Kamis, Juni 20, 2024

Peluang Manuver Politik Amien Rais dan Partai Ummat Pemilu 2024

Andi Novriansyah Saputra
Andi Novriansyah Saputra
Penulis, Murid di Kader Pemikiran Islam Indonesia Batch 2.

Pada tanggal 1 Oktober 2020, politisi senior Amien Rais secara resmi mengumumkan pembentukan partai politik baru bernama Partai Ummat. Pembentukan tersebut tidak lama pasca pengunduran dirinya dari Partai Amanat Nasional (PAN). Amien Rais diduga merasa kecewa dengan jalan politik yang diambil PAN sejak berada di bawah kepemimpinan Zulkifli Hasan.

Tidak sendiri, Amien Rais turut mengajak para loyalisnya dari PAN dan kader Muhammadiyah untuk menjadi pengurus pusat di Partai Ummat.Jika melihat dari nama dan logo partainya, tentu saja target suara yang mereka inginkan mayoritas dari umat Islam. Terlebih lagi pasca aksi 212 tahun 2016 lalu, angka populisme kelompok Islamis terus meningkat hingga menjadi ladang lumbung bagi para politisi dalam menaikkan elektabilitas.

Pemberian label “Ummat” juga mempertegas bahwa wadah yang ditawarkan Amien Rais beserta koleganya adalah solusi dalam mempersatukan suara umat Islam di Indonesia. Namun para pendiri Partai Ummat pasti sudah sadar, untuk memperebutkan suara masyarakat muslim mereka harus bersaing dengan partai Islam lainnya yang jauh lebih senior.

Sehingga mau tidak mau, kapitalisasi suara masyarakat muslim sebagai basis partai Islam lainnya harus menjadi misi bawah tanah mereka. Apabila ingin bersaing di panggung Pemilu tahun 2024 mendatang.

Manuver Politik Partai Ummat

Sudah menjadi rahasia umum bahwa kontestasi politik di Indonesia selalu melahirkan dua aliran partai berbeda untuk merebut hati masyarakat. Keduanya yaitu aliran partai nasionalis dan partai Islam. Sejak pemilu pertama tahun 1955, perwakilan dari dua aliran itu selalu menjadi yang teratas dalam perolehan suara terbanyak. Hanya saja, partai Islam belum bisa keluar sebagai pemenangnya.

Ilustrasi gambar partai politik Islam dan nasional
https://tse1.mm.bing.net/th?id=OIP.DC1JkdmGBfEI9gO9jt3tCgHaD5&pid=Api&P=0&w=333&h=175

Hal itu disebabkan ada banyak jenis partai Islam dengan ideologi relatif sama dan serupa target suara. Masing-masing partai Islam akhirnya saling bersaing memperebutkan hati pemilih yang mayoritasnya umat Islam. Kondisi tersebut cukup merugikan posisi mereka dalam setiap kontestasi politik, maka tidak heran jika partai nasional selalu menarik perhatian publik dengan dihasilkannya figur yang kritis.

Akan tetapi, bukan berarti partai-partai Islam tidak turut melahirkan sosok politisi dengan rekam jejak bergengsi. Meskipun di antarnya sudah terkenal sebelum membentuk partai politik karena sikapnya yang frontal serta berani mendikte kekuasaan. Salah satu tokohnya adalah Amien Rais. Beliau dijuluki sebagai tokoh reformasi , karena semangatnya untuk mengkomandoi massa aktivis ketika berupaya menggulingkan kepemimpinan Soeharto tahun 1998.

Sejak momen  itu, nama Amien begitu banyak dipuja hingga membawanya untuk membentuk sebuah partai politik yaitu PAN. Amien Rais bersama kader Muhammadiyah lainnya berusaha membawa PAN menjadi kekuatan oposisi paling serius terhadap kekuasaan. Tidak tanggung-tanggung, narasi keislaman dan politik menjadi isu yang selalu dinaikkan oleh sang Bapak Reformasi untuk memperkokoh akar rumput suara mereka di kalangan umat Islam.

Bahkan hingga bergabung dengan Partai Ummat, narasi sentimen identitas itu terus digaungkan, melihat situasi meningkatnya populisme kelompok Islam pasca aksi 212. Walaupun membawa ide “suci” di panggung demokrasi, nyatanya tidak begitu menenangkan armada Partai Ummat dalam beberapa bulan terakhir.

Belum genap 2 tahun partai berdiri, Amien Rais sudah ditinggal oleh beberapa loyalis-nya yang ikut mendirikan Partai Ummat. Khususnya Pengurus Daerah Partai Ummat kota Depok juga berbondong-bondong menyatakan diri untuk mundur. Kondisi tersebut nampaknya akan cukup menghambat gerakan manuver politik Partai Ummat, mengingat hanya seorang Amien Rais selaku Ketua Majelis Syuro partai yang sampai saat ini masih berani berbicara lantang di depan media.

Menarik Suara Pemilih

Beberapa isu yang sempat mencuat di tengah publik akhir-akhir ini, seperti langka dan naiknya harga bahan pokok, naiknya harga BBM, hingga pandangan berbagai politisi pro pemerintah terkait penundaan pemilu atau perpajangan masa jabatan Presiden, jadi panggung Partai Ummat untuk menampilkan sikapnya.

Kembali, sosok Amien Rais selaku pendiri partai yang angkat bicara dengan komentar paling frontal. Ia pun tidak segan-segan menyebutkan nama-nama orang yang bermasalah di lingkaran istana, serta mendorong Presiden Republik Indonesia untuk menindak tegas mereka. Tidak hanya kali itu saja, mantan Ketua MPR RI tersebut sebelumnya sempat menemui pihak Istana secara langsung untuk membahas penembakan 6 eks anggota Front Pembela Islam (FPI) pengawal Habib Rizieq.

Keberanian Amien Rais untuk pasang badan mewakili partainya dalam beberapa isu bangsa memang patut diacungi jempol. Artinya, ia menunjukkan rasa tanggung jawab atas posisi yang sudah ditentukan sebagai politisi. Namun, sikap semacam itu nampaknya akan menghambat proses publikasi serta regenerasi internal Partai Ummat agar lebih dekat dengan masyarakat. Apalagi sosok Amien dinilai berbagai pengamat politik sudah terlalu usang atau bahkan sudah tidak sesuai dengan para pemilih generasi muda, yang akan lebih banyak meletakkan suaranya pada Pemilu 2024.

Seperti yang dikemukakan Direktur Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno kepada media CNN. Bahwasanya pemilih di era sekarang akan lebih melihat tokoh partai yang menunjukkan kinerja politik jelang pemilu. Walaupun Amien Rais adalah tokoh sentral dari Partai Ummat, tapi masa aktifnya di dunia politik sudah kedaluwarsa.

Untuk memperoleh basis akar rumput yang menancap tajam dan massa pendukung yang luas, Partai Ummat harus segera bergerak melakukan pendekatan para tokoh lokal dan menyiapkan bibit regenerasi mendatang. Sehingga dalam setiap momen pemilihan umum, partai dengan logo perisai bintang itu mampu menyiapkan kader terbaiknya untuk bersaing di tiap level kepemimpinan.

Sudah banyak beredar kabar jika kehadiran Partai Ummat hanya memanfaatkan isu identitas agama -Islam- untuk meraup dukungan dalam pemilu tahun 2024. Memang, sebenarnya Amien Rais sudah menegaskan terkait munculnya Partai Ummat untuk merangkul aspirasi dari agama manapun. Tapi kembali kepada narasi keislaman dan politik yang sering digaungkan, belum lagi jika masih mengandalkan sosok Amien Rais untuk berbicara di hadapan publik.

Partai Ummat kemudian dituntut oleh generasi muda sekarang agar tampil dengan wajah serta argumen yang lebih moderat dan inklusif. Sehingga posisi mereka tidak hanya sekedar berdiri di satu sisi, terlebih memaksa diri memperebutkan lahan yang sudah dicap oleh partai Islam lainnya.

Andi Novriansyah Saputra
Andi Novriansyah Saputra
Penulis, Murid di Kader Pemikiran Islam Indonesia Batch 2.
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.