Sabtu, April 24, 2021

Perpanjangan Waktu Orde Baru

Politik Identitas di Indonesia Kini

Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri, oleh karena itu pasti terjadi interaksi di antara sesama. Setiap individu pasti menginginkan kesejahteraan, yang...

Fiksi, Jalan Lain Kebenaran

Entah mengapa, kita begitu rindu akan kepastian yang umumnya orang menyebut sebagai kebenaran. Hasrat akan kepastian sudah sebegitu penting melebihi kehidupan kita yang serba...

Kontroversi Valentine dan Cinta yang Frustasi

14 Februari telah tiba. Dan kita disuguhkan kembali tentang kontroversi tentang hari Valentine. Kontroversi yang telah lama menghiasi dinding media sosial, dan diskusi sosial...

Zina, Urusan Rumit yang Nikmat?

Ini dia pasal yang ditunggu-tunggu: perzinaan! Pasal yang nikmat untuk dibahas, tapi bikin perih negeri ini. Kepedihan juga dirasakan oleh segenap pemuka agama dan...
Made Bryan Pasek Mahararta
Indonesia Controlling Community

Jika pemilihan presiden (pilpres) 2019 dianalogikan menjadi pertandingan olahraga sepak bola, tampaknya wacana isu debat capres untuk mengangkat tema berkaitan orde baru dapat diumpakan sedang memasuki babak perpanjangan waktu.

Santernya pemberitaan media tentang membuka kembali memori rejim orde baru (orba) menghadirkan pro-kontra para politisi tanah air.

Tentu masih segar dalam ingatan, bahwa lahirnya gerakan reformasi 1998 disebabkan oleh karena akibat ketidakstabilan rejim orba dalam mengawal sistem pemerintahannya.

Lahir ditahun sisa-sisa menjelang berakhirnya orde baru, generasi milenial tampaknya justru tidak menunjukkan ekspresi kepanikan atau kehebohan yang luar biasa seperti para politisi kita yang tumbuh di era 80-90an.

Hal ini bisa kita sebut bahwa Pilpres 2019 merupakan ajang kontestasi last minute bagi generasi akhir orde baru dan awal reformasi.

Dengan dimunculkannya wacana kebangitan orde baru, apakah ini menjadi sebuah kemajuan atau kemunduran iklim demokrasi kita?

Apa yang sebenarnya patut diteladani periode masa orba? Silahkan coba cek beberapa referensi tentang klaim keberhasilan maupun kegagalan rejim orba.

Kita akan menemukan beberapa babak dari sudut pandang ekonomi, politik, hokum, pendidikan, teknologi dan kesehatan.

Kembali pada topik tulisan tentang perpanjangn waktu orde baru. Ada dua hal yang perlu menjadi analisis kritis masyarakat dalam menghadapi pilpres 2019 mendatang.

Pertama, soal kilas balik sepak terjang pemerintahan rejim orde baru bagi kaum reformis. Bangsa kita harusnya jangan terburu amnesia atas kebobrokan rejim di masa lalu. Baru-baru ini dalam peringatan hari HAM internasional diungkit kembali mengenai kasus teror dan penculikan terhadap sipil di masa lalu.

Kedua, soal seberapa gregetnya rejim orde baru bagi kaum milenial. Ketidakstabilan negara dalam mengawal kebijakan moneter, ditambah lambatnya pengembangan teknologi harusnya menjadi renungan bersama bahwa globalisasi menyebabkan politik dunia saat ini telah banyak berubah.

Dengan posisi Jakarta dijadikan sebagai pusat pemerintahan dan perdagangan di era orde baru, maka segala kebijakan pembangunan menjadi terpusat (sentralistik).

Hal ini yang kemudian menjadi faktor penyebab pembangunan di Indonesia selama rejim orba tidak merata, bahkan sangat terkesan lambat untuk ukuran negara kepulauan seperti Indonesia selama puluhan tahun yang lalu.

Dampak lain dari tidak meratanya pembangunan ialah minimnya penyerapan tenaga kerja. Sektor sumber daya manusia yang semestinya merupakan kunci utama sekaligus peranan penting dalam proses pembangunan bangsa, terkesan terabaikan oleh pemerintah orde baru.

Oleh sebab itu, disini dapat kita pisahkan range masa reformasi yang beralih ke era otonomi daerah. Semestinya, pemerintah sekarang kembali fokus pada perkembangan dari beberapa pembangunan diberbagai wilayah (desentralistik).

Memasuki era otonomi daerah, iklim demokrasi yang mulai tumbuh saat ini ialah pentingnya partisipasi masyarakat dan juga transparansi anggaran.

Sehingga, lemahnya penegakan hukum di jaman orde baru yang telah mengakibatkan praktik suap dan korupsi sampai membudaya tidak terulang kembali.

Bukan rahasia lagi, rejim orba lah yang sebenarnya menyuburkan penyelewengan kekusaan negara sehingga menyebabkan lambatnya pembangunan di Indonesia.

Sementara itu, tahun 2020-2030 mendatang, banyak analis kebijakan mengatakan bahwa periode berikut bangsa Indonesia akan mengalami fase bonus demografi. Tantangan tersebut harus dipersiapkan sejak dini.

Dengan perkiraan jumlah penduduk yang hamper mencapai 300 juta penduduk, maka diharapkan terbukanya lapangan pekerjaan baru mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat. Ditambah perkembangan jaman dengan hadirnya ketergantungan terhadap industri teknologi.

Dari sudut pandang politik, sangat jelas apa yang terjadi di masa rejim orde baru, yakni kepemimpinan otoriter yang kuat atau bisa disebut sistem politik patronase.

Tentu kita tidak ingin semua aktivitas politik dan birokrasi pemerintahan diatur sedemikian rupa, hanya untuk kalangan orang-orang dilingkaran penguasa saja yang boleh mengendalikan peran negara.

Selain itu, militeristik di jaman orde baru terasa sangat kental. Kebebasan sipil untuk dapat berkumpul dan mengeluarkan pendapatpun sangat terbatas. Kontrol dari pemerintah begitu kuat. Namun, terbatas hanya kroni-kroninya saja yang diperhatikan.

Tentu saja, Pilpres 2019 kali ini menjadi sangat menarik karena kita akan melihat hasil akhir perpanjangan waktu babak final.

Apakah rejim orde baru akan kembali melanggengkan kekuasaannya? Atau kaum reformis dapat segera memperbaiki keadaan bangsa menjadi lebih baik.

Made Bryan Pasek Mahararta
Indonesia Controlling Community
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Toleransi, Kita Perlu Belajar dari Negeri Tolland

Sebelum mulai mendaratkan jemari diatas keyboard laptop, sejenak terlintas dalam pikiran saya sebuah kutipan yang menarik dari buku yang berjudul “Berjamaah (lagi) walau tak...

Terorisme Lahir dari Watak yang Retak

Salah satu musuh terbesar kemanusiaan adalah terorisme. Ia lahir dari watak retak manusia yang dikendalikan hasrat untuk membunuh. Dalam aksinya yang agresif, teroris tak...

Melacak Kesalehan Kultural dan Ikhtiar Keberagaman

“Agama tetap bersifat kemanusiaan, karena bertujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan. Tetapi ia bukanlah kemanusiaan yang berdiri sendiri, melainkan kemanusiaan yang memancar dari Ketuhanan” -Nurcholis Madjid,...

Mencari Teman Masa Pandemi? Why Not, Berikut Tipsnya

Sudah Satu Tahun Pandemi Covid-19 Melanda Indonesia. sekolah-sekolah, kampus, tempat yang bahkan kantor sekalipun harus berkegiatan online. Mahasiswa baru, murid baru dan orang-orang yang baru memulai...

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

ARTIKEL TERPOPULER

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

Melacak Kesalehan Kultural dan Ikhtiar Keberagaman

“Agama tetap bersifat kemanusiaan, karena bertujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan. Tetapi ia bukanlah kemanusiaan yang berdiri sendiri, melainkan kemanusiaan yang memancar dari Ketuhanan” -Nurcholis Madjid,...

Mempertanyakan Wacana Koalisi Partai Islam Oleh PKS dan PPP

Menyatakan bahwa Islam hanya berhubungan dengan kehidupan spiritual, tanpa kita sangkut pautkan sama sekali dengan masyarakat dan negara, mungkin sama jauhnya dari kenyataan dengan...

Puasa Menurut Filsuf Muslim

Selama ini ada anggapan umum yang diterima luas, bahwa nasib filsafat Islam telah berakhir di tangan Ibn Rusyd. Filsuf Andalusia yang mencoba melakukan counter...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.