Minggu, Februari 15, 2026

Side Hustle sebagai Kebutuhan

Corinna Zandra
Corinna Zandra
Penulis pemula dengan minat pada penulisan artikel opini, lifestyle, cerita reflektif, cerpen,dan puisi. Memiliki ketertarikan pada isu sosial dan pengalaman personal sebagai bahan tulisan. Siap belajar, berkembang, dan berkontribusi dalam ekosistem kreatif.
- Advertisement -

Kenapa Generasi Muda Merasa Satu Pekerjaan Tidak Cukup? Apakah Ini Tanda Krisis Kesejahteraan?

Dulu, memiliki satu pekerjaan tetap dianggap cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. Gaji bulanan, tunjangan, dan sedikit tabungan sudah bisa memberi rasa aman. Namun hari ini, realitas itu terasa semakin jauh dari generasi muda. Bekerja satu pekerjaan saja sering kali tidak lagi cukup. Side hustle bukan lagi sekadar hobi berbayar atau ajang aktualisasi diri, melainkan strategi bertahan hidup.

Fenomena ini terlihat jelas di media sosial. Banyak anak muda membagikan keseharian mereka: pagi bekerja kantoran, malam menjadi freelancer, akhir pekan berjualan online. Platform seperti TikTok dan Instagram dipenuhi konten bertema “cara menambah penghasilan”, “ide side hustle 2026”, atau “gaji UMR cukup nggak sih?”. Di satu sisi, ini menunjukkan kreativitas dan daya juang generasi muda. Namun di sisi lain, muncul pertanyaan yang lebih mendasar: mengapa satu pekerjaan tidak lagi memadai?

Biaya hidup yang terus meningkat menjadi faktor utama. Harga kebutuhan pokok, biaya sewa, transportasi, hingga gaya hidup urban bergerak lebih cepat dibanding kenaikan upah. Upah Minimum Regional di banyak daerah terasa stagnan jika dibandingkan dengan kebutuhan riil di lapangan. Sementara itu, standar hidup yang terbentuk dari paparan media sosial turut memengaruhi persepsi tentang “hidup layak”. Rumah sendiri, kendaraan pribadi, dana darurat, investasi, liburan tahunan—semuanya terasa seperti kewajiban, bukan lagi impian.

Namun persoalannya tidak berhenti pada gaya hidup. Banyak generasi muda memikul beban finansial yang lebih kompleks: cicilan pendidikan, membantu orang tua, hingga utang konsumtif akibat akses pinjaman digital yang begitu mudah. Di sinilah side hustle berubah fungsi. Ia bukan lagi pilihan untuk memperkaya diri, tetapi alat untuk menutup celah antara pemasukan dan pengeluaran.

Kita juga hidup di era gig economy, di mana fleksibilitas dipromosikan sebagai kebebasan. Bekerja lepas, menjadi content creator, dropshipper, atau affiliate marketer sering disebut sebagai simbol kemandirian finansial. Tetapi fleksibilitas tanpa jaminan sosial dan kepastian pendapatan menyimpan risiko besar. Tanpa perlindungan memadai, pekerja muda justru menanggung beban ketidakstabilan sendirian.

Apakah ini tanda krisis kesejahteraan? Jika kesejahteraan diukur dari kemampuan seseorang memenuhi kebutuhan dasar tanpa harus bekerja melebihi batas wajar, maka jawabannya cenderung iya. Ketika bekerja delapan jam sehari tidak lagi cukup untuk hidup layak, ada yang perlu dievaluasi dalam sistem ekonomi dan kebijakan ketenagakerjaan kita.

Namun, menyalahkan generasi muda karena “terlalu ambisius” jelas bukan jawaban. Mereka bukan serakah; mereka realistis. Mereka sadar bahwa ketidakpastian masa depan—dari ancaman PHK, inflasi, hingga disrupsi teknologi—membuat satu sumber penghasilan terasa rapuh. Side hustle menjadi bentuk mitigasi risiko, semacam dana darurat dalam bentuk keterampilan dan jaringan.

Di sisi lain, kita juga perlu refleksi kritis. Apakah budaya hustle tanpa henti ini sehat? Ketika waktu istirahat dianggap kemalasan, ketika nilai diri diukur dari produktivitas tanpa jeda, kita berisiko menciptakan generasi yang lelah secara kolektif. Produktif itu penting, tetapi keberlanjutan hidup jauh lebih penting.

Side hustle memang bisa menjadi jalan pemberdayaan. Ia melatih adaptasi, kreativitas, dan kemandirian. Tetapi jika ia lahir dari keterpaksaan struktural, maka ia adalah alarm yang berbunyi pelan namun konsisten. Alarm bahwa sistem belum sepenuhnya berpihak pada kesejahteraan pekerja muda.

- Advertisement -

Mungkin pertanyaannya bukan lagi “mengapa generasi muda ingin banyak uang?”, melainkan “mengapa satu pekerjaan tidak lagi cukup untuk hidup dengan tenang?”. Selama pertanyaan itu belum terjawab, side hustle akan tetap menjadi kebutuhan—bukan pilihan.

Corinna Zandra
Corinna Zandra
Penulis pemula dengan minat pada penulisan artikel opini, lifestyle, cerita reflektif, cerpen,dan puisi. Memiliki ketertarikan pada isu sosial dan pengalaman personal sebagai bahan tulisan. Siap belajar, berkembang, dan berkontribusi dalam ekosistem kreatif.
Facebook Comment
- Advertisement -

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.