Sabtu, Maret 28, 2026

Perang Narasi di Era Digital: Propaganda, Hoaks, dan Geopolitik

Devina Khozila Kirana
Devina Khozila Kirana
Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Sriwijaya
- Advertisement -

Maret 2026 menjadi saksi bagaimana konflik geopolitik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel tidak hanya berlangsung di medan fisik, tetapi juga merambah ruang digital Indonesia. Dua hoaks besar—klaim Presiden Prabowo sebagai “Macan Asia” yang ditakuti Donald Trump dan Benjamin Netanyahu, serta kabar kematian Netanyahu akibat serangan Iran—viral di media sosial sebelum akhirnya dibantah oleh kanal cek fakta. Fenomena ini bukan sekadar berita bohong biasa. Ia adalah potret nyata dari wajah propaganda abad ke-21, sebuah perang narasi yang memanfaatkan teknologi untuk membentuk persepsi publik di tengah ketegangan geopolitik yang memanas.

Garth S. Jowett dan Victoria O’Donnell, dalam buku klasik mereka Propaganda and Persuasion (2012), mendefinisikan propaganda sebagai “usaha yang disengaja dan sistematis untuk membentuk persepsi, memanipulasi kognisi, dan mengarahkan perilaku guna mencapai respons yang sesuai dengan keinginan propagandis.” Mereka juga membagi propaganda dalam tiga bentuk: propaganda putih (sumber jelas, informasi akurat), propaganda hitam (sumber palsu, informasi bohong), dan propaganda abu-abu (sumber tak jelas, akurasi tak pasti).

Hoaks “Prabowo Macan Asia” yang diungkap tim Cek Fakta Liputan6.com adalah propaganda abu-abu. Video lama tentang ultimatum Presiden Prabowo kepada mantan bos BUMN dipotong dari konteks aslinya, diedit, dan diberi narasi baru yang mengaitkannya dengan Trump dan Netanyahu. Sumber tidak jelas, tujuannya membangun citra kepemimpinan kuat Indonesia di mata dunia. Ini bentuk modern dari teknik card stacking—menyusun fakta secara selektif dan menyembunyikan konteks asli untuk menciptakan kesan menyesatkan.

Hoaks “Netanyahu tewas” yang dibongkar Tirto.id masuk propaganda hitam. Akun Instagram anonim @iran_core_2026_official menyebarkan foto-foto yang diklaim sebagai Netanyahu tewas dalam serangan Iran. Foto tersebut terbukti hasil rekayasa kecerdasan buatan (AI). Ini adalah disinformasi—kebohongan sistematis yang dirancang untuk melemahkan moral lawan sekaligus membangkitkan euforia di kubu pendukung Iran. Jowett dan O’Donnell menyebut disinformasi sebagai bentuk propaganda hitam paling berbahaya karena menggunakan informasi palsu untuk mencapai tujuan politik.

Dampak dari propaganda ini tidak berhenti di dunia maya. Hoaks “Macan Asia” memicu gelombang komentar nasionalistik di media sosial yang cenderung berlebihan, seolah-olah Indonesia terlibat langsung dalam persaingan kekuatan global. Di sisi lain, hoaks kematian Netanyahu menyulut perdebatan sengit di berbagai grup percakapan, memecah belah warganet menjadi kubu pro-Palestina dan pro-Israel yang sama-sama berdiri di atas informasi palsu. Dalam skala yang lebih luas, banjir disinformasi ini mengaburkan pemahaman publik tentang kompleksitas konflik Timur Tengah. Alih-alih memahami akar persoalan geopolitik, masyarakat terperangkap dalam narasi hitam-putih yang dikonstruksi oleh akun-akun anonim. Hal ini menunjukkan bahwa propaganda digital tidak hanya mengancam objektivitas informasi, tetapi juga merusak kohesi sosial dan kualitas diskursus publik di Indonesia.

Kedua hoaks sama-sama membangun emosi publik. Hoaks Prabowo membangkitkan rasa bangga dan nasionalisme semu. Hoaks Netanyahu membangkitkan ketakutan akan eskalasi konflik, atau sebaliknya euforia kemenangan bagi kelompok anti-Israel. Jowett dan O’Donnell menegaskan bahwa propaganda selalu bekerja dengan membangkitkan emosi untuk memotong proses berpikir rasional audiens.

Di sinilah media sosial dan AI menjadi senjata baru perang psikologis. Algoritma platform digital dirancang memprioritaskan konten yang memicu emosi karena lebih menguntungkan secara interaksi. Akibatnya, hoaks menyebar jauh lebih cepat daripada klarifikasi. Data Tirto.id menunjukkan unggahan hoaks Netanyahu meraih hampir 10 ribu likes dan ribuan komentar dalam hitungan jam, sementara artikel cek fakta hanya menjangkau sebagian kecil audiens yang sama.

AI generatif kian memperparah situasi. Teknologi ini memungkinkan siapa pun menciptakan video deepfake, foto sintetis dari peristiwa yang tak pernah terjadi, serta narasi propaganda dalam jumlah massal. Asumsi lama bahwa “melihat berarti mempercayai” tak lagi berlaku. Dunia memasuki era di mana realitas visual bisa sepenuhnya dipalsukan.

Lalu apa solusinya? Jowett dan O’Donnell menekankan bahwa kunci melawan propaganda adalah memahami cara kerjanya. Mereka bahkan menyediakan sepuluh langkah analisis propaganda yang mencakup identifikasi ideologi, konteks, propagandis, audiens target, teknik media, hingga evaluasi efek.

Langkah-langkah ini persis dilakukan oleh kanal cek fakta. Liputan6.com dan Tirto.id, yang tergabung dalam inisiatif cekfakta.com dan terverifikasi International Fact Checking Network (IFCN), menjadi garda terdepan. Mereka tidak sekadar menyatakan hoaks, tetapi melacak sumber asli, membandingkan dengan informasi resmi, menggunakan alat verifikasi gambar seperti Google Lens, dan menyajikan kesimpulan berbasis bukti.

- Advertisement -

Dalam kasus Prabowo, Liputan6 menunjukkan video asli dari akun Instagram @tvonenews dan menjelaskan konteks sebenarnya pernyataan Presiden. Dalam kasus Netanyahu, Tirto mengonfirmasi tidak ada pernyataan resmi kematian dari pemerintah Israel, menganalisis bahwa foto-foto yang beredar adalah hasil AI, dan mengutip pernyataan resmi Kantor Perdana Menteri Israel.

Inilah kontra-propaganda paling efektif di era digital: transparansi, verifikasi, dan edukasi publik. Tugas kita sebagai warga negara adalah menjadikan kanal cek fakta sebagai rujukan utama sebelum mempercayai—apalagi menyebarkan—suatu informasi.

Jowett dan O’Donnell mengingatkan bahwa propaganda akan terus ada dan berevolusi seiring teknologi. Yang bisa kita lakukan bukan menghilangkannya, tetapi membangun kekebalan kolektif. Kekebalan itu lahir dari pemahaman, sikap kritis, dan kebiasaan verifikasi.

Konflik Iran, AS, dan Israel mungkin berjarak ribuan kilometer dari Indonesia. Namun dampak propagandanya terasa di layar ponsel kita setiap hari. Hoaks “Macan Asia” dan “kematian Netanyahu” membuktikan bahwa kita adalah medan pertempuran sekaligus target tembak dalam perang narasi global. Menjadi warga negara yang cerdas di era digital berarti tidak mudah percaya, rajin memeriksa fakta, dan menjadikan literasi media sebagai gaya hidup. Karena senjata paling ampuh melawan propaganda bukanlah sensor atau regulasi, melainkan pikiran kritis setiap individu yang mampu membedakan mana fakta dan mana fiksi, mana informasi dan mana propaganda.

Daftar Pustaka

Jowett, G. S., & O’Donnell, V. (2012). Propaganda and Persuasion (5th ed.). Thousand Oaks, CA: SAGE Publications.

Liputan6.com. (2026, Maret 6). Cek Fakta: Hoaks Presiden Prabowo Sebut Trump dan Netanyahu Takut Padanya karena Dia Macan Asia. Diakses dari https://www.liputan6.com/cek-fakta/read/6292235/cek-fakta-hoaks-presiden-prabowo-sebut-trump-dan-netanyahu-takut-padanya-karena-dia-macan-asia

Tirto.id. (2026, Maret 7). Keliru, Kabar PM Israel Benjamin Netanyahu Telah Tewas. Diakses dari https://cekfakta.com/focus/32722

Tim CekFakta. (2021). Tentang CekFakta.com. Diakses dari https://cekfakta.com/about

Devina Khozila Kirana
Devina Khozila Kirana
Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Sriwijaya
Facebook Comment
- Advertisement -

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.