Sabtu, Mei 25, 2024

Stadion Sepak Bola yang Mematikan sekaligus Menghidupkan

Rio Rizky P
Rio Rizky P
Pembaca dan tukang dagang.

Kasus tewasnya seorang suporter ketika sedang menyaksikan pertandingan sepak bola, seakan belum mau hilang dari kancah persepakbolaan Indonesia. Setidaknya, dalam kurun waktu 4 bulan terakhir, telah ada tiga orang suporter yang mesti meregang nyawa saat menyaksikan sebuah pertandingan sepak bola di stadion.

Pada bulan Juli lalu, tewasnya seorang suporter Persib Bandung yang bernama Riko Andrean ketika menyaksikan laga sarat rivalitas antara Persib Bandung vs Persija Jakarta di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, langsung membuat geger publik.  Bahkan, peristiwa meninggalnya Riko sampai berdampak pada hubungan antara suporter Persib dan suporter Persija. Ya, hubungan kedua suporter yang sebelumnya sangat pekat dengan aroma perseturuan, terlihat semakin mengarah lebih baik usai terjadi insiden nahas yang menimpa Riko tersebut. Hal ini dapat terlihat dari semakin bergemanya semangat perdamaian yang digaungkan oleh kedua suporter. Bahkan, Ketua Umum The Jakmania, Ferry Indrasjarief, sempat berkunjung ke Kota Bandung guna semakin menggencarkan kampanye perdamaian ini.

Belum juga air mata di pipi mengering, publik pecinta sepak bola Indonesia harus kembali berduka. Kali ini giliran seorang pria bernama Catur Yuliantono yang harus menemui ajalnya di stadion. Pria berusia 32 tahun tersebut tewas usai menyaksikan laga ujicoba antara Timnas Indonesia kontra Fiji, di Stadion Patriot Candrabhaga, September lalu. Nyawa Catur tak tertolong setelah dirinya terkena kembang api yang diluncurkan oleh salah seorang suporter yang juga menyaksikan laga tersebut. Kembang api itu  diterbangkan  dari tribun selatan, lalu meluncur tak terkendali ke tribun timur, hingga akhirnya menghantam Catur.

Selang satu bulan, nestapa kembali merundungi sepak bola Indonesia. Pada 11 Oktober 2017, terjadi bentrokan antara suporter Persita Tangerang dan suporter PSMS Medan di Stadion Mini, Bogor. Kericuhan tersebut terjadi usai laga antara Persita vs PSMS rampung digelar. Baik suporter Persita maupun suporter PSMS, punya versi masing-masing ihwal apa yang menjadi penyebab terjadinya bentorkan tersebut. Namun yang jelas, bentrokan itu kembali membuat nyawa seorang manusia harus melayang di stadion sepak bola. Manusia malang itu bernama Banu Rusman. Suporter Persita tersebut tewas setelah mengalami pendarahan parah di bagian otak usai dikeroyok oleh suporter PSMS Medan yang, diduga kuat merupakan prajurit TNI.

Tiga peristiwa itu terjadi beruntun dalam waktu empat bulan terakhir belakangan ini. Latar belakang masing-masing  peristiwanya sudah barang tentu berbeda, namun yang pasti dan membuat sama peristiwa-persitiwa tersebut adalah: nyawa tiga anak manusia harus berkahir di stadion sepak bola.

Andaikan ada seorang awam yang tidak mengerti dan tidak begitu mengikuti perkembangan sepak bola misalnya, lalu ia mendengar kisah tiga peristiwa itu, agaknya ia akan menyimpulkan bahwa stadion merupakan tempat yang penuh dengan agresivitas. Menakutkan, sekaligus mematikan. 

Tentunya kita tahu, narasi tentang sebuah stadion, tidak seluruhnya se-menakutkan itu. Dalam banyak kasus di waktu dan tempat yang lain, alih-alih menjadi tempat yang mematikan, stadion justru berperan sebagai suaka untuk banyak orang dalam mempertahankan hidup mereka.

Saat banjir melanda DKI Jakarta di tahun 2015 lalu, banyak dari warga yang rumahnya terendam oleh banjir mengungsi ke Stadion Tugu, Jakarta Utara. Mereka menggunakan tribun penonton Stadion Tugu sebagai tempat untuk menginap beberapa malam, sembari menunggu air yang menggenangi tempat tinggal mereka surut. Stadion Tugu bagaikan sebuah rumah raksasa yang diisi oleh sebuah keluarga besar. Dalam sebuah foto yang dilansir dari situs berita viva.co.id, tampak lembar-lembar kain digelar di setiap sudut tribun sebagai alas para pengungsi untuk tidur.

Saat sebuah pertandingan digelar pun, tidak semua cerita tentang suporter yang berada  tribun-tribun stadion selalu dipenuhi dengan kisah yang penuh dengan kekerasan dan kematian. Tribun stadion juga kerap menjadi tempat para suporter untuk menyuarakan kehidupan dan mengutuk keras kematian.

Salah satu contohnya, adalah ketika para suporter Celtic mengibarkan bendera Palestina di pertandingan antara Celtic kontra Hapoel Be’er Sheva pada ajang kulaifikasi Liga Champions 2016/2017 di Celtic Park, Agustus 2016 lalu. Aksi yang jauh sebelum hari pertandingan sudah ramai diperbincangkan di sosial media oleh para suporter Celtic tersebut, dilakukan sebagai bentuk solidaritas kemanusiaan kepada rakyat Palestina atas invasi Israel yang mengancam kedaulatan negara mereka, dan telah menyebabkan banyak manusia di sana mati dan menderita akibat perang.

Begitulah bagaimana sebuah stadion—di luar fungsinya sebagai tempat pertandingan sepak bola digelar—seakan  memiliki dua peran yang kontras. Ia terkadang mematikan, namun tidak jarang pula menghidupkan.

Tetapi tentunya, kita mengharapkan stadion bisa lebih banyak memainkan perannya sebagai tempat yang ‘menghidupkan’ manusia, alih-alih mematikan. Sebagaimana apa yang terjadi pada seorang tokoh bernama Gonzales dalam novel The Plague karya Albert Camus.

Setelah menjalani hidup sebagai tukang catut yang sibuk mengumpulkan harta ketika warga di sekitarnya menderita wabah sampar, Gonzales akhirnya menemukan dan menghidupkan kembali nurani kemanusiaannya di sebuah stadion sepak bola tempat warga penderita sampar mengungsi.

Gonzales pun memulai perannya sebagai relawan untuk para penderita sampar yang mengungsi di stadion. Lalu dengan indah, Albert Camus pun mengungkapkan apa yang menjadi pilihan Gonzales itu dengan kalimat: “Untuk segala yang saya ketahui tentang moralitas dan tanggungjawab, saya berutang pada sepak bola.”

Nurani dan moralitas kemanusiaan Gonzales, terhidupkan kembali ketika melihat para korban penderita sampar satu per satu meregang nyawa di stadion. Begitu pula apa yang terjadi pada para suporter Celtic yang mengutuk keras pembantaian yang terjadi di Palestina. Rasa solidaritas kemanusiaan mereka hidup saat melihat banyak nyawa manusia di Palestina harus melayang tertembak timah panas.

Fenomena bergaungnya narasi perdamaian yang sempat diramaikan antara suporter Persib dan Persija pun awalnya berangkat dari keinginan agar tidak ada lagi korban seperti Riko Andrean yang harus tewas pada bulan Juli lalu di Stadion GBLA, sebagai buntut dari rivalitas antara kedua suporter. Entah berapa banyak hati nurani manusia yang terhidupkan kembali setelah peristiwa itu untuk mengakhiri permusuhan dan mulai berdamai.

Pada titik itulah stadion sepak bola menyiratkan sebentuk paradoks: ia mula-mula mematikan beberapa, untuk kemudian menghidupkan yang lebih banyak.

Rio Rizky P
Rio Rizky P
Pembaca dan tukang dagang.
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.