Rabu, Juni 16, 2021

Para Pahlawan yang Tak Terlihat

Pentingnya Berbicara dengan Benda-Benda

Berawal dari pencarian atas satu hal yang pasti terjadi selain mati. Lalu pertemuan dengan tulisan Ninni Holmqvist berjudul The Unit. Hingga perkenalan dengan ilmu...

Mengenal Sebuah Kinerja Sistem Produksi Lewat Film “War of The P

Salah satu corak yang dibahas dalam tulisan ini adalah dari film “War of the planet of apes”. Ya film tentang monyet yang dapat berbicara...

Generation of War

Timur Tengah yang panas semakin bergelora. Perang saudara yang terjadi di beberapa negara masih belum nampak akan berakhir dalam waktu yang dekat. Hal ini...

Etika Tatap Maya 2021

Satu tahun sudah perjuangan bersama melawan pandemi yang tak kunjung reda. Tentu menjadi bagian kisah hidup paling penuh perjuangan dan kejutan. Covid-19, pandemi yang...
Achmad Santoso
Penyelaras bahasa Jawa Pos, pegiat Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah dan klub buku Dead Poets Society Surabaya, penulis buku Lebih Dekat Kumelihat Indonesia (2019)

Kata pahlawan mulai mengalami perluasan makna. Dulu, orang mengenal pahlawan sebagai pejuang yang dengan gagah berani melawan penjajah dan mempertahankan kemerdekaan. Pahlawan kerap diasosiasikan dengan penjajahan. Kini, pahlawan digeneralisasi sebagai orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran.

Kolonialisme memang sudah usang. Situasi zaman telah berubah. Pandangan pun ikut berkembang. Mengacu pada perluasan makna tersebut, siapa pun bisa disebut pahlawan asalkan sanggup memanfaatkan segenap jiwa dan raganya secara tulus untuk kepentingan bangsa dan negara.

Dalam momen Hari Pahlawan, pemerintah senantiasa menganugerahkan gelar pahlawan kepada tokoh yang telah berkontribusi besar terhadap bangsa. Sebagaimana diketahui, pada peringatan Hari Pahlawan tahun ini, presiden menyematkan gelar pahlawan kepada empat tokoh Indonesia, yaitu TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, Laksamana Malahayati, Sultan Mahmud Riayat Syah, dan Prof Drs H Lafran Pane. Keempat tokoh ini, juga tokoh-tokoh lain yang menerima gelar lebih dahulu, memang orang besar dengan segala sikap patriotiknya kepada bangsa dan negara.

Namun, dalam perspektif yang lebih luas, orang yang pekerjaannya berhubungan dengan pengabdian juga bisa disebut pahlawan meskipun tanpa kata sandang ”gelar”. Guru bisa disebut pahlawan –bahkan dulu ada embel-embel tanpa tanda jasa. Dokter, tentara, polisi, dan profesi/pekerjaan pengabdian lainnya, jika sungguh-sungguh melayani masyarakat, juga tidak keliru dianggap pahlawan. Di luar profesi itu, ada pekerjaan pengabdian lainnya yang jarang terekspos dan jauh dari gegap gempita. Mereka ini, boleh saya bilang, bekerja melayani secara tulus dan tak kenal waktu. Mereka ini adalah pahlawan yang tak terlihat. Bekerja dengan sungguh-sungguh, tapi jarang mendapat ”pengakuan”.

Yang pertama adalah tukang sapu jalanan. Ada yang menyebut mereka sebagai pahlawan lingkungan. Ketika sebagian orang masih mengejam di pagi hari, sebagian yang lain baru terjaga, pasukan kuning ini bahkan sudah menyusuri jalan-jalan. Menyeka jalan dan trotoar dari bermacam-macam sampah. Ya sampah dari pengguna jalan yang membuangnya secara serampangan, ya sampah dari daun yang jatuh dari pohon, ya sampah yang tak tahu dari mana asalnya, tiba-tiba terserak begitu saja. Tanpa keberadaan mereka, kita pasti sering menggerutu di pagi hari ketika melihat sampah berserakan di sepanjang jalan.

Tukang sapu alias pasukan kuning ini layak menyandang predikat pahlawan yang tak terlihat. Mereka bekerja di jalan raya, taman, alun-alun, dan fasilitas-fasilitas publik lainnya. Merekalah salah satu pihak yang menyulap fasilitas umum itu jadi lebih nyaman.

Kedua, tukang sampah. Pekerjaan ini jelas tak semua orang peduli. Bahkan untuk berurusan dengan sampah sekalipun. Ya, mereka juga kerap terabaikan dari pandangan kita tentang para pengabdi masyarakat. Apa jadinya jika tukang sampah mogok massal selama seminggu saja? Mereka tak peduli berapa pun menggunungnya kotoran di tong sampah rumah kita, sekolah, rumah sakit, dan tempat-tempat umum lainnya. Pasukan inilah yang berada di garda depan untuk memunguti sampah, kemudian mengumpulkannya di lokasi pembuangan atau pengelolaan. Mereka inilah unsung hero. Orang yang sering terabaikan dari sekadar ucapan terima kasih.

Ketiga, petugas kebersihan. Pekerjaan ini pun tak luput dari pandangan sebelah mata. Hampir sama dengan tukang sapu jalanan. Bedanya, cleaning service lebih dipekerjakan di dalam ruangan. Orang-orang ini kebanyakan juga bekerja di sektor jasa, terutama di kantor atau sekolah. Di sekolah, misalnya, berapa banyak murid atau guru sekalipun yang mengenal dan akrab dengan petugas kebersihan. Rasanya tidak banyak, bukan. Di kantor, di tempat kerja, kiranya hampir tidak banyak yang mengenal bahkan tahu nama petugas kebersihannya. Kita seyogianya mengerti, petugas kebersihan inilah yang datang lebih awal untuk membersihkan ruangan sebelum sang empu datang. Bahkan, mungkin juga mereka pulang lebih akhir karena masih ada tugas beres-beres atau merapikan.

Keempat, petugas pemadam kebakaran (damkar). Di negara kita, petugas pemadam kebakaran mungkin masih berfokus pada urusan memadamkan si jago merah. Di beberapa negara lain, petugas ini tidak hanya dilatih menanggulangi kebakaran dan menyelamatkan orang dari kebakaran, tetapi juga menyelamatkan orang dari kecelakaan, gedung terban, banjir, tanah longsor, dan lain-lain.

Tim pemadam kebakaran ini juga bekerja nonstop, tak kenal waktu. Mereka mesti stand by selama 24 jam, walaupun dengan sistem sif. Hal itu menandakan bahwa pekerjaan ini juga tidak bisa dianggap sebelah mata. Mengutip Sistem Informasi Kebakaran Kemendagri, sedikitnya ada lima tugas pokok dan fungsi tim pemadam kebakaran yang dikenal dengan panca darma, yaitu pencegahan dan pengendalian kebakaran, pemadaman kebakaran, penyelamatan, pemberdayaan masyarakat, serta penanganan kebakaran bahan berbahaya dan beracun. Motonya pun tidak kalah mengagumkan, ”Pantang Pulang sebelum Api Padam walaupun Nyawa Taruhannya”.

Pekerjaan terakhir, dan ini termasuk yang sarat risiko, adalah tim pencari dan penyelamat atau biasa disebut tim SAR (search and rescue). Jika tim pemadam kebakaran difokuskan pada penyelamatan kebakaran, tim SAR ini berada di area lain. Mereka, secara garis besar, bekerja di tiga wilayah, yaitu pelayaran, penerbangan, dan bencana. Mereka akan sangat sibuk jika terjadi kecelakaan seperti kapal tenggelam, pesawat jatuh, sampai bencana alam tanah longsor, kebanjiran, dan gempa bumi. Lantaran tugas nan tidak mudah itulah, pelatihan kepada personelnya bisa berhari-hari, bahkan berbulan-bulan.

Harus diakui, tugas tim pencari dan penyelamat seperti ini sangat berat. Seperti halnya tim damkar, tim SAR juga bekerja tiap waktu, harus sedia setiap saat. Bahkan, pernah ada cerita beberapa anggota yang tidak bisa ambil libur saat hari raya untuk bercengkerama dengan keluarga karena pekerjaannya tak bisa ditinggal.

Sejalan dengan beratnya pekerjaan, risiko yang ditimbulkan juga tinggi. Fisik tim ini mesti kuat seperti baja. Harus punya perhitungan matang ketika ingin menolong korban bencana. Kalau tidak, nyawalah taruhannya. Dikutip dari laman Badan SAR Nasional, yang kini bernama Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (BNPP), secara garis besar Basarnas mempunyai tugas pokok melaksanakan pembinaan, pengoordinasian, dan pengendalian potensi SAR dalam kegiatan SAR terhadap orang dan material yang hilang atau dikhawatirkan hilang atau menghadapi bahaya.

Lima pekerjaan di atas adalah contoh pahlawan yang jasanya sering terlupakan. Keberadaan mereka sering tak terlihat, jauh dari gegap gempita. Tentu masih banyak pengabdi masyarakat lainnya yang belum tercatat di sini. Tulisan ini tidak cukup mewadahi karena keterbataan ruang. Yang terpenting, pahlawan tidak harus yang berani mengangkat senjata untuk menumpas penjajah. Tidak juga harus tokoh-tokoh yang berkontribusi terhadap bangsa dengan goresan penanya. Tapi, mereka yang ”hanya” punya sapu, gerobak, atau apa pun itu, yang berfaedah buat insan lain, juga layak diberi predikat pahlawan. Karena ada kata bijak yang menyatakan, berbuat baiklah sesuai dengan kemampuan dan kedudukanmu.

Achmad Santoso
Penyelaras bahasa Jawa Pos, pegiat Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah dan klub buku Dead Poets Society Surabaya, penulis buku Lebih Dekat Kumelihat Indonesia (2019)
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Koperasi, Keadilan Ekonomi, Pancasila

Setiap negara pada hakikatnya menganut sebuah ideologi yang menjadi dasar bagi bangsanya dalam kehidupan bernegara. Seandainya suatu negara tidak memiliki sebuah ideologi yang dianut,...

Karya, Nama, Media: Tentang Kehebohan A.S. Laksana

Tahun 2001 saya bertemu dengan seorang pelukis dari negeri Tiongkok yang namanya belum terlalu tenar. Karya-karyanya dapat digolongkan sebagai lukisan realistik, dalam arti mengambil...

Distribusi Resiko untuk Keadilan Iklim

Saat ini, daya dukung lingkungan hidup mengalami keterbatasan di tengah kondisi iklim yang menyebabkan peningkatan potensi dan intensitas kejadian bencana. Indonesia merupakan salah satu...

Tiga Tahun Zonasi, Sudahkah Memberi Solusi?

Sistem zonasi dalam perekrutan peserta didik baru untuk semua jenjang telah berlangsung selama tiga tahun. Dan jika untuk tahun ajaran baru kelak sistem ini...

Kepalsuan Gelar Duta

Salah satu karakteristik dari masyarakat modern yang paling menonjol adalah keinginannya untuk memperoleh nilai prestise. Tentu saja, keinginan tersebut bukan hal yang berlebihan. Saat...

ARTIKEL TERPOPULER