Senin, Juni 17, 2024

Tantangan Pengolahan Limbah Tandan Kosong Kelapa Sawit

Fadli Hafizulhaq
Fadli Hafizulhaq
Dosen Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Andalas

Rasanya hampir tidak ada orang dewasa yang tidak tahu dengan kelapa sawit. Jika pun tidak pernah bertemu langsung dengan tanamannya, setidaknya sudah pernah berjumpa dengan produk turunannya. Produk turunan kelapa sawit yang paling lumrah adalah minyak goreng atau minyak sayur, barang ini hampir selalu ada di dapur. Selain itu, kelapa sawit punya andil dalam berbagai jenis produk lainnya mulai dari es krim hingga detergen.

Merujuk publikasi Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), konsumsi minyak sawit dalam negeri pada tahun 2022 lalu mencapai 20,968 juta ton. Nilai tersebut naik jika dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya 18,422 juta ton. Peningkatan konsumsi ini tentu saja juga meningkatkan jumlah kelapa sawit mentah yang diproses. Buah sawit diambil untuk diolah, sementara tanda kosongnya menjadi limbah.

Dikutip dari antaranews.com, jumlah limbah tandan kosong kelapa sawit (TKKS) yang dihasilkan industri pengolahan sawit pada tahun 2021 lalu diperkirakan sebesar 45 juta ton. Angka tersebut tentu bukanlah angka yang kecil. Pengolahan yang tepat sangat dibutuhkan agar limbah TKKS tidak berakhir menjadi sampah semata.

Kandungan dan Potensi

Meskipun dinilai sebagai limbah, TKKS masih tergolong sebagai material alam yang memiliki kandungan yang berguna. Limbah yang beratnya dapat mencapai 20-30% dari berat buah sawit segar ini mengandung selulosa–senyawa karbohidrat kompleks yang dapat diolah menjadi berbagai jenis produk. Kandungan selulosa pada TKKS mencapai 30-40% dari berat totalnya (Dewanti, 2018).

Sejauh ini, TKKS biasanya dipakai sebagai bahan bakar boiler pada industri. Sebagai salah satu biomassa yang berlimpah, TKKS memiliki nilai kalor yang cukup sebagai sumber bahan bakar terbarukan. Selain itu, TKKS juga dapat diolah menjadi kompos atau pupuk organik. Penggunaan kompos TKKS dapat mengubah pH tanah dan berpotensi meningkatkan karbon organik di dalam tanah.

Beberapa opsi lainnya dari pengolahan TKKS adalah sebagai bahan pembuatan arang aktif. Arang aktif adalah bahan yang memiliki banyak kegunaan di antaranya sebagai bahan untuk pengolahan air hingga produk kecantikan. Di samping itu, serat dari TKKS juga sangat potensial untuk diambil sebagai penguat komposit. Contoh penerapannya adalah pembuatan alternatif papan partikel dari serat TKKS. Lebih lanjut, serat TKKS bahkan juga telah banyak dikembangkan sebagai material dalam pembuatan nanokomposit.

Tantangan Pengolahan

Uraian-uraian di atas memberikan gambaran bahwa TKKS tidak semestinya dibiarkan menjadi sampah atau limbah. Apalagi, sama halnya dengan sumber selulosa lainnya, TKKS dapat diubah menjadi selulosa asetat yang memiliki nilai ekonomi yang baik. Sebagai informasi, selulosa asetat adalah bahan yang banyak digunakan pada pembuatan bahan tekstil. Selain itu, selulosa asetat juga dapat dibuat menjadi plastik untuk berbagai kebutuhan seperti bingkai kaca mata, mainan, dan sebagainya.

Namun meskipun memiliki banyak kegunaan, pemrosesan selulosa alam (seperti TKKS dan sumber lainnya) menjadi selulosa asetat tidak ramah lingkungan. Penyebabnya adalah proses-prosesnya yang memerlukan berbagai bahan kimia berbahaya. Sebagai contoh, proses alkalisasi dalam penyiapan serat untuk selulosa asetat menggunakan basa kuat seperti soda api (NaOH) yang memiliki sifat korosif.

Selain itu, proses pembuatan selulosa asetat juga membutuhkan senyawa asam kuat seperti asam klorida (HCl) yang juga bersifat korosif dan lebih berbahaya dari NaOH. Bahan kimia lainnya yang digunakan juga berpotensi merusak jika limbahnya dibuang secara sembarangan ke lingkungan dan ekosistem. Pada umumnya, berbagai senyawa tadi diperlukan untuk mengekstraksi atau memurnikan selulosa yang ada dalam TKKS.

Lebih lanjut, pengolahan TKKS menjadi kompos agaknya merupakan pilihan yang lebih ramah lingkungan. Pembuatan kompos biasanya tidak membutuhkan bahan kimia, prosesnya menggunakan bakteri fermentasi yang mudah didapatkan di tengah masyarakat. Hanya saja, durasi pembuatan pupuk kompos terbilang panjang sementara permintaan dan nilai ekonominya rendah. Hal tersebut berdampak pada sedikitnya jumlah TKKS yang mungkin untuk diolah.

Penggunaan TKKS di industri kerajinan pun, menurut penulis, juga cenderung sulit. Alasan utamanya adalah tipikal serat TKKS yang berukuran pendek. Jika pun memungkinkan, pengrajin perlu mencacah TKKS lalu menjadikannya bubur kertas. Kertas dari bubur itulah yang kemudian dapat diolah dengan lebih mudah untuk menjadi berbagai jenis kerajinan tangan. Namun sebelum itu, berbagai proses pembersihan serat tetap dibutuhkan–yang mana ada kemungkinan tetap menggunakan senyawa kimia tertentu.

Dengan demikian, pengolahan limbah TKKS pada prakteknya masih terhalang oleh berbagai tantangan atau rintangan. Adapun tantangan terbesarnya adalah menemukan metode atau cara terbaik dalam pengolahan TKKS yang ramah terhadap lingkungan. Hal tersebut sangat terkait dengan pergerakan dunia menuju pembangunan yang berkelanjutan. Terlebih jika kita mengingat fakta bahwa kelapa sawit mendapatkan penentangan yang serius dari Uni Eropa. Faktor utamanya adalah karena sawit dinilai sebagai komoditas yang beresiko tinggi terhadap deforestasi atau pengrusakan hutan.

Kemudian, terlepas dari persoalan komoditas kelapa sawit itu sendiri, pengolahan limbah sawit terutama tandan kosong kelapa sawit mesti mendapatkan perhatian yang cukup. Pasalnya selama manusia belum bisa lepas dari ketergantungan akan minyak sawit dan turunannya, selama itu pula kita akan terus memiliki pekerjaan rumah untuk mengatasi permasalahan limbahnya.

Akhir kata, salam hormat untuk para peneliti yang terus berkutat dengan persawitan hingga hari ini. Kita tentu juga berharap para pemangku kepentingan bersedia untuk ikut andil dalam mengatasi permasalahan limbah tandan kosong kelapa sawit tadi. Jika berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Semoga kelak persoalan limbah tandan kosong kelapa sawit tidak lagi membuat pusing.

Daftar Pustaka

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia. (2022). Kinerja Industri Minyak Sawit 2022. Diakses pada 10 Agustus 2023 dari https://gapki.id/news/2023/01/25/kinerja-industri-minyak-sawit-2022/

Dewanti, D. P. (2018). Potensi Selulosa dari Limbah Tandan Kosong Kelapa Sawit untuk Bahan Baku Bioplastik Ramah Lingkungan Cellulose Potential of Empty Fruit Bunches Waste as The Raw Material of Bioplastics Environmentally Friendly. Jurnal Teknologi Lingkungan, 19(1).

Fadli Hafizulhaq
Fadli Hafizulhaq
Dosen Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Andalas
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.