OUR NETWORK
Selasa, Desember 7, 2021

Petani Indonesia Terancam Punah, Generasi Muda Ayo Bertani!

Bahasa Slang dalam Game

Guru Honorer, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

La Ode Saleh Fahrun R
Mahasiswa Program Studi Magister Agribisnis Departemen Program Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Malang

Petani di Indonesia terancam punah dikarenakan banyak dari generasi muda yang enggan menjadi petani.

Keadaan Petani Saat Ini

Berdasarkan Data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah petani di Indonesia terus mengalami penurunan. Lebih memprihatinkan lagi, profesi ini juga kurang diminati oleh kaum generasi muda yang seharusnyanya menjadi penerus berkelanjutan.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada tahun 2020 ada sekitar 33,4 juta petani yang bergerak di semua komoditas sektor pertanian. Angka tersebut jumlahnya lebih kecil jika dibandingkan dengan jumlah petani pada tahun 2019 yang mencapai 34,58 juta orang. Bila dibandingkan dengan data pada tahun 2018 ada sekitar 35,70 juta orang, maka jumlahnya juga sangat menurun.

Dari fakta yang ada, tenaga kerja yang bekerja di sektor pertanian banyak yang telah beralih profesi ke sektor lain. Terlihat dari sektor jasa yang proporsinya pada 1976 sebesar 23,57 persen menjadi sebesar 48,91 persen di tahun 2019.

Di masa sekarang, profesi sebagai petani telah dipandang sebelah mata oleh masyarakat umum terutama oleh kaum muda. Hal tersebut dikarenakan bekerja sebagai petani tidak menjamin masa depan yang sukses sebab dari segi penghasilan tidak menentu dan bahkan sering rugi. Selain itu, proses yang dilakukan selama berusaha tani cukup lama dan dinilai tidak sebanding dengan hasil yang didapatkan karena lebih banyak waktu dan tenaga yang diperlukan.

Jumlah petani setiap tahunnya mengalami penurunan yang sangat drastis. Jika dibiarkan dan hanya dipandang sebagai suatu siklus yang biasa maka tidak akan menutup kemungkinan suatu saat petani atau orang-orang yang bekerja di sektor pertanian sudah tidak ada lagi atau bahkan punah di Indonesia.

Bappenas bahkan memperkirakan pada tahun 2063 tidak ada lagi yang berprofesi sebagai petani. Hal ini seiring dengan menurunnya tenaga kerja di sektor pertanian.

Maka dari itu dalam masalah ini butuh perhatian yang serius dari pemerintah. Hal ini dapat dilakukan dengan menghadirkan petani baru yang berusia muda serta penting dilakukan sebagai bentuk antisipasi untuk eksistensi pertanian di masa depan.

Tantangan Sektor Pertanian di Indonesia

Indonesia sebagai negara agraris yang dimana sektor pertanian menjadi ujung tombak bagi perekonomian dan ketahanan pangan negara. Namun bisa jadi justru sektor pertanian akan menjadi ancaman bagi Indonesia karena di masa depan jika terjadi krisis pertanian yang disebabkan oleh krisis jumlah petani, alih fungsi lahan pertanian dan urbanisasi yang tinggi.

Sektor pertanian di Indonesia akan menghadapi tantangan besar di masa depan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam kurun waktu hampir 30 tahun terakhir, sokongan sektor pertanian terhadap produk domestik bruto (PDB) terus menurun. Tercatat sejak tahun 1990-2018 kontribusi pertanian terhadap PDB turun drastis dari 22,09% menjadi sekitar 13%.

Serapan tenaga kerja untuk sektor pertanian juga mengalami penurunan yang drastis dari 55,3% menjadi 31% pada periode yang sama. Sektor pertanian pun tumbuh dibawah ekonomi nasional, ketika ekonomi Indonesia mencatatkan pertumbuhan 5% dalam kurun waktu lima tahun terkahir, pertumbuhan sektor pertanian hanya mampu mencapai angka sebesar 3%.

Sektor pertanian terancam terkontraksi karena krisis petani. Indonesia diprediksi akan mengalami krisis jumlah petani dalam kurun waktu 10-15 tahun mendatang. Regenerasi dari petani usia tua ke petani usia muda perlu menjadi perhatian yang serius karena produktivitas tenaga kerja.

Generasi Muda, Ayo Bertani!

Kita sebagai generasi muda, sudah saatnya mulai melirik dunia pertanian. Menjadi petani bukan tentang mencangkul, membajak sawah, dan segala seluk beluk yang biasa dilakukan di sawah atau dikebun. Menjadi petani muda bisa dilakukan dengan cara memanfaatkan perkembangan teknologi dan dunia digital. Misalnya dengan memberdayakan petani melalui aplikasi yang bisa dijadikan sebagai alat kontrol kualitas dan kuantitas produksi, atau ikut turun langsung memberikan pemahaman kepada para petani bagaimana memasarkan hasil panen agar bernilai jual tinggi.

Selain itu, bisa juga mengadvokasi Pemerintah Desa, Pemerintah Daerah dan Pemerintah Pusat agar sebisa mungkin memperhatikan nasib petani. Langkah lain yang bisa dilakukan oleh kaum muda adalah, sebisa mungkin memikirikan bagaimana produktivitas petani bisa meningkat dengan memunculkan berbagai ide dan kreativitas yang dimiliki, sehingga dapat menambah nilai produksi dan menjadikan petani sebagai profesi mulia yang layak untuk digeluti. Dengan begitu, petani yang dulunya dianggap profesi “rendahan”, bisa naik kelas berkat kita yang mau menjadi petani muda yang sukses.

Untuk menarik minat generasi muda agar mau bertani, di antaranya dengan menjadikan pertanian menjadi industri yang menjanjikan seperti sektor lain yang dikelola secara bisnis. Paradigma bertani berkubang lumpur dan pendapatan yang minim dan tidak menarik bagi generasi muda perlahan-lahan akan digeser dengan bertani menggunakan teknologi modern dan manajemen kekinian, sehingga memberikan nilai tambah bagi sektor pertanian. Artinya menjadikan kegiatan bertani itu selain menguntungkan juga menarik untuk dikembangkan.

Perlu Upaya Pemerintah

Selain generasi muda, pemerintah dalam upaya untuk pengembangan dan peningkatan sektor pertanian di Indonesia juga dapat melakukan beberapa hal dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani terhadap penggunaan teknologi modern, diantaranya:

  1. Untuk bidang pengetahuan dan pemerintah perlu mengadakan kegiatan rutin pemberdayaan dengan pelatihan-pelatihan yang memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada para petani
  2. Adanya pembinaan lebih lanjut dalam rangka evaluasi keterampilan petani terhadap teknologi
  3. Pemerintah memberikan akses teknologi kepada petani terkhususnya di desa yang masih mengalami kendala jaringan/ internet
  4. Perlu adanya pengadaan bantuan kepada petani terkait teknologi yang dibutuhkan
  5. Pemberian modal kepada petani pemula yang memiliki latar belakang pendidikan sarjana pertanian dengan mudah guna mengurangi angka pengangguran
  6. Pemfokusan terhadap wilayah yang berpotensi
  7. Adanya evaluasi akhir petani terkait perkembangan teknologi di sektor pertanian

 

La Ode Saleh Fahrun R
Mahasiswa Program Studi Magister Agribisnis Departemen Program Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Malang
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.