Jumat, April 23, 2021

Pesan-Pesan Politik Ahmad Syafii Maarif

Apa Lawan Media Sosial?

Pada tanggal 21 Mei 2019 jelang pukul 23.00 WIB ketika saya hendak mengucapkan “selamat malam” dan “semoga mimpi indah” kepada kekasih di kota lain....

Metafisika Muhammad Iqbal

Dalam bukunya Prolegomena, Kant mengajukan pertanyaan: Apakah metafisika itu mungkin? Jawaban Kant atas pertanyaan ini negatif tidak mungkin. Alasan-alasannya didasarkan pada ciri yang agak...

Tongkat Otoritas : Bukti Kesesatan Kelompok Bahtera

Ini foto tongkat otoritas yg sangat banyak digunakan di kelompok saya yg lalu.Fungsinya sebagai senjata profetik yaitu sebagai lambang pemegang kuasa otoritas yg dari...

Membasmi Plastik untuk Indonesia Lebih Baik

Indonesia adalah Negara dengan kekayaan sumber daya alam yang berlimpah. Indonesia memiliki 18.000 lebih pulau (sekitar 6000 tidak berpenghuni) yang menyebar sekitar khatulistiwa. Daerah perairan...
Ahmad Sholikin
Alumni Sekolah Kebudayaan dan Kemanusiaan Ahmad Syafii Maarif III (SKK - ASM III) dan Penulis di ahmadsholikin.web.ugm.ac.id

Dunia politik Indonesia dalam 10 tahun terakhir dihantui oleh gelombang populisme agama dan politik identitas. Populisme agama ditandai oleh adanya gerakan Aksi Bela Islam mulai jilid satu hingga tiga yang menuntut pemenjaraan Ahok karena tuduhan penistaan Agama, bahkah hingga saat ini tiap tahunnya selalu di peringati dengan reuni 212. Hal ini berlanjut pada Pilpres 2019 lalu yang memunculkan dua kandidat presiden Joko Widodo dan Prabowo Subianto. Keduanya mencoba menggunakan identitas politik keagamaan untuk menarik para pemilihnya.

Menjelang Pilkada serentak 2020 politik identitas dan populisme agama akan selalu menjadi primadona kampanye bagi para calon kepala daerah yang berkontestasi. Pilkada 2017 dan Pilpres 2019, telah memberikan gambaran yang jelas terkait bagaimana tafsir agama bisa menjadi alat untuk menyerang kubu lawan yang bersebrangan dalam kontestasi politik elektoral.

Ujaran kebencian, politisasi agama dan paham radikal menjadi sebuah alat yang sangat efektif untuk disebarkan pada umat Islam yang berjumlah mayoritas ini. Cara beragama Islam yang seharusnya menjadi sumber welas asih dan kebahagiaan bagi sesama, justru menjadi alat untuk menjustifikasi caci maki dan kebencian sesama umat manusia.

Hal ini tentu saja tidak boleh dibiarkan begitu saja berlalu dalam dunia politik kita, agenda populisme agama dan politik identitas akan berdampak negatif pada kebhinekaan dan pluralitas bangsa Indonesia.

Populisme agama dan politik identitas yang terjadi di Indonesia cenderung berpikir eksklusif dan anti pada keberagaman. Hal ini jelas akan mengancam agenda-agenda demokratisasi  yang sedang berjalan di Indonesia. Agenda-agenda demokrasi yang sedang berjalan seperti pemberantasan korupsi, penegakan HAM, transparansi dan akuntabilitas, reformasi birokrasi dan peningkatan kesejahteraan, hanya akan bisa berlangsung ketika kondisi politik indonesia bersifat inkusif dan non-deskriminatif.

Fenomena politisasi agama dan ujaran kebencian seperti yang mucul dalam Pilkada Jakarta 2017 dan Pilpres 2019 harus mendapatkan perhatian yang serius agar tidak terulang dalam Pilkada Serentak 2020 nanti. Harus ada tindakan pencegahan dari pemerintah dan berbagai elemen masyarakat Indonesia agar kasus-kasus politisasi agama dan meningkatnya ujaran kebencian tidak terjadi menjelang Pilkada Serentak 2020. Deteksi dini perlu dilakukan dengan berbagai cara, yang salah satunya adalah dengan tidak memproduksi perundang-undangan yang diskriminatif.

Gagasan Politik Ahmad Syafii Maarif

Dalam Buku “Politik Identitas dan Masa Depan Pluralisme Kita” Ahmad Syafii Maarif menulis bahwa bangsa dan negara kepulauan yang terbesar dan terluas hanya terdapat satu di dunia, yaitu Indonesia, sebuah bangsa muda yang belum berusia 100 tahun.

Jumlah pulaunya lebih dari 17.000, bahasa lokal dan etnisitas ratusan, agama pun bervariasi: Islam, Kristen/Katolik, Hindu, Budha, Konghucu, dan masih ada kepercayaan-kepercayaan lokal yang tidak dimasukkan dalam daftar resmi pemerintah. Islam yang dipeluk oleh mayoritas penduduk, dalam sistem iman secara relatif bersifat tunggal, tetapi sebagai ekspresi kultural-intelektual, paham agama, dan lebih-lebih politik, ternyata Islam itu sangat majemuk.

Fenomena serupa juga berlaku pada agama-agama lain. Di lingkungan agama Katolik yang secara teologis terlihat lebih kompak, dalam ekspresi politik umat Katolik Indonesia juga tidak tunggal, tetapi plural, apalagi umat Protestan yang terdiri dari aneka sekte. Penganut Budha pun terbentuk dalam tiga sekte, begitu juga Hindu. Inilah fakta sosiologis yang terbentang di depan kita semua. Tetapi setelah bangsa ini merdeka sejak tahun 1945, semua etnisitas dan penganut agama itu masih setia kepada Indonesia sebagai bangsanya.

Dalam pandangan Ahmad Syafii Maarif Islam, keindonesiaan dan kemanusiaan harus mendapatkan tempat dalam satu nafas. Sedangkan gambaran politik Indonesia saat ini menjadikan Islam sebagai doktrin pembenar atas perilaku elite politik yang tunamoral. Kondisi ini semakin diperparah dengan berbagai macam dalil agama guna menjadi pembenaran perilaku yang tunasusila.

Perpolitikan Indonesia dalam kaitannya dengan agama (khususnya Islam), memiliki potret yang buram. Akan sulit sekali membedakan antara perilaku orang yang mengaku percaya kepada wahyu dan mereka yang tidak hirau dengan agama, sekalipun slogan syari’ah diteriakkan dimana-mana.

Ahmad Syafii Maarif dalam pesan politiknya mengutip pendapat Bung Karno, setidak-tidaknya dalam teori menekankan prinsip ketuhanan yang berkeadaban atau ketuhanan yang berkebudayaan dalam arti orang beragama dengan berbudi pekerti yang luhur dan dengan sikap saling menghormati satu dengan yang lainnya (Soekarno 2004 : 27-28). Beragama dengan cara yang beradab sama halnya dengan berpolitik secara jujur, tulus dan lapang dada.

Dengan memiliki sikap yang lapang dada maka prinsip-prinsip pluralisme menjadi hal yang sangat penting dalam kehidupan berpolitik. Dengan kondisi ini maka klaim sebagai yang paling benar tidak akan terjadi dalam politik kebangsaan di Indonesia. Maka dari itu ujung dari segala kepentingan elite politik di Indonesia harus bermuara pada Sila ke-2 Pancasila “Kemanusiaan yang adil dan beradab”.

Mengutip kalimat Mahatma Gandhi “My nationalism is humanity” maka keindonesiaan dalam arti kebangsaan Indonesia tidak boleh beralih menjadi kebangsaan yang imperialism, lebih-lebih pada rakyatnya sendiri.

Catatan Akhir

Ahmad Syafii Maarif selalu optimis dalam memandang politik Indonesia di masa depan, selama cita-cita para pendiri bangsa tentang persatuan dan integrasi nasional, semangat Sumpah Pemuda yang telah melebur sentimen kesukuan, dan Pancasila sebagai dasar filosofi negara tidak dibiarkan tergantung di awang-awang, tetapi dihayati dan dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dan penuh tanggung jawab.

Kesungguhan dan tanggung jawab inilah yang sering benar dipermainkan oleh orang yang larut dalam pragmatism politik yang tuna-moral dan tuna-visi. Sikap semacam inilah yang menjadi musuh terbesar bagi Indonesia, dulu, sekarang, dan di masa datang.

Kesalahan kita sebagai bangsa, terutama kaum elitnya, adalah kelalaian kolektif dalam memperkuat dan mempercepat proses pembentukan bangsa dan karakternya yang masih labil ini. Sebagian kita dihibur oleh mitos di atas bahwa pilar-pilar kebangsaan kita telah kukuh karena punya akar sejarah yang jauh di masa silam. Maka untuk ke depan saya setuju dengan pendapat sementara orang bahwa Indonesia memerlukan desain ulang berdasarkan fakta sejarah yang kuat, bukan atas mitologi yang menyesatkan.

Ahmad Sholikin
Alumni Sekolah Kebudayaan dan Kemanusiaan Ahmad Syafii Maarif III (SKK - ASM III) dan Penulis di ahmadsholikin.web.ugm.ac.id
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Toleransi, Kita Perlu Belajar dari Negeri Tolland

Sebelum mulai mendaratkan jemari diatas keyboard laptop, sejenak terlintas dalam pikiran saya sebuah kutipan yang menarik dari buku yang berjudul “Berjamaah (lagi) walau tak...

Terorisme Lahir dari Watak yang Retak

Salah satu musuh terbesar kemanusiaan adalah terorisme. Ia lahir dari watak retak manusia yang dikendalikan hasrat untuk membunuh. Dalam aksinya yang agresif, teroris tak...

Melacak Kesalehan Kultural dan Ikhtiar Keberagaman

“Agama tetap bersifat kemanusiaan, karena bertujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan. Tetapi ia bukanlah kemanusiaan yang berdiri sendiri, melainkan kemanusiaan yang memancar dari Ketuhanan” -Nurcholis Madjid,...

Mencari Teman Masa Pandemi? Why Not, Berikut Tipsnya

Sudah Satu Tahun Pandemi Covid-19 Melanda Indonesia. sekolah-sekolah, kampus, tempat yang bahkan kantor sekalipun harus berkegiatan online. Mahasiswa baru, murid baru dan orang-orang yang baru memulai...

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

ARTIKEL TERPOPULER

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

Melacak Kesalehan Kultural dan Ikhtiar Keberagaman

“Agama tetap bersifat kemanusiaan, karena bertujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan. Tetapi ia bukanlah kemanusiaan yang berdiri sendiri, melainkan kemanusiaan yang memancar dari Ketuhanan” -Nurcholis Madjid,...

Mempertanyakan Wacana Koalisi Partai Islam Oleh PKS dan PPP

Menyatakan bahwa Islam hanya berhubungan dengan kehidupan spiritual, tanpa kita sangkut pautkan sama sekali dengan masyarakat dan negara, mungkin sama jauhnya dari kenyataan dengan...

Puasa Menurut Filsuf Muslim

Selama ini ada anggapan umum yang diterima luas, bahwa nasib filsafat Islam telah berakhir di tangan Ibn Rusyd. Filsuf Andalusia yang mencoba melakukan counter...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.