Kamis, Juni 20, 2024

Rocky Gerung dan Kesadaran Kewargaan Kita

Andi Alfian
Andi Alfian
Menyelesaikan Pendidikan Magister di Bidang Studi Agama dan Budaya di Universitas Gadjah Mada sekaligus Pendiri Sekolah Anak Muda (@sekolahanakmuda).

Dalam lanskap politik suatu negara, kritikus yang blak-blakan sering kali muncul sebagai tokoh berpengaruh yang bisa membentuk opini publik dan memicu perbincangan lebih lanjut tentang “arah mana” yang akan ditempuh oleh negara tersebut. Di Indonesia, misalnya, ada Rocky Gerung, seorang filsuf dan pengamat politik yang belakangan ini menuai banyak pujian dan ejekan karena kritiknya yang “tegas-kontroversial” terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah.

Meski kalimat-kalimat yang digunakan oleh Rocky Gerung dalam banyak kritikannya dinilai oleh banyak pihak sebagai pilihan kalimat yang “buruk” sehingga tidak jarang menimbulkan perdebatan, tapi kritik Rocky Gerung pada dasarnya tetap punya banyak manfaat, di antaranya, memberi kita kesadaran baru bahwa ada banyak cacat dalam kebijakan-kebijakan pemerintah dan kita sebagai warga negara berhak untuk terlibat-aktif-kritis dalam persoalan tersebut.

Kekuatan Kritik, Kata, dan Konteks

Kritik, jika dilandasi dengan argumen yang kuat dan disampaikan dengan bijaksana, berpotensi menjadi katalisator bagi perubahan di suatu masyarakat. Kritik Rocky Gerung yang “blak-blakan” terhadap kebijakan presiden menjadi bukti nyata bagaimana para intelektual sekaligus warga negara dapat menggunakan suara mereka untuk menjelaskan potensi keburukan suatu kebijakan, menstimulasi percakapan publik, dan mendorong keterlibatan kritis warga negara. Namun, efektivitas kritik itu terkait erat dengan cara mengomunikasikannya serta dampaknya pada persepsi publik.

Dalam konteks kritik Rocky Gerung terhadap kebijakan presiden, misalnya, dia menggunakan frasa “bajingan tolol.” Frasa itu disebutkan Rocky Gerung setelah dia menguraikan kecacatan logika pemerintah dalam proses pengambilan kebijakan.

Rocky Gerung sebetulnya berhasil menggarisbawahi aspek yang dinilai bermasalah, tapi penggunaan kata-kata kasar itu membuat publik lebih fokus pada frasa “bajingan tolol” daripada substansi masalah yang disoroti oleh Rocky Gerung. Tentu saja, Rocky Gerung menggunakan frasa “bajingan tolol” pada suatu konteks tertentu, dan frasa itu tidak akan bermasalah jika kita memahami konteks itu.

Kesadaran Kewargaan dan Perdebatan Konstruktif

Kritik Rocky Gerung, terlepas dari kontroversinya, mengangkat poin penting tentang lembaga pemerintah, yakni kepresidenan–sebuah lembaga yang harusnya melampaui sentimen pribadi.

Peristiwa Rocky Gerung ini bisa menjadi momentum yang tepat untuk menumbuhkan pemahaman tentang relasi yang kompleks antara lembaga politik-pemerintahan dengan warga negara, bahwa warga negara harusnya terlibat dalam perdebatan kebijakan publik demi kesejahteraan bangsa dan tidak menjadikan perdebatan itu sebagai serangan pribadi. Dengan kata lain, kritik Rocky Gerung pada akhirnya menyadarkan warga negara untuk menjadi peserta aktif dalam proses demokrasi, dan itu membuat sistem demokrasi menjadi sehat.

Karena, dalam sistem demokrasi, idealnya, perselisihan dan perbedaan pendapat adalah komponen alami yang harus tetap ada. Kritik Rocky Gerung, meskipun ditanggapi dengan beragam reaksi, merupakan simbol bagaimana perspektif yang beragam dapat memperkaya dan memperdalam diskusi tentang “arah mana” yang harusnya diambil oleh suatu bangsa.

Perdebatan konstruktif semacam ini harus dilakukan dengan komitmen menjunjung tinggi prinsip-prinsip partisipasi demokratis dan saling menghormati. Kesadaran kewargaan, sekali lagi, mendorong warga negara untuk melibatkan diri dalam perdebatan publik, menyajikan sudut pandang alternatif yang berkontribusi pada proses pengambilan keputusan yang berkeadilan.

Pada akhirnya, kritik tajam Rocky Gerung terhadap kebijakan presiden telah memicu percakapan yang lebih luas tentang dinamika yang rumit antara kesadaran kewargaan, kritik politik, dan nuansa etis dalam berekspresi. Sebagai warga negara yang bertanggung jawab, kita semua bertugas berpartisipasi dalam diskusi yang kontributif pada kemajuan bangsa sembari tetap menjunjung nilai utama dari demokrasi.

Sekali lagi, kritik, jika diartikulasikan secara konstruktif dan didasarkan pada argumen, dapat membuka jalan bagi perubahan positif. Kritik Rocky Gerung mengajari kita bahwa, dalam konteks demokrasi, setiap warga negara berhak untuk menyuarakan kritiknya terhadap lembaga pemerintah secara bebas dan setara.

Andi Alfian
Andi Alfian
Menyelesaikan Pendidikan Magister di Bidang Studi Agama dan Budaya di Universitas Gadjah Mada sekaligus Pendiri Sekolah Anak Muda (@sekolahanakmuda).
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.