Bias Pengetahuan dalam Keadilan Iklim
Kajian INDEF 2026 menunjukkan bahwa konflik geopolitik, fragmentasi ekonomi global, dan ancaman perubahan iklim dapat menekan produksi pangan, harga pupuk, inflasi, hingga daya beli keluarga. Di titik inilah dapur penting dibaca: bukan sebagai ruang domestik semata, melainkan sebagai tempat krisis iklim, guncangan ekonomi, dan rantai pasok yang rapuh bertemu dalam kehidupan sehari-hari.
Namun, percakapan iklim sering lebih sibuk menghitung emisi, target karbon, dan transisi energi, daripada membaca kerja harian yang membuat keluarga bertahan. Di sinilah bias pengetahuan bekerja: kerja menjaga dapur dianggap terlalu kecil, terlalu domestik, dan terlalu biasa untuk diakui sebagai pengetahuan tentang krisis.
Mari kita pinjam cara Katrine Marçal bertanya: siapa yang memasak makan malam Adam Smith saat teori ekonomi dirumuskan? Pertanyaan itu membuka sisi yang sering disembunyikan dalam percakapan besar: kerja merawat kehidupan yang membuat hidup mungkin berlangsung, tetapi tidak dihitung.
Dengan cara baca yang sama, peta krisis iklim perlu diperiksa dari dapur. Politik pangan dari bawah yang dijalankan perempuan akar rumput sering tampak kecil. Ia tidak menghentikan perang, tidak mengendalikan harga minyak, tidak mengatur perdagangan pangan global, atau menentukan kebijakan fiskal. Tetapi pengetahuan itu bekerja dekat dengan dampak: dapur, halaman, sumber air, dan ekonomi keluarga. Di sanalah krisis iklim, harga pangan, dan rantai pasok rapuh berubah menjadi pertanyaan sederhana: hari ini keluarga makan apa, belanja cukup atau tidak, bahan pangan harus seluruhnya dibeli atau sebagian bisa diambil dari halaman sendiri.
Keadilan iklim dipahami sebagai kritik atas ketimpangan: negara dan korporasi besar harus menanggung lebih banyak, sementara masyarakat kecil tidak boleh memikul beban terberat. Tetapi keadilan iklim sering lupa memeriksa sisi lain: apakah cara kita membicarakannya sudah adil dan demokratis? Demokrasi iklim tidak cukup bertanya siapa yang hadir dalam forum, tetapi juga harus bertanya: pengetahuan siapa yang menentukan arah percakapan. Dengan begitu, negara hukum tidak cukup hadir sebagai aturan dan kebijakan; ia harus memastikan hak atas pangan, lingkungan hidup, serta partisipasi perempuan dari tingkat komunitas diakui sebagai bagian dari agenda iklim nasional.
Ketika Krisis Iklim Masuk ke Dapur
Krisis iklim sering dibaca dari ruang-ruang strategis: hutan, pesisir, sungai, kawasan tambang, atau arena kebijakan. Dari sana, ia diterjemahkan menjadi angka, target, proyek, risiko ekonomi, dan peluang pasar. Cara baca ini penting, tetapi kerap berhenti pada skala besar dan gagal mengikuti bagaimana krisis bergerak ke ruang hidup terdekat. Padahal di dapur, halaman, sumber air, dan ekonomi keluargalah krisis iklim menjadi pengalaman konkret: harga pangan naik, sayur sulit dijangkau, hasil panen terganggu, air bersih tidak pasti, dan arus kas rumah tangga harus terus disusun ulang.
Di banyak keluarga, dampak itu pertama-tama terasa di tubuh perempuan. Bukan karena perempuan “secara alamiah” milik dapur, tetapi karena pembagian kerja di rumah masih menaruh urusan makan, kesehatan, dan perawatan keluarga di pundak mereka. Ketika krisis mengguncang dapur, perempuan sering menjadi penyangga pertama: mengatur kebutuhan, menjaga makanan tersedia, merawat yang sakit, dan memastikan kehidupan rumah tangga tetap berjalan.
Kerja semacam ini sering dianggap biasa, seolah tanggung jawab alamiah perempuan. Ia tidak diberi nama politik, jarang masuk kebijakan, dan hampir tidak pernah disebut sebagai adaptasi iklim. Padahal di sanalah keluarga bertahan dari inflasi pangan dan cuaca ekstrem.
Mengabaikan pengetahuan ini berarti membiarkan keadilan iklim timpang, karena suara dari dapur dan halaman tak terdengar dalam rapat perencanaan pembangunan, konsultasi publik, program ketahanan pangan, maupun percakapan nasional tentang iklim dan demokrasi. Padahal di sanalah kehidupan dipertahankan di tengah krisis.
Dalam percakapan iklim, dapur perlu dibaca ulang sebagai ruang politik iklim dari bawah. Ia bukan sekadar tempat memasak, melainkan arena tempat pangan, air, kesehatan, ekonomi keluarga, dan kerja perawatan bertemu. Karena itu, menanam di halaman, berbagi bibit, merawat tanaman obat, dan menghidupkan rumah bibit tidak bisa dipersempit sebagai kegiatan teknis pekarangan. Di Sumatera Utara, Rumah Nutrisi Keluarga atau Rumah NUSA—praktik perempuan akar rumput menanam dari halaman, berbagi bibit, dan menjaga pangan keluarga—menunjukkan bahwa adaptasi iklim tidak selalu lahir dari proyek besar, tetapi dari infrastruktur sosial: solidaritas, pengetahuan lokal, dan ketekunan menjaga dapur.
Dapur sebagai Politik Iklim: Membaca Ketidakadilan Epistemik
Membaca kerja menjaga dapur sebagai aksi iklim dari bawah membuka kritik yang lebih besar. Penyempitan ruang sipil tidak hanya terjadi ketika warga dibungkam atau dikriminalisasi, tetapi juga ketika pengetahuan perempuan disingkirkan dari definisi aksi iklim. Miranda Fricker, dalam Epistemic Injustice: Power and the Ethics of Knowing (2007), menyebutnya sebagai ketidakadilan epistemik: pengalaman seseorang tidak diakui sebagai pengetahuan yang sah karena relasi kuasa. Dalam krisis iklim, ini tampak ketika kerja perempuan menjaga pangan keluarga dianggap sekadar urusan teknis rumah tangga, bukan pengetahuan politik.
Donna Haraway, dalam “Situated Knowledges: The Science Question in Feminism and the Privilege of Partial Perspective” (1988), mengingatkan bahwa pengetahuan berakar pada posisi dan pengalaman konkret. Dari sini, menanam pangan alternatif, berbagi bibit, merawat halaman, dan menjaga dapur keluarga dapat dibaca sebagai situated knowledge: pengetahuan yang lahir dari pengalaman perempuan menghadapi krisis. Ketika aksi iklim hanya dikenali lewat demonstrasi, gugatan, dokumen kebijakan, atau forum resmi, kontribusi perempuan dalam membangun ketahanan iklim ikut terhapus.
Di sinilah demokrasi iklim harus membaca dari bawah. Pengetahuan ruang sidang dan laporan kebijakan penting. Tetapi pengetahuan dari dapur, halaman, dan komunitas perempuan juga harus menentukan arah percakapan. Pertanyaan sederhana tetap perlu diajukan: siapa yang menjaga kehidupan tetap berjalan saat pangan rentan? Jika negara hukum dan aksi iklim gagal mengakui kerja perempuan menjaga dapur, keadilan iklim tidak akan pernah sungguh-sungguh adil.
