan superioritas akan identitas yang dianutnya. Persis disinilah sebenarnya kita menemukan bahwa ilusi identitas tunggal itu membawa kita kepada sebuah sikap untuk mendominasi seraya menundukan identitas lain.

Ilusi identitas tunggal ini bisa kita temukan dari aksi para teroris yang terus melancarkan aksi brutalnya terhadap identitas yang lain. Mereka menyasar identitas diluar mereka melalui aksi-aksi bom bunuh diri dalam rangka menciptakan ketakutan dari identitas yang mereka sasar.

Apa yang mereka lakukan sebenarnya dilatarbelakangi oleh ilusi yang mereka ciptakan sendiri dan mereka anut sendiri dilingkaran kelompoknya. Di sana tentu yang nampak adalah mereka ingin menguasai yang lain dan melenyapkan identitas yang lain yang menurut mereka sesat. Tidak heran jika untuk mencapai ilusi yang mereka ciptakan tersebut, mereka kerapkali melakukannya dengan mengorbankan nyawa mereka sendiri. Sangat absurd.

Apa yang tampak dari aksi para teroris, sebenarnya menunjukan ilusi akan identitas yang mereka konseptualisasikan sendiri, dianutnya sendiri dan dianggap paling benar. Dari sikap semacam ini yang lahir adalah suatu pemikiran bahwa dengan melenyapkan identitas lain mereka menemukan kebenaran versi mereka.

Namun saat bersamaan pula mereka sebenarnya telah mendegradasi peradaban manusia sebagai identitas majemuk dengan hanya mereproduksi identitas tunggal mereka. Karena merasa identitas lain lebih unggul, pemaksaan identitasnya yang dibentuk oleh ilusi telah mendorong aksi-aksi brutal dalam rangka identitas yang mereka yakini diterima secara universal dikalangan identitas lain.

Selama ilusi identitas tunggal semacam itu terus dipraktikan dan dilanggengkan, selama itu pula pemaksaan identitas terhadap identitas lain terus dilakukan. Tidak heran jika Sen (2016: 24) menyebut bahwa ilusi tentang identitas tunggal sebenarnya jauh lebih memecah belah.

Ketimpangan Ekonomi

Sebagian kalangan tentu boleh tidak setuju bahwa keterkaitan terorisme dengan meluasnya ketimpangan ekonomi adalah salah satu faktor yang melatarbelakanginya. Sebab, kondisi suatu masyarakat yang timpang, dimana penguasaan akses terhadap sumber daya hanya dikuasai oleh kelompok-kelompok dari kalangan tertentu seketika melahirkan benih kebencian dan kecemburuan.

Bahkan lebih jauhnya lagi, ketimpangan ekonomi ini justru menyebabkan kelompok lain makin terdegradasi karena kurangnya akses bagi artikulasi kepentingan mereka. Di satu sisi, lemahnya kehadiran negara dalam memfasilitasi hak-hak dasar bagi pemenuhan kesejahteraan dasar bagi masyarakat menjadi pemicu seseorang meluapkan kemarahannya melalui aksi-aksi brutal.

Menurut saya, jika hanya mengkaitkan terorisme dengan agama tertentu, kita hanya terjebak kedalam pemahaman sempit. Karena toh semua agama pasti mengajarkan kebaikan, kebenaran dan cinta akan sesama. Maksud saya, kita mesti harus berangkat dari aspek yang selama ini terabaikan, yakni soal meluasnya ketimpangan ekonomi yang belakangan semakin menguat ditengah masyarakat.

Di tengah menguatnya ilusi identitas tunggal yang diciptakan dan tak pelak menemukan situasi ekonomi masyarakat yang timpang, tidak heran jika praktik ilusi identitas tunggal justru dilanggengkan terutama di kalangan masyarakat yang terpinggirkan dari domain pembangunan negara.

Untuk itu menurut saya, ada langkah yang perlu ditempuh. Pertama, mendorong penguatan nilai-nilai keagamaan, kebangsaan dan kemanusiaan ditengah masyarakat. Serta menunjukan keberagaman identitas yang mesti dirawat. Kedua, negara mesti harus bergerak lebih cepat melalui tawaran kebijakan dan pemenuhan hak-hak dasar masyarakat yang selama ini terpinggirkan. Dari sana negara akan menemukan bahwa ketimpangan ekonomi yang selama ini diciptakan dan absennya negara telah mendorong kelompok-kelompok ini untuk menegakkan keadilan meskipun dengan jalan yang brutal dan sadis.

Arsi Kurniawan
Minat kajian demokrasi dan civil society
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Tadarus Etika: Konsep, Kerja, dan Tunjang

Allah memperkenankan kita bertemu sekali lagi dengan bulan suci umat Islam, Ramadan 1442 H. Kian tahun kebutuhan manusia akan etika semakin kuat. Integritas melangka:...

Belajar di Sekolah Kembali? Mari Kurangi Kekhawatiran Kita

Pemerintah Indonesia berencana membuka sekolah lagi di bulan Juli 2021. Ini kabar menggembirakan, mengingat bahwa bagi beberapa anak, pendidikan adalah satu-satunya jalan keluar dari...

Terorisme Akan Selalu Dapat Tempat Jika Tokoh Islam Masih Ada yang Denial

Berkali-kali sudah esktremisme kekerasan dan kejahatan terorisme terjadi di negeri kita, sejak Bom Bali yang terjadi pada tahuan 2000an sampai tahun ini. Namun sikap...

Kubur Kosong (Refleksi Iman atas Banjir Bandang di Leuwayan)

Minggu, 04 April 2021, umat Katolik sejagat merayakan hari raya Paskah. Paskah adalah peristiwa kebangkitan. Karena itu merayakan Paskah berarti merayakan kemenangan Kristus atas...

Simbol Agama dalam Aksi Teroris

Di Indonesia dalam beberapa hari ini marak terjadi penyerangan oknum yang tidak bertanggung jawab pada wilayah agama dan kepolisian. Agama merupakan simbol kolektif dari...

ARTIKEL TERPOPULER

Masa Depan Peradaban Islam dalam Pandangan Ziauddin Sardar

Masa depan peradaban Islam dalam banyak tulisan selalu dikaitkan dengan ide kebangkitan Islam yang telah dimulai sejak abad ke-18 yang lalu. Meskipun sudah kurang lebih...

Kegiatan Di Bulan Suci Ramadhan Sesuai Pancasila

Indahnya bulan suci ramadhan tahun ini disambut suka cita oleh seluruh umat Islam dari Indonesia, luar negeri dan seluruh dunia setiap tahun. Dari hasil...

Definisi Kekuatan: Hard Power dan Soft Power

Konsep Dasar Power Kekuatan atau power dalam ilmu Hubungan Internasional adalah elemen utama, terutama dalam kaca mata realisme, Morgenthau menjelaskan bahwa perilaku negara pada dasarnya...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.