Sabtu, Mei 15, 2021

Pohon Harapan Itu Bernama Timnas U-16 Indonesia

Di Balik Meme Celana Cingkrang

Meme, menjadi fenomena yang menarik untuk dikaji. Terlebih meme yang memuat konten celana cingkrang. Artikel dari Miski yang dimuat di Harmoni Jurnal Multikultural dan...

Bolehkah Aku Mengenal Mu

Tiada kisah paling indah dalam hidup, hanyalah kisah tentang diri ku yang ingin mengenal mu. Tiada momen paling indah, hanyalah momen berjumpa dengan mu.Berjumpa,...

Krisis Demokrasi di Tengah Pandemi Covid-19

Pada awal tahun 2020, hampir seluruh dunia termasuk Indonesia di gemparkan ole Wabash virus corona jenis baru yang dinamakan Coronavirus Disease (COVID-19). Wabah ini...

Menanti Narasi Besar Jokowi

Pelaksanaan Pilpres sudah memasuki hitungan mundur, kurang lima bulan lagi menuju hari pencoblosan. Penantian yang panjang bagi rakyat untuk mendapatkan kepala negara periode lima...
Herdanang Ahmad Fauzan
Bekas mahasiswa yang menolak nganggur.

Timnas U-16 Indonesia menang lagi. Di laga pembuka Grup C Piala AFC U-16 2018, skuat yang kerap mendapat puja-puji dengan panggilan Garuda Asia ini menghantam Iran dua gol tanpa balas. Bagus Kahfi dan Bagas Kaffa—Upin-Ipinnya Indonesia itu—mencetak masing-masing satu gol.

Bagiku, atau bagi mereka yang sudah lama menyimak kiprah Timnas sepak bola Indonesia di level Asia maupun Asean, pengalaman mengajarkan kami untuk tak cepat berharap. Tidak melulu di level kompetisi muda. Tentu kita ingat betapa tingginya harkat Indonesia saat Tim Senior menang 2-1 atas negara Timur Tengah lain—Bahrain—di laga pembuka penyisihan grup Piala Asia 2007.

Aku masih ingat, indah betul gol Budi Sudarsono dan Bambang Pamungkas di laga itu. Terlalu indah hingga pahit kekalahan dari Arab Saudi dan Korsel pada laga berikutnya seolah lebih membekas dari putus cinta pertama remaja mana pun di dunia. Putus cinta karena mendapati harapan Indonesia meraih pencapaian tinggi di level Asia hanya seumur 12 SKS kuliah.

Tak usah jauh-jauh lawan negara Timur Tengah. Mari kita tengok luka yang sama tiga tahun kemudian. Semua jelas lebih ingat zaman keemasan Alfred Riedl di Piala AFF 2010. Saat itu kita bak anak panah yang tak mungkin bisa dikejar lagi. Dengan wacana ‘naturalisasi’ yang menghadirkan nama-nama macam Kim Kurniawan, Irfan Bachdim, hingga Christian Gonzales, Garuda Kelewat superior. Terlalu tangguh untuk bersua Malaysia di final.

Sebuah optimisme sempat lahir, saat mendapati riwayat yang membuktikan Indonesia bisa melumat Harimau Malaya 5-1 dalam laga penyisihan beberapa hari sebelumnya. Tapi apa daya, takdir terlanjur dipesan jauh-jauh hari. Garuda tetap kalah agregat di partai puncak, lewat serangkaian polemik yang melibatkan laser serta aneka hal konyol lain.

Level U-19 sempat membuatku sedikit menaruh harap lebih besar. Kemunculan Evan Dimas dan kawan-kawan sebagai juara AFF U-19 tahun 2013 lalu jelas suatu fenomena. Namun, toh semua kembali kacau. Anak-anak itu lekas kehilangan keajaiban saat sudah memasuki jenjang U-23. Negara kita beberapa kali bicara banyak di SEA Games dengan komposisi jebolan era Evan Dimas, tapi toh tak sekali pun mampu menggondol predikat juara .

Perkembangan Timnas U-19 pun belum menunjukkan hal berarti, saat nama-nama anyar dan harapan baru kembali menumbuhkan rasa kecewa. Lihat saja, berapa kali kita lolos ke semifinal atau final kompetisi Asean dan akhirnya takluk? Jelas kita masih ingat kekalahan di semifinal AFF U-19 tahun 2017 dan 2018—dua tahun beruntun—dari dua negara berbeda: Thailand dan Malaysia.

Tapi toh kekecewaan demi kekecewaan yang sudah menahun itu tak menghentikan kita untuk berharap. Bahkan hingga detik ini.

Kemenangan atas Iran di Piala AFC U-16, Jumat (21/9/2018) kemarin sesungguhnya hanya sulutan api pada sumbu yang sebelumnya sudah kelewat terbasahi minyak tanah. Minyak tanah itu bernama gelar juara Piala AFF U-16 2018.

Sudah bukan rahasia kalau skuat yang terjun di Piala AFC U-16 kali ini adalah jebolan para pemain yang menjuarai Piala AFF U-16 bulan Juli lalu. Tak perlu jadi penggemar sepak bola garis keras untuk mengetahuinya. Para cebong dan kampret barangkali bisa tahu hanya dengan membaca unggahan ucapan selamat dari yang mulia Jokowi di akun twitternya beberapa waktu lalu.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: salahkah untuk kembali berharap?

Seorang teman sempat mengingatkanku lewat pesan singat, beberapa jam usai kemenangan Timnas U-16 Indonesia atas Iran. “Harapanmu buat timnas itu bagaikan pohon yang sudah kelewat tua, hanya akan mengundang hantu dan menakuti dirimu sendiri,” begitu tulisannya di pesan tersebut.

Sebenarnya, tanpa peringatan itu pun aku sudah paham. Perasaan sakit hati yang kerap muncul saat Tim Nasional kita kalah, adalah buah dari pohon harapan yang telah ditanam bersama. Namun, toh itu tak menghentikanku—dan kita semua—untuk tetam menanam.

Adalah hal yang sulit untuk menafikkan jika kemenangan atas Iran menimbulkan harapan baru. Apalagi, baru beberapa pekan lalu Timnas U-23 kita gagal total di gelaran Asian Games 2018. Dan tentu kalian masih ingat kalau di kompetisi itu, dua kekalahan yang kita dapat berasal dari negara Timur Tengah: Palestina dan Uni Emirat Arab.

Tak mungkin untuk tidak bangga, saat beberapa bulan sesudahnya, negara kita—di level kompetisi dan dengan skuat yang lebih muda—mampu menaklukkan negara Timur Tengah lain. Semacam muncul kelegaan. Seperti jatuh cinta kedua setelah putus dan patah hati yang berulang.

Wacana baru pun segera muncul. Publik berharap tinggi dengan satu premis baru: lolos ke Piala Dunia. Wajar saja harapan ini muncul. Aturan FIFA secara tegas mengatakan bahwa empat tim yang lolos ke semifinal Piala AFC U-16 tahun ini dipastikan mendapat tempat untuk tampil dalam Piala Dunia U-17 2019 yang akan dihelat di Peru.

Pelatih Timnas U-16, Fakhri Husaini langsung angkat bicara. Tak seperti pelatih Tim Nasional Indonesia lain yang kerap menghindar saat ditanyai target, Fakhri secara tegas menyebutkan bahwa lolos ke Piala Dunia 2019 memang target skuatnya. “Target kami adalah bisa bermain di Piala Dunia, jadi saya minta pemain fokus agar dapat meraih target itu,” katanya seperti dikutip laman resmi PSSI.

Sebagian mungkin menganggap kata-kata Fakhri terlalu arogan. Namun, bagiku itu bukan kalimat bernada sesumbar. Dalam sebuah episode Captain Tsubasa, sambil kelonan dengan bola lusuhnya, Tsubasa Ozora pernah berkata: tanpa mimpi dan semangat, seseorang tak akan bisa meraih pencapaian apapun.

Maka seperti itulah segalanya bekerja. Dengan semangat saja kita belum tentu juara, apalagi kalau tanpa semangat?

Kembali ke kasus rekan yang mengingatkanku setelah kemenangan atas Iran tadi, aku lekas membalas pesan singkatnya. Dalam pesan itu, aku berkata begini: “Kita tak akan bisa memanen buah, tanpa menanam pohon terlebih dahulu.”

Herdanang Ahmad Fauzan
Bekas mahasiswa yang menolak nganggur.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Daud Sang Raja Kontroversial

Daud Bin Isai Raja kedua sekaligus paling terkenal dari Kerajaan Israel merupakan kombinasi yang unik antara hero dan anti hero. Dia dipuja sepanjang zaman...

OSINT, Jurnalisme Investigatif, dan Demokrasi

Pada Oktober 2020 lalu, NarasiTV mengunggah video berdurasi kurang lebih 10 menit yang menggemparkan media sosial. Video itu mencoba menguraikan kejadian pembakaran Halte Sarinah...

Tegakkan P3SPS Secara Keseluruhan

Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang terkenal dengan fungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak dan suara, dalam bentuk monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi"...

Perjuangan Dibalik Sosok dalam Uang Pecahan Rp.10.000

Dalam kehidupan sehari-hari, kita selalu menggunakan uang sebagai alat transaksi ketika belanja dan membeli barang di pasar.  Memang bukanlah suatu hal yang baru lagi...

Merambah Jalan Demokrasi

Iklim budaya di Indonesia menjadi cuaca yang sangat ekstream, kita tidak pernah menyangkal bahwa kita sedang mengalami kebinggungan besar bagaimana memutar kipas demokrasi ini....

ARTIKEL TERPOPULER

Inilah Pelanggaran EPI yang Banyak Kita Jumpai di Jalan

Iklan saat ini merupakan satu hal yang tidak bisa kita hindari dalam kedihupan sehari-hari. Periklanan sendiri sudah merupakan kegiatan pokok setiap orang yang ingin...

Tegakkan P3SPS Secara Keseluruhan

Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang terkenal dengan fungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak dan suara, dalam bentuk monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi"...

Doa dan Puisi untuk Palestina

Kamis malam ini (24-8-2017) akan digelar acara “Doa untuk Palestina”. Diprakarsai oleh Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus, acara yang akan berlangsung di Grahana...

Enzo Allie dalam Polemik Denny Siregar dan Birgaldo Sinaga

Baru-baru ini media sosial kita diramaikan dengan kehadiran sosok pemuda blasteran Indonesia-Perancis yang mendaftar sebagai taruna akademi militer (Akmil). Pada awalnya, pemuda bernama Enzo Allie...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.