Jumat, April 23, 2021

Sastra Wangi dan Euforia Sastra Selangkangan

Mempertanyakan Dana Otonomi Khusus di Asmat Papua

Baru-baru ini kita digegerkan dengan masalah kemanusian yang begitu mengerikan, masalah gizi buruk, campak dan masalah kesehatan lainnya yang menimpa saudara-saudara kita yang ada...

Teladan Patriotisme Itu Datang dari Timur

Cerita inspiratif dari Indonesia Timur seakan tak pernah habis. Belum lama ingatan kita tertuju pada Lalu Muhammad Zohri, pemuda asal Nusa Tenggara Barat (NTB),...

Hikayat Kritik dan Perihal Kampus UMM yang Doyan Flashmob

Saya diajari bahwa kritik bukan sekedar mengungkap kesalahan. Kritik adalah kejelian yang terlatih lewat pengalaman membaca dan berdiskusi. Kejelian yang didukung wacana matang. Kejelian...

Pandangan Mochtar Lubis Terhadap Kemunafikan Manusia Indonesia

Pernyataan Mochtar Lubis dalam naskah pidato Manusia Indonesia (kemudian diterbitkan menjadi buku) sampai sekarang pidato ini masih relevan untuk dibahas, baik kalangan awam maupun...
Dhedi R Ghazali
Pecinta kopi, buku dan sastra. Penulis yang belum tenar.

Sebenarnya sudah terlambat mengangkat tema ini. Sebab polemik tentang “Gerakan Syahwat Merdeka” yang dimunculkan Taufik Ismail sudah sejak tahun 2006 lalu. Tepatnya pada 20 Desember 2006 ketika Taufik Ismail membacakan pidato kebudayaan di Akademia Jakarta. Sudah menjadi kelaziman ketika aksi menimbulkan reaksi yang pro dan kontra. Berangkat dari kewajaran itulah, saya mencoba urun rembug terhadap hal ini.

Sebelum saya lanjutkan, mari kita simak kegetiran sekaligus kegelisahan Taufik Ismail terhadap kemunculan sastra wangi: “Penulis-penulis perempuan, muda usia, berlomba mencabul-cabulkan karya, asyik menggarap wilayah selangkang dan sekitarnya dalam Gerakan Syahwat Merdeka. Dari halaman-halaman buku mereka menyebar hawa lendir yang mirip aroma bangkai anak tikus telantar tiga hari di selokan pasar desa. Aku melihat orang-orang menutup hidung dan jijik karenanya. Jijik. Malu aku memikirkannya.”

Saya pribadi merasakan kegelisahan yang dialami Beliau. Bukan karena kekaguman atau karena saya “ngefans” dengan Beliau. Namun kegelisahan itu datang sendiri ketika membaca karya-karya Ayu Utami dan Djenar Maesa Ayu—penulis yang dianggap banyak kritikus sastra sebagai pelopor kemunculan Sastra wangi.

Saya kutip sedikit kalimat di dalam buku Saman: “… dan aku menamainya klenit karena serupa kontol yang kecil. Namun liang itu tidak diberinya sebuah nama. Melainkan, dengan ujung jarinya ia merogoh. Dan dengan penisnya ia menembus” (Saman, Ayu Utami)

Sengaja tidak saya sensor kata-kata vulgar pada contoh di atas karena memang teks aslinya seperti itu.

Banyak pegiat sastra yang mengatakan bahwa Ayu Utami mencoba mendobrak ketabuan seks dan mengangkat Feminisme dalam karyanya. Sampai-sampai karyanya yang memenangkan Dewan Kesenian Jakarta itu dianggap sebagai karya fenomenal yang ekspresif, berani dan indah. Feminisme sendiri adalah sebuah doktrin yang menyerukan kesetaraan hak-hak sosial dan politik kaum perempuan dengan kaum laki-laki.

Para penulis perempuan mengangkat tema emansipasi wanita sebagai wujud kesetaraan sosial, yang ingin lepas dari mindset (format pikiran) bahwa perempuan diikat secara kultural dengan sistem selera dan budaya patriarki. Tubuh perempuan selama ini dijadikan sebagai objek seks dan sangat jarang menjadi subjek seks. Kaum feminisme posmodern sangat menganjurkan dilakukannya kegiatan menulis tentang seksualitas perempuan dalam karya sastra sehingga muncul istilah “sexts” sebagai bentuk akronim dari kata sex dan text.

Berangkat dari sinilah sastrawangi semakin mendapat tempat. Sastra dengan bahasan selangkangan yang besar kemungkinan membuat pembacanya “ngaceng” menjadi trend dan diikuti oleh penulis-penulis muda dan sayangnya tidak sedikit pegiat sastra yang mengamiinkannya dengan alasan sastra sebagai sarana perubahan.

Jadilah karya-karya sastra yang mengangkat seks menguasai pangsa pasar dan gerai-gerai toko buku. Pengokohan ini tak lepas dari “kesarujukan” beberapa pegiat sastra yang menganggap bahwa sastra selangkangan adalah bentuk ekspresi dan pemberontakan terhadap realita sosial di tengah masyarakat. Benar memang.

Mengingat sesungguhnya seks bukan lagi menjadi sesuatu yang tabu bahkan bagi anak-anak SD. Tak sedikit anak SD yang berhubungan seks. Inilah realita bahwa seks bukan lagi sesuatu yang tabu. Jadi saya pribadi merasakan keanehan jika dikatakan bahwa sastra selangkangan para sastrawangi adalah sebuah pendobrakan bagi ketabuan seks.

Jauh sebelum itu, perkembangan tekhnologi sudah mendobrak ketabuan seks dengan menawarkan kemudahan akses ke video dan gambar-gambar porno. Bahkan saya sampai pada titik kesimpulan (tentu kesimpulan saya pribadi) bahwa sastra selangkangan adalah reenkarnasi dari video dan gambar porno. Atau dengan kata lain ia adalah wujud teks/ tulisan dari video dan gambar porno.

Dan ketika berbicara pangsa pasar, kapitalisme selanjutnya yang berbicara. Karya sastra seolah dituntut mengikuti trend seperti trend budaya berpakaian. Untuk bisa laku di pasaran, yang dibutuhkan adalah membuat produk sesuai trend di pasaran. Segmen pembaca di Indonesia yang luas dan tanpa batas usia menjadi sangat berpengaruh.

Kemesuman dan kemudah-ngacengan punggawa muda di negeri ini adalah sasaran empuk bagi sastra yang menjual seks sebagai daya pemikat. Cukup membalut seks dengan bahasa sastra, maka jadilah karya itu diminati. Bukan tanpa alasan saya berani mengatakan demikian. Sebab sudah menjadi realita umum bahwa bacaan berbau seks akan lebih mudah memikat pembaca dibandingkan yang lain.

Sebagai penutup, saya tegaskan bahwa tulisan ini hanyalah sebuah urun rembug saja. Bagi saya, Sastra Wangi hanyalah bagian dari perang bisnis dalam dunia sastra, di mana karya sastra yang beraroma wangi seperti itu lebih mudah mendapatkan tempat di hati pembaca negeri ini. Meskipun demikian, tentu akan ada yang menganggap bahwa Sastra Wangi adalah keindagan sebuah seni sebagaimana soerang pelukis atau pematung yang membuat karya berupa lukisan atau patung telanjang.

Berbagai perbedaan dalam menanggapi terkait kemunculan Sastra Wangi adalah sebuah keniscahyaan. Bagi saya pribadi, saya akan dengan penuh keyakinan untuk berdiri di barisan Taufik Ismail yang menentang keras kemunculan Sastra Wangi. Bagaimana dengan Anda?

Dhedi R Ghazali
Pecinta kopi, buku dan sastra. Penulis yang belum tenar.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Toleransi, Kita Perlu Belajar dari Negeri Tolland

Sebelum mulai mendaratkan jemari diatas keyboard laptop, sejenak terlintas dalam pikiran saya sebuah kutipan yang menarik dari buku yang berjudul “Berjamaah (lagi) walau tak...

Terorisme Lahir dari Watak yang Retak

Salah satu musuh terbesar kemanusiaan adalah terorisme. Ia lahir dari watak retak manusia yang dikendalikan hasrat untuk membunuh. Dalam aksinya yang agresif, teroris tak...

Melacak Kesalehan Kultural dan Ikhtiar Keberagaman

“Agama tetap bersifat kemanusiaan, karena bertujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan. Tetapi ia bukanlah kemanusiaan yang berdiri sendiri, melainkan kemanusiaan yang memancar dari Ketuhanan” -Nurcholis Madjid,...

Mencari Teman Masa Pandemi? Why Not, Berikut Tipsnya

Sudah Satu Tahun Pandemi Covid-19 Melanda Indonesia. sekolah-sekolah, kampus, tempat yang bahkan kantor sekalipun harus berkegiatan online. Mahasiswa baru, murid baru dan orang-orang yang baru memulai...

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

ARTIKEL TERPOPULER

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

Melacak Kesalehan Kultural dan Ikhtiar Keberagaman

“Agama tetap bersifat kemanusiaan, karena bertujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan. Tetapi ia bukanlah kemanusiaan yang berdiri sendiri, melainkan kemanusiaan yang memancar dari Ketuhanan” -Nurcholis Madjid,...

Mempertanyakan Wacana Koalisi Partai Islam Oleh PKS dan PPP

Menyatakan bahwa Islam hanya berhubungan dengan kehidupan spiritual, tanpa kita sangkut pautkan sama sekali dengan masyarakat dan negara, mungkin sama jauhnya dari kenyataan dengan...

Puasa Menurut Filsuf Muslim

Selama ini ada anggapan umum yang diterima luas, bahwa nasib filsafat Islam telah berakhir di tangan Ibn Rusyd. Filsuf Andalusia yang mencoba melakukan counter...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.