Selasa, Mei 18, 2021

Psikologis Wanita Terganggu Jika Pandemi Masih Merajalela

Pak Tua itu Bernama HMI

Himpunan Mahasiswa Islam, sekiranya itulah nama organisasi mahasiswa ekstra kampus yang baru saja bertambah usia menjadi 71 tahun di awal bulan Februari lalu (5...

Dilematis Revolusi Industri 4.0

Yang abadi dalam kehidupan manusia adalah perubahan. Manusia merupakan mahluk ciptaan Tuhan yang selalu mengubah dirinya untuk menyesuaikan dengan keadaan yang baru. Selain beradaptasi dengan...

Perempuan, Tak Ada Surga Dibawah Kakiku Lagi

Indonesia, sebuah negeri besar dengan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang melimpah ruah. Sebuah negeri yang konon menjadi pusat perhatian dunia di...

Komunitas Sosial untuk Indonesia

Secara Konstitusional, pasal 34 Undang-Undang Dasar 1945 Tidak hanya negara yang bertanggung jawab terhadap fakir miskin dan anak-anak, tetapi kita bersama. Berusaha melakukan apa yang...
Mohammad Andri Dwi
Mahasiswa Program Magister di Salah satu Perguruan Tinggi Swasta di Malang Jawa Timur

“Kita harus Belajar dari sebuah sejarah, Bahwa kita harus waspada akan dampak kesehatan mental yang terus berlanjut, lama setelah wabah Covid-19 menular dan tak kunjung Usai.”

Beberapa para peneliti menemukan bahwa dua dekade yang menjadi perespon spertama mengalami tingkat depresi yang tinggi dan gangguan stres pascatrauma(PTSD) yang akan mulai menyerang kita semua. Mereka juga menyimpulkan bahwa dampak kesehatan mental adalah konsekuensi paling signifikan dari bencana tersebut, yang menyebabkan ribuan kematian dan sangat merusak perekonomian tentunya.

Kondisi ini akan menjadi lebih parah bagi orang-orang yang memang mempunyai masalah kesehatan mental sebelumnya, atau yang berpenghasilan rendah. Wabah pandemi yang tak kunjung usai membuat kita semua menjadi ketakutan untuk keluar rumah dan lebih memilih untuk berdiam diri dirumah, bahkan melakukan pekerjaan atau aktivitas lainnyapun jauh lebih aman jika dilakukan dirumah.

Jika kita keluar untuk melakukan aktivitas lain, Misalnya : saat naik transportasi umum, waspada dengan kebersihan alat makan, dan merasa tak nyaman ketika melihat gambar sel virus corona yang terpampang di berbagai macam poster dan lainnya. Kita semua pasti merasakan “Gejala utamanya adalah kita mulai menangis. kita merasa seperti akan mati, dan kemudian kita menangis sampai tubuh dan paru-paru kita terasa sakit ketika kita mulai bosan di dalam rumah, Tanpa kita sadari hal itu juga membuat gangguan pada mental kita.

Penyebaran Virus Corona benar-benar harus diwaspadai, Banyak yang merasakan dampak dari Virus Corona yang bisa dirasakan, salah satunya adalah penyakit psikis, seperti insomnia, kecemasan, depresi, dan lain-lain.

Melansir dari The Guardian, dari 402 pasien yang masih dimonitor setelah dirawat dari Virus Corona, 55% di antara mereka setidaknya memiliki satu penyakit psikis.

Berdasarkan wawancara klinis dan pengisian kuesioner, 28% mengalami post-traumatic stress disorder (PTSD),  31% depresi, 42% kecemasan atau anxiety, 40% insomnia, dan 20% obsessive-compulsive symptoms. Penemuan tersebut meningkatkan kekhawatiran tentang dampak Virus Corona dari sisi psikologis.

Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam The Journal Brain, Behaviour, and Immunity merekomendasikan untuk memeriksa psikopatologi dari pasien Virus Corona yang selamat. Hal itu dilakukan dengan mempertimbangkan kesehatan mental dan pengetahuan psikiatri saat ini.

Penelitian mendalam terkait inflammatory biomakers juga perlu dilakukan untuk mendiagnosa dan mengatasi kondisi psikis yang muncul.

The Guardian juga menjelaskan penelitian yang melibatkan 265 laki-laki dan 137 perempuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wanita lebih menderita secara psikologis daripada pria. Dampak Virus Corona itu bisa semakin parah jika memiliki riwayat diagnosa psikiatrik sebelumnya.Dampak Virus Corona terkait kesehatan mental disebabkan karena sistem imun yang merespons Virus Corona. P

embatasan sosial dan dampak psikologis dari rasa sakit yang dirasakan pasien juga memperparah kondisi tersebut.Selain itu, adanya kekhawatiran menyebarkan Virus Corona ke orang lain dan stigma yang berkembang di masyarakat membuat dampak Virus Corona semakin terasa merajalela dan tak kunjung usai.

Ada beberapa faktor yang melatarbelakangi perempuan menjadi kelompok rentan mengalami masalah psikologis semasa pandemi. Salah satunya,  kondisi pandemi membuat perempuan harus mengemban tambahan “tugas” yang berlipat ganda di waktu yang bersamaan: menjadi guru bagi anak, istri bagi suami, hingga karyawan bagi perusahaan.

Hal tersebut pula yang membuat perempuan sulit menemukan waktu untuk self-care. Hmmm, coba ingat-ingat lagi kapan terakhir kali Anda merasa punya waktu untuk melakukan hal yang disukai? Ketika kita tidak bisa melakukan kegiatan favorit, entah itu window shopping di mal, menonton film di bioskop, hingga hangout dengan the girls secara leluasa, tekanan mental yang kita alami pun akan menjadi semakin besar.

Jika tekanan pekerjaan jadi penyebab utama stres, maka saya menyarankan untuk menentukan batasan kapan waktu bekerja dan kapan waktu beristirahat. Bila merasa lelah, beristirahatlah. Banyak sekali hari untuk menyelesaikan pekerjaan kita, Tidak semua apa yang kita kerjakan harus selesai pada hari ini juga.

Jangan terlalu memaksakan diri untuk memenuhi deadline pekerjaan karena kondisi pandemi ini membutuhkan Anda untuk beradaptasi lebih ekstra dengan situasi bekerja dibandingkan biasanya. Selain itu, sebisa mungkin pisahkanlah ruang bekerja dan beristirahat. Bekerja di atas tempat tidur? Big no no, ladies. Jika memang ruang tempat tinggal Anda terbatas, paling tidak hindari bekerja di atas tempat tidur.

Kemudian, yang tak kalah penting, fokuslah terhadap hal-hal yang positif. Namun, ingat jangan memaksakan diri merasa positif, ya. Apabila melihat media sosial tertentu membuat Anda merasakan banyak emosi negatif, tutup atau pilih media sosial lainnya. Kalau melihat berita soal perkembangan Covid-19 menimbulkan rasa cemas, berhentilah untuk mencari tahu terlebih dahulu.

“Ketika muncul emosi negatif, ceritakan ke orang-orang terdekat yang memahami atau cari outlet untuk mengeluarkan emosi negatif, mulai dari mendengarkan lagu sedih, menggambar, menuliskan isi hati, bahkan berolahraga”, ujar saya. Dan, ketika ada orang terdekat kita merasakan emosi negatif, cobalah untuk mendengarkan tanpa menghakimi. Ini adalah saatnya untuk membangun interaksi yang lebih kuat lagi dengan orang terdekat, dengan berbagi keluh-kesah, saling mendengarkan, dan memahami satu sama lain agar fikiran kita tidak terasa berat sepenuhnya.

Mohammad Andri Dwi
Mahasiswa Program Magister di Salah satu Perguruan Tinggi Swasta di Malang Jawa Timur
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Rasa Kemanusiaan Tidak Mengenal Batas Negara

Nampak aneh jika ada seorang manusia bisa berbuat baik tanpa ada alasan apapun dibelakangnya. Itu pikiranku dulu, ternyata hal itu pernah terjadi setelah aku...

Nasib Korban Kejahatan Seksual di Indonesia

Berdasarkan studi yang dilakukan oleh ValueChampion tahun 2019, Indonesia disebut sebagai negara kedua di kawasan Asia Pasifik yang paling berbahaya untuk wisatawan wanita. Bagi...

Indonesia dan Konflik Palestina: Langkah Ekstrem

Akhir Ramadhan diwarnai dengan serangan yang berulang dari Zionis Israel kepada Palestina. The Reuters melaporkan bahwa tembakan roket dan serangan Israel berlangsung secara masif...

Membedah Ucapan Jokowi soal Bipang Ambawang

Ucapan Presiden Jokowi soal ajakan kepada masyarakat untuk membeli makanan khas daerah, salah satunya bipang Ambawang, menjadi kehebohan baru. Ucapan itu terdapat dalam potongan...

Individualisme dan Kecenderungan Nalar Eksploitasi

Sebelum Siddhata Gautama mencapai puncak pencerahan nirwana. Di masa kecilnya, ia pernah diajak ayahnya untuk menghadiri aktivitas pembajakan tanah yang oleh masyarakat setempat, dianggap...

ARTIKEL TERPOPULER

Tegakkan P3SPS Secara Keseluruhan

Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang terkenal dengan fungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak dan suara, dalam bentuk monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi"...

Doa dan Puisi untuk Palestina

Kamis malam ini (24-8-2017) akan digelar acara “Doa untuk Palestina”. Diprakarsai oleh Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus, acara yang akan berlangsung di Grahana...

Strategi Mengikis Angka Golput

Golongan putih (Golput) atau perilaku non-voting (orang-orang yang tidak menggunakan hak pilihnya) masih menjadi bayang-bayang Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2019. Padahal, pesta demokrasi ini akan diselenggarakan...

Membedah Ucapan Jokowi soal Bipang Ambawang

Ucapan Presiden Jokowi soal ajakan kepada masyarakat untuk membeli makanan khas daerah, salah satunya bipang Ambawang, menjadi kehebohan baru. Ucapan itu terdapat dalam potongan...

Indonesia dan Konflik Palestina: Langkah Ekstrem

Akhir Ramadhan diwarnai dengan serangan yang berulang dari Zionis Israel kepada Palestina. The Reuters melaporkan bahwa tembakan roket dan serangan Israel berlangsung secara masif...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.