Senin, April 15, 2024

Pendidikan Alternatif, Solusi untuk Merdeka Belajar?

Afifah Alfina
Afifah Alfina
Mahasiswi ilmu komunikasi FISIP UNAIR

Tidak dapat dipungkiri, pendidikan merupakan salah satu tonggak utama dalam kebermajuan suatu bangsa. Melalui pendidikan, pola pikir seorang individu terus menerus diasah untuk menghasilkan inovasi bagi kemaslahatan masyarakat. Namun, bagaimana pendidikan yang tepat untuk mencapai tujuan dari pendidikan itu sendiri?

Tujuan pendidikan itu sendiri beragam. Jika mengutip dari salah satu filsuf yang namanya tidak asing lagi untuk didengar, Socrates, bahwa pendidikan yang tepat seharusnya tidak hanya menjejalkan informasi baru kepada seseorang. Melainkan pendidikan harus membuat seorang individu mampu berpikir secara mandiri atau merdeka.

Tujuan pendidikan sebenarnya ini kerap luput dari pendidikan formal. Pendidikan formal kini hanya layaknya template tahunan, guru menjelaskan materi, siswa mendengarkan, siswa diberi setumpuk tugas, PR, dan ujian, lalu deretan angka hasil ujian tersebut akan menjadi tolak ukur keberhasilan siswa dalam melewati rangkaian birokrasi yang disebut pendidikan.

Berangkat dari hal tersebut, revolusi pendidikan gencar dilakukan dengan istilah ‘merdeka belajar’. Menurut Ki Hajar Dewantara (dalam Hendri, 2020), “…kemerdekaan hendaknya dikenakan terhadap caranya anak-anak berpikir, yaitu jangan selalu “dipelopori”, atau disuruh mengakui buah pikiran orang lain, akan tetap biasakanlah anak-anak mencari sendiri segala pengetahaun dengan menggunakan pikirannya sendiri…”.

Dalam merdeka belajar, siswa mencari tahu makna belajar itu sendiri, memiliki inisiatif dalam kegiatan belajar, dan tidak sepenuhnya bergantung pada orang dewasa sebagai inisiator dan pengatur dalam kegiatan pembelajaran, sebab seharusnya siswa adalah pemimpin dirinya sendiri ketika proses belajar berlangsung.

Jika menengok sebentar pada realita yang ada kini, siswa belajar hanya saat di kelas atau saat ada guru semata. Ujian masih menjadi momok terbesar bagi para siswa. Bersikap baik di sekolah, atau kalaupun buruk yang penting tidak mencoreng nama institusi sekolah di mata publik menjadi bare minimum dari akhlak seorang siswa.

Tidak heran jika isu per-joki-an dalam penerimaan mahasiswa di perguruan tinggi masih menjadi hal yang tidak mengejutkan untuk didengar. Tidak heran juga kasus pelecehan seksual, pembunuhan, dan sederet kasus kriminal lain diinisiator justru oleh siswa. Kesimpulan yang dapat diambil adalah mereka mungkin bersekolah, namun belum tentu berpendidikan.

Ada beberapa bentuk pendidikan yang dikenal di masyarakat selain pendidikan formal seperti SD, SMP, dan SMA pada umumnya. Pendidikan itu disebut pendidikan alternatif. Menurut Miarso (dalam Zubaidah, 2019) pendidikan alternatif merupakan bentuk pendidikan yang dilakukan dengan cara berbeda dari pendidikan tradisional.

Lalu menurut Johar (dalam Zubaidah, 2019) pendidikan alternatif adalah pendidikan yang berorientasi kepada proses pendidikan yang mengembangkan kompetensi. Kompetensi yang dimaksud antara lain, metodologi, konseptualisasi, pemahaman konsep, aplikasi, dan nilai (value).

Beberapa bentuk pendidikan alternatif seperti, pondok pesantren, homescholling, sekolah alam, dsb sudah sering didengar, namun mungkin kurang populer di kalangan masyarakat, sehingga belum banyak orang tua yang memilih pendidikan alternatif untuk anak-anaknya. Bahkan stigma miring muncul terhadap pendidikan alternatif karena dinilai tidak memenuhi standar pendidikan “seharusnya” seperti yang dilakukan kebanyakan orang. Lalu mengapa sebenarnya pendidikan alternatif muncul?

Pendidikan alternatif muncul sebagai jawaban atas pendidikan formal yang dinilai terlalu saklek pada siswa, sehingga siswa semakin kehilangan hak-nya untuk meraih tujuan riil dari pendidikan itu sendiri. Lalu untuk merombak pendidikan formal yang telah dilakukan berpuluh-puluh tahun butuh biaya dan usaha besar, sehingga lembaga-lembaga pendidikan alternatif muncul secara independen untuk menerapkan pola pendidikan yang mereka anggap tepat daripada yang disuguhkan pendidikan formal. Selain itu, ada isu-isu tertentu yang membarengi munculnya pendidikan alternatif.

Misalnya di Korea, tingkat stres dan bunuh diri oleh siswa sangat tinggi. Menurut studi tahun 2021 dari Yeungnam University, tingkat bunuh diri di kalangan siswa Korea bahkan telah meningkat sebesar 60% sejak 2018 – salah satu faktor besarnya adalah stres akademik. Di tengah ketatnya kompetisi akademik di Korea, muncul ‘sekolah alternatif’.

Sekolah alternatif ini menjadi jawaban atas tingginya stres siswa Korea yang disebabkan beban akademik, salah satunya oleh ujian masuk perguruan tinggi atau disebut suneung dalam bahasa Korea. Di sekolah alternatif ini, siswa mempersiapkan ujian masuk perguruan tinggi dengan mengutamakan minat dan bakat mereka, bukan hanya mengejar universitas top semata. Mereka tidak harus belajar lebih dari 15 jam (seperti yang biasa dilakukan siswa Korea kebanyakan untuk menyiapkan ujian masuk perguruan tinggi), namun 80% diantaranya ternyata berhasil masuk ke perguruan tinggi yang mereka inginkan (Rastati, 2022).

Pada dasarnya penyelenggara pendidikan secara nasional, dalam hal ini pemerintah, perlu melihat dari berbagai sisi untuk bagaimana mewujudkan merdeka belajar. Program pelatihan tenaga pengajar dan edukasi kepada orang tua harus gencar dilakukan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

Walaupun merdeka belajar menekankan pada kebebasan siswa dalam menentukan pembelajaran yang diinginkan, guru dan orang tua tetap menjadi pihak primer yang menuntun dan mengarahkan siswa saat belajar. Lantas, apakah pendidikan alternatif mampu menjadi solusi bagi terwujudnya merdeka belajar? Bisa ya dan tidak.

Pendidikan bersifat dinamis dan memang seharusnya menyesuaikan dengan kebutuhan zaman. Pengaruh dari kemajuan zaman sendiri berbeda-beda pada setiap siswa yang dipengaruhi oleh tingkat ekonomi, budaya, geografi, dan banyak faktor lainnya. Maka dari itu, dalam menyelenggarakan pendidikan alternatif pun juga perlu memerhatikan faktor-faktor tersebut. Metode pengajaran pada pendidikan alternatif mungkin jauh lebih menarik dan variatif daripada pendidikan formal, namun bisa jadi kurang tepat jika dilakukan pada siswa tertentu.

Referensi:

Hendri, N. (2020). MERDEKA BELAJAR; ANTARA RETORIKA DAN APLIKASI. Jurnal Ilmiah Teknologi Pendidikan, 08(01), 1–8.

Rastati, R. (2022). Dari “Parasite” sampai Anna: memahami obsesi pendidikan dan stres akademik di Korea Selatan lewat film dan drakor. The Conversation. https://theconversation.com/dari-parasite-sampai-anna-memahami-obsesi-pendidikan-dan-stres-akademik-di-korea-selatan-lewat-film-dan-drakor-185715

Zubaidah, S. (2019). Alternative Education: Constextualization in Islamic Education. Jurnal Diklat Keagamaan, 13(1), 253–258.

Afifah Alfina
Afifah Alfina
Mahasiswi ilmu komunikasi FISIP UNAIR
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.