Solidaritas yang Menepi di Tengah Intervensi Negara

Edy Suhardono
Edy Suhardono
Dr. Edy Suhardono, M.Psi. Pendiri IISA VISI WASKITA dan IISA Assessment, Consultancy & Research Centre. Pengamat Psiko-Politik. Buku terbarunya berjudul “Teori Peran, Konsep, Derivasi dan Implikasi di Era Transformasi Sosio-Digital” (Sidoarjo: Zifatama Jawara, 2025) dan buku yang ia tulis bersama Audifax berjudul “Membaca Identitas: Multirealitas dan Reinterpretasi Identitas, Suatu Tinjauan Filsafat dan Psikologi” (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2023). Ia juga penggagas SoalSial.com.
- Advertisement -

Apa yang sesungguhnya berubah ketika negara semakin jauh masuk ke ruang-ruang yang dulu diselesaikan warga melalui kebersamaan? Apakah kehadiran itu benar-benar memperkuat kesejahteraan, atau justru pelan-pelan menggeser cara masyarakat saling menopang?

Pertanyaan ini tidak lahir dari ruang abstrak. Ia tumbuh dari keseharian: dari arisan kecil di gang sempit, dari koperasi sederhana yang menopang kebutuhan anggota. Ruang-ruang ini bekerja nyaris tanpa sorot, tetapi selama bertahun-tahun menjadi penyangga yang memberi rasa aman di tengah ketidakpastian.

Kini, logika itu mulai bersinggungan dengan pendekatan negara yang semakin terpusat. Program-program ekonomi hadir dengan janji pemerataan dan efisiensi. Namun di balik niat itu, muncul kegelisahan: ketika sistem formal mengambil alih peran distribusi, apa yang terjadi pada kebersamaan yang lahir dari bawah?

Dalam beberapa tahun terakhir, tekanan ekonomi membuat ruang bertahan masyarakat semakin sempit. Harga kebutuhan pokok naik, sementara banyak keluarga tidak memiliki cadangan untuk keadaan darurat. Di situasi seperti ini, arisan dan koperasi bukan lagi sekadar tradisi, melainkan cara untuk bertahan hidup. Ia menghadirkan kepastian kecil—yang mungkin tampak sederhana, tetapi sangat berarti bagi mereka yang menjalaninya.

Ketika negara masuk dengan sistem yang lebih besar, isu utamanya bukan lagi sekadar ada atau tidaknya bantuan. Yang berubah adalah cara masyarakat saling bergantung. Ada pergeseran pelan: dari hubungan horizontal yang berbasis kepercayaan menuju sistem vertikal yang berbasis aturan.

Benturan Cara Kerja

Sekilas, arisan, koperasi, dan program negara terlihat bergerak ke arah yang sama: mengelola sumber daya untuk kepentingan bersama. Tetapi cara kerjanya berbeda.

Arisan tumbuh dari kedekatan dan rasa saling percaya. Koperasi mencoba menata kebersamaan itu dalam bentuk yang lebih terstruktur. Sementara kebijakan negara hadir dengan perangkat yang lebih formal: regulasi, target, dan kontrol administratif.

Perbedaan ini menjadi penting karena masing-masing membawa logika sendiri. Arisan bertahan karena relasi pribadi. Koperasi bergantung pada tata kelola yang tidak selalu kuat. Negara menawarkan kepastian—tetapi kepastian itu sering kali datang bersama jarak dan impersonalitas.

Di titik ini, kehadiran negara memang dapat tampak sebagai solusi. Ia menjanjikan jangkauan luas dan pengelolaan yang lebih rapi. Namun pertanyaan yang lebih dalam adalah: apakah kepastian administratif selalu berbanding lurus dengan keadilan sosial?

Pengalaman menunjukkan tidak selalu demikian. Dalam praktiknya, sistem yang terlalu terpusat berisiko menjauh dari kebutuhan nyata di lapangan. Ketika keputusan dipusatkan, ruang partisipasi warga bisa menyempit. Perlahan, masyarakat tidak lagi menjadi subjek yang menentukan arah, melainkan objek yang menerima.

- Advertisement -

Perubahan ini tidak selalu tampak sebagai konflik terbuka. Ia hadir sebagai pergeseran halus dalam cara berpikir. Ketika bantuan negara menjadi tumpuan utama, solidaritas antarwarga tidak hilang, tetapi fungsinya bergeser. Ia bukan lagi penopang utama, melainkan pelengkap.

Di sinilah pertanyaan mendasar muncul: siapa yang kini menentukan kepentingan bersama? Apakah tetap lahir dari warga yang saling mengenal dan berbagi, atau dari sistem yang dirancang dari atas?

Solidaritas di Titik Rawan

Di lapangan, solidaritas masih hidup. Orang tetap berkumpul, arisan tetap berputar, koperasi masih berjalan. Namun maknanya berubah. Ia tidak lagi menjadi pusat bertahan hidup, melainkan lebih sebagai ruang menjaga hubungan.

Perubahan ini mungkin terasa kecil, tetapi dampaknya jauh lebih dalam. Solidaritas yang dulu menjadi penyangga utama kini perlahan bergeser posisinya. Ia tetap ada, tetapi tidak lagi menentukan arah kehidupan bersama.

Dalam kenyataannya, solidaritas lokal memiliki kekuatan sekaligus batas. Ia kuat dalam menjaga kedekatan, tetapi terbatas ketika berhadapan dengan struktur yang lebih besar. Ketika negara hadir dengan jangkauan luas, solidaritas dihadapkan pada pilihan sulit: menyesuaikan diri, tersisih, atau berubah bentuk.

Kadang-kadang, ia bahkan mengambil bentuk perlawanan halus. Warga tetap menjaga jaringan informalnya, sambil berhati-hati terhadap sistem formal. Ini bukan karena mereka menolak perubahan, tetapi karena mereka mencari ruang yang paling aman untuk bertahan.

Sayangnya, dinamika seperti ini sering luput dari perhatian kebijakan. Masyarakat kerap dilihat sebagai penerima program, bukan sebagai aktor dengan logika dan cara kerja sendiri. Akibatnya, intervensi yang dimaksudkan untuk membantu bisa tanpa sadar menggeser fondasi sosial yang selama ini menopang kehidupan bersama.

Di titik ini, persoalan menjadi lebih dalam dari sekadar efektivitas kebijakan. Ia menyentuh hubungan antara negara dan warga. Apakah negara hadir untuk memperkuat kapasitas masyarakat, atau justru secara tidak langsung melemahkan kemandiriannya?

Kita kembali pada pertanyaan awal. Jawabannya tidak sederhana. Tidak semua intervensi negara keliru, dan tidak semua solidaritas lokal tanpa masalah. Namun yang perlu disadari, setiap kebijakan selalu membawa dampak sosial yang tidak selalu terlihat di permukaan.

Perubahan besar jarang terjadi secara tiba-tiba. Ia bergerak pelan, hampir tak terasa. Solidaritas pun demikian. Ia tidak runtuh dalam sekejap, tetapi bisa bergeser sedikit demi sedikit—hingga suatu saat kita menyadari bahwa perannya tidak lagi sama.

Mungkin di sanalah letak kegelisahan kita hari ini. Bukan karena solidaritas telah hilang, tetapi karena tanpa disadari, kita mulai kehilangan kendali atas bagaimana ia hidup dan berkembang.

Dan ketika itu terjadi, pertanyaannya bukan lagi tentang efektivitas kebijakan. Melainkan tentang apakah kita masih benar-benar menjadi penentu bagi kehidupan kita sendiri.

Edy Suhardono
Edy Suhardono
Dr. Edy Suhardono, M.Psi. Pendiri IISA VISI WASKITA dan IISA Assessment, Consultancy & Research Centre. Pengamat Psiko-Politik. Buku terbarunya berjudul “Teori Peran, Konsep, Derivasi dan Implikasi di Era Transformasi Sosio-Digital” (Sidoarjo: Zifatama Jawara, 2025) dan buku yang ia tulis bersama Audifax berjudul “Membaca Identitas: Multirealitas dan Reinterpretasi Identitas, Suatu Tinjauan Filsafat dan Psikologi” (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2023). Ia juga penggagas SoalSial.com.
Facebook Comment
- Advertisement -