Sabtu, April 24, 2021

Pendidikan Profetik: Solusi Pendidikan Abad 21

Siapa Yang Kampungan Di Stasiun MRT?

Jakarta dan sekitarnya tentu boleh berbangga diri. Kebanggaan ini dapat diungkapkan melalui semacam alat yang sebenarnya sudah agak lama di gaungkan, namun baru terealisasi...

Berwisata di Era New Normal

Pada saat ini kasus Covid-19 selalu naik setiap harinya. Ya, semua aktivitas atau kegiatan kita lakukan se-maximal mungkin di rumah saja. Mulai dari Sekolah,...

TBC Mencari Perhatian di Tengah Pandemi

Pada awal Maret, Indonesia melaporkan kasus Coronavirus Disease-2019 yang dikenal sebagai COVID-19, terkonfirmasi muncul setelah kejadian luar biasa di Wuhan, Cina. Penyakit ini disebabkan...

Antara Sipil dan Militer Menjadi Tabu, Apakah Adil?

Di awal kemerdekaan bangsa Indonesia, peran TNI menjadi sentral dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Nomenklatur militer dalam mempertahankan keamanan negara di tetapkan oleh sukarno...
Ode Rizki Prabtama
Ketua Bidang Riset dan Pengembangan Keilmuan IMM Malang Raya, Peneliti di Center of Research in Education for Liberation (CREATION). Alumni Young Leader Peace Camp 2018.

Yang hendak dikaji dalam tulisan ini ialah profetisme sebagai satu paradigma pendidikan di abad 21. Profetisme sebagai satu paradigma layak diamini oleh semua umat beragama (agama samawi). Sebab, bagi umat yang mengaku sebagai pengikut para nabi, mewarisi nilai-nilai kenabian = prophetic dalam setiap kepercayaannya (Baca: profetisme).

Kuntowijoyo, seorang intelektual kebanggaan Indonesia telah lama menarasikan profetik dalam kajian-kajian ilmu sosial. Salah satu bukunya yang cukup populer di kalangan akademisi ialah “Islam Sebagai Ilmu”.

Di buku itu pada halaman 81-108 Kuntowijoyo sedikit banyak mengulas tentang narasi profetik. Sebetulnya, gagasan profetisme ditemukan Kuntowijoyo lewat kajian mendalam mengenai diskursus tentang islam yang dekat dengan transformasi sosial.

Baginya, maksud tuhan mengutus para nabi ke muka bumi ialah dengan visi pembebasan. Pembebasan yang dimaksud adalah yang merepresentasi spirit stransendensi dan tidak berkiblat pada sekularisme seperti pembebasan yang dikampanyekan sejak dulu di dunia Barat.

Profetik menurut Kuntowijoyo berdiri atas tiga pilar besar, yakni humanisasi, liberasi dan transendensi. Tiga pilar ini selain relevan dalam paradigma sosial, menurut hemat saya juga sangat relevan dalam paradigma pendidikan di indonesia. Sebab, dalam rangka menjawab pesoalan pendidikan nasional abad 21, para praktisi dan stakeholder pendidikan perlu berhati-hati di tengah rong-rongan kapitalisme dan neoliberalisme yang terus berubah wujud.

Pendidikan profetik tidak dengan sederhana dipahami sebagai pendidikan yang di dalamnya terkandung nilai-nilai moral agama. Tetapi lebih dari itu, pendidikan yang berangkat dari paradigma hingga praksis gerakan yang menyeru pada pembebasan umat manusia. Artinya, pendidikan pofetik yang dimaksud adalah yang melingkupi secara keseluruhan pendidikan mengenai orientasi dan praktik kebijakan.

Sebab, pendidikan adalah proses trasformasi etis yang membangkitkan akal budi dan tindakan manusia yang humanis. Maksud ini kiranya sejalan dengan tujuan pendidikan nasional, terkandung dalam BAB II Pasal 3 UU SISDIKNAS No.20 tahun 2003.

Bahwa, Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warganegara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Dalam konteks pendidikan profetik, pertama, humanisasi berarti pendidikan semestinya berorientasi pada proses memanusiakan manusia. Menempatkan peserta didik sebagai subjek pendidikan bukan sebagai objek. Artinya, pendidikan tidak mencetak peserta didik sebagai robot pekerja. Di samping itu, pendidikan juga resisten terhadap bentuk bentuk dehumanisasi.

Kedua, liberasi berarti pendidikan adalah proses pembebasan manusia dari cengkraman kebodohan dan dari segala bentuk penindasan. Bahwa, pendidikan semestinya adalah upaya sistematis untuk meretas ketimpangan sosial dan kesenjangan ekonomi di masyarakat. Olehnya itu, peserta didik dilatih berfikir secara kritis supaya sadar akan persoalan di sekitarnya dan kreatif merumuskan jalan keluar.

Ketiga. Transendensi berarti, pendidikan sebagai locus atau sarana yang menjembatani peserta didik dengan tuhannya. Sebab, sisi transendental dalam pendidikan itulah yang menjadi tenaga masyarakat modern untuk “melawan” arus kapitalisme dan neoliberalisme. Nilai transendensi juga berupaya menanamkan moralitas dan budi pekerti kepada peserta didik.

Situasi pendidikan kita hari ini menyimpan banyak persoalan yang perlu diselesaikan. Di balik semangat perubahan abad 21, tersimpan paradigma kapitalistik dan noeliberal yang diderifasi menjadi kebijakan di lingkungan pendidikan.

Sebagai contoh misalnya, kebijakan standarisasi dan poin penilai akreditasi perguruan tinggi yang mengukur seberapa banyak sebaran lulusan sebuah kampus yang bekerja di korporasi-korporasi ternama.

Jelas, bahwa standarisasi semacam ini menghamba pada kekuatan kapitalis. Sehingga peserta didik dilatih di kampus-kampus hanya bagaimana hidup sebagai seorang pekerja yang melayani kepentingan pasar industri di kemudian hari. Bukan menjadi manusia yang kreatif, mandiri dan berahlak mulia.

Di samping itu, lembaga-lembaga pendidikan terjebak pada logika pasar, bahwa semakin mahal tarif pendidikan maka semakin bagus pula kualitas pendidikan tersebut. oleh karenanya banyak lembaga pendidikan berlomba-lomba menaikkan biaya pendidikan.

Padahal, sebetulnya bukan berarti tarif pendidikan murah bahkan gratis identik dengan kualitas pendidikan rendah. Persoalan ini menampakkan pendidikan sebagai momok bagi kaum papa dan tren bagi kaum berada. Akibatnya, ketimpangan semakin nyata.

Di lingkungan yang berbeda, di sekolah dasar dan menengah, masih banyak persoalan yang nyata. Misalnya, baru-baru ini kasus penganiyayaan Audrey di Kalimantan dan Pencabulan oleh guru terhadap siswa di salah satu SD Negeri di Kota Malang. Hal ini menjelaskan, bahwa dinding moralitas dan ketuhanan semakin keropos pada bangunan pendidikan nasional kita, tidak hanya terhadap peseta didik pun juga para guru dan pelaku kebijakan stakeholder.

Tentu, masalah pendidikan di atas tidak terlepas dari persoalan paradigmatik. Artinya kerangka berfikir pendidikan hari ini perlu dievaluasi secara menyeluruh supaya ancaman dehumanisasi dan gejala disrupsi abad 21 tidak lagi merong-rong tubuh pendidikan kita.

Oleh karena itu, Profetisme sebagai paradigma pendidikan dapat menjadi solusi. Sebab, Pendidikan profetik adalah pendidikan yang humanis (memanusiakan), liberatif (membaskan) dan transenden (berketuhanan) serta sejalan dengan amanah pendidikan nasional Indonesia.

Ode Rizki Prabtama
Ketua Bidang Riset dan Pengembangan Keilmuan IMM Malang Raya, Peneliti di Center of Research in Education for Liberation (CREATION). Alumni Young Leader Peace Camp 2018.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Toleransi, Kita Perlu Belajar dari Negeri Tolland

Sebelum mulai mendaratkan jemari diatas keyboard laptop, sejenak terlintas dalam pikiran saya sebuah kutipan yang menarik dari buku yang berjudul “Berjamaah (lagi) walau tak...

Terorisme Lahir dari Watak yang Retak

Salah satu musuh terbesar kemanusiaan adalah terorisme. Ia lahir dari watak retak manusia yang dikendalikan hasrat untuk membunuh. Dalam aksinya yang agresif, teroris tak...

Melacak Kesalehan Kultural dan Ikhtiar Keberagaman

“Agama tetap bersifat kemanusiaan, karena bertujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan. Tetapi ia bukanlah kemanusiaan yang berdiri sendiri, melainkan kemanusiaan yang memancar dari Ketuhanan” -Nurcholis Madjid,...

Mencari Teman Masa Pandemi? Why Not, Berikut Tipsnya

Sudah Satu Tahun Pandemi Covid-19 Melanda Indonesia. sekolah-sekolah, kampus, tempat yang bahkan kantor sekalipun harus berkegiatan online. Mahasiswa baru, murid baru dan orang-orang yang baru memulai...

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

ARTIKEL TERPOPULER

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

Melacak Kesalehan Kultural dan Ikhtiar Keberagaman

“Agama tetap bersifat kemanusiaan, karena bertujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan. Tetapi ia bukanlah kemanusiaan yang berdiri sendiri, melainkan kemanusiaan yang memancar dari Ketuhanan” -Nurcholis Madjid,...

Mempertanyakan Wacana Koalisi Partai Islam Oleh PKS dan PPP

Menyatakan bahwa Islam hanya berhubungan dengan kehidupan spiritual, tanpa kita sangkut pautkan sama sekali dengan masyarakat dan negara, mungkin sama jauhnya dari kenyataan dengan...

Puasa Menurut Filsuf Muslim

Selama ini ada anggapan umum yang diterima luas, bahwa nasib filsafat Islam telah berakhir di tangan Ibn Rusyd. Filsuf Andalusia yang mencoba melakukan counter...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.