Selasa, Mei 18, 2021

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Nafsu Wakil Rakyat

Nafsu Wakil RakyatOleh Bene DalupePemerhati PolitikAda dua dari empat arti kata ‘nafsu’ yang terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI edisi IV, 2016:947) yang...

Krisis Akut Pendidikan Keadaban Kita

Beberapa hari ini viral video dan pemberitaan siswa sebuah Sekolah Dasar di Serdang Bedagai, Sumatera Utara yang dihukum gurunya dengan cara menjilat WC. Hukuman...

Generasi Zaman Now: Krisis Ruang Privasi

Kasus Awkarin yang sempat menjadi viral beberapa tahun silam karena menangis tersedu-sedu dan videonya diunggah di Youtube menjadikannya terkenal dalam waktu singkat. Sekarang, kasus-kasus media...

Pemilu dan Kecurangan Akal sehat

Dalam hitungan beberapa hari lagi kita akan melaksanakan pesta Demokrasi yaitu pemilu serentak. Dalam hal ini, kita telah banyak dipertontonkan sejumlah ketegangan yang tentu...
Sigit Adi
Social science analyst

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul “Too Much Love Will Kill You”, dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, “Too Much Believe Will Kill You.” Setidaknya itulah yang tercermin dari aksi terorisme bermodus agama yang seringkali mengganggu kondusifitas kehidupan sosial kita.

Bagaimana bisa seseorang menukar nyawanya dengan janji kemuliaan yang belum pernah terbukti adanya? Ya, setidaknya sampai saat ini belum ada martir bom bunuh diri yang kembali dari surga ke bumi untuk memberikan kesaksian bahwa setelah meledakkan diri, ia terbang ke surga, disambut 72 bidadari dan mendapatkan pelayanan first class dari para malaikat di sana. Belum ada!

Jika tidak ada kepastian, lalu apa yang membuat orang bisa melakukan aksi teror hingga rela menghilangkan nyawanya sendiri? Ada sebuah anekdot klasik yang mungkin dapat memberi sedikit gambaran tentang fenomena tindakan radikal ini. Anekdot ini tentang Neils Bohr, seorang ilmuwan besar asal Denmark, pelopor fisika kuantum dan pemenang nobel fisika tahun 1922.

Suatu hari seorang teman berkunjung ke rumah Neils Bohr di Copenhagen. Masyarakat di sana memiliki kepercayaan tentang khasiat tapal kuda yang dapat mencegah roh-roh jahat masuk ke dalam rumah. Saat masuk ke rumah, teman Neils Bohr heran melihat tapal kuda menggantung di daun pintu rumah Bohr, dia bertanya: “bukankah kamu seorang ilmuwan yang berpikir rasional, bagaimana bisa kamu percaya pada takhayul semacam ini?” Neils Bohr menimpali dengan jawaban yang bagus: “ya benar, sebagai seorang ilmuwan tentu saja aku tidak percaya dengan takhayul semacam itu. Hanya saja, aku tetap memasangnya karena orang-orang bilang padaku kalau tapal kuda itu akan tetap berfungsi walaupun aku tidak mempercayainya.”

Anekdot tersebut dengan apik menggambarkan tentang paradoks keyakinan. Dalam The Sublime Object of Ideology, filsuf Slovenia, Slavoj Zizek mengatakan, “keyakinan kita bernilai melalui tindakan kita, lebih dari pikiran kita.” Zizek menyebut ini sebagai kekuatan ideologi yang termaterialisasi melalui praktik tindakan subjek, tanpa ia perlu benar-benar percaya pada makna tindakannya. Inilah kenapa manusia dikatakan disebut Zizek sebagai subjek sinis (cynical subject).

Bagi Zizek, sikap sinis adalah keadaan ‘normal’ subjek. Pada dasarnya kita tidak benar-benar percaya pada nilai atau konsep-konsep di kepala kita yang mendeterminasi praktik sosial kita. Contoh kesinisan dalam praktik sehari-hari semisal saat kita bertanya “apa kabar” kepada teman.

Coba kita refleksikan lagi, sungguhkah kita peduli dengan kabar teman kita? Saya tidak yakin. Buktinya kita merasa cukup ketika teman kita menanggapi dengan jawaban template: “baik”, tanpa perlu ia menjelaskan keadaannya secara terperinci; semisal dia sedang dililit hutang, berantem dengan pacarnya dan lain sebagainya. Begitu pula sebaliknya saat teman kita bertanya balik tentang kabar kita, sebenarnya kita juga tahu kalau dia tidak sungguh peduli dengan saat menanyakan itu. Karenanya kita beri dia jawaban template serupa: “baik”.

Kesinisan subjek ini juga berlaku terkait keyakinan dalam praktik beragama. Seperti kita tahu, gagasan utama yang diserukan agama adalah tentang jalan keselamatan yang kekal bagi siapapun yang mau mengikuti ajaranNya. Mengapa hampir semua agama menyerukan ide ini? Jawabannya jelas, karena pada dasarnya manusia takut pada sesuatu yang tidak diketahuinya atau tidak dapat dipastikannya. Di sinilah salah satu fungsi penting agama untuk coba memberikan ketenangan pada manusia yang dihantui ketakpastian melalui ide-ide transendennya.

Namun nyatanya agama juga tidak sepenuhnya berhasil mengatasi kecemasan manusia. Terbukti dalam derajat tertentu, umumnya orang pasti tetap memiliki rasa takut akan kematian. Ketakutan tersebut jelas menyiratkan bahwa orang tidak seratus persen yakin pada konsep yang ditawarkan agama tentang jalan keselamatan yang kekal atau terselenggaranya afterlife. Dengan kata lain, agama—dalam fungsi ideologisnya—adalah nama lain bagi hal-hal yang orang praktikkan tanpa benar-benar mereka yakini dengan serius.

Namun, sikap sinis tersebut tidak melulu berarti negatif. Justru sebaliknya, karena sikap sinis atau praktik dalam ketakyakinan itulah yang memungkinkan manusia dapat menata kehidupan bersama yang toleran dan kondusif. Dan itu pula kenapa, secara paradoksal, kaum ektrimis atau fundamentalis yang terlalu serius menyikapi keyakinannya kita sebut sebagai teroris, bar bar dan sebagainya.

Sigit Adi
Social science analyst
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Hari Buku Nasional, Budaya Literasi Kita Masih Rendah!

Dalam sebuah video perjalanannya, Fiersa bersari pernah mengucapkan perbanyaklah membaca buku, supaya pertanyaan bagaimana cara menulis tidak perlu diucapkan lagi. Suatu ungkapan yang menekankan...

Biografi dan Cara Berpikir Hamka (Bagian 1)

Sabtu pagi, 8 Juni 2013, Prof. James R. Rush dari Arizona State University, berkunjung ke tempat tinggal saya di Jakarta, untuk bertukar pikiran tentang...

Rasa Kemanusiaan Tidak Mengenal Batas Negara

Nampak aneh jika ada seorang manusia bisa berbuat baik tanpa ada alasan apapun dibelakangnya. Itu pikiranku dulu, ternyata hal itu pernah terjadi setelah aku...

Nasib Korban Kejahatan Seksual di Indonesia

Berdasarkan studi yang dilakukan oleh ValueChampion tahun 2019, Indonesia disebut sebagai negara kedua di kawasan Asia Pasifik yang paling berbahaya untuk wisatawan wanita. Bagi...

Indonesia dan Konflik Palestina: Langkah Ekstrem

Akhir Ramadhan diwarnai dengan serangan yang berulang dari Zionis Israel kepada Palestina. The Reuters melaporkan bahwa tembakan roket dan serangan Israel berlangsung secara masif...

ARTIKEL TERPOPULER

Tegakkan P3SPS Secara Keseluruhan

Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang terkenal dengan fungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak dan suara, dalam bentuk monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi"...

Doa dan Puisi untuk Palestina

Kamis malam ini (24-8-2017) akan digelar acara “Doa untuk Palestina”. Diprakarsai oleh Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus, acara yang akan berlangsung di Grahana...

Strategi Mengikis Angka Golput

Golongan putih (Golput) atau perilaku non-voting (orang-orang yang tidak menggunakan hak pilihnya) masih menjadi bayang-bayang Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2019. Padahal, pesta demokrasi ini akan diselenggarakan...

Membedah Ucapan Jokowi soal Bipang Ambawang

Ucapan Presiden Jokowi soal ajakan kepada masyarakat untuk membeli makanan khas daerah, salah satunya bipang Ambawang, menjadi kehebohan baru. Ucapan itu terdapat dalam potongan...

Rasa Kemanusiaan Tidak Mengenal Batas Negara

Nampak aneh jika ada seorang manusia bisa berbuat baik tanpa ada alasan apapun dibelakangnya. Itu pikiranku dulu, ternyata hal itu pernah terjadi setelah aku...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.