Rabu, April 21, 2021

Pembakaran Bendera HTI, Antara Genitnya Netizen dan Noraknya Banser

Membaca Sebagai Laku Hidup

Membaca, bukan perkara hobi atau kebutuhan belajar di sekolah dan bangku kuliah. Lebih dari itu, membaca adalah sebuah laku hidup. Dengan membaca kita berupaya...

Kasihan RK, Menjelang Pilgub Kurang Ngaca!

Menjelang pelaksanaan Pemilihan Gubernur Jawa Barat 2018 nanti, situasi cukup hangat dengan bermunculannya pernyataan politis dari berbagai bakal calon yang hendak ikut bertarung dalam...

Persembahan Dharma Kapitalisme

Citra dan reputasi Corporate Social Responsibility (CSR) di Indonesia mencatat perkembangan yang menggembirakan. Headline media cetak maupun elektronik ramai oleh pembahasan mengenai bakti sosial yang...

Apakah Mudik Itu Penting?

Mudik alias pulang kampung menjelang Idul Fitri sudah menjadi pemandangan biasa di Indonesia. Bejibunnya warga pendatang di Jakarta dan kota-kota besar lainnya menjadikan mudik...
Adib Khairil Musthafa
Tukang tidur yang banyak mimpi | Pegiat Literasi di Tasawwuf Institute Malang |

Akhir-akhir ini sebuah video viral beredar di media sosial, diduga pembakaran bendera Hisbut Tahrir Indonesia (HTI) oleh beberapa oknum banser. Sorotan publik tentu tertuju pada Nahdlatul Ulama (NU) sebagai induk dari banser. Perang ideologi antara NU dan HTI memang serasa tak berkesudahan. Walaupun resmi HTI telah dibubarkan ada saja tengkulak politik yang semacam sengaja menggoreng isu ini.

Tak dipungkiri menjelang pilpres 2019 semua sarana politik sengaja dipakai untuk dapat terlibat di dalamnya, termasuk menghidupkan kembali isu-isu ideologis yang sebenarnya telah berakhir.

Jika dilihat dalam kacamata politik ala Machiavelian, dalam bukunya The Prince Machiavelliani. Memandang seorang yang punya ambisi mempertahankan dan merebut kekuasaan dihalalkan untuk menciatakan semacam konflik pertentangan dan permusuhan. Pandangan Machiavelian benar, bahwa seseorang yang gila posisi dan kekuasaan tentu harus berani memakai sarana ini.

Simbol Kebencian

Saat ini ada paradoks yang dihidangkan dalam publik kita. Yang pertama pandangan bahwa dalam kasus ini banser telah sengaja membakar bendera dengan kalimat tauhid. Sehingga menuai amarah kelompok konservatif yang mengaggap banser telah menista kalimat tauhid.

Kedua, muncul semacam reaksi bahwa aksi banser tak lain adalah simbol kecintaan kepada NKRI. Tentu ini bukan hanya dilihat dari kacamata kuda yang tanpa alasan, anggapan bahwa yang dibakar adalah simbol HTI dan bukan kalimat tauhidnya.

Secara historis kebencian terhadap sebuah simbol memang sudah ada sejak lama. Di Jerman, misalnya, simbol swastika dalam bendera Nazi yang merupakan simbol kebaikan dan telah berkembang sejak 300 tahun lalu. Sebelum Nazi menodainya dalam berbagai pembantaian nyawa manusia, sehingga lambang ini pun ternoda dan terdistorsi. Yang tadinya mempunyai konotasi positif berubah menjadi negatif.

Atau misalnya kita melihat simbol palu dan arit dalam bendera Partai Komunis Indonesia (PKI) atau Uni Soviet. yang melambangkan semangat komunisme, sebagai persatuan kaum buruh dan petani. PKI di Indonesia dimusuhi bukan karena palu dan aritnya, yang tentu kita tahu adalah simbol semangat kerja para petani dan kaum buruh. Akan tetapi simbol itu ternodai oleh doktrin komunisme yang menyisakan banyak jejak darah dalam sejarah kita.

Begitu juga kalimat tauhid dalam bendera HTI. Kalimat ini dipakai juga dalam lambang umat Islam di zaman Rasulullah, yang sampai saat ini dipakai oleh Saudi Arabia sebagai bendera negara, namun lagi-lagi kesucian kalimat ini dinodai oleh kelompok ekstrimis ISIS dalam bendera mereka, di Indonesia kemuliaan kalimat ini dinodai kembali dengan dijadikan alat propaganda untuk mengganti ideologi pancasila oleh kelompok-kelompok semacam HTI.

Kegenitan 

Sikap genit kelompok konservatif dalam menyikapi hal ini tentu menjadi catatan penting. Misalnya, tagar yang berdar akhir-akhir ini #bubarkanbanser dan #bekukanNU, adalah kegenitan bersikap yang tak pantas disadurkan. Isu ideologis semacam ini memang sudah lama ditunggu, dengan mengkambinghitamkan lawan ideologis seperti NU demi mendapat peran dalam perhelatan politik di 2019.

Menjadi narasi penting bahwa sikap banser dalam kasus pembakaran ini menjadi evaluasi internal organisasi sebesar NU. Kedangkalan berpikir oknum banser tanpa memperhitungkan sebab akibat dari aksinya menjadi evaluasi untuk internal, sepantasnya cara-cara yang terbilang norak semacam ini diminimalisir dalam tubuh banser,

Sikap norak banser bukan tak berakibat, akhir-akhir ini tentu kita mendengar berbagai penolakan kegiatan-kegiatan ansor ataupun banser di beberapa daerah, seperti di Riau beberapa waktu lalu, dimana banser menerima penolakan langsung dari masyarakat Riau. Tentu ini adalah reaksi masyarakat yang terbilang mencengangkan dan bukan tak mungkin ini merupakan respon dari berbagai tindakan-tindakan norak para oknum banser.

Tindakan semacam ini haruslah tak terulang lagi dan menjadi evaluasi, agar NU tak melakukan blunder-blunder yang tidak sebegitu penting. Bukan hal yang kita amini tentu munculnya tagar #bubarkanbanser #bekukanNu adalah keberhasilan oknum lawan-lawan ideologis NU dalam memanfaatkan momen.

Banser sebagai organisasi dengan garis koordinatif NU sudah sepantasnya menerapkan semangat moderat dalam sikapnya yang tasamuh bukan cendrung gegabah. Sehingga isu-isu semacam ini tak lagi dijadikan kesempatan para kelompok-kelompok semacam HTI dalam meng-counter attack NU sebagai organisasi yang cukup besar di Indonesia

Publik kita sudah cukup gerah dihidangkan bebagai drama-drama jenaka para elit. Mulai dari kasus hoaks, ujaran kebencian, hingga masalah pembakaran kalimat tauhid ataupun bendera HTI, seakan perang opini yang dibangun semakin tak kreatif saja, dan cenderung memecah belah.

Ditambah lagi kegenitan para netizen ataupun oknum-oknum yang sengaja menggoreng kasus yang sebenarnya tak bersubstansi, dan tak layak untuk dibesar-besarkan. Menjadi pelajaran bahwa kegenitan kita dalam bersosial media sebenarnya tak menghasilkan apa-apa, melainkan perpecahan saja, terutama di internal umat Islam sendiri.

Adib Khairil Musthafa
Tukang tidur yang banyak mimpi | Pegiat Literasi di Tasawwuf Institute Malang |
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Apa yang Menanti Setelah Animal Symbolicum?

“Alam semesta aslinya tunggal, diam, dan seragam. Hanya tampak luarnya saja yang mengesankan perbedaan atau perubahan”, Zeno dari Elea yang juga diamini Parmenides (Dowden,...

Kado Ulang Tahun ke-46, Taman Mini Mau Dibawa Kemana?

20 April 2021 merupakan hari ulang tahun ke-46 Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta. Momentum ulang tahun yang biasanya dirayakan secara meriah dan dikemas...

Enigma dalam Bukit Algoritma

Narasi 4.0 telah membawa kita semua ke sebuah era di mana digitalisasi semakin menjamah di segala aspek kehidupan. Hal ini membuat terdorongnya beragam inovasi-inovasi...

Memikirkan Ulang Sistem Parlementer

Setelah lima pemilihan umum berjalan demokratis, saatnya kita bicara tentang bagaimana cara memperkuat demokrasi dan melahirkan stabilitas kebijakan dan politik jangka panjang. Inilah saat paling...

Kesadaran Komunikasi Antarbudaya di Era Digital

Membangun diskursus mengenai komunikasi antarbudaya (intercultural communication) selalu menjadi hal yang menarik untuk dikaji dan bukan pula fenomena baru. Terlebih,  di tengah pesatnya perkembangan...

ARTIKEL TERPOPULER

Malam yang Panjang di LBH dan Dendam Imajiner yang Lebih Panjang

Minggu, 17 September 2017. Hari itu, saya kira saya hanya akan menghabiskan malam dengan makan bersama orang terkasih. Seperti hari-hari Minggu pada wajarnya, romantis...

Memikirkan Ulang Sistem Parlementer

Setelah lima pemilihan umum berjalan demokratis, saatnya kita bicara tentang bagaimana cara memperkuat demokrasi dan melahirkan stabilitas kebijakan dan politik jangka panjang. Inilah saat paling...

Menyambut Bulan Ramadhan dengan Penerapan Nilai-Nilai Pancasila

Bulan suci ramadhan tinggal menghitung hari. Pemerintah akan segera menetapkan awal puasa 1 Ramadhan 1440 H. Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia...

Kartini Masa Kini

Setiap tanggal 21 April diperingati sebagai Hari Kartini oleh bangsa Indonesia. Tanggal tersebut merupakan tanggal lahir R.A. Kartini pahlawan yang berjuang untuk emansipasi wanita....

Puasa Menurut Filsuf Muslim

Selama ini ada anggapan umum yang diterima luas, bahwa nasib filsafat Islam telah berakhir di tangan Ibn Rusyd. Filsuf Andalusia yang mencoba melakukan counter...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.