OUR NETWORK
Kamis, September 29, 2022

Representasi Etnis Tionghoa dalam Film Martabak Bangka

Ini Metode Mempercepat Pemulihan Pasien

Goodbye Parpol Baperan

Syaikah Aslam Bawana Apta
Mahasiswa Ilmu Komunikasi Fakultas Sastra Budaya dan Komunikasi Universitas Ahmad Dahlan

Film yang bergenre drama ini merupakan film Indonesia yang dirilis pada tahun 2019, disutradarai oleh Eman Pradipta dan penulis naskahnya adalah Fahrul Rozi. Pemeran utama di dalam film ini dibintangi oleh beberapa aktor dan aktris ternama diantaranya adalah Ramon Y. Tungka, Ario Astungkoro, Gabriella Desta dan Graceilla Angelica. Secara keseluruhan, film ini menyajikan kisah drama persahabatan, cinta, dan keluarga.

Selain itu, terdapat kisah – kisah kehidupan Etnis Melayu dan Tionghoa pulau Bangka yang mewarnai film Martabak Bangka ini. Film ini juga mengangkat dan mempromosikan wisata yang ada di Pulau Bangka melalui tempat – tempat yang menjadi latar tempat sebuah cerita yang ada di dalam film ini.

Dalam buku berjudul “Menikmati Budaya Layar, Membaca Film”, dijelaskan bahwa film merupakan fenomena menarik yang perlu dikaji dalam berbagai disiplin ilmu. Produk film, mulai dari pemutaran dan pendistribusian di bioskop hingga penyambungan ke televisi dan internet/dunia online, masih memiliki nilai penelitian yang menarik.

Film digunakan sebagai objek penelitian di berbagai bidang penelitian dan ilmu pengetahuan, seperti seni, pertunjukan dan produksi, sastra, pendidikan, komunikasi, dan penelitian interdisipliner lainnya: manajemen, industri film, film sebagai produk budaya, film dan propaganda politik, psikologi dll. Pada artikel ini, akan membahas bagaimana film Martabak Bangka merepresentasikan Etnis Tionghoa melalui visualisasi cerita, karakter dan budaya.

Cerita dalam film ini dimulai ketika Jaya bekerja di toko martabak Koh Acun. Setelah meninggalnya Koh Acun, Jaya bertekad untuk menemukan keluarganya. Jaya sangat ingin sekali menyelesaikan warisan Koh Acun yang menjadi milik keluarganya. Lalu, Kekasih Jaya mencoba merayu Jaya untuk mengambil warisan Koh Acun dan berniat menjual tempat tinggal Koh Acun tanpa seizin keluarganya.

Pada saat menjelajahi Pulau Bangka, Jaya beserta temannya yaitu Asep hanya bermodalkan foto Koh Acun dan tidak ada petunjuk lain yang dimilikinya dalam mencari keluarga Koh Acun. Hal ini menjadi kesulitan Jaya dalam mencari informasi alamat keluarga Koh Acun. Setelah berusaha mencari keluarga Koh Acun dengan sedikit informasi, Jaya bertemu dengan adik Koh Acun, Tedjo. Ketika Jaya ingin memberikan warisan dan abu jenazah kakaknya, Tejo menolak.

Dalam film ini, terpadat scene yang menggambarkan representasi Etnis Tionghoa yaitu ketika petugas hotel menyebutkan kata “Hok Lo Pan” kepada Jaya. Masyarakat tionghoa khususnya orang – orang Hakka Bangka menyebutkan martabak dengan sebutan “Hok Lo Pan” karena pada awalnya kue ini dibuat oleh orang – orang Hakka Bangka.

Hakka atau Khek merupakan suku Tionghoa yang datang dari negeri Tiongkok ke Indonesia yang tersebar di beberapa daerah yaitu Bangka Belitung, Aceh, dan Kalimantan Barat. Scene yang menggambarkan representasi Etnis Tionghoa lainnya yaitu ketika Jaya dan Asep pergi ke sebuah Klenteng dan bertemu dengan Tedjo yang merupakan Adiknya Koh Acun. Klenteng sendiri merupakan tempat ibadah Buddhisme, Konghucu, dan Taoisme dengan nuansa arsitektur Tionghoa.

Selain menjadi tempat ibadah, Klenteng juga menjadi tempat perayaan masyarakat Tionghoa seperti Imlek, Cap Go Meh, Cit Ngiat Pan, dan lain lain. Scene yang menggambarkan representasi Etnis Tionghoa lainnya juga yaitu ketika Jaya dan Asep sedang ngobrol dengan dua pelanggan di warung kopi tradisional. Di Bangka Belitung, kedai kopi tradisional sudah sangat populer sejak dahulu.

Warung kopi tradisional banyak dijumpai di setiap sudut kota di Bangka Belitung dan tetap eksis hingga saat ini. Kebanyakan pemilik dari warung kopi tradisional yang ada di Bangka Belitung adalah masyarakat Tionghoa seperti warung kopi Tung Tau, warung kopi Kong Djie, warung kopi Ahyan, warung kopi Ake dan masih banyak lagi.

Karakter Koh Acun di dalam film ini direpresentasikan sebagai seorang Tionghoa yang tanggung jawab dan pekerja keras. Hal ini dapat dilihat ketika Koh Acun sangat detail terhadap apa yang dia kerjakan yaitu membuat martabak dengan tetap mempertahankan kualitasnya karena bagi Koh Acun itu merupakan cara kita untuk menghargai apa yang dikerjakan dan apa yang dijual kepada pembeli.

Sikap itulah yang diajarkan semasa hidup Koh Acun kepada Jaya walaupun cara penyampaiannya terkesan keras. Dijelaskan dalam film ini, cinta Koh Acun dengan Oma Liuna tidak direstui karena dia hanya seorang penjual martabak. Hal ini membuatnya memikirkan masa depan Oma Liuna dan keluarganya dengan merantau ke Jakarta untuk mengadu nasib.

Koh Acun adalah orang yang penuh kasih sayang. Dapat dilihat ketika dia menulis surat sebelum kepergiannya kepada orang yang dia cintai. Lalu surat tersebut sampai kepada adiknya sendiri yaitu Tedjo, walaupun pada awalnya ditolak karena Tedjo sudah melupakan Koh Acun dan mengira bahwa Koh Acun tidak peduli lagi dengan keluarganya. Pada akhirnya surat dari Koh Acun tersebut diterima Tedjo, dia pun mengetahui bahwa Koh Acun masih peduli dan tidak pernah melupakan keluarganya.

Rina Sari Kusuma dan Zamratush Sholihah dalam artikelnya yang berjudul Representasi Etnis Tionghoa dalam Film “Kukejar Cinta Ke Negeri Cina” dan “Ngenest” yang dimuat di MediaTor Vol 11 (2) (2018) menyatakan bahwa stereotip bahwa orang Tionghoa adalah orang kaya akan mempengaruhi pembentukan tipe ideal identitas orang Tionghoa sebagai kelas sosial yang tinggi, sehingga mengabaikan kenyataan bahwa orang Tionghoa juga ada yang kelas menengah dan menengah ke bawah.

Syaikah Aslam Bawana Apta
Mahasiswa Ilmu Komunikasi Fakultas Sastra Budaya dan Komunikasi Universitas Ahmad Dahlan
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.