Senin, April 19, 2021

Stagnasi Arah Kebijakan Amerika Serikat Terhadap Iran

Independensi, Doktrin, dan “Super Wantex”

Manusia berlabel mahluk paling sempurna, dengan akal fikiran sebagai pembeda dengan mahluk lainnya. Akal dan fikiran itu adalah modal untuk sebuah independensi (terlepas dari...

Krisis Demokrasi di Tengah Pandemi Covid-19

Pada awal tahun 2020, hampir seluruh dunia termasuk Indonesia di gemparkan ole Wabash virus corona jenis baru yang dinamakan Coronavirus Disease (COVID-19). Wabah ini...

Menilik Kondisi Indonesia Pasca HKN Ke-56

Tanggal 12 November 2020 yang lalu, Indonesia memperingati Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-56 di tengah pandemi. Awal sejarah panjang dalam proses penetapan Hari Kesehatan...

Dilema Kaum Muda “Peragai atau Kibuli”

Menatap bangsa dengan ketenangan jiwa, mencoba melepaskan diri dari amukan hasrat serta birahi politik yang bergelegar. Maka sampailah seorang putra bangsa pada sebuah perenungan. Dilema...
Muhamad Munir
Mahasiswa S3 Jurusan Hukum Islam di WISE University- Jordan

Pada 21 Maret 2021, dalam pidato peringatan tahun baru Persia, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menyatakan bahwa tekanan maksimum AS yang dimulai pada periode Donald Trump telah gagal dan membawa aib bagi AS, bahkan jika pemerintah AS saat ini ingin melanjutkan akan tetap gagal serta hanya tercatat sebagai kejahatan besar.

Terkait kesepakatan Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA), Khamenei menegaskan kembali AS harus mencabut semua sanksi terlebih dahulu, setelah itu Iran akan membalikkan langkahnya untuk meningkatkan pengayaan uranium dan memasang aliran sentrifugal baru, di antara langkah-langkah lainnya.

Khamenei juga menuding AS telah menjebak Arab Saudi dalam rawa Perang Yaman yang dimulai sejak pemerintahan Obama. Ditegaskannya pula bahwa AS memberi izin kepada Arab Saudi dan membantu peralatan militer yang melimpah untuk memaksa rakyat Yaman agar menyerah dalam waktu 15 hari atau satu bulan setelah menjatuhkan banyak bom di Yaman. Namun mereka salah perhitungan yang hingga kini lebih dari 6 tahun perang terus berlangsung.

Orasi terkahir Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei yang bernada menyudutkan AS diprediksi sebagai penegasan sikap Iran yang menolak AS bergabung kembali pada kesepakatan JCPOA sebelum AS mencabut sanksi maksimum yang merugikan ekonomi Iran.

Selain itu, Iran memandang Presiden baru AS, Joe Biden akan mengikuti kebijakan sebelumnya yang diambil oleh Donald Trump. Hal ini diperkuat oleh pernyataan Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Saeed Khatibzadeh bahwa beberapa langkah yang diambil oleh Biden lebih buruk daripada Trump dari mulai menunda-nunda untuk bergabung kembali dengan kesepakatan nuklir 2015 dengan Iran, pemberian sanksi terhadap warga Iran, hingga memerintahkan serangan militer yang menargetkan milisi yang didukung Iran di Suriah.

Lebih dari sebulan sejak dilantiknya Joe Biden sebagai Presiden AS. Namun belum nampak perubahan terkait kebijakan terhadap Iran sebagai mana yang telah disampaikan pada masa kampanye Biden. Bahkan cenderung mengikuti kebijakan Trump yang terus menekan Iran dengan sanksi dan menyerang sejumlah kelompok milisi Iran yang berada di Suriah dan Irak. Di sisi lain, Iran juga mulai secara terang-terangan mengupas perang proksi yang dengannya AS menyulut Arab Saudi untuk melakukan agersi militer ke Yaman yang sekaligus juga memiliki kepentingan saling tarik-menarik dengan Iran untuk berebut dominasi pengaruh di Timur Tengah.

Hal ini menrupakan cara yang ditempuh oleh AS dan Iran yang sedang berperang dengan menggunakan pihak ketiga untuk memperjuangkan kepentingan mereka di medan parang.

Program nuklir Iran terus menjadi polemik internasional, serta Washington belum kembali dalam kesepakatan Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA) setelah presiden Donald Trump menarik diri pada 2018. AS juga telah memberlakukan kembali sanksi terhadap ekspor minyak Iran yang dicabut berdasarkan kesepakatan.

Dalam beberapa bulan terakhir, kesepakatan itu telah menjadi titik api utama perselesihan antara Iran dan Barat terkait JCPOA, termasuk Jerman, Prancis, dan Inggris, yang semuanya menyerukan Iran untuk berhenti melanggar komitmennya. Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden mengatakan Washington akan kembali ke JCPOA, dengan memberikan keringanan sanksi bagi Iran, jika Teheran berhenti merusak perjanjian dengan meningkatkan pengayaan uraniumnya yang mengarah dalam pengembangan senjata nuklir.

Sementara itu, menanggapi pernyataan Barat dan AS, Teheran menyatakan telah berulang kali siap untuk kembali ke kepatuhan penuh berdasarkan kesepakatan JCPOA jika AS mencabut sanksi terhadap Iran. Belum adanya kesepakatan kedua belah pihak yang saling menuntut dan memprovokasi menyebabkan semakin menjauhnya realisasi JCPOA.

Perang proksi antara AS dan Iran akan terus berlangsung di kawasan Timur Tengah, meskipun diprediksi Joe Biden tidak akan sepenuhnya mengikuti kebijakan pendahulunya terkait Iran dengan indikasi, baik AS maupun Iran masih tertarik untuk menghidupkan kembali akan kesepakatan nuklir, tetapi kedua belah pihak bergerak maju dengan hati-hati untuk mengambil lebih banyak keuntungan di masing-masing pihak.

Muhamad Munir
Mahasiswa S3 Jurusan Hukum Islam di WISE University- Jordan
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Tadarus Etika: Konsep, Kerja, dan Tunjang

Allah memperkenankan kita bertemu sekali lagi dengan bulan suci umat Islam, Ramadan 1442 H. Kian tahun kebutuhan manusia akan etika semakin kuat. Integritas melangka:...

Belajar di Sekolah Kembali? Mari Kurangi Kekhawatiran Kita

Pemerintah Indonesia berencana membuka sekolah lagi di bulan Juli 2021. Ini kabar menggembirakan, mengingat bahwa bagi beberapa anak, pendidikan adalah satu-satunya jalan keluar dari...

Terorisme Akan Selalu Dapat Tempat Jika Tokoh Islam Masih Ada yang Denial

Berkali-kali sudah esktremisme kekerasan dan kejahatan terorisme terjadi di negeri kita, sejak Bom Bali yang terjadi pada tahuan 2000an sampai tahun ini. Namun sikap...

Kubur Kosong (Refleksi Iman atas Banjir Bandang di Leuwayan)

Minggu, 04 April 2021, umat Katolik sejagat merayakan hari raya Paskah. Paskah adalah peristiwa kebangkitan. Karena itu merayakan Paskah berarti merayakan kemenangan Kristus atas...

Simbol Agama dalam Aksi Teroris

Di Indonesia dalam beberapa hari ini marak terjadi penyerangan oknum yang tidak bertanggung jawab pada wilayah agama dan kepolisian. Agama merupakan simbol kolektif dari...

ARTIKEL TERPOPULER

Masa Depan Peradaban Islam dalam Pandangan Ziauddin Sardar

Masa depan peradaban Islam dalam banyak tulisan selalu dikaitkan dengan ide kebangkitan Islam yang telah dimulai sejak abad ke-18 yang lalu. Meskipun sudah kurang lebih...

Kegiatan Di Bulan Suci Ramadhan Sesuai Pancasila

Indahnya bulan suci ramadhan tahun ini disambut suka cita oleh seluruh umat Islam dari Indonesia, luar negeri dan seluruh dunia setiap tahun. Dari hasil...

Definisi Kekuatan: Hard Power dan Soft Power

Konsep Dasar Power Kekuatan atau power dalam ilmu Hubungan Internasional adalah elemen utama, terutama dalam kaca mata realisme, Morgenthau menjelaskan bahwa perilaku negara pada dasarnya...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Banyak Baca Buku Jadi Pintar, Sedikit Baca Jadi Orba

Minggu lalu, akun twitter Presiden Jokowi @jokowi menggunggah kegiatan membagi-bagi buku. "Membagi buku untuk anak selepas Jumatan bersama masyarakat di Masjid Jami Annur, Johar...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.