Minggu, April 18, 2021

Tanpa Bahas Maritim, Kemana Arah Debat Capres 2019?

Sulitnya Memahami Situasi Politik Kita

Kita tidak punya musuh bersama. Karena itulah kita saling memusuhi. Yang pada mulanya kawan, pada akhirnya jadi lawan. Takdir betapa tiada yang abadi dalam...

Imajinasi Konversi Kampanye Politik Digital

Kampanye digital adalah inovasi terbaru dalam kampanye politik. Model kampanye digital ini mengubah banyak elemen dari kampanye konvensional dengan rotasi yang lebih cepat dan...

Menyambut Permenristekdikti Nomor 55 Tahun 2018

Kado 90 tahun sumpah pemuda diberikan oleh Menristekdikti dengan menerbitkan Permenristekdikti Nomor 55 Tahun 2018 tentang Pembinaan Ideologi Bangsa Dalam Kegiatan Kemahasiswaan di Lingkungan...

Pendidikan Islam Sebagai Penangkal Isu Sara

Sara adalah berbagai pandangan dan tindakan yang didasarkan pada sentimen identitas yang menyangkut keturunan, agama, kebangsaan atau kesukuan dan golongan. Setiap tindakan yang melibatkan...
Hendra Wiguna
Humas Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Kota Semarang

Hampir dalam setiap seminar kebangsaan 4 tahun terakhir ini, isu maritime jadi kalimat pembuka dalam kegiatan tersebut. Bahkan, sudah sejak dini kita disuguhi mengenai sejarah kejaayaan nenak moyang kala itu. Sebut saja kerajaan Sriwijaya dan Majapahit, kisah-kisah mereka menjadi legenda hingga kini. Namun, sayang kesemua itu hanya menjadi sebuah dongen tanpa dijadikannya sebagai pedoman kehidupan kebangsaan.

Sriwijaya menjadi kerajaan maritime pertama di Nusantara, dengan raja pertamanya Raja Dapunta. Sepakterjang kerjaan Sriwijaya pada waktu itu sangat luar biasa, kemudian kejaayan nusantara ini dilanjutkan pada masa kejayaan Majapahit.

Setelah kemerdekaan Indonesia, hadir seorang Nakhoda Agung NKRI yang memiliki cita-cita menjadikan Indonesia sebagai Negara maritime meneruskan kejayaan Sriwijaya dan Majapahit. Sang Nokhoda Agung tersebut tak lain adalah Sang Proklamator sekaligus Presiden pertama Indonesia yang kita kenal dengan nama Bung Karno.

Kala itu, 23 september 1963 di sekitaran Tugu Tani Jakarta, dalam rangka Musyawarah Nasional Maritim pertama Bung Karno di sematkan menjadi Nakhoda Agung NKRI. Kini momen tersebut diperingati sebagai Hari Maritim Nasional melalui keppres Nomor 249/1964.

Dalam kegiatan tersebut para stakeholder maritime nasional memberikan kontribusinya dalam arah pembangunan maritime. Jejak kepemimpinan Bung Karno tak lepas dari maritime, mulai dari Deklarasi Djuanda (13 Desember 1957), Dekrit Presiden (5 Juli 1959), membangun Kompartemen Maritim dan seterusnya.

Orientasi pembangunan Bung Karno kala itu, menggambarkan bahwa beliau adalah seorang yang berjiwa Ocean Leadership. Lantas bagaimana dengan para pemimpin kita saat ini? Memang diawal kepemimpinannya Jokowi-Jusuf Kalla, digemakannya visi Indonesia Poros Maritim Dunia. Namun, sudah sampaimana dan bagaimanakah pencampaian visi tersebut. Tentu sangat menarik jika hal tersebut dapat digali ketika berlangsungnya debat capres 2019.

Akan tetapi, sangat disayangkan saat ini KPU tidak memasukannya dalam tema debat capres 2019. Padahal andai dimasukan, hal tersebut menjadi kesempatan bagi pasangan calon nomer urut satu untuk memaparkan pencapaian visi utama mereka. Sedang untuk pasangan calon nomer urut dua bisa menjadikan sebagai ajang evaluasi program utama petahana, sekaligus menawarkan program kemaritiman baru yang lebih baik dari sebelumnya.

Masih ada waktu KPU untuk memasukan konten tema kemaritiman dalam agenda debat capres, agar debat capres ini sesuai dengan kepribadian bangsa yang memiliki sejarah panjang kejayaan maritim. Dimana pemimpinya kala itu memiliki orientasi pembangunan pada sekotor kemaritiman, sehingga dalam masa kepemimpinannya pola pembangunan tidak kalang kabut. Karena memiliki pijakan yang sesuai dengan karakteristik bangsa dan negaranya.

Hendra Wiguna
Humas Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Kota Semarang
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Terorisme Akan Selalu Dapat Tempat Jika Tokoh Islam Masih Ada yang Denial

Berkali-kali sudah esktremisme kekerasan dan kejahatan terorisme terjadi di negeri kita, sejak Bom Bali yang terjadi pada tahuan 2000an sampai tahun ini. Namun sikap...

Kubur Kosong (Refleksi Iman atas Banjir Bandang di Leuwayan)

Minggu, 04 April 2021, umat Katolik sejagat merayakan hari raya Paskah. Paskah adalah peristiwa kebangkitan. Karena itu merayakan Paskah berarti merayakan kemenangan Kristus atas...

Simbol Agama dalam Aksi Teroris

Di Indonesia dalam beberapa hari ini marak terjadi penyerangan oknum yang tidak bertanggung jawab pada wilayah agama dan kepolisian. Agama merupakan simbol kolektif dari...

Menanti Istana Ibu Kota Baru

Dalam pekan kemarin virtual rencana desain Istana di ibu kota baru di Kalimantan Timur. Rencana pemerintahan Joko Widdo memindahkan dari DKI Jakarta ke Kalimantan...

Upaya Normalisasi Hubungan Irak-Arab Saudi

Pada 2 April 2021, kantor berita Irak, INA, menyampaikan bahwa Perdana Menteri (PM) Irak, Mustafa Al-Kadhimi telah kembali ke tanah air setelah mengakhiri kunjungannya...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Banyak Baca Buku Jadi Pintar, Sedikit Baca Jadi Orba

Minggu lalu, akun twitter Presiden Jokowi @jokowi menggunggah kegiatan membagi-bagi buku. "Membagi buku untuk anak selepas Jumatan bersama masyarakat di Masjid Jami Annur, Johar...

Masa Depan Peradaban Islam dalam Pandangan Ziauddin Sardar

Masa depan peradaban Islam dalam banyak tulisan selalu dikaitkan dengan ide kebangkitan Islam yang telah dimulai sejak abad ke-18 yang lalu. Meskipun sudah kurang lebih...

Perlukah Produk Riset Perguruan Tinggi Dipatenkan?

Salah satu tugas perguruan tinggi (PT) adalah melaksanakan penelitian atau riset sebagai bagian dari Tri Dharma PT. Produk-produk riset yang dihasilkan tentu saja berpotensi...

Gagalnya Kudeta Terhadap Raja Yordania?

Pada 4 April 2021, Panglima Militer Yordania, Mayjen Yousef Huneiti menyatakan bahwa pihaknya telah meminta secara resmi Pangeran Hamzah untuk menghentikan semua kegiatan atau...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.