Jumat, Juni 18, 2021

Pemerintahan, Kekuasaan, dan Kekerasan

Ma’ruf Amin dan Poros Baru Umaro Versus Ulama

Jelas, kredibilitas Kyai Ma’ruf Amin tak dapat diabaikan. Beliau adalah sosok yang sudah lama malang melintang di dunia pemerintahan sekaligus ulama profesional yang ahli...

Hari Bhayangkara, Apa Maknanya?

Entah mengapa institusi negara Republik Indonesia yang paling tidak jelas hari kelahirannya justru institusi yang paling menjadi garda depan keamanan nasional sekarang sekaligus sebagai...

Hari Pendidikan Nasional, Apa yang Berubah?

Hari Pendidikan Nasional atau yang disebut HARDIKNAS merupakan suatu bentuk apresiasi untuk pahlawan pendidikan Indonesia yakni Ki Hadjar Dewantara. Beliau dinobatkan menjadi Bapak Pendidikan...

Meninjau Wacana Menghidupkan Kembali Pasal Penghinaan Presiden

Kementerian Hukum dan HAM sampai saat ini terus mensosialisasikan draf Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP). Seperti yang diketahui, pengesahan RKUHP sempat ditunda oleh...
Daniel Jeremia
Sosiologi Pembangunan UNJ'15

Seringkali kita mendengar kata kekerasan dan kekuasaan, yang menjadi asumsi perbuatan buruk dalam hidup manusia. Namun, bukankah kekerasan dan kekuasaan diperlukan untuk mencapai kesetaraan dan kebebasan dari manusia agar tetap hidup? Tocqueville dengan lantang menjelaskan bahwa, manusia tidak pernah lahir dengan kondisi setara dengan manusia lainnya. Menurutnya, konsep kebebasan dan kesetaraan dapat dirusak dengan tindakan suatu pemerintahan. Konteks Kesetaraan sendiri merupakan sebuah solusi alternatif dari bentuk pertahanan diri masyarakat yang tidak dapat mewujudkan emansipatoris.

Tiap-tiap individu di dalam suatu negara mempunyai modal untuk hidup yang terpolarisasi dalam bentuk kekerasan, kekuasaan, kesetaraan, dan kebebasan. Kompleksitas poin tersebut dapat dijelaskan dalam kerangka konseptual Pierre Bordieu. Ada 3 konsep yang dijelaskan Bordieu dalam siklus kehidupan dari  manusia. Habitus, Modal, dan Arena.

Habitus merupakan sebuah fenomena kolektif yang terjadi dalam kehidupan sosial manusia. Terjadinya Habitus ini dibentuk oleh subjek secara tidak sadar. Subjek dapat membentuk penguasaan dalam kehidupannya dengan habitus yang dilakukannya. Alhasil, dari habitus ini seorang subjek mendapat keuntungan dalam bentuk kelas sosial.

Keuntungan ini disebut Modal. Modal tersebut digunakan sebagai alat metafisis seorang subjek, agar dapat mendominasi kelas lainnya. Modal dapat berupa selera, pengetahuan, pengalaman, dan aspek-aspek lainnya. Konstelasi antara Modal dan Habitus dari seorang subjek terealisasi di dalam Arena (Field). Di dalam Arena tersebut terjadilah pertarungan subjek dengan subjek lainnya, dalam kondisi sadar/tidak sadar. Ada beberapa Arena yang dapat kita telaah lebih realistis, seperti arena kesenian, arena politik, dan kebudayaan. Antara subjek dan subjek lainnya saling mendominasi tanpa disadari, melalui kekerasan simbolis.

Negara merupakan wadah nyata dari pertautan kompleksitas konsep-konsep yang dicetuskan Bordieu tadi. Suatu Pemerintahan mempunyai Modal lebih untuk dapat mengatur rakyatnya dengan berbagai kekerasan. Kekerasan tidak serta merta melalui fisik dan verbal. Kekerasan kultural dan Kekerasan struktural merupakan 2 bentuk lain yang dijelaskan oleh Johan Galtung. Para pemerintah dapat menggunakan suatu hukum (modal) untuk merepresi tindakan rakyat-nya. Suatu struktur pemerintahan dapat mengeluarkan regulasi untuk mempertahankan tempo keuntungan dalam bentuk kebudayaan.

Beberapa stasiun pertelevisian Indonesia merupakan bentuk nyata dari kekerasan struktural dan kultural yang telah bertransformasi. Mayoritas kepemilikan stasiun oleh aktor politik, dapat digunakan untuk menyalurkan konten politis kepada para penonton. Pembentukan opini dan unsur ideologis dapat mempengaruhi para penonton. Represi ini berhasil, apabila argumen dalam proses komunikasi langsung para kelas yang di dominasi ini (penonton) sesuai dengan yang diharapkan oleh pemilik stasiun pertelevisian tersebut.

Kekerasan sesungguhnya dapat “dibenarkan” melalui produk-produk kebudayaan yang berfungsi terutama untuk mentransformasi nilai-nilai moral dan ideologis agar masyarakat dapat melihat praktik kekerasan tersebut sebagai kejadian yang normal atau alamiah.[1] Alhasil, konteks kekerasan tersebut menjadi klise dari masyarakat dalam melegitimasi.

Legitimasi dalam Arena tersebut, melahirkan sebuah produk-produk kebudayaan yang sifatnya simbolis. Hegemoni yang diproduksi semakin bertransformasi, sehingga masyarakat pun tidak lagi hidup dengan kondisi kesadaran kognitif dan afektifnya sendiri. Melainkan kesadaran yang diperoleh dari perilaku konsumtif, melalui instrumen-instrumen redistribusi politik sebuah pemerintahan. Publik dapat sadar apabila mereka mempunyai suatu bentuk counter hegemony. Dalam konteks konsumsi publik terhadap media massa, publik dapat mencari media alternatif lain yang mengedukasi.

 

 

 

[1] Wijaya Herlambang, Kekerasan Budaya Pasca 1965 (Tangerang : Marjin Kiri, 2013) 333. 37

Daniel Jeremia
Sosiologi Pembangunan UNJ'15
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Manifesto Arsip Bagi Pengelolaan Cagar Budaya

Indonesia merupakan negara yang memiliki beragam peninggalan sejarah, mengingat eksistensi terhadap banyaknya kerajaan-kerajaan yang pernah bertahta di bumi nusantara. Selain menjadi negara yang terkenal...

Setelah Sayyid Syarief Mengenolkan Diri

Syariefhans tampil di mimbar dengan gagah dan perlente. Ia mengenakan kemeja hijau tua, dengan lengan panjang yang dikancing rapi. Ketampanan dan kulit putihnya membuat...

Viral, BTS Meal di Tengah Pandemi

BTS Meal adalah menu yang dihasilkan dari kolaborasi antara McDonal dengan Boyband Grup BTS, Korea Selatan. McDonald didirikan pada tahun 1940 oleh Richard dan...

Meluruskan Kasus Takmir Melarang Salat Bermasker di Masjid

Ramai menjadi perbincangan publik saat video berdurasi 2 menit sekian memperlihatkan “brutal”-nya ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al Amanah, Jalan Kampung, Tanah Apit, RT...

Radikalisme, Anak Muda dan Pendidikan Tinggi: Antisipasi, Respon dan Kebijakan

Ekstrimisme dan radikalisme nampaknya tidak mengenal negara berpenduduk mayoritas Muslim seperti Indonesia atau negara-negara Eropa di mana kaum Muslimin merupakan komunitas minoritas. Ekstrimisme tumbuh...

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.