Minggu, Juli 14, 2024

Sering Dianggap Pengangguran, Apakah Kuliah Itu Penting?

Retno Restutiningsih
Retno Restutiningsih
Saya Retno Restutiningsih, saat ini saya berusia 19 tahun. Seorang mahasiswa semester 2 dengan program studi Tadris Bahasa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta.

Orang sukses tanpa gelar sarjana sering kali menjadi narasi yang menyita perhatian masyarakat. Kesuksesannya dianggap sebagai validasi bahwa pendidikan tinggi bukanlah suatu keharusan. Padahal narasi tersebut tidak sepenuhnya benar karena banyak manfaat yang akan didapatkan dari belajar di perguruan tinggi.

Baru-baru ini, sebuah akun di platform Tiktok @produkmalang megunggah video yang menyatakan bahwa “Kami sediain loker buat para sarjana sarjana terhormat”. Vidio ini menuai banyak komentar dari yang mendukung maupun menentang, khususnya dari kalangan mahasiswa dan orang yang langsung berkecimpung dalam dunia kerja. Pandangan yang kontras antara keduanya memicu perdebatan tentang pentingnya kuliah dan relevansi gelar sarjana dalam dunia kerja.

Beberapa orang berpendapat bahwa video tersebut benar. Mereka berargumen bahwa banyak orang dengan gelar sarjana tapi masih kesulitan mendapatkan pekerjaan. Kuliah hanya membuang-buang waktu, biaya pendidikan yang dikeluarkan selama masa studi pun dianggap tidak selalu sepadan dengan hasil yang diperoleh.

Namun, di sisi lain banyak yang menentang video tersebut, mereka berpendapat bahwa meskipun faktanya tidak semua sarjana mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan bidang studi mereka, pendidikan tinggi tetaplah penting. Kuliah tidak hanya memberikan pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan di dunia kerja, tetapi juga mengembangkan kemampuan berpikir kritis, problem solving, dan komunikasi yang penting untuk kesuksesan dalam berbagai bidang.

Seperti dalam satu video di channel youtube Najwa Shihab membahas tentang “Kenapa Perlu Kuliah” dengan salah satu narasumbernya yaitu Maudy Ayunda penyanyi, aktris, dan aktivis muda Indonesia yang merupakan lulusan Universitas Oxford jurusan Philosophy, Politics and Economic (PPE) dan lulusan S2 di Stanford University. Mengungkapkan bahwa “Kuliah tidak hanya mengejar secarik kertas ijazah, kuliah merupakan tempat untuk tumbuh dan belajar. Kita akan mendapatkan skill dan resources untuk bisa masuk ke jenjang karier. Selain itu kita akan mendapatkan komunitas yang akan mempengaruhi masa depan karena dari situ kita akan mendapatkan pengalaman yang bernilai”.

Penjelasan tersebut sudah bisa menjadi gambaran betapa pentingnya menempuh pendidikan tinggi yang akan mempersiapkan kita di masa depan. Kuliah menyediakan wadah untuk mempelajari bidang tertentu secara mendalam sehingga keahlian dan pengetahuan yang didapat bisa menjadi bekal untuk bersaing dalam dunia kerja yang semakin kompetitif dan kompleks. Proses pembelajaran di perguruan tinggi juga mendorong mahasiswa untuk berpikir kritis, problem solving dan meningkatkan kemampuan berkomunikasi yang baik. Kemampuan-kemampuan ini sangat penting untuk meraih kesuksesan di berbagai bidang, baik di dalam maupun di luar dunia kerja.

Selain itu, lingkungan perkuliahan menyediakan ruang bagi mahasiswa untuk bertemu dan membangun jaringan dengan orang-orang dari berbagai latar belakang. Dengan aktif mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, organisasi, magang, dan lain sebagainya. Selain membantu mengembangkan keterampilan dan pengalaman, jaringan atau koneksi yang terjalin selama masa kuliah ini dapat menjadi sumber informasi, membuka peluang kerja, dan dukungan yang sangat berharga di masa depan.

Meskipun kuliah atau tidak kuliah, memiliki gelar sarjana atau tidak bukanlah jaminan seseorang bisa sukses dalam kariernya. Namun, kuliah dan memiliki gelar bisa menjadi salah satu kunci membuka masa depan, karena memberikan kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dan gaji yang lebih tinggi. Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa tingkat pengangguran di kalangan lulusan sarjana jauh lebih rendah dibandingkan dengan lulusan SMA/SMK. Dengan data pada tahun 2023 Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) untuk lulusan SMA mencapai 8,57%, sedangkan untuk lulusan sarjana hanya 4,80%.

Namun perlu dicatat bahwa tidak semua orang memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Keberhasilan seseorang dalam meraih kesuksesan tidak ditentukan oleh satu faktor saja. Gelar sarjana merupakan salah satu faktor yang menunjang kesuksesan, namun bukan satu-satunya. Banyak faktor lain yang dapat ditempuh seperti bakat, kerja keras, tekad, kreativitas, dan peluang.

Keputusan untuk melanjutkan pendidikan tinggi adalah keputusan pribadi yang harus dipertimbangkan dengan matang. Ada yang memilih langsung bekerja karena dorongan faktor ekonomi dan keinginan mencari pengalaman langsung. Ada yang memilih melanjutkan kuliah sebagai investasi jangka panjang yang akan membuka pintu untuk peluang karier di masa depan. Oleh karena itu, tidak perlu adanya pernyataan yang mengarah pada olokan terhadap mereka yang bertahan dengan kuliahnya, ataupun bagi mereka yang langsung belajar dari kehidupan.

Argumen dalam video tersebut sebaiknya disikapi dengan bijak dan kritis. Jangan melihat bahwa argumen tersebut merupakan suatu ancaman. Adanya hal ini menjadikan kesempatan kita untuk belajar dan memahami sudut pandang lain. Di sisi lain banyak orang yang meraih kesuksesan tanpa gelar sarjana, namun di sisi lain gelar sarjana tidak selalu menjamin kesuksesan dalam pekerjaan.

Maka, fokuslah pada pengembangan diri. Ingat bahwa gelar sarjana hanyalah salah satu batu loncatan dalam perjalanan karier di masa depan. Kita memiliki banyak potensi, pengalaman dan keahlian yang diperoleh di masa kuliah yang akan memberikan nilai tambah saat memasuki dunia kerja. Walaupun persaingan kerja lebih kompleks, perusahaan tetap memiliki persyaratan tersendiri bagi mereka yang memiliki gelar dengan kualifikasi tersendiri, sehingga lebih berpeluang mendapat posisi di dunia kerja.

Retno Restutiningsih
Retno Restutiningsih
Saya Retno Restutiningsih, saat ini saya berusia 19 tahun. Seorang mahasiswa semester 2 dengan program studi Tadris Bahasa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta.
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.