Selasa, Maret 5, 2024

Terjebaknya Publik dalam Remeh Temeh Visual

Novan Harya
Novan Harya
Mahasiswa Ilmu Komunikasi di Universitas Islam Indonesia (UII) dan tertarik dengan kajian media. Penggemar beberapa anime, sedang bersemangat latihan olahraga bulu tangkis.

Beberapa dari kita mungkin masih ingat dengan tokoh fiktif Robert Langdon, profesor simbologi dari Universitas Harvard yang menjadi tersangka dalam kasus pembunuhan kurator Museum Louvre karena namanya terpampang dalam pesan kematian sang kurator.

Langdon harus memecahkan misteri pembunuhan tersebut di bawah tekanan sebagai buronan polisi Prancis dan pembunuh yang sebenarnya, dengan bermodalkan petunjuk dalam pesan kematian sang kurator berupa kode dan simbol-simbol. The DaVinci Code (2006), film yang diadaptasi dari karya sastra penulis kenamaan Dan Brown tersebut adalah contoh yang jelas tentang bagaimana simbol dan visualitas dapat membawa seseorang pada petualangan dan konspirasi.

Dalam kehidupan nyata, kita sudah tak asing lagi dengan simbol dan praktik visual. Dalam Semiotics The Basics (2007), ‘simbol’ melekat pada segala yang dianggap sebagai simbol dan diberi makna. Oleh karenanya, simbol mengambil wujud di hampir segala hal, asalkan ia memenuhi kedua syarat tersebut. Peci dan sorban misalnya, dapat menjadi simbol representasi religiusitas karena ia dianggap sebagai tanda (dianggap mewakilkan sesuatu yang lain), dan bila maknanya disepakati demikian.

Pemakaian dan adopsi simbol bukanlah hal yang baru. Simbol ‘svastika’ Hindu dipakai dalam lambang partai Nazi German, penggunaan bintang Daud dalam agama Yahudi, simbol bulan sabit dan bintang yang dipakai dalam berbagai organisasi dan partai politik berasaskan Islam, dan palang salib yang identik dengan religiusitas Kristen adalah beberapa di antaranya.

Konspirasi terkait simbol-simbol visual sangat mungkin kita alami dalam kehidupan nyata, walaupun terkadang tak sedahsyat dan sedramatis dalam film. Beberapa waktu lalu, kasus yang sempat ramai adalah Ridwan Kamil dan Masjid Al-Safar rancangannya yang dalam penglihatan Ustadz Rahmat Baequni dan pengikutnya, bagian interior masjid ini dianggap sebagai lambang Illuminati. Kasus lain yang terjadi baru-baru ini, logo peringatan HUT RI ke-75 yang diprotes lantaran disebut-sebut mengandung simbol salib.

Tulisan ini akan coba menjelaskan mengapa publik seringkali terjebak dalam remeh temeh permasalahan simbol visual.

Martin Jay, dalam Scopic Regimes on Modernity menyatakan bahwa visualitas, di zaman modern dianggap telah mendominasi peradaban Barat. Berawal dari Renaissance dan revolusi ilmiah, modernitas lazim dianggap ocularcentric (berpusat pada perkembangan optik). Maka logis, bila aspek visual kemudian menjadi vital dalam aktivitas bermedia di zaman sekarang, entah itu dalam produksi, konsumsi, maupun distribusi konten. Frasa “no pict hoax” adalah salah satu penegasan dan bukti bahwa secara tidak langsung, informasi yang tidak dilengkapi dengan gambar (visual) bisa saja dianggap bohong.

Kegiatan bermedia pun sangat terobsesi oleh visual. Desain yang bagus, koreografi yang rapi, tata panggung, efek animasi, dan seterusnya berkembang berdasarkan kebutuhan akan visualitas di layar para penikmatnya.

Masih dalam Semiotics The Basics (20017), Saussure mengatakan pemaknaan atas simbol tidak mensyaratkan korelasi langsung dengan bentuk fisik. Makna mana yang akan keluar sebagai pendapat umum bergantung pada kesepakatan kelompok dominan. Dalam kasus logo HUT RI ke-75, bila masyarakat sepakat dengan bila terdapat tanda salib di dalamnya, itulah yang terjadi. Lalu apa masalahnya??

Problemnya adalah pada pemaknaan yang serampangan, yaitu melihat bahwa segala visualisasi yang terlihat sebagai realitas tanpa mempetimbangkan teks dan konteks. Ekstrimnya, orang hanya melihat tanpa pembacaan mendalam atas apa yang dilihatnya, dan serta merta memaknainya, tanpa sanggup mempertanyakannya dahulu.

Menilik kejadian yang sudah sudah, tidak berlebihan rasanya bila menilai bahwa publik perlahan-lahan mulai melek akan visualitas dan simbol yang menempel di banyak tempat dan beragam wujudnya. Pertanyaannya, mengapa hal itu bisa terjadi?

Karena perkembangan teknologi mengijinkan hal tersebut, dimana hampir semua teknologi media melayani kepentingan visual penggunanya. Menurut saya, fenomena ini relevan dengan teori media Marshall McLuhan. Dalam Key Themes in Media Theory (2007), McLuhan menyebutkan medium is the message. Asumsi dari teori ini adalah bagaimana kita berkomunikasi bergantung pada media apa yang tersedia.

Ia mengambil contoh televisi untuk menjelaskan ini. Televisi adalah medium elektronik yang mentransmisikan pesan audio-visual untuk jangkauan pemirsa yang luas. Dengan teknologi semacam itu, produsen pesan kemudian akan menyesuaikan jenis dan bentuk konten serta dengan cara yang bagaimana konten akan disebarkan. Menilik perkembangan teknologi yang sudah jauh melampaui televisi, tak heran bila publik begitu mudah terfokus pada aspek visual.

Bukannya mau menyalahkan atau bersikap sinis dengan perkembangan teknologi, namun kesadaran visual semacam itu tetap harus dibarengi dengan literasi media yang kuat pula. Kesadaran ini, bila dibarengi dengan tingkat literasi media yang mumpuni akan membuat masyarakat mampu bersikap kritis serta memproteksi dirinya sendiri tanpa perlu dikte berupa sensor dan pemblokiran dari lembaga sensor maupun pemerintah.

Seberapa mumpuni dan aspek mana yang menjadi prioritas tingkat literasinya tentu masih dapat didiskusikan, yang jelas mulai membicarakannya sedini mungkin lebih baik daripada tidak ada sama sekali. Bila tidak, publik akan terjebak dalam perdebatan cocokologi, teori-teori konspirasi yang tak substansial dan buang-buang waktu.

Sumber

Chandler, D. (2007). Semiotics The Basics. New York: Routledge.

Laughey, D. (2007). Key Themes in Media Theory. New York: Open university Press.

https://joaocamillopenna.files.wordpress.com/2018/03/jay-scopi-regimes-of-modernity.pdf

Sumber Berita

https://tirto.id/igauan-illuminati-ala-baequni-kontraproduktif-bikin-umat-jumud-eciy

https://jateng.tribunnews.com/2020/08/07/ormas-solo-protes-keras-logo-hut-ke-75-ri-karena-menyerupai-simbol-salib

Novan Harya
Novan Harya
Mahasiswa Ilmu Komunikasi di Universitas Islam Indonesia (UII) dan tertarik dengan kajian media. Penggemar beberapa anime, sedang bersemangat latihan olahraga bulu tangkis.
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.