Jumat, April 23, 2021

Pilpres 2019 Demokrasi Zonder Literasi

Hari-hari Propaganda dan Pesta Pora

Dari dulu hingga kini dan nanti, dunia adalah panggung sandiwara, tempat manusia berekspresi dan mengekspresikan diri. Lebih-lebih di era keterbukaan media, saat mana ruang-ruang...

Omong Kosong Presidential Threshold

Pembahasan RUU Pemilu kembali dibuka tanggal 10 Juli 2017 dan diusahakan selesai 20 Juli 2017. Begitulah berita terkait RUU Pemilu yang saya dapatkan. Sebenarnya...

Diaspora dan Keragaman, Dua Hal Pelestari Bahasa Jawa

Bahasa Indonesia lahir pada 28 Oktober 1928 melalui kongres Sumpah Pemuda. Butir ketiga Sumpah Pemuda merupakan pernyataan tekad bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan...

Saatnya Reformasi BPJS Kesehatan

Dunia kesehatan Indonesia akhir-akhir ini dikejutkan dengan tiga aturan baru Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS Kesehatan), yang termaktub dalam Peraturan Direktur (Perdir) Jaminan...
Abel Tasman Jawaher
Pemerhati branding politik

Ibarat menyaksikan pementasan drama, jalan cerita menuju Pilpres 2019 terasa makin hambar, membosankan, bahkan menjengkelkan. Narasi yang disuguhkan ke hadapan rakyat sebagai pemilih, masih berputar putar pada logika dan semantika dangkal, janggal dan parsial.

Belum menukik pada isu krusial dengan narasi besar berbasis ilmu pengetahuan dan keadaban. Kedua pasang kandidat masih berkutat pada tema-tema emosional dan sentimental untuk menyedot perhatian rakyat dengan sebaran opini yang jauh sekali dari etos pendidikan politik yang ditopang dengan struktur etik dan spirit estetik.

Dengan kata lain, pertunjukan pilpres kali ini larut dalam demokrasi teramat super liberal dan liar  tanpa arah dan tujuan. Sehingga, pilpres kali ini hanyalah sebuah pertunjukan demokrasi, zonder atau tanpa pijakan literasi.

Sejak awal kedua pasangan ini mendeklarasikan diri untuk maju dalam kontestasi, baik petahana maupun penantang, genderang opini mulai ditabuh dengan diksi-diksi negatif destruktif. Diawali dengan imajinasi fiksi negara ini akan bubar, tempe setipis kartu ATM, interpretasi tampang dan profesi yang terkesan merendahkan sampai pada negara akan punah. Itulah sebagian diksi atau pilihan semantik dari penantang.

Petahana dan pendukungnya pun tak kalah sengit sehingga terlontarlah; genderuwo, sontoloyo dan pilihan diksi lain yang juga setara ketidakmenarikannya. Diteruskan dengan pembelaan dan apologi dari pendukung kedua pasangan yang terang benderang tanpa berpijak pada nalar sehat dan kewarasan.

Prosesi menuju pencoblosan kurang sembilan puluh hari lagi. Seyogyanya, kedua pasang kandidat berpikir ulang, apakah pertunjukan demokrasi yang tak laik dan tak apik ini akan tetap diteruskan?

Atau akan berubah menjadi orkestrasi demokrasi nan cantik? Jika demikian, sebagai rakyat tentulah kita boleh bergembira, politik tidaklah kumuh dan saling bunuh. Melainkan ekspresi puncak ilmu pengetahuan dan capaian tertinggi seni.Jika harapan baik ini yang dipilih kedua pasangan, skenario dan strategi yang didisain menuju kemenangan, haruslah berangkat dari pijakan literasi, daya cipta dan kreativitas seni.

Segala aspek terkait upaya meraih kuasa, bersandar pada ilmu pengetahuan, sains dan olah rasa estetika. Bukan sekadar opini asalan dengan kebebalan bernalar.Mulai dari visi-misi, tentu haruslah berbasis data kongkret yang bisa dipertanggungjawabkan. Didukung kerangka teoritik-paradigmatik yang saintifik.

Diteruskan pada segala bentuk turunannya berupa program program yang bisa diwujudkan dan masuk akal. Sampai pada bentuk artikulasi, ekspresi, sosialisasi yang mampu menyentuh kedalaman akal budi, dengan daya cipta dan kreativitas seni.Kedua pasangan boleh saja menganggap pertarungan pilpres ini seumpama perang.

Namun perangnya adalah perang otak, intelektual, konseptual, tarung kesabaran, tata kelola emosi dan kesiapan penuh stamina rohani. Bagaikan pertunjukan orkestra, tim pemenangan kedua pasangan mestinya dipimpin seorang konduktor mumpuni, yang amat piawai memandu berbagai lagu dan penuh akurasi memimpin beragam komposisi.

Tak ada salahnya jika petahana menduplikasi Barack Obama melawan Mitt Romney dalam palagannya yang kedua. Penantang silakan saja meniru Trump dalam melawan Hillary. Namun jangan keliru duplikasi. Berupayalah seperti pertunjukan orkestra ala Indonesia yang dimainkan dalam nada indah berirama.

Dan tentu saja berpegang teguh pada sistem nilai dan keadaban bangsa kita.Memang sudah seharusnya, dimulai dari sekarang, demokrasi terutama dalam hal pilpres, berangkat dari epistemologi hingga implementasi nan cantik dan menarik. Jika tidak juga, negeri ini akan terus terperangkap dalam labirin kejumudan dan rakyat sendiri akan terus berkonflik, karena para elite yang berada di puncak terus mempertontonkannya.

Jika tidak ada kesadaran untuk perbaikan, demokrasi di negeri ini akan mengalami bahaya; munculnya antipati, kemuakan dan frustasi terhadap demokrasi. Hingga benarlah apa yang dikatakan Jean Paul Sartre; demokrasi mati dibunuh oleh pengusungnya sendiri. Akankah kita bersetuju negeri ini menuju kematian demokrasi? Atau kita akan berbahagia menikmati kontestasi, orkestrasi demokrasi berbasis literasi. Carpidiem!

Abel Tasman Jawaher
Pemerhati branding politik
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Melacak Kesalehan Kultural dan Ikhtiar Keberagaman

“Agama tetap bersifat kemanusiaan, karena bertujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan. Tetapi ia bukanlah kemanusiaan yang berdiri sendiri, melainkan kemanusiaan yang memancar dari Ketuhanan” -Nurcholis Madjid,...

Mencari Teman Masa Pandemi? Why Not, Berikut Tipsnya

Sudah Satu Tahun Pandemi Covid-19 Melanda Indonesia. sekolah-sekolah, kampus, tempat yang bahkan kantor sekalipun harus berkegiatan online. Mahasiswa baru, murid baru dan orang-orang yang baru memulai...

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

Mempertanyakan Wacana Koalisi Partai Islam Oleh PKS dan PPP

Menyatakan bahwa Islam hanya berhubungan dengan kehidupan spiritual, tanpa kita sangkut pautkan sama sekali dengan masyarakat dan negara, mungkin sama jauhnya dari kenyataan dengan...

Lobi Lebanon terhadap Rusia Upaya Keluar dari Krisis Ekonomi

Pada 15-16 April 2021, Perdana Menteri (PM) Lebanon Saad Hariri melakukan kunjungan ke Moskow dalam rangka meminta dukungan dan bantuan ekonomi kepada pemerintah Rusia....

ARTIKEL TERPOPULER

Mempertanyakan Wacana Koalisi Partai Islam Oleh PKS dan PPP

Menyatakan bahwa Islam hanya berhubungan dengan kehidupan spiritual, tanpa kita sangkut pautkan sama sekali dengan masyarakat dan negara, mungkin sama jauhnya dari kenyataan dengan...

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

Lobi Lebanon terhadap Rusia Upaya Keluar dari Krisis Ekonomi

Pada 15-16 April 2021, Perdana Menteri (PM) Lebanon Saad Hariri melakukan kunjungan ke Moskow dalam rangka meminta dukungan dan bantuan ekonomi kepada pemerintah Rusia....

Kartini, Tafsir Al-Fatihah, dan Al-Qur’an

Ada banyak hal yang bisa dipelajari dari pemikiran Kartini yang hari lahirnya dirayakan bangsa ini. Ia dijadikan sebagai pahlawan penggerak emansipasi perempuan lewat kekuatan...

Kado Ulang Tahun ke-46, Taman Mini Mau Dibawa Kemana?

20 April 2021 merupakan hari ulang tahun ke-46 Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta. Momentum ulang tahun yang biasanya dirayakan secara meriah dan dikemas...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.