Sabtu, Juli 20, 2024

Polarisasi Politik, Budiman dan Saya

Laili Zailani
Laili Zailani
Ibu rumah tangga, pendiri HAPSARI (Himpunan Serikat Perempuan Indonesia) Sumatera Utara dan Ashoka Fellow (2000)

Saya seumuran dengan Budiman Sudjatmiko, tanggal ulang tahunnya 4 hari lebih cepat dari saya. Saya berani ‘pede’ untuk bilang bahwa selain gender, hal yang membedakan saya dengan Budiman adalah bahwa dia seorang politisi dan actor (begitu Wikipedia mencatatnya), sedang saya ibu rumah tangga dan aktivis perempuan.

Dia pernah mendirikan partai politik bernama Partai Rakyat Demokratik (PRD) yang ikut menjadi peserta Pemilu 1999 tapi tidak memiliki wakil langsung di Parlemen. Waktu itu, komunitas buruh perkebunan yang saya organisir ikut memilih PRD karena logonya bergambar bintang bersudut lima dan roda bergerigi yang mirip dengan logo organisasi mereka. Seperti Budiman, tahun 2007 saya juga pernah mendirikan partai politik  dan menjadi Wakil Ketua, namanya Partai Perserikatan Rakyat (PPR) tapi tak lolos verifikasi.

Pada 2018, Budiman mendirikan gerakan innovator 4.0 Indonesia untuk mewujudkan mimpinya tentang Indonesia masa depan sebagai bangsa digital yang berkedaulatan dalam data, berkeadilan dalam tekhnologi dan akses informasi, begitu katanya (mengutip komparan.com). Saya, walaupun mamak-mamak gini, sejak 2018 mengelola chanel YouTube untuk mewujudkan mimpi agar perempuan Indonesia melek (literasi) digital. Chanel YouTube itu bahkan saya beri nama ‘Mamak Onlen’ (sekalian promosi, hahaaa…)

Dalam perspektif perempuan dan ibu itulah inisiatif Budiman mengunjungi Prabowo Subianto beberapa waktu lalu cukup menginspirasi saya (setidaknya untuk menulis ini). Saya enggak kaget, karena dalam politik, tidak ada kawan atau lawan yang abadi. Yang ada hanyalah kepentingan abadi.

Fakta Polarisasi Politik 

Saya berfikir sederhana saja, bahwa kita sedang memasuki tahun politik menuju pilpres 2024. Rilis hasil Survei Nasional Laboratorium Psikologi Politik Universitas Indonesia (Februari 2023) menyimpulkan bahwa polarisasi politik di Indonesia itu fakta dan 2024 diprediksi kembali terjadi. Agama adalah varian penyumbang terbesar polarisasi dan hoaks ikut mengancam terjadinya polarisasi tersebut.

Dalam berbagai literatur dijelaskan bahwa polarisasi politik adalah terbelahnya dua kelompok dalam pandangan yang berbeda secara politis. Dan di Indonesia polarisasi itu sangat khas, umumnya berbasis agama. Satu kelompok mewakili “islamis” kelompok lainnya sebagai “nasionalis” atau “pluralis”. Studi Thomas Carothers dan Andrew O’Donohue (2019) tentang merosotnya demokrasi di berbagai negara seperti dikutip oleh Luthfi Assyaukanie dalam Polarisasi dan Merosotnya Demokrasi (Media Indonesia, 2022) menyebutkan sejumlah dampak buruk polarisasi dengan daya rusak yang cukup besar yaitu menggerogoti institusi-institusi demokrasi.

Saya khawatir, sangat khawatir, bahwa polarisasi politik masyarakat Indonesia akibat kontestasi politik yang embrionya dimulai pada pilpres 2014 dan terus membesar menjadi cebong dan kampret/kadrun pada 2019 akan berlanjut pada pilpres 2024. Entah jadi (makhluk) apa lagi para cebong dan kampret itu di pilpres 2024 nanti, jika tidak ada upaya serius menghentikannya.

Lalu, apakah bertemunya Budiman dengan Prabowo akan memperkecil polarisasi politik itu? Keduanya tokoh politik, keduanya punya kepentingan. Entah siapa yang memulai, tapi saya percaya bahwa pertemuan itu terjadi atas dasar kepentingan yang sama, suka sama suka. Saya tak hendak menebak-nebak apa sesungguhnya kepentingan si Budiman itu, tapi kita semua tahu kepentingan Prabowo sebagai bakal calon presiden di 2024 adalah menang!

Saya masih ingat, ketika Prabowo bersedia dilantik sebagai Menteri Pertahanan oleh Presiden Joko Widodo pada Oktober 2019. Kepada kader partainya ia menjelaskan bahwa melalui pertahanan (jabatan menteri yang ia pegang) dirinya bisa ikut (berjuang) menjamin kedaulatan Indonesia. Dalam berbagai pidato berikutnya, Prabowo konsisten dengan pernyataan bahwa ia bersedia menjadi bagian dari Jokowi, karena cintanya kepada negara dan bangsa Indonesia. “Kita tidak boleh mengijinkan negara kita pecah, masyarakat kita pecah, dan Indonesia terancam (perpecahan)”. Artinya, Prabowo tidak menginginkan polarisasi politik, karena dia paham daya rusaknya cukup ampuh untuk membuat rakyat Indonesia terpecah belah.

Pilpres 2024 : Cegah Polarisasi Terjadi 

Saya berharap Budiman tak hanya membaca potensi menang Prabowo dalam kontestasi Pilpres 2024 mendatang dan kepentingannya (Budiman) terwakili. Tapi juga mampu memastikan konsistensi Prabowo dalam menjaga Indonesia dari perpecahan. Karena sebenarnya polarisasi politik juga disebabkan oleh aktor politik yang mengejar tujuan politiknya untuk menang dan berkuasa, dengan menggunakan strategi polarisasi itu sendiri. Mereka memobilisasi pemilih dengan memecah belah, menyebarkan ujaran kebencian, mengeksploitasi keresahan masyarakat, dan respons oposisi yang menggunakan taktik serupa (McCoy & Somer, 2019).

Saya ingin mensimulasikan situasi hari ini (jelang Pilpres 2024), dari perspektif seorang perempuan dan Ibu. 

  • Saya membayangkan Indonesia hari ini adalah seorang Ibu dengan rumah besar yang indah, banyak anak yang harus diurus, banyak mulut harus diberi makan. Dalam kondisi ekonomi yang tidak baik-baik saja karena banyak hutang, banyak keperluan harus dipenuhi. Sementara anak-anaknya berisik, berantam terus satu sama lain, saling benci, saling menyalahkan. Bisakah kita membayangkan keluarga macam apa itu? 

Hal pertama yang dibutuhkan ibu adalah ketenangan, sehingga dapat berfikir dengan jernih. Kepercayaan, sehingga ibu punya keberanian menjawab tantangan, dan kerjasama, karena ibu tidak mungkin menyelesaikan semua masalah sendirian. Rumah besar itu bernama Indonesia.

Jadi, harus ada upaya agar rumah besar bernama Indonesia ini tidak terjebak (lagi) dalam episode polarisasi politik yang menimbulkan kegaduhan, serangan-serangan atas dasar kebencian antar kelompok yang pada akhirnya mendelegitimasi pemerintahan yang berkuasa bahkan melecehkan institusi kepresidenan. Biarlah idiom-idiom cebong, kampret dan kadrun pada pilpres 2019 menjadi kenangan sejarah dalam memori politik kita. Stop sampai di situ. Saya percaya Prabowo setuju.

Perasaan saya, pertemuan Budiman dan Prabowo membawa pesan untuk menghentikan polarisasi politik yang berbahaya itu. Rasanya begitu, dan biarkan saja rasa itu.

Laili Zailani
Laili Zailani
Ibu rumah tangga, pendiri HAPSARI (Himpunan Serikat Perempuan Indonesia) Sumatera Utara dan Ashoka Fellow (2000)
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.