Sabtu, April 24, 2021

Orde Lama dan Kekuatan Politik Gerakan Mahasiswa

Seharusnya Marx Menjadi PNS!

Duduk dan berbincang dengan teman-teman di warung kopi, tak lepas dengan sebatang rokok, saya bersama teman-teman lain kerap kali membicarakan dan mengolok-olok pelamar Calon...

Jihad Politik, Muhammadiyah di Persimpangan Jalan

”Di tahun politik, tidak boleh seorang Haedar Nashir memilih menyerahkan ke kader untuk menentukan sikapnya di pilpres. Kalau sampai seperti itu, akan saya jewer.” Pernyataan...

Kartini, Nyai Ahmad Dahlan, dan Ibu Sinta Nuriyah

Seorang Ibu dan seorang wanita adalah yang pertama kali memperkenalkan kita pada dunia, pertama kali mengajari tentang keragaman dan aneka warna-warni benda. Tanpa keuletan...

Terburu-buru Menuduh Profesor Nurdin Abdullah Tidak Komitmen

Dalam politik, setiap langkah pengambilan keputusan ibarat bergerak di air bening tapi berlumpur. Setiap geraknya mudah meninggalkan jejak keruh. Terlepas itu sebuah tindakan dari...
Razan Ghifari
Mahasiswa Ilmu Politik Universitas Airlangga. Peraih Beasiswa Rumah Kepemimpinan Regional Surabaya.

Ketika kita berbicara tentang gerakan mahasiswa yang terjadi selama orde lama, maka kita juga perlu membandingkan apa saja yang menjadi sorotan di tiap zaman, kemudian tuntutan apa saja yang menjadi fokus mahasiswa ketika pada masa-masa pemenerintahan Presiden Soekarno.

Gerakan mahasiswa yang sudah terjadi selama perjalanan Indonesia sampai sekarang tidak terlepas dari sejarah dan peran sentral mahasiswa sebagai garda terdepan di setiap perubahan sosial dan politik yang terjadi di tanah air.

Gerakan mahasiswa juga biasanya identik dengan aksi penyikapan terhadap isu-isu penolakan terhadap rezim, kebijakan yang tidak pro-rakyat, mobilisasi massa yang kuat, bahkan boikot dan aksi dan kritik terhadap isu-isu lokal, nasional dan internasional. Semua kekuatan gerakan ini didasari sifat mahasiswa yang kritis, tajam dalam intelektual, dan kelompok besar sebagai salah satu komponen revolusi daripada revolusioner, serta energi yang besar sehingga sering terlibat di dalam setiap perubahan sosial.

Gerakan Mahasiswa Orde Lama

Pada periode 1945-1965 muncul berbagai organisasi –organisasi ekstra kampus yang muncul seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) pada 5 Februari 1947, yang dimotori oleh Lafran Pane. Organisasi lain juga bermunculan seperti Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dengan landasan ideologi Marhaenisme-nya Soekarno, Gerakan Mahasiswa Sosialis Indonesia atau GAMSOS yang lebih cenderung ke ideologi Sosialisme, dan yang paling menjadi sorotan adalah munculnya Concentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI) yang dekat dengan PKI karena memiliki ideologi yang sama yaitu komunis.

Pada zaman orde lama yang dimana PKI masih eksis, otomatis organisasi mahasiswa CGMI juga menjadi lebih menonjol dan lebih terkenal dibanding organisasi-organisasi lain seperti HMI, GMNI, dan lainnya karena kedekatannya dengan PKI.

Sebagai organisasi turunan dari PKI, CGMI lebih sering mengakomodir kepentingan politik PKI dan sering berkonfrontasi dengan gerakan mahasiswa lain sehingga ini menjadi awal perpecahan gerakan mahasiswa. Karena merasa sering berkonfrontasi dengan CGMI dan PKI dan punya perbedaan dari sisi ideologi maka HMI, GMKI, PMKRI, PMII, dan beberapa ormas lain membentuk Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia atau KAMI.

Tujuan KAMI sendiri adalah koordinasi perlawanan terhadap pengaruh PKI di Indonesia dan ini adalah awal perjuangan mahasiswa yang dikenal sebagai gerakan angkatan ’66 yang kemudian mulai melakukan pertentangan terhadap PKI dan ideologi komunis yang dianggap mengancam stabilisasi negara.

Gerakan mahasiswa yang paling santer dan berpengaruh pada masa itu adalah munculnya angkatan ’66 yang dimana menjadi awal kebangkitan gerakan mahasiswa secara nasional pada tahun 1966, ketika rezim Soekarno atau orde lama masih berkuasa.

Ketika orde lama, gerakan ini tampil sebagai aktor yang paling masif mengkritik pemerintah dan bahkan sebagai pahlawan moral yang menentang ideologi komunis yang dianggap sebagai ancaman bangsa pada saat itu.

Muncul tokoh-tokoh mahasiswa yang eksis dalam menentang komunis seperti Cosmas Batubara, Sofyan Wanandi, Akbar Tanjung, dan lain-lain. Para penentang komunis ini kemudian diberikan hadiah berupa kedudukan di MPR dan DPR ketika orde lama pada akhirnya runtuh dan zaman orde baru dimulai.

Ini yang disayangkan, ketika idealisme yang dibawa mahasiswa saat itu masih terjaga dan dijunjung tinggi, tetapi setelah orde lama runtuh, idelaisme mereka ikut luntur menyusul pemberian hadiah oleh pemerintah yang sedang berkuasa dengan disediakan kursi MPR dan DPR serta diangkat menjadi pejabat pemerintahan oleh penguasa orde baru.

Namun di tengah gelombang runtuhnya idealime mahasiswa tersebut, ternyata ada sosok mahasiswa yang sangat dikenal idealismenya hingga saat ini dan sampai sekarang tetap menjadi panutan para aktivis – aktivis mahasiswa di Indonesia, yaitu Soe Hok Gie. Soe Hok Gie melalui kalimat inspiratifnya berkata pada kawan seperjuangannya yang telah berbelok idealimenya dengan berkata “lebih baik terasingkan daripada hidup dalam kemunafikan”.

Tritura, KAMI, Dan Soekarno

Semua pasti mengetahui Tri Tuntutan Rakyat pada 10 Januari 1966 yang dimana ketika itu kondisi pemerintahan tidak stabil dan ditengah demonstrasi marak dimana-mana menuntut agar PKI dibubarkan karena meresahkan masyarakat.

Sebagai respon dari situasi tersebut, mahasiswa melalui Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia melalukan aksi dengan mendatangi DPR dengan meneriakkan Tritura yang isinya pemerintah didesak untuk membubarkan PKI dan ormasnya, kemudian melakukan perombakan kabinet Dwikora, dan turunkan harga sandang pangan, karena kondisi politik yang tidak stabil pada saat itu juga mempengaruhi kondisi perekonomian nasional, seperti dengan melonjaknya harga barang pokok dan BBM.

Para delegasi KAMI kemudian diperintahkan kembali pulang ke Jakarta. Tetapi di sisi lain mahasiswa merasa belum menemukan konsensus melalui pertemuan di Bogor itu. Mahasiswa kemudian menngambil sikap tidak akan pulang sebelum PKI dibubarkan. Kemudian Cosmos dan beberapa mahasiswa menemui Soeharto dan menjelaskan bahwa mahasiswa tetap tidak akan pulang sebelum PKI dibubarkan.

Dan Soeharto menjawab kepada Cosmos bahwasanya PKI sudah dibubarkan, dan mahasiswa silahkan bubar. Beberapa waktu setelahnya, tepatnya pada puncak penggulingan Soekarno melalui Surat Perintah 11 Maret, Soeharto kemudian mengambil tonggak kepemimpinan presiden dan peristiwa ini menandakan akhir dari Orde Lama dan awal dari Orde Baru.

Perjalanan Orde Lama akhirnya selesai dan kita tidak bisa menampik bahwa mahasiswa pada saat itu berperan besar dalam perubahan sosial dan menjadi sebuah kekuatan politik yang bisa bergerak dengan skala yang besar.

Razan Ghifari
Mahasiswa Ilmu Politik Universitas Airlangga. Peraih Beasiswa Rumah Kepemimpinan Regional Surabaya.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Toleransi, Kita Perlu Belajar dari Negeri Tolland

Sebelum mulai mendaratkan jemari diatas keyboard laptop, sejenak terlintas dalam pikiran saya sebuah kutipan yang menarik dari buku yang berjudul “Berjamaah (lagi) walau tak...

Terorisme Lahir dari Watak yang Retak

Salah satu musuh terbesar kemanusiaan adalah terorisme. Ia lahir dari watak retak manusia yang dikendalikan hasrat untuk membunuh. Dalam aksinya yang agresif, teroris tak...

Melacak Kesalehan Kultural dan Ikhtiar Keberagaman

“Agama tetap bersifat kemanusiaan, karena bertujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan. Tetapi ia bukanlah kemanusiaan yang berdiri sendiri, melainkan kemanusiaan yang memancar dari Ketuhanan” -Nurcholis Madjid,...

Mencari Teman Masa Pandemi? Why Not, Berikut Tipsnya

Sudah Satu Tahun Pandemi Covid-19 Melanda Indonesia. sekolah-sekolah, kampus, tempat yang bahkan kantor sekalipun harus berkegiatan online. Mahasiswa baru, murid baru dan orang-orang yang baru memulai...

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

ARTIKEL TERPOPULER

Teror Lone Wolf: Siapa Bertanggung Jawab?

Dalam kurun 1 minggu, Indonesia dihentakkan oleh serangkaian teror brutal yang menyasar agama dan institusi negara. Minggu 28 Maret 2021, serangan bom bunuh diri...

Melacak Kesalehan Kultural dan Ikhtiar Keberagaman

“Agama tetap bersifat kemanusiaan, karena bertujuan menuntun manusia mencapai kebahagiaan. Tetapi ia bukanlah kemanusiaan yang berdiri sendiri, melainkan kemanusiaan yang memancar dari Ketuhanan” -Nurcholis Madjid,...

Mempertanyakan Wacana Koalisi Partai Islam Oleh PKS dan PPP

Menyatakan bahwa Islam hanya berhubungan dengan kehidupan spiritual, tanpa kita sangkut pautkan sama sekali dengan masyarakat dan negara, mungkin sama jauhnya dari kenyataan dengan...

Puasa Menurut Filsuf Muslim

Selama ini ada anggapan umum yang diterima luas, bahwa nasib filsafat Islam telah berakhir di tangan Ibn Rusyd. Filsuf Andalusia yang mencoba melakukan counter...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.