Selasa, Maret 5, 2024

Teknologi, Tekanan, dan Mental: Perjuangan Gen-Z Melawan Depresi

Miftahul Farid Rafi Marjoni Imamora
Miftahul Farid Rafi Marjoni Imamora
Medical Student of Syarif Hidayatullah State Islamic University Jakarta

Remaja saat ini atau juga dikenal dengan julukan Generasi Z (Gen Z), tumbuh dalam era di mana teknologi mendominasi kehidupan sehari-hari. Meskipun teknologi memberikan kemudahan dan koneksi, penggunaan berlebihan dan terpapar media sosial bisa menimbulkan tekanan tinggi.

Tuntutan untuk terus terhubung online, perbandingan dengan kehidupan orang lain di media sosial, dan risiko cyberbullying merupakan faktor yang meningkatkan tingkat stres. Menurut studi dari Pew Research Center, remaja yang menggunakan media sosial lebih dari 3 jam sehari memiliki kemungkinan dua kali lipat lebih tinggi untuk mengalami stres daripada mereka yang menghabiskan waktu lebih sedikit.

Di samping itu, tekanan dari sistem pendidikan yang sangat kompetitif dan harapan untuk sukses di sekolah bisa memberikan beban besar pada Gen Z. Mereka merasa harus meraih nilai tinggi, masuk ke perguruan tinggi terkemuka, dan meniti karier yang sukses, yang seringkali memunculkan tekanan yang berat. Data dari American Psychological Association menunjukkan bahwa 83% remaja mengalami tekanan akademik yang terlalu tinggi. Remaja yang mengalami tekanan akademik yang berlebihan memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami stres.

Ketidakpastian ekonomi dan pekerjaan juga menjadi beban bagi Gen Z. Mereka merasa tertekan untuk menemukan pekerjaan yang stabil serta membangun karier di era perubahan teknologi yang cepat. Menurut laporan dari National Alliance on Mental Illness, 75% remaja melaporkan bahwa kekhawatiran akan masa depan mereka, termasuk ketidakpastian ekonomi dan pekerjaan, merupakan sumber stres yang signifikan.

Meski kesadaran akan kesehatan mental meningkat, stigma terhadap masalah kesehatan mental masih menghalangi akses terhadap bantuan atau dukungan saat mengalami stres atau masalah emosional. Akses luas terhadap informasi dari berbagai sumber membuka pintu bagi Gen Z, tapi informasi yang berlimpah dan kurangnya penyaringan bisa menimbulkan kecemasan dan tekanan informasi.

Tidak hanya itu, perubahan dalam struktur sosial dan lingkungan seperti masalah lingkungan, ketidaksetaraan, dan ketidakpastian politik juga berkontribusi pada tingginya tingkat stres yang dialami oleh Gen Z, stres yang berkelanjutan bisa mengakibatkan depresi.

Depresi merupakan masalah kesehatan mental yang mempengaruhi jutaan remaja di seluruh dunia. Hubungan antara depresi dan gaya hidup remaja telah menjadi fokus perhatian yang meningkat di kalangan ahli kesehatan dan masyarakat. Gaya hidup yang dijalani oleh remaja, yang sering kali penuh dengan tekanan akademik, sosial, dan teknologi, memiliki dampak signifikan terhadap kesehatan mental mereka.

Aspek gaya hidup seperti kurangnya tidur, pola makan yang buruk, dan kurangnya aktivitas fisik juga memainkan peran dalam kesehatan mental remaja. Kurangnya tidur bisa mempengaruhi suasana hati dan keseimbangan emosional, sementara pola makan yang buruk dapat mengganggu fungsi neurotransmitter dalam otak yang terkait dengan perasaan bahagia. Aktivitas fisik yang kurang juga dapat mempengaruhi kadar endorfin dan dopamin, zat-zat kimia yang berperan dalam perasaan senang dan bahagia.

Selain itu, kurangnya dukungan sosial atau konflik interpersonal juga dapat memicu atau memperburuk depresi pada remaja. Hubungan yang buruk dengan keluarga, teman sebaya, atau pengalaman bullying dapat menyebabkan perasaan terisolasi dan kesepian, yang merupakan faktor risiko bagi terjadinya depresi.

Pendekatan holistik menjadi fondasi utama dalam penanganan masalah depresi pada remaja. Berbagai strategi dan dukungan diperlukan untuk membangun kesehatan mental yang solid.Manajemen Stres dan Keseimbangan Emosional menjadi prioritas penting. Pendekatan ini melibatkan pembelajaran teknik-teknik relaksasi, meditasi, atau kesadaran diri untuk meredakan tekanan sehari-hari. Serta, penting juga bagi mereka untuk memahami dan mengelola emosi sebagai bagian integral dalam menjaga kesehatan mental.

Pola Tidur yang Sehat menjadi elemen krusial dalam menjaga keseimbangan mental remaja. Menciptakan lingkungan tidur yang baik dan memastikan mereka mendapat istirahat yang cukup memiliki dampak signifikan pada keseimbangan emosional dan kemampuan kognitif.

Pola Makan Seimbang juga turut berperan dalam menjaga kesehatan mental secara keseluruhan dengan memberikan pemahaman mengenai pentingnya nutrisi. Hal ini berkaitan erat dengan keseimbangan kimia otak yang memengaruhi suasana hati dan kesejahteraan mental.

Aktivitas Fisik Teratur memainkan peran penting dalam meningkatkan produksi zat kimia alami dalam otak. Ini membantu merangsang suasana hati yang positif dan mengurangi tingkat stres pada remaja.

Hubungan Sosial yang Positif membantu membangun jaringan dukungan yang essensial bagi remaja untuk menghadapi tekanan hidup dan mengatasi perasaan kesepian.

Pendidikan Kesehatan Mental yang komprehensif menjadi kunci dalam mengurangi stigma seputar masalah kesehatan mental dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya perawatan diri yang tepat.

Melalui kerjasama antara keluarga, lingkungan sekolah, dan layanan kesehatan mental, remaja dapat memperoleh dukungan yang terintegrasi. Hal ini membantu mereka mempelajari cara mengelola stres, menerapkan pola hidup sehat, serta memperkuat keterampilan emosional yang kuat. Dengan demikian, kita dapat membantu mereka menghadapi berbagai tantangan di era modern ini dan mengurangi risiko terjadinya depresi sambil meningkatkan kesejahteraan mental mereka.

Miftahul Farid Rafi Marjoni Imamora
Miftahul Farid Rafi Marjoni Imamora
Medical Student of Syarif Hidayatullah State Islamic University Jakarta
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.