Senin, Juni 17, 2024

Peternakan, Konsumsi Daging, dan Masalah Perubahan Iklim

Alvin Pratama
Alvin Pratama
Mahasiswa Jurusan Pendidikan Geografi Universitas Negeri Medan

Isu perubahan iklim terus mencuat ke permukaan. Permasalahan ini makin bergerak ke arah yang mengkhawatirkan dan mengancam kehidupan generasi penerus pada masa depan. Perubahan iklim adalah perubahan variabel iklim, khususnya suhu udara dan curah hujan yang terjadi secara berangsur-angsur dalam jangka waktu yang panjang antara 50 sampai 100 tahun. Perubahan ini terjadi karena perubahan dalam keseimbangan atau komposisi kimia gas-gas di atmosfer, yaitu peningkatan gas rumah kaca di atmosfer.

Perubahan iklim bak anomali yang mengubah sistem kehidupan sekarang, seperti berubahnya pola musim panen hingga kerusakan ekosistem. Adanya alterasi ini sulit untuk diikuti sehingga bisa berpengaruh besar terhadap kelanjutan hidup masyarakat.

United States Enviromental Protection Agency, dalam salah satu artikelnya menyebutkan bahwa eskalasi perubahan iklim ditandai dengan beberapa faktor, salah satunya kenaikan suhu rata-rata di permukaan Bumi. Kondisi ini sesuai dengan hasil laporan National Oceanic and Atmospheric Administration yang menunjukkan terjadinya peningkatan suhu Bumi secara drastis. Dari tahun 1981, suhu rata-rata Bumi naik dua kali lebih cepat, yaitu 0,18 °C per dekade.

Perubahan iklim terjadi karena banyak anasir. Namun, aktivitas manusia diklaim sebagai roda penggerak utama makin maraknya perubahan iklim yang terjadi. Penggunaan bahan bakar fosil, polusi, dan pemakaian sampah plastik merupakan segelintir alasan kenaikan perubahan iklim. Laporan United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (UNOCHA) menyebutkan bahwa Indonesia sangat rentan terhadap bencana akibat perubahan iklim.

Selain itu, sektor peternakan hewan juga berperan sebagai kontributor utama melalui produksi gas rumah kaca yang lepas ke atmosfer dan memerangkap panas matahari. Peternakan hewan ruminansia, seperti sapi, domba, hingga kambing melepaskan gas rumah kaca berupa metana. Ini terjadi melalui pemberian pakan, sendawa yang dikeluarkan hewan ternak, serta penggundulan hutan untuk kepentingan peternakan. Sektor peternakan menyumbang 14,5 % emisi karbon dioksida dan metana yang terperangkap di atmosfer Bumi.

Pemanasan global yang terjadi akibat aktivitas peternakan hewan sangat kompleks. Masalah lain juga muncul dari daging yang dikonsumsi oleh banyak orang. Pasalnya, mengonsumsi daging secara rutin bisa melepaskan senyawa metana dalam jumlah yang masif. Daging merupakan salah satu produk konsumsi yang digemari oleh masyarakat. Per tahun 2021 saja, sekitar 132,3 juta ton daging dikonsumsi di seluruh dunia.

Daging berkontribusi terhadap kenaikan rasio perubahan iklim. Rata-rata 9 kilogram daging sapi dikonsumsi setiap hari dapat menghasilkan setara dengan 0,8 ton karbon dioksida. Angka ini cenderung kecil, tetapi berdampak besar sebab tingkat konsumsi daging yang amat tinggi di dunia. Hal yang berbeda terjadi saat mengonsumsi sayuran karena keluaran gas rumah kacanya jauh lebih kecil. Apalagi sayuran memiliki tingkat gizi yang lebih sehat dibandingkan daging.

Konsumsi daging punya efek domino yang beragam, termasuk berdampak  negatif. Hal ini tertuju pada kesehatan, efisiensi produksi yang rendah, kerusakan lingkungan, serta masalah sosial dan etika. Kerusakan lingkungan yang terkait dengan konsumsi daging, seperti penggundulan hutan dan perusakan padang rumput, penipisan air tanah, pembuangan limbah cair, pemanasan global dan kepunahan keanekaragaman hayati.

Mengonsumsi daging sudah selayaknya kebutuhan bagi banyak orang. Akan tetapi, beralih untuk lebih fokus terhadap sayuran sebenarnya juga baik. Pemenuhan daging penting untuk kesehatan, tetapi porsinya dikurangi untuk mengurangi tingkat emisi gas rumah kaca. Selain itu, terlalu sering mengonsumsi daging juga berdampak kepada risiko beberapa penyakit, seperti kolesterol tinggi, eningkatkan tekanan darah, hingga serangan jantung dan stroke.

Rutin mengonsumsi sayur memberikan khasiat yang lebih besar. Sayuran memiliki beragam nutrisi yang bermanfaat bagi tubuh, seperti serat, lemak nabati, kalium, dan antioksidan. Tak hanya itu, konsumsi makanan berbasis sayuran dan mengurangi makan daging bisa menambah harapan hidup serta menghindari risiko penyakit kardiovaskular, seperti serangan jantung dan masalah pembuluh darah.

Meski begitu, masyarakat di Indonesia masih memiliki tingkat konsumsi sayur yang rendah. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) per 2018 menunjukkan bahwa proporsi konsumsi sayur masyarakat Indonesia kurang dari lima porsi per hari. Sekitar 93,5% penduduk Indonesia yang berusia lebih dari 10 tahun sangat kurang mengonsumsi sayur. Angka ini berada di bawah sejumlah negara ASEAN yang berpengaruh terhadap pemenuhan nutrisi tubuh.

Kurangnya tren konsumsi sayur oleh penduduk Indonesia cukup riskan. Apalagi, Indonesia bakal menjalani beberapa momentum penting, seperti bonus demografi hingga perjalanan menuju 100 tahun.

Oleh sebab itu, dibutuhkan persiapan yang matang sehingga momentum yang dijalani dapat menghasilkan keuntungan yang maksimal. Peningkatan konsumsi sayur bisa memberikan banyak manfaat untuk masyarakat. Sayangnya, itu belum menjadi sebuah kebiasaan yang utuh. Masih banyak pihak yang urung dan acuh terhadap situasi tersebut.

Alvin Pratama
Alvin Pratama
Mahasiswa Jurusan Pendidikan Geografi Universitas Negeri Medan
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.