Sabtu, Juli 20, 2024

Sejarah Perkembangan Tafsir dari Klasik-Kontemporer

Nailatul Tashfiyah
Nailatul Tashfiyah
Mahasiswi Ilmu Al-Qur'an Dan Tafsir UIN Sunan Ampel Surabaya

Mengenai penafsiran Al-Qur’an telah melampaui beberapa masa dengan menggunakan metode yang berbeda-beda. Namun, metode penafsiran pada zaman Nabi berbeda dengan penafsiran saat ini. Hal ini terkait dengan fungsi dari kenabian, yakni sebagai penjelas Al-Qur’an.

Jadi, kala itu para sahabat yang sedang memiliki masalah akan segera menjumpai Nabi dan menanyakan perihal masalah yang dihadapinya. Kemudian, Nabi akan memberikan jawaban dari pertanyaan tersebut, baik berupa perbuatan, perkataan, ataupun hanya dengan sikap diam.

Dalam buku “Ulumul Qur’an” karya Mawardi Abdullah yang mengutip pendapat dari Iffat Al-Syarqawi, menyatakan bahwa terdapat tiga fase dalam fase penafsiran Al-Qur’an sebelum era modern. Diantaranya, yakni fase tafsir ‘amali, fase tafsir nazhari, dan fase stagnan penafsiran.

Tetapi, setelah tiga fase ini berlalu, penafsiran Al-Qur’an di era modern muncul dengan berbagai permasalahan yang lebih kompleks disertai dengan pemikiran-pemikiran para mufassir yang dilatarbelakangi oleh background yang beragam. Adapun beberapa fase penafsiran Al-Qur’an yang terbagi menjadi empat macam sebagai berikut:

Penafsiran Al-Qur’an Periode Nabi Muhammad

Penafsiran yang pertama kali muncul merupakan penafsiran dari Rasulullah yang bersifat amali (praktis) dengan memiliki ciri utama dalam penafsirannya, yakni tafsir praktis eksplanatif berdefinisikan sebuah penjelasan yang bertujuan untuk pengamalan. Penjelasan yang dimaksud disini bukan hanya dalam bentuk verbal, melainkan juga dalam bentuk praktis.

Penilaian tafsir pada masa ini dikenal sangat otorotatif dan mempunyai kualitas yang baik, dikarenakan atas dasar sumber utama, yakni sunnah Nabi ataupun hadis baik berupa qauliyyah, fi’liyah, fi’liyah, dan taqririyah. Jadi, apabila diantara para sahabat ada yang mereka kurang pahami, maka dalam hal ini bisa menanyakannya langsung kepada Nabi, sesuai dengan tugas Nabi sendiri, yaitu untuk menjelaskan Al-Qur’an.

Adapun perbedaan ulama’ yang menyatakan bahwa apakah semua ayat-ayat Al-Qur’an telah ditafsirkan oleh Nabi atau belum? Dalam hal ini, terdapat dua golongan mengenai pernyataan tersebut. Golongan pertama menyatakan bahwa semua ayat-ayat Al-Qur’an telah ditafsirkan oleh Nabi Muhammad saw. hal ini terkait dengan tugas Nabi adalah untuk menafsirkan Al-Qur’an dan mustahil jika Al-Qur’an tidak dijelaskan secara tuntas.

Sedangkan golongan kedua menyatakan bahwa tidak semua ayat Al-Qur’an ditafsirkan oleh Nabi, karena juga tidak banyak riwayat hadis yang berkaitan dengan penafsiran. Jadi yang dimaksud disini, Nabi hanya menafsirkan beberapa ayat yang sulit dipahami. Para sahabat dengan kemampuan bahasa arabnya telah mampu memahami Al-Qur’an secara umum.

Jika memang semua ayat telah ditafsirkan, maka tidak akan terjadi perbedaan penafsiran. Dan jika semua ayat telah ditafsirkan, maka tugas dalam memahami Al-Qur’an telah usai, tetapi kenyataannya Nabi tidak menafsirkan semua ayat Al-Qur’an. oleh karen itu, ini dapat dijadikan sebagai hikmah dan tantangan bagi kita untuk terus belajar dan mengkaji Al-Qur’an.

Penafsiran Al-Qur’an Periode Sahabat

Ketika Rasulullah masih hidup, para sahabat tidak ada yang berani menafsirkan Al-Qur’an, karena Rasulullah sendirilah yang memikul tugas menafsirkan Al-Qur’an. Tetapi, setelah Rasulullah wafat, para sahabat baru berani menyingkap rahasia-rahasia Al-Qur’an sesuai dengan petunjuk yang didapatkan dari Rasululah untuk menerangkan dan menjelaskan apa yang mereka pahami mengenai maksud-maksud dalam Al-Qur’an.

Banyak para sahabat yang ahli dalam menafsirkan Al-Qur’an, sebagaimana yang dikatakan oleh Imam al-Suyuti dalam kitab Al-Itqan, bahwa ada 10 orang terkemuka diantaranya, yakni Khulafa’ al-Rasyidin, Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit, Abi Musa Al-Asy’ari, dan Abdullah bin Zubair. Namun, diantara mereka yang paling banyak diterima tafsirnya dari kalangan Khulafa’ al-Rasyidin adalah Ali bin Abi Thalib. Sedangkan yang paling banyak diterima tafsirnya yang bukan dari kalangan Khulafa’ al-Rasyidin adalah Ibnu Abbas, Abdullah bin Zubair, Ibnu Mas’ud, dan Ubay bin Ka’ab.

Para sahabat ketika melakukan penafsiran terhadap Al-Qur’an senantiasa mengarah kepada inti dan kandungan Al-Qur’an. Atau dalam artian lain, lebih difokuskan dalam menjelaskan makna yang dikehendaki dan hukum-hukum yang terdapat dalam Al-Qur’an, serta menggambarkan makna-makna ayat yang berisikan tentang nasihat, petunjuk, kisah-kisah agamis, penuturan kepada umat terdahulu, dan ayat-ayat yang dijadikan oleh Allah sebagai contoh bagi manusia untuk dipikirkan dan direnungkan.

Penafsiran Al-Qur’an Periode Abad Pertengahan

Perkembangan tafsir kali ini masuk pada abad pertengahan, yakni sekitar abad ke-12 sampai pada abad ke-18 Masehi. Periode ini dimulai dengan munculnya produk penafsiran yang sistematis hingga sampai pada tangan generasi sekarang yang berbentuk buku. Jika pada masa Rasulullah, penafsiran sahabat, dan tabi’in bersumber dari Rasulullah, dari mulut ke mulut yang menyebar hingga dikalangan umat muslim, tetapi belum terbukukan dalam satu kitab. Oleh karena itu, dimulailah pembukuan hadis beserta dengan tafsir pada masa Umar bin Abdul Aziz pada tahun 99 H. Keadaan ini berlangsung hingga masa-masa terakhir bani Umayyah dan masa-masa awal Abbasiyah.

Setelah itu, muncul sebuah pergerakan ilmiah dan dimulai masa pembukuan ilmu-ilmu agama dan sains, serta klasifikasi, pembagian bab, dan sistematikanya, smapai pada akhirnya tafsir terpisah dari hadis. Tafsir berdiri sendiri menjadi suatu disiplin ilmu dan dilakukanlah penafsiran setiap ayat Al-Qur’an dari awal hingga akhir. Hal ini dikarenakan kaum muslim telah memasuki masa-masa suram dan mereka juga membutuhkan hasil penafsiran yang dilakukan oleh para ulama’ yang memiliki ilmu mendalam tentang bahasa Arab dan keahlian tertentu dalam ilmu agama. Adapun tafsir yang pertama kali lahir pada masa itu adalah tafsir Ibn Abbas.

Untuk corak tafsir pada periode ini, memiliki latar belakang yang berbeda di kalangan para mufassir. Jika tafsir yang muncul pada periode ini maka akan didominasi oleh kepentingan spesialisasi yang menjadi basis intelektual mufassirnya. Dengan adanya orang-orang tertentu diantara para peminat studi masing-masing ilmu mencoba menggunakan basis pengetahuannya sebagai kerangka dalam memahami Al-Qur’an. Bahkan diantaranya juga ada yang sengaja mencari dasar untuk melegitimasi teori-teorinya dari Al-Qur’an. Maka dari sini, muncullah apa yang disebut dengan tafsir fiqih, tafsir i’tiqadi, tafsir sufi, tafsir ilmu, dan lain-lain.

Perkembangan Tafsir Al-Qur’an Periode Kontemporer

Tafsir kontemporer dinilai oleh kalangan banyak akan memberikan angin segar bagi perkembangan tafsir, meskipun tidak sedikit kalangan yang kurang senang dengan adanya tafsir ini. Dengan kemunculan paradigma baru, menumbuhkan segala bentuk dogmatisme dan ototarisme penafsir yang dapat meminimalisir sedemikian rupa. Dikarenakan paradigma tafsir kontemporer meniscayakan adanya kritisisme, objektivitas, dan keterbukaan dimana produk penfasiran tidak ada yang kebal kritik.

Dengan memperhatikan pergeseran paradigma dalam tradisi penafsiran mulai dari er formatif-klaik, era airmatif-pertengahan, hingga era reformatif dimasa kontemporer, maka akan tampak bahwa paradigma kontemporer memiliki signifikasi dalam merespon dan menjawab isu-isu global dan kontemporer seperti dekomrasi, pluralisme, dan kesetaraan gender. Isu-isu yang muncul di era ini, tidak dijawab lagi dengan menggunakan paradigma tafsir klasik atau pertengahan yang cenderung sektaran, idiologis, dan diskriminatif. Wallahu A’lam.

Nailatul Tashfiyah
Nailatul Tashfiyah
Mahasiswi Ilmu Al-Qur'an Dan Tafsir UIN Sunan Ampel Surabaya
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.