Sabtu, Juni 19, 2021

Pilpres 2019 Demokrasi Zonder Literasi

Efektivitas Bantuan UMKM di Tengah Pandemi

Wabah virus corona (Covid-19) telah memukul sendi–sendi perekonomian indonesia, termasuk di Provinsi Sumatera Utara, data dari Dinas Tenaga Kerja, ada sekitar 56.000 pekerja dari...

Salah Kaprah New Normal

Pembatasan sosial berskala besar (PSBB) sudah dilonggarkan. Artinya Setiap hal-hal yang dilarang sudah kembali diperbolehkan seperti sudah mulai dibukanya tempat ibadah hingga beberapa lokasi...

Rekonsiliasi Nasi Padang Ala Jokowi

Sekali lagi, Jokowi hampir dipastikan akan memimpin Indonesia dalam 5 (lima) tahun ke depan. Setelah pelbagai lembaga survei yang  biasa melakukan quick count (hitung...

Feodalisme Yogyakarta Sebagai Pelindung Bangsa?

Semua orang tidak akan membantah julukan Yogyakarta sebagai kota budaya. Ibarat kata hanya sejengkal melangkah, pasti ada budaya yang berbeda. Provinsi terkecil kedua di...
Abel Tasman Jawaher
Pemerhati branding politik

Ibarat menyaksikan pementasan drama, jalan cerita menuju Pilpres 2019 terasa makin hambar, membosankan, bahkan menjengkelkan. Narasi yang disuguhkan ke hadapan rakyat sebagai pemilih, masih berputar putar pada logika dan semantika dangkal, janggal dan parsial.

Belum menukik pada isu krusial dengan narasi besar berbasis ilmu pengetahuan dan keadaban. Kedua pasang kandidat masih berkutat pada tema-tema emosional dan sentimental untuk menyedot perhatian rakyat dengan sebaran opini yang jauh sekali dari etos pendidikan politik yang ditopang dengan struktur etik dan spirit estetik.

Dengan kata lain, pertunjukan pilpres kali ini larut dalam demokrasi teramat super liberal dan liar  tanpa arah dan tujuan. Sehingga, pilpres kali ini hanyalah sebuah pertunjukan demokrasi, zonder atau tanpa pijakan literasi.

Sejak awal kedua pasangan ini mendeklarasikan diri untuk maju dalam kontestasi, baik petahana maupun penantang, genderang opini mulai ditabuh dengan diksi-diksi negatif destruktif. Diawali dengan imajinasi fiksi negara ini akan bubar, tempe setipis kartu ATM, interpretasi tampang dan profesi yang terkesan merendahkan sampai pada negara akan punah. Itulah sebagian diksi atau pilihan semantik dari penantang.

Petahana dan pendukungnya pun tak kalah sengit sehingga terlontarlah; genderuwo, sontoloyo dan pilihan diksi lain yang juga setara ketidakmenarikannya. Diteruskan dengan pembelaan dan apologi dari pendukung kedua pasangan yang terang benderang tanpa berpijak pada nalar sehat dan kewarasan.

Prosesi menuju pencoblosan kurang sembilan puluh hari lagi. Seyogyanya, kedua pasang kandidat berpikir ulang, apakah pertunjukan demokrasi yang tak laik dan tak apik ini akan tetap diteruskan?

Atau akan berubah menjadi orkestrasi demokrasi nan cantik? Jika demikian, sebagai rakyat tentulah kita boleh bergembira, politik tidaklah kumuh dan saling bunuh. Melainkan ekspresi puncak ilmu pengetahuan dan capaian tertinggi seni.Jika harapan baik ini yang dipilih kedua pasangan, skenario dan strategi yang didisain menuju kemenangan, haruslah berangkat dari pijakan literasi, daya cipta dan kreativitas seni.

Segala aspek terkait upaya meraih kuasa, bersandar pada ilmu pengetahuan, sains dan olah rasa estetika. Bukan sekadar opini asalan dengan kebebalan bernalar.Mulai dari visi-misi, tentu haruslah berbasis data kongkret yang bisa dipertanggungjawabkan. Didukung kerangka teoritik-paradigmatik yang saintifik.

Diteruskan pada segala bentuk turunannya berupa program program yang bisa diwujudkan dan masuk akal. Sampai pada bentuk artikulasi, ekspresi, sosialisasi yang mampu menyentuh kedalaman akal budi, dengan daya cipta dan kreativitas seni.Kedua pasangan boleh saja menganggap pertarungan pilpres ini seumpama perang.

Namun perangnya adalah perang otak, intelektual, konseptual, tarung kesabaran, tata kelola emosi dan kesiapan penuh stamina rohani. Bagaikan pertunjukan orkestra, tim pemenangan kedua pasangan mestinya dipimpin seorang konduktor mumpuni, yang amat piawai memandu berbagai lagu dan penuh akurasi memimpin beragam komposisi.

Tak ada salahnya jika petahana menduplikasi Barack Obama melawan Mitt Romney dalam palagannya yang kedua. Penantang silakan saja meniru Trump dalam melawan Hillary. Namun jangan keliru duplikasi. Berupayalah seperti pertunjukan orkestra ala Indonesia yang dimainkan dalam nada indah berirama.

Dan tentu saja berpegang teguh pada sistem nilai dan keadaban bangsa kita.Memang sudah seharusnya, dimulai dari sekarang, demokrasi terutama dalam hal pilpres, berangkat dari epistemologi hingga implementasi nan cantik dan menarik. Jika tidak juga, negeri ini akan terus terperangkap dalam labirin kejumudan dan rakyat sendiri akan terus berkonflik, karena para elite yang berada di puncak terus mempertontonkannya.

Jika tidak ada kesadaran untuk perbaikan, demokrasi di negeri ini akan mengalami bahaya; munculnya antipati, kemuakan dan frustasi terhadap demokrasi. Hingga benarlah apa yang dikatakan Jean Paul Sartre; demokrasi mati dibunuh oleh pengusungnya sendiri. Akankah kita bersetuju negeri ini menuju kematian demokrasi? Atau kita akan berbahagia menikmati kontestasi, orkestrasi demokrasi berbasis literasi. Carpidiem!

Abel Tasman Jawaher
Pemerhati branding politik
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Manifesto Arsip Bagi Pengelolaan Cagar Budaya

Indonesia merupakan negara yang memiliki beragam peninggalan sejarah, mengingat eksistensi terhadap banyaknya kerajaan-kerajaan yang pernah bertahta di bumi nusantara. Selain menjadi negara yang terkenal...

Setelah Sayyid Syarief Mengenolkan Diri

Syariefhans tampil di mimbar dengan gagah dan perlente. Ia mengenakan kemeja hijau tua, dengan lengan panjang yang dikancing rapi. Ketampanan dan kulit putihnya membuat...

Viral, BTS Meal di Tengah Pandemi

BTS Meal adalah menu yang dihasilkan dari kolaborasi antara McDonal dengan Boyband Grup BTS, Korea Selatan. McDonald didirikan pada tahun 1940 oleh Richard dan...

Meluruskan Kasus Takmir Melarang Salat Bermasker di Masjid

Ramai menjadi perbincangan publik saat video berdurasi 2 menit sekian memperlihatkan “brutal”-nya ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al Amanah, Jalan Kampung, Tanah Apit, RT...

Radikalisme, Anak Muda dan Pendidikan Tinggi: Antisipasi, Respon dan Kebijakan

Ekstrimisme dan radikalisme nampaknya tidak mengenal negara berpenduduk mayoritas Muslim seperti Indonesia atau negara-negara Eropa di mana kaum Muslimin merupakan komunitas minoritas. Ekstrimisme tumbuh...

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.