Rabu, Juni 16, 2021

Saya Arab, Saya Indonesia

Dilema Kaum Guru

Di Indonesia ada suatu pekerjaan yang penuh dengan resiko dilema. Resiko dilema ini bukan hanya berhubungan dengan pendapatan, tapi juga berkaitan dengan proses bekerja...

Prototipe Persaudaraan ala Nabi Saw

Pada sekitar tahun 622 M, para Muslim Makkah generasi awal (al-sâbiqûn al-awwalûn) bergerak meninggalkan tanah kelahiran mereka menuju Yatsrib—kelak bernama Madinah. Mereka mengikuti arahan...

Hoaks di Musim Penghujan

Hujan pun telah datang menghampiri bumi ini. Hujan memang datang dengan mempunyai maksud untuk membersihkan pelbagai macam debu yang berada di mana pun itu,...

Tradisi Suro dalam Perspektif Islam

Kontras dengan perayaan tahun baru Masehi yang gegap gempita dengan berpesta-pora khas budaya Barat, peringatan tahun baru Hijriyah justru diisi aktivitas instropeksi diri (muhasabah)...
Avatar
fikrimuz
Pemerhati dan Pengamat Ide, Pengajar di Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya dan Alumni Mambaus Sholihin Gresik

Sebagai keturunan Arab dari Hadramaut yang lahir di Indonesia, Indo-Hadrami atau yang dikenal sebagai peranakan (muwalladun) harus berhadapan dengan dua sisi identitas yang berpunggungan; antara tanggung jawab mewarisi tradisi ke-Hadrami-an dan tuntutan agar melebur menjadi warganegara Indonesia seutuhnya.

Dilema ini menciptkan ruang negosiasi bagi Indo-Hadrami dalam menjaga keduanya agar seimbang. Kreativitas-adaptif inilah yang sangat dibutuhkan agar koloni Indo-Hadrami bisa menjawab tantangan nasionalisme kekinian, sehingga eksklusivitas tidak nampak menjadi sekat primordial yang membedakan koloni ini dengan warganegara Indonesia secara umum.

Menurut Van der Kroef (1954) yang dikutip oleh Abdul Rahman Patji (1991), semangat nasionalisme di kalangan Indo-Hadrami muncul menjelang revolusi kemerdekaan. Gelombang gerakan anti penjajahan waktu itu, telah menggelorakan soliditas antarsemua komponen bangsa, tak terkecuali bagi koloni migran baik etnis Cina maupun Arab.

Kelahiran nasionalisme Indonesia (1908) menuntut  koloni migran waktu itu agar mereformulasi konsep nasionalisme sebagi bukti komitmen kebangsaan untuk konteks waktu itu dan di masa mendatang. Menjadi Indonesia atau orang Asing yang tinggal di Indonesia.

Meskipun visi Republik Indonesia masih belum dapat dipastikan akan benar-benar terwujud, orang-orang keturunan Arab sudah berani memgambil risiko untuk memilih menjadi bagian Bangsa Indonesia dan menyimpan ingatan tentang Hadramaut sebagai negeri asal mereka.

Padahal, kebijakan Hindia Belanda telah menempatkan kelompok migran (termasuk etnis Arab) ke dalam kelas kedua di atas penduduk pribumi dengan keistimewaan yang mereka terima. Namun kemanjaan yang diperoleh itu tidak menyurutkan mereka untuk terlibat dalam upaya merebut kemerdekaan dari penjajah.

Seiring waktu, keterlibatan Indo-Hadrami semakin terukur dalam struktur ke-Indonesia-an ketika banyak Indo-Hadrami yang berafiliasi ke Sarekat Islam, kemudian mendirikan organisisi al-Jamiyat al-Khairiyah (1901) dan Jamiyat al-Islah wal-Irsyad  al-Arabiyah (1915).

Peran kebangsaan itu semakin matang ketika Abdur Rahman Baswedan atau lebih dikenal dengan A.R. Baswedan mendirikan Persatoean Arab Indonesia (PAI) pada 1934 yang di kemudian hari menjadi sebuah partai yang berperan penting memupuk semangat nasionalisme bagi keturunan Indo-Hadrami di Indonesia.

Namun, dengan melihat kondisi terkini nasionalisme di Indonesia, konsistensi rasa kebangsaan Indo-Hadrami seakan diuji ketika isu-isu rasial sering muncul di ruang publik. Aseng dan Abud sering digunakan untuk menunjukkan sikap-sikap peyoratif kepada sesama warganegara dari etnis minoritas.

Gelombang Arabisme kini menjadi kekuatan yang dianggap mengancam, pengenaan simbol-simbol ke-Arab-an seperti jubah, jenggot, iqal dan seterusnya dianggap tidak mecerminkan nasionalisme. Seolah sebagian ingin mengatakan setiap budaya impor bukan Indonesia.

Segregasi terhadap etnis Arab dari bingkai kebhinekaan Indonesia telah menafikan sejarah nasionalisme koloni ini. Padahal sejak 4 Oktober 1934, etnis Arab telah mendeklarasikan sumpah pemuda keturunan Arab yang berisi: 1) Tanah Air peranakan Arab adalah Indonesia; 2) Karenanya mereka harus meninggalkan kehidupan menyendiri (isolasi); dan 3) Memenuhi kewajibannya terhadap Tanah Air dan Bangsa Indonesia. Deklarasi ini merupakan perwujudan komitmen kebangsaan oleh etnis Arab kepada Indonesia yang masih menjadi cita-cita. Menurut Deliar Noer (1973: 56) saat itu merupakan titik tolak etnis Arab untuk menjadi Indonesia secara utuh.

Kini sudah 84 tahun Sumpah Pemuda Keturunan Arab itu berlangsung. Sejak dilaksanakan di Solo kali pertama, setelah itu peringatan kelahiran nasionalisme etnis Arab belum pernah lagi digelar. Baru tahun 2015, di Surabaya atas inisiatif dari pemuda keturunan Arab yang tergabung dalam Menara Center, peringatan Sumpah Pemuda keturunan Arab itu diperingati kembali.

Meskipun ada kekhawatiran bahwa kegiatan tersebut akan dicurigai oleh warga non keturunan karena memiliki motif tertentu. Terlepas dari kecurigaan yang mungkin muncul dari kalangan etnis non-Arab, Sumpah Pemuda Keturunan Arab memang selayaknya diperingati pada setiap hari kelahirannya. Paling tidak peringatan tersebut dapat kembali menyegarkan gelora keindonesiaan bagi kalangan muda dari etnis yang kini menjadi warganegara dari republik ini.

Ketika nasionalisme di Indonesia mengalami degradasi oleh sebab kemunculan politik identitas yang mengeksploitasi kebhinekaan, eloknya semangat keindonesiaan sebagai cita-cita bersama harus tetap dirawat agar kebhinekaan itu tetap bisa disatukan. Semangat Sumpah Pemuda 1928 yang secara nyata menjadi peleburan agama dan etnik, demi cita-cita negara Indonesia tidak boleh luntur sampai kapanpun.

Begitu juga dengan Sumpah Pemuda Keturunan Arab yang terjadi setelah lima tahun kemudian. Keduanya saling bertalian sebagai titik tolak dari kebhinekaan menuju Tunggal Ika dalam ikatan Tanah Air Indonesia.

Dewasa ini, indentitas etnik diperuncing untuk kepentingan politik dan status sosial. Arus ini tentu sangat membahayakan soliditas kebangsaan. Kontak yang terjadi berpotensi memecah belah antarkomponen bangsa.

Menurut Syed Farid Alatas, seorang keturunan Hadrami, ketika berbicara dalam Konferensi Internasional tentang Dinamika peranakan Arab di Indonesia setahun silam, ia mewanti agar jangan sampai isu identitas itu bermuara pada eksklusivitas. Dengan bahasa sederhana, jangan ada sok-sokan yang muncul dari etnik yang sudah melebur ke dalam Republik Indonesia. Jangan ada perasaan sok Arab, sok Cina, sok Jawa, sok Sunda dan sebagainya. Atau ada sebagian yang merasa sok nasionalis tanpa mengingat bahwa nasionalisme Indonesia itu digotong bersama.

Akhirnya, meneladani semangat Sumpah Pemuda 1928 dan Sumpah Pemuda Keturunan Arab 1934 sudah saatnya bangsa ini tidak lagi melihat perbedaan sebagai suatu halangan untuk duduk bersama. Dulu ketika Indonesia masih menjadi cita-cita, semua komponen bangsa mengikat diri untuk bersatu mewujudkannya.

Maka, ketika mimpi Indonesia itu kini telah terwujud, janganlah perbedaan itu justru menjadi benih yang akan menenggelamkannya. Tanah Air Indonesia adalah “saya” apapun identitas yang melekat, Arab, Cina, Jawa, Sunda dan sebagainya. Cinta Tanah Air adalah yang prioritas dan utama. Selamat Hari Sumpah Pemuda semua saudara setumpah darah!

Avatar
fikrimuz
Pemerhati dan Pengamat Ide, Pengajar di Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya dan Alumni Mambaus Sholihin Gresik
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Koperasi, Keadilan Ekonomi, Pancasila

Setiap negara pada hakikatnya menganut sebuah ideologi yang menjadi dasar bagi bangsanya dalam kehidupan bernegara. Seandainya suatu negara tidak memiliki sebuah ideologi yang dianut,...

Karya, Nama, Media: Tentang Kehebohan A.S. Laksana

Tahun 2001 saya bertemu dengan seorang pelukis dari negeri Tiongkok yang namanya belum terlalu tenar. Karya-karyanya dapat digolongkan sebagai lukisan realistik, dalam arti mengambil...

Distribusi Resiko untuk Keadilan Iklim

Saat ini, daya dukung lingkungan hidup mengalami keterbatasan di tengah kondisi iklim yang menyebabkan peningkatan potensi dan intensitas kejadian bencana. Indonesia merupakan salah satu...

Tiga Tahun Zonasi, Sudahkah Memberi Solusi?

Sistem zonasi dalam perekrutan peserta didik baru untuk semua jenjang telah berlangsung selama tiga tahun. Dan jika untuk tahun ajaran baru kelak sistem ini...

Kepalsuan Gelar Duta

Salah satu karakteristik dari masyarakat modern yang paling menonjol adalah keinginannya untuk memperoleh nilai prestise. Tentu saja, keinginan tersebut bukan hal yang berlebihan. Saat...

ARTIKEL TERPOPULER