Suatu pagi, secangkir kopi sering kita pahami hanya sebagai rutinitas. Ia hadir sebagai pengusir kantuk, teman bekerja, atau jeda singkat sebelum hari benar-benar dimulai. Kita jarang bertanya dari mana kopi itu berasal, siapa yang menanamnya, atau pengetahuan apa yang membuatnya sampai ke meja kita. Padahal, di balik rasa pahit dan aroma yang menenangkan, tersimpan pengetahuan panjang para petani yang menjaga kopi tetap tumbuh, tetap bernilai, dan tetap lestari. Masa depan kopi, sekaligus masa depan petaninya, ditentukan oleh apakah pengetahuan itu diwariskan atau dibiarkan hilang perlahan.
Di berbagai wilayah dataran tinggi Indonesia pada kisaran ketinggian 600 hingga 800 meter di atas permukaan laut, kopi Robusta tumbuh sebagai komoditas unggulan. Dengan luasan perkebunan yang relatif besar, kopi Robusta tidak hanya berorientasi ekspor, tetapi juga menjadi penggerak utama perekonomian masyarakat pedesaan (1). Di banyak daerah, komoditas ini menopang pendapatan keluarga, membuka lapangan kerja, serta menjaga keberlanjutan ekonomi lokal (2). Ketergantungan masyarakat terhadap kopi menjadikan keberlanjutannya bukan semata isu pertanian, melainkan isu sosial dan ekonomi yang lebih luas.
Seiring berkembangnya potensi tersebut, kopi tidak lagi dipandang sekadar sebagai hasil panen. Ia menjelma menjadi identitas wilayah dan medium pembelajaran. Berbagai daerah penghasil kopi mulai mengembangkan wisata edukatif berbasis kopi, mulai dari praktik petik merah, pengenalan proses pascapanen, hingga pengalaman menikmati kopi langsung di kebun (2,3). Upaya ini menunjukkan bahwa nilai kopi tidak hanya terletak pada produk akhirnya, tetapi juga pada pengetahuan, praktik, dan cerita yang menyertainya. Kopi menjadi sarana untuk mengenalkan kerja petani, relasi manusia dengan alam, serta nilai keberlanjutan yang kerap luput dari perhatian konsumen.
Di tingkat hulu, sebagian besar petani kopi tergabung dalam kelompok tani sebagai wadah kelembagaan berbasis komunitas. Kelompok tani dibentuk atas dasar kesamaan kepentingan, kondisi sosial ekonomi, ketersediaan sumber daya, serta kesamaan komoditas yang diusahakan. Melalui wadah ini, petani berupaya meningkatkan kapasitas, berbagi pengalaman, dan mengembangkan usaha tani secara berkelanjutan. Umumnya, petani menggarap lahan kopi seluas satu hingga dua hektare dengan status lahan berupa lahan garapan melalui sistem bagi hasil. Skala usaha yang relatif kecil ini membuat ketahanan petani sangat bergantung pada efisiensi, pengetahuan, dan kemampuan beradaptasi.
Namun, potensi besar tersebut tidak selalu berbanding lurus dengan keberlanjutan. Di tengah derasnya arus informasi digital, petani kopi justru menghadapi tantangan baru dalam mengelola pengetahuan. Informasi tentang budi daya kopi tersedia melimpah di internet, tetapi tidak selalu relevan dengan kondisi lokal. Pemilahan informasi menjadi persoalan tersendiri (2). Informasi daring kerap hadir tanpa konteks, tanpa penyesuaian terhadap kondisi agroklimat, kapasitas petani, maupun tradisi lokal, sehingga berpotensi menimbulkan kebingungan dan inefisiensi praktik (4–6).
Dalam keseharian, pengetahuan budi daya kopi masih sangat bergantung pada pengalaman segelintir petani senior. Transfer pengetahuan berlangsung secara lisan dan berbasis praktik langsung di kebun (4–6). Pola ini memang efektif dalam jangka pendek karena kontekstual dan mudah dipahami, tetapi rapuh dalam jangka panjang. Ketika petani senior tidak lagi aktif, atau ketika generasi muda enggan melanjutkan usaha tani, pengetahuan lokal berisiko terputus lintas generasi.
Kondisi ini mencerminkan risiko hilangnya pengetahuan kunci yang selama ini menopang praktik budi daya kopi. Pengetahuan yang seharusnya menjadi aset bersama komunitas justru terperangkap dalam ingatan individu (4). Di sisi lain, motivasi untuk mengumpulkan dan mendokumentasikan pengetahuan eksplisit masih relatif rendah (9,10). Aktivitas pencatatan kerap dipersepsikan sebagai beban tambahan, bukan sebagai investasi jangka panjang bagi keberlanjutan usaha tani.
Akibatnya, pengetahuan lebih banyak berhenti sebagai pengetahuan implisit yang melekat pada pengalaman personal petani. Diskusi informal dan praktik lapangan memang penting, tetapi tidak cukup untuk menjamin keberlanjutan. Tanpa pengelolaan informasi yang terstruktur, proses belajar harus terus diulang dari awal, kesalahan yang sama berpotensi terulang, dan pembelajaran kolektif sulit terbentuk.
Persoalan ini diperparah oleh belum tersedianya sistem pengelolaan pengetahuan yang sistematis dan mudah diakses (5). Aktivitas produksi, panen, dan pascapanen masih dijalankan berdasarkan kebiasaan. Ketika petani membutuhkan kembali informasi teknis, misalnya teknik sambung pucuk atau pengendalian hama, pengetahuan itu sering sulit dilacak. Tanpa memori kolektif, pengetahuan mudah hilang, padahal nilainya sangat strategis bagi keberlanjutan produksi.
Tantangan pengelolaan pengetahuan ini berjalan beriringan dengan persoalan pemasaran (7,8). Banyak kopi Robusta lokal belum dikenal secara optimal dibandingkan kopi dari wilayah lain yang lebih dahulu membangun citra. Rendahnya tingkat pengenalan berdampak pada terbatasnya minat beli konsumen. Padahal, dari sisi kualitas dan cerita produksi, kopi-kopi tersebut kerap tidak kalah menarik.
Di sinilah pentingnya knowledge sharing, yakni proses berbagi pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan agar tidak berhenti pada satu individu, melainkan menjadi aset bersama komunitas. Dalam konteks petani kopi, knowledge sharing menjadi jembatan antara pengalaman lapangan, pembelajaran kolektif, dan keberlanjutan usaha tani. Proses ini semakin kuat ketika pengetahuan implisit ditransformasikan menjadi pengetahuan eksplisit, yaitu pengetahuan yang terdokumentasi dalam bentuk catatan budi daya, panduan teknis, foto, video, atau arsip digital yang mudah dipelajari dan dibagikan lintas generasi.
Pada saat yang sama, penguatan pemasaran melalui strategi komunikasi digital menjadi kebutuhan yang tidak terpisahkan. Konsumen tidak hanya mencari kopi, tetapi juga cerita. Mereka ingin tahu bagaimana kopi ditanam, siapa yang menanamnya, dan nilai apa yang dijaga di balik setiap proses produksi (1,2). Konten yang informatif dan autentik mampu membangun kepercayaan sekaligus kedekatan emosional (7,8).
Pada akhirnya, secangkir kopi yang kita nikmati setiap hari menyimpan lebih dari sekadar rasa. Ia memuat pengetahuan, pengalaman, dan kerja panjang para petani. Ketika pengetahuan itu dikelola, dibagikan, dan dikomunikasikan dengan baik, kopi tidak lagi sekadar komoditas, melainkan medium yang menjaga masa depan petani, konsumen, dan keberlanjutan itu sendiri.
Daftar Pustaka
- Pasek IK, Lina NPM, Sumetri NW, Siwantara IW, Sukarta IW. Promoting Green Human Resources Management to Business Model Innovation in SMEs. Proc Int Conf Appl Sci Technol Soc Sci 2022 (iCAST-SS 2022). 2022;282–7.
- Suryaniadi SM, Lina NPM, Priyana IPO. Pelatihan Pasca Panen untuk Meningkatkan Kualitas Citarasa Kopi Robusta di Desa Pucaksari, Buleleng. Bhakti Persada. 2023;9(1):51–8.
- Pasek IK, Lina NPM, Siwantara IW, Sumetri NW, Sukarta IW. Pengaruh Green Human Resource Management (GHRM) Terhadap Inovasi Produk Dan Proses pada Industri Kecil Menengah Kopi di Indonesia. J Bisnis dan Kewirausahaan. 2022;18(3):271–82.
- Almanza OM, Rafael J, Cisneros A. Towards a knowledge management system for the strengthening ofcoffee production: A case study in the Panama Canal Basin, Panamá Oeste province. Green Technol Sustain [Internet]. 2024;2(1):100056. Available from: https://doi.org/10.1016/j.grets.2023.100056
- Buitendag A; Hattingh F. A Smart Agricultural Knowledge Management Framework To Support Emergent Farmers In Developmental Settings. Interdiscip J Information, Knowledge, Manag. 2024;19.
- Nugroho Imam Setyo et al. Pendampingan Regenerasi Petani Milenial, Digitalisasi Pertanian Dan Produksi Pupuk Berkelanjutan Berbasis Sumber Daya Lokal Untuk Kesejahteraan Dan Kemandirian Petani Desa Wagir Kidul. Ganesha J Pengabdi Masy. 2025;5(1):54–64.
- Dewi KC, Ciptayani PI, Lina PM, Yudistira IBPS. Modeling Ontology for Knowledge Based Buyer Persona Expert System. In: 2024 International Conference on Artificial Intelligence, Blockchain, Cloud Computing, and Data Analytics (ICoABCD). 2024. p. 155–60.
- Dewi KC, Ciptayani PI, Lina NPM, Yudistira I. Feasibility Study of Buyer Persona Expert System Using a Combination of Segmenting , Targeting , Positioning ( STP ) and Persona Models [Internet]. Vol. 2024. Atlantis Press International BV; 2024. Available from: http://dx.doi.org/10.2991/978-94-6463-622-2_93
- Lina NPM; Boonyasana K. Fostering Intrinsic Motivation: The Role Of Sdt And Tam Theory In Shaping Behavioral Intentions For Sustainable Recruitment. 2024;4(2):85–95.
- Azizah A, Arsawan IWE, Lina NPM, Kazancoglu Y, Koval V, Abdullah N. Modelling eco-friendly behaviour towards environmental performance: a proposition approach. IOP Conf Ser Earth Environ Sci. 2024;1429(1).
