Ledakan bom di Polsek Astana Anyar Bandung, Jawa Barat, Rabu 7 Desember 2022, tak hanya mengejutkan masyarakat setempat namun seluruh halayak Indonesia. Pasalnya setelah beberapa tahun sepi akan aksi teror bom, kini seolah masyarakat disadarkan bahwa terorisme di Indonesia masih hidup dan terus bergerak. Terakhir serang bom bunuh diri terjadi di Surabaya pada 2018.
Lebih mengejutkan lagi pelaku aksi teror merupakan eks napi terorisme yang ditangkap pada 14 maret 2017 dan bebas setahun yang lalu, 14 maret 2021. Ia bernama Agus Sujatno alias Abu Muslim bin Wahid, yang terlibat bom panci di Cicendo Bandung, bersama dengan Yayat Cahdiyat.
Agus memiliki peran penting dalam serangan bom panci di Cicendo, ia merupakan orang yang ikut mendanai, membeli peralatan, membantu Yayat merakit bom ditambah lagi ia memiliki keahlian dibidang Kelistrikan dan ikut melakukan survei lokasi. Menurut keterangan polisi, kelompok Yayat saat itu menarget Polda Jabar, Polres Cianjur, Pos Lalu Lintas Buat Batu dan Pos Lalu Lintas Geger Kalong. Seluruh targetnya adalah polisi, sehingga tak aneh bila target Agus kali ini adalah juga polisi.
Aksi Agus kali ini diduga keras adalah aksi balas dendam kepada polisi atas pembunuhan Yayat Cahdiyat pada 27 Februari 2017. Jika dugaan ini benar, maka aksi teror kelompok Yayat akan berhenti hingga di sini, sebab setelah Agus kelompok Yayat tinggal seorang lagi. Mungkin polisi tinggal mengawasi rekan Agus yang dulu ikut ditangkap Densus 88 pada 2017 silam.
Namun ada dugaan lain yang melatarbelakangi aksi yang dilancarkan Agus di Astana Anyar, yaitu ia melancarkan aksinya untuk menyambut seruan Juru Bicara Resmi ISIS Abu Umar al-Muhajir pada 30 November 2022. Seruan berbentuk Audio itu disebarkan melalui media resmi ISIS Muassasah Al-Furqan dengan judul “Mereka Membunuh atau Terbunuh”.
Ya setelah tewasnya pemimpin ISIS Abd ar-Rahman al-Irak, atau Abu al-Hasan al-Hashimi di Dara’a Suriah, ISIS mengangkat pemimpin barunya Abu al-Husain al-Husaini. Pengangkatan pemimpin baru ISIS tersebut disiarkan media resmi mereka Muassasah Al-Furqan bersamaan dengan seruan Jubir ISIS Abu Umar Al Muhajir dengan judul “Mereka Membunuh atau Terbunuh”.
Rekaman audio yang berdurasi sekitar 9 menit tersebut disebarkan pada 30 November 2022, tepat 7 hari sebelum penyerangan Polsek Astana Anyar. Dalam rekaman audio tersebut disebutkan beberapa hal, salah satunya meminta para pengikut ISIS untuk segera membaiat pemimpin baru mereka Abu Al-Husain Al-Husaini. Selanjutnya para pengikut ISIS, mulai dari Afrika hingga Indonesia mulai membaiat pemimpin barunya tersebut.
Selain itu, Jubir ISIS juga menyerukan kepada para pengikutnya untuk “memerangi musuh-musuh Allah di mana pun mereka ditemukan”. Bahkan dengan penekanan agar segera mungkin dengan mengatakan “Jadi jangan menunda apa yang telah Allah wajibkan atas kalian”.
Bila aksi teror yang dilakukan Agus di Polsek Astana Anyar adalah untuk menyambut seruan yang disampaikan oleh Abu Umar Al Muhajir, maka ini adalah “lonceng peringatan keras” bagi aparat keamanan di Indonesia. Karena bisa jadi Agus hanya permulaan dari mereka yang menyambut seruan ISIS itu. Sel-sel tidur ISIS lainnya di Indonesia bisa jadi juga akan mengikuti jejak Agus menyambut seruan Abu Umar Al Muhajir. Ini artinya aparat keamanan harus lebih waspada dan siap terutama pada momen Natal dan Akhir Tahun.
Apalagi diketahui bahwa usai keluar dari Lapas Nusakambangan, Agus bergaul dengan militan pro-ISIS dan mantan narapidana terorisme yang belum direhabilitasi BNPT di Solo, Jawa Tengah. Di antaranya adalah Yus Karman dan Ibadurrahman. Dua nama itu adalah pengelola Anfiqu Center (lembaga amal pro-ISIS) dan Hamalatul Quran (sekolah pro-ISIS). Di Solo Agus bekerja sebagai tukang parkir dan mendukung sikap pro-ISIS.
Tentu saja ini memperbesar kemungkinan para pendukung ISIS menjawab seruan Abu Umar Al Muhajir untuk melancarkan serangan terhadap mereka yang dianggap musuh Allah. Salah satu yang mereka anggap sebagai musuh adalah polisi.
Kekhawatiran berikutnya adalah transfer keahlian. Agus merupakan ahli Kelistrikan dan memiliki kemampuan untuk merakit bom. Ia mempelajari pembuatan bom secara otodidak melalui internet di link Telegram Bahrum Naim salah satu Anggota ISIS yang berada di suriah pada 2017.
Bila selama bergaul dengan militan pro-ISIS di Solo Agus berhasil mentransformasi keahliannya kepada yang lain, maka ancaman teror akan semakin besar. Sebab bisa jadi banyak militan pro-ISIS yang saat ini memiliki keahlian setidaknya sama dengan Agus, yaitu mampu merakit bom panci.
Perlu diingat juga, bahwa kasus bom Surabaya yang dilakukan keluarga Dita Oepriarto pada 2018 silam ternyata tak hanya membuat bom untuk aksi bersama keluarganya, namun ia membuat banyak bom. Bom yang lain itu kemudian dikirim ke sejumlah sejawat-nya di Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang pro-ISIS. Nah, ini yang lebih mengerikan, bila ternyata Agus tak hanya membuat dua buah bom, namun lebih dari itu dan disimpan oleh rekan-rekannya yang lain, maka ini akan sangat berbahaya.
Karena itu, peristiwa bom di Polsek Astana Anyar Bandung pekan lalu bukan jadi serangan tunggal semata, namun sebuah serangan awal dari penyambutan seruan Juru Bicara ISIS untuk melancarkan serangan di mana pun berada.
Sekali lagi, ini sudah pasti menjadi warning, peringatan, lonceng keras bagi aparat keamanan terutama polisi untuk bekerja ekstra demi meredam pergerakan militan pro-ISIS yang kemungkinan telah mempersiapkan aksi mereka dan tinggal menunggu momen dan waktu yang tepat untuk melancarkan aksi. Meski tentu kita semua berharap, tak ada lagi serangan bom bunuh diri di Indonesia.[]
