OUR NETWORK
Kamis, Agustus 18, 2022

Perlukah Perubahan Orientasi Kurikulum Pendidikan di Indonesia?

Avatar
Kunto Nurcahyoko
Pemerhati Pendidikan dan Pengajar Bahasa Inggris di STKIP Pamane Talino Kalimantan Barat. Aktif sebagai pendiri komunitas #SmallInitiatives yang bergerak dalam literasi anak dan pendidikan di daerah terdepan terluar dan tertinggal (3T)

Pendidikan formal dalam definisi tradisional mengharuskan siswa duduk rapi dalam kelas selama berjam-jam. Di dalam sebuah sekolah, siswa diajarkan untuk memahami materi dan menambah pengetahuan dengan diajar oleh guru melalui serangkaian aturan dan kurikulum yang telah ditetapkan.

Kurikulum tersebut mengatur jenis mata pelajaran, tingkat kemampuan siswa, target materi, sistem evaluasi, proses kegiatan belajar mengajar, media yang dipakai, dan lain-lain. Secara umum, dapat dikatakan bahwa kurikulumlah yang menentukan arah pendidikan sebuah negara.

Menilik sejarah, perkembangan pendidikan Indonesia saat ini sangat dipengaruhi oleh sistem pendidikan zaman kolonial. Pada zaman penjajahan, siswa “disekolahkan” agar menjadi pekerja di perkebunan milik Belanda. Kemampuan utama yang ditekankan oleh kurikulum saat itu tentu saja disesuaikan dengan kebutuhan tenaga kerja zaman kolonial.

Pada saat itu, siswa diajarkan untuk dapat menghitung cepat dan menghafal materi dalam ruang-ruang kelas. Sayangnya, sistem pendidikan seperti ini masih diadopsi sampai sekarang. Sekolah masih menekankan pada proses mekanikal dimana siswa diwajibkan hanya sekedar menghafal dan mengingat materi pelajaran.

Perlu disadari bahwa saat ini, target kurikulum di Indonesia masih menekankan pada kecerdasan akademik. Meskipun pendidikan karakter marak digencarkan melalui diseminasi kurikulum Indonesia, pada praktiknya, banyak guru yang masih kebingungan dalam mengimplimentasikan pendidikan karakter tersebut pada proses pembelajaran. Hal ini dikarenakan siswa dan sekolah masih sangat dituntut untuk mendapatkan nilai tinggi pada saat ujian, baik untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi atau mendapatkan pekerjaan.

Permasalah utama dengan pendekatan kurikulum yang seperti ini adalah siswa seakan diarahkan untuk menjadi mesin pencari nilai karena kemampuan mereka hanya ditentukan dari seberapa tinggi nilai yang mereka peroleh di raport atau ujian. Hal ini timbul sebagai implikasi dari kebijakan sekolah yang mendiskreditkan aspek kecerdasan dan kegiatan siswa yang lain seperti seni, olahraga dan lainnya. Siswa seakan menjadi robot penghafal dan pengingat materi yang akan keluar dalam ujian.

Dengan melihat dinamika global dan perkembangan teknologi, siswa seharusnya mendapatkan bekal ilmu yang benar-benar mereka butuhkan saat mereka tidak lagi bersekolah. Siswa harus diajari bagaimana menjadi bagian dari komunitas global yang nantinya akan berkontribusi secara positif kepada masyarakat.

Sekarang, generasi muda dunia telah memiliki akses yang tidak terbatas pada informasi. Sehingga, keberadaan internet, aplikasi smartphone dan media sosial menjadikan perubahan bisa terjadi sangat dinamis. Setiap individu dituntut agar mampu melakukan inovasi dan perubahan. Oleh sebab itu, bisnis seperti facebook, google, gojek serta inovasi lain merajai pasaran.

Tantangan dan tuntutan sosial zaman masa kini sangat berbeda dengan apa yang dahulu terjadi. Globalisasi yang mengaburkan batas-batas geografis dan sosial sangat rawan memicu konflik ke dalam masyarakat, baik secara vertikal maupun horisontal. Generasi muda sangat rentan terhadap goncangan sosial jika tidak memiliki pemahaman akan arti penting toleransi dan rasa menghargai.

Perlu kita sadari bahwa kecerdasan seperti kecerdasan matematis dan pengetahuan alam masih penting, tetapi bukan berarti kecerdasan lain harus dikesampingkan. Justru kecerdasan emosional dan spiritual sangat berpengaruh bagi perkembangan jiwa seorang individu. Berdasarkan hasil dari Future of Job Reports oleh World Economic Forum, di tahun 2020, generasi global dituntut untuk lebih menguasai kecerdasan emosional seperti pemecahan masalah yang kompleks, pemikiran kritis, manajemen diri, kerjasama, kestabilan emosi, negosiasi dan lain-lain.

Oleh karena itu, pengembang kurikulum sekolah di Indonesia harus mengambil nilai-nilai tersebut sebagai pertimbangan dalam menyusun kurikulum nasional. Sekolah dan pemerintah harus menyadari bahwa pengembangan keterampilan sosial dan emosional telah muncul sebagai tujuan bersama dari sistem pendidikan di mana saja. Sehingga, revolusi pendidikan di pendidikan Indonesia sangat dibutuhkan terutama dengan memperhatikan dua aspek:

Pertama, transfer pengetahuan yang menekankan kemampuan learn, unlearn dan relearn. Kemampuan “learn” berarti bahwa sekolah harus mengajarkan siswa untuk memiliki pikiran yang terbuka dalam memperbarui dan beradaptasi dengan dunia yang dinamis ini. Saat ini, semua hal terus berubah dan berkembang. Siswa harus mengetahui tren terbaru dalam ilmu pengetahuan dan cara mengakses informasi yang ada di sekitar mereka.

Unlearn” berarti bahwa siswa harus mampu melepaskan setiap pola pikir/informasi lama yang mungkin sudah tidak relevan dengan perkebangan ilmu pengetahuan. Siswa juga perlu memahami bahwa mengubah paradigma lama mereka dan berani menghadapi perspektif baru sebagai pengganti dari hal-hal yang penting merupakan modal utama dalam menghadapi dinamika global.

Relearn” berarti bahwa siswa harus berpikiran terbuka untuk merangkul segala kemungkinan. Mereka mungkin telah belajar sesuatu sebelumnya dan harus mengubahnya. Oleh karena itu, setelah siswa berubah pikiran tentang sesuatu, penting bagi mereka untuk mempelajari kembali hal baru untuk menggantikan informasi sebelumnya yang tidak relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan.

Kedua, sekolah harus secara konsisten menerapkan pembelajaran berbasis konteks. Pembelajaran berbasis konteks merupakan pembelajaran yang mengintegrasikan materi pembelajaran dengan kehidupan nyata siswa. Dengan pembelajaran ini, siswa akan memiliki pengalaman praktis dalam memahami materi dan bukan hanya sekedar pengetahuan teoritis belaka. Pembelajaran seperti ini mengutamakan pemanfaatan informasi dan materi yang siswa akan hadapi dalam kehidupan nyata. Oleh karena itu, siswa tidak seharusnya selalu dikurung dalam kelas tetapi justru harus mengeksplorasi materi dari perspektif kehidupan nyata.

Siswa harus dibawa ke pasar, terminal, perusahaan, kantor polisi atau daerah di mana mereka diajarkan untuk mengasosiasikan informasi yang mereka pelajari dengan konteks kehidupan nyata. Mereka perlu belajar mengapa belajar kosa kata di sekolah akan membantu mereka untuk bernegosiasi atau mengirim email ke teman-teman mereka di negara lain, atau mengapa kerja sama tim akan membantu mereka untuk sukses dalam karir masa depan mereka. Dengan hanya menggunakan buku dan memisahkan materi belajar dari konteks kehidupan nyata, produktivitas pembelajaran siswa akan sangat lemah.

Dengan menekankan beberapa hal tersebut, diharapkan siswa kami akan mampu menjawab tantangan yang terjadi di dunia luar. Sekolah bertanggung jawab untuk mempersiapkan siswa sebagai warga global yang kontrbutif. Sehingga, kita perlu mengkaji  banyak hal dalam sistem Pendidikan Indonesia, terutama mengenai orientasi kurikulum dan pendekatan pembelajaran dalam menghadapi dinamika dan tantangan global di masa kini dan masa yang akan datang.

Avatar
Kunto Nurcahyoko
Pemerhati Pendidikan dan Pengajar Bahasa Inggris di STKIP Pamane Talino Kalimantan Barat. Aktif sebagai pendiri komunitas #SmallInitiatives yang bergerak dalam literasi anak dan pendidikan di daerah terdepan terluar dan tertinggal (3T)
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.