Sabtu, Mei 8, 2021

Poros Ketiga 2019: Terhambat dan Menghambat

Genderuwo, Perjalanan Sang Rupawan Menjadi Momok

Beberapa waktu yang lalu, Presiden Joko Widodo menyindir lawan politiknya yang beliau tuduh sering menyebarkan perasaan takut dalam berkampanye dengan istilah “politik genderuwo”. Terlepas dari...

Kemunafikan Hollywood dan Media Mainstream Amerika

Pertama, penulis harus beritahu, penulis tidak objektif...!Penulis benci media massa Amerika yang pura-pura objektif, mereka selalu berpura sebagai penjaga moral dunia. Padahal gara-gara propaganda...

Perempuan dan Politik

Politik selalu identik dengan dunia laki-laki, dengan dunia kotor, tidak pantas untuk perempuan masuk kedalam ranah tersebut. Politik selalu identik dengan sesuatu yang aneh...

Politik Panas, Santaikan dengan Humor

Indonesia adalah negara yang serba ada. Kekayaan ada, kemiskinan pun jangan ditanya. Banyak sekali jumlahnya. Selain itu Indonesia juga mudah panas dengan isu yang...
Fadhlan Aldhifan
Mahasiswa Biasa

Kurang dari satu bulan lagi memasuki masa pendaftaran pasangan calon presiden dan wakil presiden yang akan berkontestasi di pemilihan presiden 2019 mendatang. Seluruh partai politik semakin gencar melakukan lobi-lobi politik yang tentunya bermuara pada siapa-siapa saja jagoan yang sesuai dengan kesepakatan partai dan kehendak rakyat.

Disemarakkan pula oleh beberapa aktor politik nasional dan lokal yang melakukan manuver politik turut menghangatkan isu-isu seantero negeri. Baik mitra koalisi pendukung incumbent maupun pihak oposisi masih sama-sama belum mantap dalam menentukan langkahnya menuju gegap gempita puncak pesta demokrasi.

Di jajaran partai petahana masih terus menyeleksi nama-nama pendamping Jokowi, sedangkan deretan oposisi sibuk mencari formula untuk menemukan pengganti.

Elit partai politik oposisi sampai sejauh ini masih terlihat belum kompak dan solid. Hal ini tercermin dari masih banyaknya melemparkan wacana-wacana mengenai pembentukkan poros ketiga di Pilpres nanti.

Hal tersebut tentunya beralasan karena terlihat dengan jelas bahwa masing-masing partai politik ngotot untuk mengusung tokoh terbaiknya menjadi penguasa istana. Lihat saja bagaimana Partai Gerindra yang dengan lantang mendeklarasikan Prabowo Subianto untuk maju di posisi yang sama seperti 2014 lalu.

Kemudian terdapat Partai Demokrat yang ingin membangun trah politik Yudhoyono dengan slogan next leader dalam diri Agus Harimurti Yudhoyono. Ada juga Amien Rais, tokoh pendiri Partai Amanat Nasional yang terinspirasi kemenangan tokoh senior Mahathir Mohamad di Malaysia baru-baru ini.

Masih ada lagi Partai Keadilan Sejahtera yang telah lama menyodorkan 9 nama kader terbaik mereka sebagai bakal calon Wakil Presiden, meskipun lambat laun menghembuskan wacana baru dengan menduetkan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dengan mantan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan.

Belum lagi Partai Kebangkitan Bangsa yang sedang harap-harap cemas karena merosotnya elektabilitas Muhaimin Iskandar sebagai bakal calon pendamping Joko Widodo di barisan petahana. Dan yang tidak dapat dipandang sebelah mata yakni manuver politik Jusuf Kalla yang berpotensi menjadi sosok sentral percaturan ini.

Sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya, situasi politik yang masih dinamis ini memungkinkan segala kemungkinan tidak terkecuali terbentuknya poros ketiga. Namun kemudian upaya mewujudkan poros ketiga ini tidaklah sesederhana membongkar pasang posisi capres-cawapres, melainkan hitung-hitungan presidential threshold yang sampai saat ini masih dalam proses uji materi di Mahkamah Konstitusi.

Undang-Undang No. 7 tahun 2017 mengharuskan tercukupinya 20% perolehan kursi parlemen berdasarkan Pemilu 2014 membuat persoalan baru dalam peta politik nasional. Serangkaian aturan tersebut pada akhirnya dapat membatasi ruang gerak partai oposisi dalam membangun koalisi dalam hal ini poros ketiga. Ketua Umum PAN, Zulkifli Hasan, mengungkapkan hal senada perihal hambatan ini. “Apakah mungkin poros ketiga? Mungkin saja tapi perlu keajaiban. Itu pendapat saya,” ungkapnya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (10/7/2018).

Sedangkan apabila melihat dari sisi yang berbeda, wacana pembentukan poros ketiga justu dianggap dapat menghambat dan memecah suara oposisi. Mada Sukmajati, dosen Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada, melihat peluang kemenangan poros ketiga amatlah kecil. Menurutnya pula, poros ketiga hanya akan dimanfaatkan oleh para tokoh muda sebagai batu loncatan menuju Pilpres 2024.

Terlalu jauh memang, namun setidaknya hal ini menguatkan asumsi bahwa terbentuknya poros ketiga malah akan membuat pergantian kekuasaan semakin berat terwujud. Bila menilik pada hasil survei elektabilitas terbaru yang dirilis oleh Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia (KedaiKOPI) menempatkan Joko Widodo di urutan teratas dengan 47,8 persen diikuti oleh Prabowo Subianto dengan 24,4 persen dan Gatot Nurmantyo sebesar 2,6 persen. Selisih yang tergolong jauh antara nama kedua dan ketiga menyiratkan bahwa belum ada tokoh yang cukup mampu menyaingi dua nama utama yang juga bertarung di 2014 silam.

Bagaimanapun juga, konstelasi politik masih dalam situasi yang amat cair. Seluruh pimpinan partai politik tak ayal perlu mematangkan kembali kalkulasi politis mengenai arah kebijakan dan keberpihakan partai politik yang tentunya sesuai dengan aspirasi rakyat.

Bagi koalisi penantang petahana, bukan tak mungkin alotnya negosiasi dan sulitnya menurunkan tuntutan malah membuat pihak petahana dapat menang mudah di Pilpres 2019 mendatang. Dan petahana tetap perlu berhati-hati mengingat tren kekalahan petahana dalam konteks Pemilihan Kepala Daerah bukanlah sesuatu yang tabu lagi akhir-akhir ini.

REFERENSI

JPNN. 2018. “Hasil Survei Terbaru Elektabilitas Kandidat Capres, Wouw!” dalam https://www.jpnn.com/news/hasil-survei-terbaru-elektabilitas-kandidat-capres-wouw diakses pada 11 Juli 2018 pukul 21.25

Umam, Chaerul. 2018. “Zulkifli Hasan: Perlu Keajaiban Bentuk Poros Ketiga” dalam http://www.tribunnews.com/nasional/2018/07/10/zulkifli-hasan-perlu-keajaiban-bentuk-poros-ketiga diakses pada 11 Juli 2018 pukul 20.55

Utama, Abraham. 2018. “Poros ketiga di luar Jokowi-Prabowo mencuat, namun dianggap tak berpeluang” dalam https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-44781348 diakses pada 11 Juli 2018 pukul 21.17

Rahadian, Lalu. 2018. “Sulitnya Peluang Poros Ketiga Pilpres 2019 Terwujud” dalam https://tirto.id/sulitnya-peluang-poros-ketiga-pilpres-2019-terwujud-cJ5Y diakses pada 11 Juli 2018 pukul 21.01

Fadhlan Aldhifan
Mahasiswa Biasa
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Idealitas Tata Kelola Perpustakaan

Perpustakaan sebagai pusat informasi menjadi salah satu media yang dituju oleh masyarakat untuk mendapatkan informasi melalui literatur melalui bahan pustaka tercetak. Meskipun teknologi semakin...

Negara dan Usaha Pemajuan Kebudayaan

Indonesia dikenal dunia sebagai negara yang multikultural dengan pusparagam kebudayaannya yang sangat melipah ruah, dari ujung Sabang di Aceh sampai tanah Merauke di Papua...

Pembelajaran Jarak Jauh, Efektifkah?

Sejak ditetapkannya pandemi Covid-19 di Indonesia, banyak sektor yang terdampak, mulai dari ekonomi, pariwisata, sosial dan budaya termasuk sektor pendidikan. Pembelajaran tatap muka (offline) yang selama...

Memperkuat Proteksi Konstitusi

Akhir-akhir ini, diskursus mengenai perpanjangan masa jabatan presiden menjadi tiga periode semakin menguat. Untuk masa sekarang, Pasal 7 UUD NRI 1945 menegaskan pembatasan masa...

Orientalisme, Prancis, dan Kita

Kita tentu masih ingat beberapa bulan lalu hebohnya sebuah kasus di Prancis mengenai gambar Nabi Muhammad yang dianggap melecehkan Islam, yang menuai reaksi keras. Dalam...

ARTIKEL TERPOPULER

Khotbah Idulfitri: Inikah Ramadan Terakhir Kita?

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا Ramadan berlalu dan kita masih duduk termangu. Apa saja yang telah kita lakukan...

Menjawab Ahmad Daryoko, Parasit 212

Sudah sejak lama orang ini kerap menyebarkan kabar bohong. Motif di balik itu sebenarnya karena sakit hati. Orang ini pernah jadi Ketua Serikat Pekerja...

Beberapa Kesalahan Berpikir Kita

Proses berpikir merupakan salah satu komposisi dari pola aktifitas manusia dalam kehidupan, sekaligus menjadikan nya sebagai prestise seseorang agar terhindar dari segala bentuk keterasingan...

Kartini-Kartini 4.0

“Habis bikin kopi, sachet nya jangan dibuang sembarangan, pilah ke tempat sampah plastik!” begitu kata istri. Alhasil, saya harus memungut ulang sachet plastik kopi...

Agility di Pertamina

Membaca berita mengenai pengangkatan direksi Pertamina dengan tagline lebih agile, fokus, dan cepat, menggoda penulis untuk kembali mengulas kebijakan-kebijakan pemerintah dari kacamata agile. Pertama kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.