Notice: Undefined index: HTTP_REFERER in /home/geotimes/wordpress/wp-content/plugins/Plugin/plug.php on line 23
Stack Of Grip dalam Komposisi Ruang | GEOTIMES
Jumat, April 16, 2021

Stack Of Grip dalam Komposisi Ruang

Membangun Martabat (2)

Ketika di ruang icu dimana semua perhiasan harus ditanggalkan pakaian mewah nya pun harus dilepaskan ketika ia harus mengenakan pakaian sederhana sekadar penutup tubuh...

‘Melawan Kemusyrikan di Purwakarta’

Semenjak di Pimpin oleh Dedi Mulyadi Purwakarta memang menjadi primadona di kancah nasional maupun Internasional.Selain karena sederet prestasi yang di gapai dengan berbagai kebijakan,...

Siraman rohani yang membengkokkan

Beberapa hari yang lalu, kita dihadapkan sebuah peristiwa yang mungkin bisa dikatakan kurang sopan bagi sebagian orang. Yaitu tindakan walk out yang telah dilakukan oleh...

Budak Smartphone

Smartphone sudah menjadi barang yang dibawa kemana-mana. Ketika pergi, smartphone ketinggalan maka akan berupaya mengambilnya. Dirilis dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia, masyarakat mengakses...
Hasanah
Saya seorang Mahasiswa ISI Padangpanjang jurusan Teater. Begiat dalam Forum Pegiat Literasi dan Komunitas Seni Kuflet.

Trans Padang adalah layanan angkutan umum Bus Rapid Transit (BRT) di Kota Padang yang mulai beroprasi pada Januari 2014. Trans Padang merupakan program unggulan pemerintah sejalan dengan Undang-Undang Np.22 tahun 2009 tentang lalu lintas angkutan jalan (LLAJ) serta keputusan mentri perhubungan No.35 tahun 2003 tentang penyelenggaraan angkutan umum dijalan dengan kendaran umum.

Trans Padang merupakan bus dengan tipe sedang yang memiliki kapasitas 40 orang yang dimana 20 berdiri dan 20 duduk di kursi. Dilengkapi fasilitas tempat duduk prioritas untuk penumpang lanjut usia, ibu hamil.

Penumpang dengan anak dan penumpang berkebutuhan khusus. Trans ini beroprasi setiap hari mulai pukul 06.00-22.00 WIB, koridor utama pada rute lubuk buaya-pasar raya. Rincian jalur, jalan Andinegoro- jalan Prof. Dr. Hamkah-jalan Khatib Sulaiman-jalan Rasuna Said-jalan Bagindo Aziz Chan.

Alasan itulah yang menjadi latar belakang (konsep) Annisa Khairani sebagai koreografer. Konsep koreografi adalah pemikiran-pikiran yang diterapkan guna mewujudkan suatu bentuk dan gaya dalam susunan tari (pudjaswara, 1982:96).

Pertunjukkan tari sabtu, 27 Juni 2019 dalam rangka Ujian Komposisi ruang dengan tipe Abstrak, di Auditorium Bostanoel Arifin Adam. Pada karya ini, pengkarya memfokuskan gantungan tangan dalam bus (Handle)  sebagai tempat tumpuan yang digunakan untuk menjadi keseimbangan peumpang. Pertunjukkan yang berdurasi 28 menit berjudul Stack Of Grip dengan penari 6 orang.

Unsur utama seni tari menyangkup: Wiraga, berkaitan dalam suatu tari, baik itu rangkaian gerak maupun sikap gerak (Supriyanto, 2012:4). Wirama berarti irama atau ritme, gerak tari harus memiliki irama dan diiringi sebuah irama atau musik. Wirasa dimaksudkan rasa penari itu sendiri, tarian yang berisi cerita bermakna harus dibawakan oleh penari sesuai dengan rasa yang ingin disampaikan oleh koreografer.

Berdasarkan alirannya tari terbagi atas tari tradisional, tari kreasi baru dan tari kontemporer. Annisa dalam pertunjukkannya menggunakan aliran kontemporer. Tari kontemporer biasanya menghasilkan tarian yang bersifat simbolik dan mengandung pesan yang menceritakan sebuah kisah yang tidak umum sehingga pertunjukan kontemporer cendrung lebih unik dan menarik. Pertunjukkan Stack Of Grip menggunakan baju hitam dengan property tali gantung menyerupai pegangan penumpang dalam bus.

Menurut unsur utama seni tari Wiraga, pertunjukkan tari berkelompok ini tidak terlihat kompak. Ketika pertunjukkan berlangsung dalam beberapa adegan beberapa penari terlihat kurang hafal dengan gerakan yang akan dilakukan, terlihat beberapa penari mencuri pandang pada teman disebelah dan di depannya.

Tak hanya itu, ketika fast (gerak cepat), 2 penari terlihat tidak tidak hafal sehingga seharusnya gerak bersamaannya, gerakan pun menjadi bergelombang. Tabrakan antar pernaripun tak terhindari. Mungkin ini penyebab kurangnya latihan dalam bulan puasa, sehingga tidak maksimal.

Dilihat dari unsur tari Wirama, ketika penari tidak hafal maka wirama antar penari tidak terjaga kestabilannya. Tempo iringan musik dan gerak kurang selaras terutama ketika penari menggunakan gerak lambat tapi musik tetap dengan tempo cepat dan nada tinggi, sehingga rasa dan cerita yang ingin disampaikan koreografer tak tersalur dengan baik. Ketika gerak bebas, antar penari tak menilai/menghitung tempo dari music sehingga tarian bagian ini terlihat berantakan dan tak mengandung pesan apapun.

Dilanjutkan dari unsur tari Wirasa, saya kecewa dengan setiap pertunjukkan yang ditampilkan dalam pertunjukkan di Ujian Komposisi Ruang. Penari melakukan gerak tari tanpa rasa. Penari menari dalam tekanan. Penari tampak terganggu dan tak bebas bergerak.

Memikirkan gerak selanjutnya, memikirkan ujiannya dan tidak menikmati setiap pertunjukkannya. Bahkan, ada penari yang melakukan gerak tari tanpa power, tempo berantakan dan mata liar. Seharusnya sebagai seniman apapun yang terjadi ketika telah berada di atas panggung, rasa dan pesan yang disampaikan harus tersalur dengan baik kepenonton.

Di sinilah pentingnya Wirasa hadir dalam diri setiap penari. Jika dilihat dari sudut penonton, tak banyak penonton yang berasal dari luar kampus. Dilihat dari sudut Dosen, para dosen tak memasang wajah tegang, mereka asik menikmati makanan yang disediakan setiap penari. Penulis sendiri tidak paham apa yang menyebabkan penari tidak menggunakan rasa.

Begitu pula dalam pertunjukkan ini. Hanya terlihat 2 penari yang menggunakan Wirasa, tapi tak pada setiap adegan. Pada beberapa adegan penari ini juga sering kehilangan rasanya, terutama ketika perubahan pola lantai. Penari yang lain hanya pada beberapa adegan saja yang terlihat menggunakan Wirasanya. Bahkan ada penari yang terlihat bermain-main dalam melakukan gerakan tari (asal gerak). Gerak kedua penari yang menggunakan rasanya dalam gerakannya jadi tertutupi dengan penari yang melakukan gerak tanpa rasa.

Selesai dalam unsur seni tari, sekarang saya melihat dari aliran tarinya yaitu aliran Kontemporer. Tari kontemporer yang banyak menggunakan simbol sangat jelas terlihat dalam pertunjukkan ini. Pertunjukkan tari diawali dengan penari yang bersikap seolah-olah sedang menunggu bus.

Namun adegan ini yang terlalu lama membuat pembuka pertunjukkan terlihat monoton. Setelah adegan ini, penyambung adengannya terlihat tempelan dan tak berjalan mengalir. Setelah seluruh penari berpencar dengan berbagai gaya seolah menanti bus mengapa setiap penari berkumpul di tengah lalu diam mematung ketika music telah berganti, gerakpun dilanjutkan.

Banyaknya gerak tari yang diulang dalam setiap adegan membuat koreografer terlihat kurang kreatif dalam menciptakan gerak. Seperti adegan penari terseret oleh Handle (gantungan tangan dalam bus) sering terulang, adegan ini juga terlihat berlebihan. Selain itu, adegan tari lainnya juga terlihat berlebihan seperti adegan berpencar 1 penari berjalan mengelilingi panggung tanpa makna sedangkan penari lain melakukan gerak yang terkesan lebay (berlebihan).

Foto by: jimmy

Tapi spektakel dalam pertunjukkan ini sangat menarik penonton. Seperti adegan menaiki tali, melakukan gerak di atas tali dan adegan bergantung ditali lainnya. Bahkan tak sekali penonton berteriak diiringi tepuk tangan ketika pertunjukkan ini berlangsung. Kekurangan pertunjukkan di awal tertutupi dengan spektakel-spektakel yang dihadirkan koreografer.

Selain gerak tarinya, saran untuk pertunjukkan selanjutnya, penggunakan lighting yang lebih berfariasi dapat membuat pertunjukkan lebih menarik. Pertunjukkan yang hanya menggunakan satu warna lighting membuat pertunjukkan kurang menarik.

Seperti pada pertunjukkan Stack Of Grid yang hanya menggunakan warna merah gelap untuk lightingnnya. Kostum berwarna hitam dan lighting berwarna merah gelap menurut saya kurang serasi. Karena warna gelap dan gelap membuat pertunjukkan ini seperti pertunjukkan horor. Jika menggunakan pilihan warna lighting lain yang lebih tepat, bisa membuat suasana pertunjukkan lebih hidup dan bermakna.

Pesan yang disampaikan ini tergambar dengan baik oleh koreografer sehingga penonton dapat dengan cepat menangkap apa yang hendak disampaikan oleh koreografer.

Hasanah
Saya seorang Mahasiswa ISI Padangpanjang jurusan Teater. Begiat dalam Forum Pegiat Literasi dan Komunitas Seni Kuflet.
Berita sebelumnyaBodoh Tidak Apa-apa
Berita berikutnyaZonasi dan Pemerataan Pendidikan
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Daniel Dhakidae, Kekuasaan dan Pelanggaran HAM

“Kekuasaan yang tidak memiliki kehormatan, tidak akan pernah mampu menghadirkan keadilan.” Ungkapan yang keras, menohok hati itu diucapkan oleh Bung Daniel Dhakidae awal tahun 2020...

Generasi Z dan Radikalisme Beragama

Peristiwa ledakan bom di Gereja Katedral Kota Makassar pada 28 Maret 2021 lalu, menggegerkan masyarakat Indonesia. Bukan hanya karena jenis ledakan yang masuk kategori...

Memandang Terorisme Melalui Evolusi Kultural

Bangsa Indonesia tengah dikejutkan dengan serangkaian serangan terorisme seperti ledakan bom di Gereja Makassar dan serangan ke Mabes Polri. Terorisme setidaknya telah merenggut 21.000...

Peran Besar Generasi Milenial Menuju Indonesia Maju

Menurut data Badan Pusat Statistika (2020), Indonesia memiliki jumlah penduduk yang cukup tinggi yaitu sekitar 270 juta jiwa dengan tingkat pertumbuhan penduduknya sebesar 1,25%...

Dua Sisi Media Digital Terhadap Budaya Lokal

Mari kita mulai membaca dan sambil memperhatikan sekitar kita tentang Media,Budaya, dan Jati Diri. Mungkin kita sudah mengetahui istilah Globalisasi. Globalisasi itu ditandai dengan...

ARTIKEL TERPOPULER

Gagalnya Kudeta Terhadap Raja Yordania?

Pada 4 April 2021, Panglima Militer Yordania, Mayjen Yousef Huneiti menyatakan bahwa pihaknya telah meminta secara resmi Pangeran Hamzah untuk menghentikan semua kegiatan atau...

Eren Yeager, Kesadaran dan Kebebasan

Pemberitahuan: esai ini terdapat cuplikan cerita Attack on Titan (AoT) episode 73. Pada musim akhir seri AoT, Eren Yeager tampil dengan kondisi mental yang jauh lebih...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dua Sisi Media Digital Terhadap Budaya Lokal

Mari kita mulai membaca dan sambil memperhatikan sekitar kita tentang Media,Budaya, dan Jati Diri. Mungkin kita sudah mengetahui istilah Globalisasi. Globalisasi itu ditandai dengan...

Memandang Terorisme Melalui Evolusi Kultural

Bangsa Indonesia tengah dikejutkan dengan serangkaian serangan terorisme seperti ledakan bom di Gereja Makassar dan serangan ke Mabes Polri. Terorisme setidaknya telah merenggut 21.000...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.