Sabtu, Juli 20, 2024

Sudah Berupaya Tapi Indonesia Masih Saja Impor Kedelai?

La Ode Saleh Fahrun R
La Ode Saleh Fahrun R
Mahasiswa Program Studi Magister Agribisnis Departemen Program Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Malang

Kedelai merupakan salah komoditi tanaman pangan yang penting karena potensi pasarnya cukup besar serta kebutuhan akan komiditi tersebut semakin meningkat. Konsumen kedelai paling banyak ada pada industri tahu dan tempe dan industri pakan hewan ternak.

Untuk kebutuhan dalam negeri, Indonesia masih sangat mengandalkan impor kedelai serta hal tersebut akan terus meningkat sejalan dengan peningkatan jumlah penduduk dan konsumsi kedelai.

Indonesia masih harus mengimpor kedelai diantaranya karena produksi dalam negeri yang masih sangat rendah. Dalam beberapa tahun terakhir produksi kedelai nasional cenderung turun dari 907 ribu ton pada 2010 menjadi 424,2 ribu ton pada 2019.

Faktor utama yang menyebakan rendahnya produksi kedelai di dalam negeri yaitu banyaknya lahan tanam kedelai yang beralih fungsi karena kalah bersaing dengan tanaman lain yang hasil produksinya lebih baik seperti tanaman pangan (jagung atau padi) serta tanaman hortikultura (cabai, bawang, tomat, dll).

Selain itu, hal yang menyebabkan rendahnya produksi kedelai di Indonesi itu karena kurangnya penggunaan benih kedelai bermutu di tingkat petani serta sulitnya mendapatkan benih bermutu. Kemudian, produsen benih nasional maupun penangkar lokal mengembangkan benih bermutu yang berakibat pada kurang rendahnya pencapaian produksi kedelai.

Upaya Pembenihan Kedelai 

Sebenarnya tidak dapat dipungkiri bahwa kedelai merupakan tanaman sub-tropis. Artinya bahwa iklim tropis di Indonesia kurang cocok untuk ditanami kedelai. Tetapi hal tersebut bukan menjadi patokan bahwa produksi kedelai terus mengalami penurunan dan menjadi hal yang dimaklumi untuk selalu impor. Kedelai tetap bisa ditanam di Indonesia tetapi hasilnya akan kurang. Hal tersebut dapat diupayakan dengan penyesuaian kondisi tumbuh tanaman kedelai agar dapat berproduksi baik. Salah satu upayanya yaitu dengan memproduksi benih bermutu dan bersertifikasi melalui rekaya genetik.

Benih berperan penting sebagai delivary mechanism yang menyalurkan keunggulan teknologi kepada konsumen, sehingga dalam penggunaan benih bermutu berperan penting terhadap hasil produksi, produktivitas dan kualitas produk suatu usaha tani. Namun, kenyataannya di petani masih sangat kurang dalam penggunaan benih unggul bersertifikat pada tanaman kedelai dan masih kurang dari 10% di Indonesia.

Peningkatan produksi kedelai melalui penggunaan benih bermutu dapat diupayakan melalui pengembangan penangkar benih secara lokal. Oleh karena itu, adopsi teknologi produksi benih bermutu diharapkan dapat menjadi solusi untuk mendukung ketersediaan benih bermutu di tingkat petani.

Namun perlu diketahui bahwa keputusan petani untuk mengadopsi teknologi dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain personal petani sendiri (personality variabel) dan sosial ekonomi (socioeconomic status) dari petani yang akan mengadopsi suatu teknologi dalam usahataninya Selain hal tersebut, bagaimana persepsi petani terhadap teknologi juga dapat menjadi faktor pendorong ataupun penghambat dalam pengambilan keputusan petani untuk mengadopsi teknologi.

Hal yang Harus Menjadi Prioritas Pemerintah

Pemerintah seharusnya lebih fokus pada upaya untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas kedelai nasional dibandingkan harus terus menerus impor.

Sebenarnya kegiatan impor itu perlu karena ada perbedaan jumlah antara kebutuhan dan ketersediaan didalam negeri yang tidak terpenuhi. Selain itu, kedelai nasional juga sulit bersaing dari segi kualitas dan kuantitas dibandingan dengan kedelai impor yang kualitasnya lebih baik.

Permasalahan yang dihadapi petani karena kualitas dan kuantitas produksi kedelai mereka yang kurang mencukupi kebutuhan pasar, menyebabkan tidak terserapnya produksi local kedelai dalam negeri yang berakibat pada petani menjadi gulung tikar dan kurang berminat untuk mengusahakan tanaman kedelai.

Oleh karena itu, Pemerintah harus bisa meningkatkan produktivitas petani kedelai dengan membina dan mendampingi, serta investasi dalam bentuk modal. Dengan pembinaan yang intensif maka produktivitas yang bisa lebih meningkat.

Pembinaan dapat dilakukan, antara lain dengan penggunaan benih, pupuk dan sarana produksi lain yang tepat. Pembinaan juga dapat dilakukan melalui kerja sama dengan pihak swasta. Peningkatan produktivitas kedelai sangat penting karena Indonesia adalah negara dengan konsumsi kedelai terbesar di dunia setelah Cina.

Beberapa waktu yang lalu, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo berencana untuk mengejar produksi kedelai lokal dalam waktu 200 hari atau dua kali musim tanam. Menurut Prima, swasembada atau pemenuhan kebutuhan kedelai dari produsen lokal hanya akan terjadi jika permasalahan petani tersebut mampu untuk diatasi oleh pemerintah.

Swasembada kedelai bisa tercapai asalkan ada political will dari pemerintah untuk menambah luas lahan tanaman kedelai, menemukan varietas baru, serta meregulasi tata niaga meliputi regulasi harga dan pengendalian impor, karena selama ini bebas impor dan bahkan bebas bea masuk.

La Ode Saleh Fahrun R
La Ode Saleh Fahrun R
Mahasiswa Program Studi Magister Agribisnis Departemen Program Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Malang
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.